Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 83 Berada Ditengah Konflik


__ADS_3

Setelah Kasih diseret keluar dari ruangan barulah ia dapat melihat sendiri di mana keberadaannya sekarang ini. Sebuah kapal pesiar mewah berlayar mengarungi lautan membawa serta dirinya entah kemana.


Pandangan Kasih berkeliling melihat apapun yang ada di sekitarnya ia berharap ada seseorang yang dapat menolongnya untuk keluar dari sini hidup-hidup.


‘Kapal pesiar ini terlihat mewah jika mereka berniat untuk memeras ... Oh tidak! mereka tidak akan melakukan hal itu, apa yang akan mereka dapatkan dengan memeras gadis yang tidak punya apa-apa seperti diriku. Lalu sebenarnya apa yang mereka inginkan dariku kenapa menculikku dan membawaku ke tengah lautan seperti ini apa mereka akan menjadikan aku makanan ikan?’ Kasih merasa ngeri sendiri dengan apa yang baru saja sedang ia pikirkan.


‘Ya Tuhan, tolong selamatkan aku dari sini tolong kirimkan seorang ksatria atau siapapun untuk menolongku.’ Di dalam hatinya Kasih mulai menangis ketakutan membayangkan apa yang menimpa dirinya sebentar lagi. Tak putus-putusnya dalam hatinya ia terus berdoa memohon pada Tuhan untuk mengirimkan seseorang sebagai penyelamat hidupnya.


Di atas kapal yang sedang berlayar Kasih berdiri ditengah-tengah para pengawal dari pria yang telah menculik dirinya.


Ikatan dibagian kaki telah dilepaskan agar mempermudah Kasih untuk berjalan dari sisa ikatan pada bagian tangannya saja.


‘Sialan aku membenci tatapan pria ini. Ada apa dengannya yang menatapku seperti itu membuat orang tidak nyaman.’


“Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku apa yang telah kulakukan hingga kau menculikku seperti ini. Lepaskan aku!” kata kasih berteriak pada Max yang berada di hadapannya.


“Aku sudah muak dengan semua ini sekarang jelaskan semuanya padaku karena aku tidak ingin berada ditengah konflik yang tidak kumengerti.”


Pekikan dan teriakan Kasih tidak mendapat perhatian sama sekali, Kasih merengut kesal dibuatnya. ‘Aku diabaikan?! benar-benar menyebalkan sekali’


Pria bernama Max Julian itu berjalan mendekati Kasih hingga jarak keduanya sangat dekat. ‘Apa yang diinginkan pria ini.’


“Semakin kemari semakin menarik saja. Bagaimana kalau kita sedikit bermain, Nyonya?”


Beberapa orang terlihat pembawa Brandon yang masih terbungkus kepalanya dengan kain hitam. Tidak lama kemudian kain yang menutupi kepala Brandon yang menutupi wajahnya dilepaskan dan kini Kasih dapat melihat wajah pemuda yang sempat disekap bersama dengan dirinya. Dalam sekejap Kasih merasakan sakit yang teramat hebat menghantam kepalanya membuat pandangannya kabur dan tubuhnya seketika melemas bak tanpa tulang. ‘Sakit ini, kenapa datang lagi?’ gambaran memorinya yang terlupakan olehnya timpang tindih menambah rasa sakit yang semakin menyiksa.


“Hentikan! Kepalaku sakit! Tidak! aku tidak ingin ingat lagi!!!” suara teriakan kesakitan Kasih membuat semua orang memalingkan wajah kearahnya.


Kasih terlihat sangat kesakitan memijat kepalanya kuat sembari terus berteriak. Penjaga yang berada disampingnya dibuat kebingungan. Brandon yang kini telah melihat gadis yang bersamanya dalam satu ruangan itu akhirnya mengenali Kasih.


“Gadis jalang ini! semua ini karenamu! Kemari kau, biarkan aku membunuhmu.” Brandon meloloskan dirinya berlari menyerang Kasih yang masih merasa kesakitan. “Seharusnya dari awal kau berikan saja aku uang tanpa membuat masalah lain! dasar jalang tidak tau diri!” ucap Brandon menguncang tubuh lemah Kasih dengan kuat tanpa memedulikan apapun sama sekali dan hanya melampiaskan kemarahannya.


