
Kasih yang telah selesai berdandan dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang layak untuk merayakan pesta ulang tahunnya terlihat tidak terlalu menikmati acara tersebut. Meski semua orang terlihat sangat senang karena bisa berada di pesta dan menikmati segala hidangan enak yang tersedia. Akan tetapi, berbeda halnya dengan Kasih yang sedang diliputi dengan kegalauan di dalam hatinya. Tuan Smith lalu menghampiri Kasih yang sedang termenung tanpa memedulikan orang disekitarnya yang sedang sibuk mengobrol.
“Permisi, aku harus berbicara dengan istriku,” Tuan Smith menyelinap diantara gadis-gadis yang sedang berkerumun mengelilingi Kasih mengajaknya untuk berbicara namun tidak dipedulikannya. Tuan Smith lalu menarik tangan gadisnya itu menjauh.
“Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau tampak tidak berbahagia? Apa kau tidak menyukai pesta yang kubuat untukmu?” tanya Tuan Smith meminta penjelasan. Sesungguhnya ia sedikit merasa kesal karena Kasih seakan tidak menyukai kejutan yang ia buat. Namun sebisa mungkin ai berusaha untuk menahan diri karena tidak ingin kembali membuat gadis itu marah padanya.
Kasih masih terdiam. Pikirannya terpaut akan perbincangannya dengan Neneknya. Ia tidak ingin membiarkan Neneknya itu menekan Ibu dan Ayahnya lagi. Ia ingin melakukan sesuatu. Namun, ia tidak punya kekuatan apapun untuk melawan Neneknya. Terlebih statusnya sebagai Nyonya Alexander akan segera berakhir karena akan segera bercerai dengan tuan Smith.
“Hei! Apa kau baik-baik saja? Kau sedang sakit? Jika kau sakit ....”
“Itu ....” sela Kasih memotong perkataan Tuan Smith yang kemudian menatapnya keheranan.
“Apa? Katakan padaku. Hm?” Tuan Smith menatap gadisnya, ibu dari anaknya itu dengan tatapan lembut.
Menyakinkan diri sembari menghela napas pasrah Kasih akhirnya berkata, “Aku ingin meminta bantuanmu.”
Tuan Smith menautkan kedua alisnya heran lalu tersenyum lucu. ‘Ada apa dengan gadis bodoh ini? meminta bantuan dariku sudah seperti meminta bantuan pada orang yang tidak ia kenal, sungguh canggung sekali. Tunggu dulu ... apa dia menganggap aku seperti orang asing? Apa aku sebegitu tidak berharganya bagi gadis ini? Oh! Tidak bisa kubiarkan. Gadis ini harus bergantung padaku. Dengan begitu aku bisa membuatnya terpesona dan jatuh hati padaku.’
“Ayo tidak bercerai,” ucap Kasih tiba-tiba yang akhirnya membuat Tuan Smith terkejut menatapnya tidak percaya.
“Ap ... Appa?!”
***
Kue ulang tahun bertingkat berwarna merah dengan aksen bunga warna-warni sebagai hiasannya telah berhasil dipotong oleh Kasih diiringi tepuk tangan meriah dari para hadirin yang ikut merayakan bertambahnya usia ibu muda itu.
Tibalah waktu pembagian kue, gadis yang telah bertambah usianya satu tahun lagi itupun memberikan potongan pertama dari kue ulang tahunnya untuk kedua orangtuanya lalu memberikan potongan selanjutnya untuk Tuan Smith.
Tuan Smith masih terdiam memikirkan permintaan Kasih barusan sesaat sebelum acara pemotongan kue ulang tahun dilakukan. Hal tak terduga terjadi, Kasih secara mendadak meminta untuk membatalkan perceraian mereka tanpa alasan yang jelas.
“Kau tidak akan memakannya?”
Tuan Smith menatap Kasih yang sedang berdiri dihadapannya sambil menyodorkan potongan kue ulang tahun. Ia samasekali tidak menyadari kehadiran gadis itu. Tanpa berkata apapun, perlahan tangannya bergerak meraih kue itu sembari matanya menatap wajah Kasih yang segera memeluk dan mencium pipinya dengan sengaja untuk memperlihatkan kemesraan mereka didepan semua orang.
Sembari memasang wajah tersenyum manis masing-masing dari orang-orang terdekat Kasih berpose didepan kamera untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Kasih sembari menggendong bayi ED ditangannya disampingnya ada Tuan Smith mereka berdua berdiri ditengah-tengah mereka mengambil beberapa foto.
Setelah acara selesai, Kasih meminta ijin untuk pergi ke kamar lebih dulu meninggalkan Tuan Smith yang berdiri mematung sambil menatapnya heran.
“sebenarnya apa yang telah terjadi pada gadis bodoh itu. Benar-benar membingungkan.”
Di dalam kamar bayi Ed, Kasih menangis dalam diam setelah terlebih dulu meletakkan bayi Ed kedalam boks bayinya. Ia terisak sendirian sementara bayi Ed telah terlelap. Sekuat tenaga ia menahan suaranya agar tidak berteriak dengan suara yang kencang walau ia ingin sekali melakukan hal itu saat ini.
__ADS_1
Tuan Smith yang datang mencari Kasih tertegun mendengar suara Kasih yang tengah terisak. Langkah kakinya berhenti didepan pintu yang tertutup. Meski begitu ia dapat mendengar isakan Kasih dengan jelas dari sana. Secara diam-diam Tuan Smith membuka pintu kamar sedikit untuk mengintip kedalam. Alangkah kagetnya ia melihat sang istri yang sedang menangis tersedu-sedu.
“Kasih menangis? Apakah aku telah menyakitinya separah itu?” Pria itu seketika diliputi rasa bersalah.
“Apa yang bisa kulakukan untuk mebuatmu tidak menangis lagi, Kasih? aku ingin membuatmu bahagia. Maafkan aku yang telah banyak membuatmu terluka. Aku memang sangat jahat karena telah merebut segalanya darimu. Aku berjanji akan menebus semuanya.” gumam Tuan Smith pelan lalu menutup pintu dengan pelan.
***
“Kau sudah bangun?” tanya Kasih pada Tuan Smith yang baru saja bangun dipagi hari. Tuan Smith tertegun melihat Kasih pagi-pagi sekali telah berpakaian rapi dengan segelas kopi untuk kemudian diberikan padanya.
“Aku akan meletakkan ini disini ....”
“Apa kau serius?” tanya Tuan Smith tiba-tiba yang membuat Kasih tertegun menatapnya bertanya. “soal menunda perceraian,” jelas Tuan Smith.
“Ah! Itu ... Aku tidak bisa membiarkan bayiku hidup tanpa seorang ibu. Jadi, bisakah kau membiarkanku untuk tetap tinggal? Aku tidak akan menggangumu. Kau bebas untuk melakukan apapun dan ingin bersama siapapun. Aku hanya ingin bersama bayiku.”
“Apa kau bersungguh-sungguh? Kau tau, jika kau melakukan hal itu, kau tidak akan pernah punya kesempatan lain.”
Tuan Smith mendekati Kasih dan memegang kedua lengan Kasih lembut. “jika kau ingin pergi dariku, hanya inilah kesempatanmu. Kau tidak akan mendapat kesempatan kedua untuk itu.”
Kasih menggigit bibir bawahnya sembari berpikir keras. ‘benar. Jika aku melewatkan kesempatan ini, maka aku akan tidak akan pernah bisa bertemu dengan Rey. Tapi ....’
Kasih menatap lekat wajah Tuan Smith sambil berkata, “Ayo batalkan kontrak.”
Tuan Smiht menatap jauh kedalam kedua bola mata Kasih mencoba mencari tau apa yang sedang dibicarakan gadis ini, ia tau Kasih tidak ingin bersamanya, tapi mengapa ia melepaskan satu-satunya kesempatan untuk pergi darinya.
“Jika begitu ....” Kontrak yang mengikat mereka berdua diletakkan tepat di depan wajah Kasih. “kau dan aku akan terikat selamanya dan jangan bermimpi untuk lepas dariku.”
Kontrak itupun dirobek oleh Tuan Smith disaksikan oleh Kasih yang sontak terisak melihat satu-satunya kesempatannya telah hancur. Ia sekarang tidak akan bisa kemana-mana lagi. Ia tidak akan pernah bisa kabur. Hanya menangislah hal yang ia bisa lakukan sekarang. demi keluarga yang ia cintai ia rela untuk melakukan apapun. Termasuk mengorbankan kebahagiaannya sendiri.
“Aku tidak bahagia, tapi aku setidaknya bisa membahagiakan keluargaku. kurasa itu setimpal.” Gumam Kasih disela tangisnya sambil menatap kertas berisi kontrak perjanjian yang telah berubah menjadi kepingan-kepingan kertas.
***
__ADS_1
“Selamat pagi, Nyonya. Saya kemari untuk memberikan ini,” ucap John sambil menyodorkan sesuatu yang ia maksud.
“Apa ini?”
“Ini adalah kartu unlimited dari Tuan Smith untuk anda gunakan.”
“Tidak perlu. Aku tidak memerlukan itu. Kembalikan saja padanya,” jawab Kasih acuh.
“Tapi ini adalah perintah dari tuan Smith, Nyonya ....”
Gadis yang sedang tidak bersemangat itu akhirnya mengambil kartu itu sembari menghela nafas berat.
“sekarang aku sudah mengambilnya, kau boleh pergi sekarang.” tutur Kasih tidak sabar.
“Saya punya satu hal lagi yang harus saya sampaikan pada anda, Nyonya ...”
“Apa?”
“Tuan meminta anda untuk ikut dengannya ke kantor.”
“Hah?!” Kasih mendelik dengan mulutnya yang terbuka lebar tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Ia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi tuan Smith saat itu juga.
“Pria gila menyebalkan! Apa lagi yang kau inginkan dariku?! Apa maksudmu dengan aku harus ikut denganmu ke kantor? Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain membuat kesulitan untukku setiap saat?” cecar Kasih kesal sambil berbicara di telepon.
“Apa kau lupa?” tanya Tuan Smith. Kasih mengernyit bingung.
‘apa maksud pria gila ini?’
“Kau adalah pegawaiku mulai sekarang.” jelas Tuan Smith.
“Whatt?!” teriak Kasih tidak percaya. “Dengarkan aku. Aku memang menandatangani kesepakatan dengamu untuk bekerja sebagai istrimu, tapi aku tidak mesti untuk pergi ke kantormu setiap hari. Dan ....” Tiba-tiba Kasih menyadari sesuatu. “tunggu dulu, jangan bilang kau ingin merubah jenis pekerjaanku karena sekarang aku dan kau bukan lagi suami istri diatas kontrak?!” Kasih mencoba menebak.
“Got it!”
“Tidak. mana bisa seperti itu? Kau seenaknya mengubah peraturan kontrak kerja aku bisa saja menuntutmu, asal kau tau itu,” tutur Kasih kesal. ‘bisa-bisanya dia merubah kontrak tanpa sepengetahuanku, apa dia pikir aku ini sebodoh itu?’
John maju lalu memperlihatkan surat kontrak pada Kasih. “Tuan Smith berhak melakukan apapun, Nyonya. Itu tertulis disini.”
Kasih sangat terkejut melihat dan membaca kembali isi surat kontrak itu. Alangkah terkejutnya ia saat ia akhirnya memastikan sendiri bahwa yang dikatakan John, asisten tuan Smith memang benar. Kasih seketika merasa sangat bodoh karena tergiur dengan jumlah uang yang ditawarkan begitu banyak sehingga ia bertindak ceroboh dengan tidak membaca kembali isi surat kontrak itu sebelum menandatanganinya. Alhasil, ia tidak dapat berkata apapun lagi dan hanya bisa pasrah menerima nasibnya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1