“Kau, siapa?” Sebuah siluet seorang pria muncul didalam ingatan Kasih membuatnya merasakan denyutan yang sangat sakit setiap kali siluet itu muncul. “Lepaskan aku, aku .... “


Dangan kasar Brandon menarik dagu Kasih membuat gadis yang sudah tidak berdaya itu menghadap wajahnya. “Aku akan membunuhmu sekarang!”


Nafas Kasih sudah tersengal-sengal tak mampu memperhatikan apapun yang sedang dilakukan pemuda dihadapannya ini. Matanya yang sayu samar-samar melihat siluet yang muncul diingatannya dibelakang Brandon dan setelahnya rasa sakit yang kemudian kembali menyerang pandangan Kasih seketika berubah gelap sepenuhnya.


Brandon tercengang melihat Kasih yang tiba-tiba ambruk dihadapannya. “Berpura-pura lemah, kau pikir aku akan mengasihanimu?! Karena kau, aku hampir dibunuh oleh Tuan Smith Alexander. Jika tidak membunuhmu sekarang ....  ”


Dorr!


Satu tembakan melesat menembus tubuh Brandon yang seketika membuatnya terhenyak perlahan matanya menatap dadanya yang telah tertembus peluru yang ditembakkan oleh Tuan Smith dari arah belakang. Tidak hanya sampai disitu, Brandon kemudian menerima tembakan tepat sasaran secara beruntun ditempat yang sama dimana tembakan pertama terletak. Cairan kental berwarna merah termuntahkan dari mulutnya hingga saat tembakan terakhir mengenainya, ia tumbang bersimbah darah tepat disebelah Kasih yang tidak sadarkan diri.


Tuan Smith bersimpuh menaruh kepala Kasih pada lengannya menatap wajah tenang Kasih dengan tatapan khawatir. “Kasih? bangunlah!” Tuan Smith berusaha membuat Kasih sadar dengan menepuk pipi istrinya itu namun tidak ada hasil. Mata dengan sorotan yang dirindukan oleh Tuan Smith itu tidak kunjung tampak.


“To, tolong.” Lenguhan lemah terdengar dari mulut Brandon yang ternyata masih hidup namun sedang sekarat.


“Adam! buang jasadnya untuk makanan hiu!” perintah Tuan Smith tanpa mengalihkan padangannya.

__ADS_1


“Baik.”


Tanpa menunggu waktu lama tubuh Brandon yang sudah tidak berdaya itu diangkat dan dibuang ke dalam laut yang lalu kemudian langsung disambut oleh beberapa hiu dibawah sana. Setelah memastikan sendiri tubuh Brandon tidak tampak lagi dan hanya menyisakan air laut yang telah berubah menjadi merah darah. Tuan Adam Kemudian datang menghadap Tuan Smith.


“Bawa pergi Kasih dari sini aku masih punya urusan yang harus kuselesaikan,” kata Tuhan Smith dengan nada dingin menatap Max julian dihadapannya.


Tuan Adam dan beberapa pengawal membawa Kasih pergi dengan membawa beberapa pengawal.


“Kau masih tidak berubah Tuan Smith, masih sama brengseknya seperti dulu.”


Tuan Smith menatap berang kearah Max Julian kepalan tinjunya mengerat hingga menampilkan buku-buku jarinya.


“Hentikan bersikap pengecut dan hadapi aku,” tantang Tuan Smith.


Max Julian tersenyum sinis. “Tidak perlu terburu-buru, aku masih punya kejutan yang lain untukmu,” katanya dengan jeda sebentar sembari melihat ekspresi dingin pria mengerikan dihadapannya.


“Aku tahu tentang penyakit istri kecilmu itu, aku ingin tau apa yang akan terjadi ketika istrimu itu mendapatkan kembali ingatannya, akankah ia masih bisa bertahan?. Aku harus pergi dulu, selamat tinggal semoga beruntung,” tutur Tuan Adam berbalik pergi menaiki sebuah heli yang sudah siap untuk membawanya terbang.


“Max Julian!!!” suara tuas menggelegar meneriaki Max yang pergi sembari menyunggingkan senyum licik.


 


 


***


 


 


“Sialan kita kalah jumlah!” geram Tuan Adam marah. “Kalian semua lindungi Nyonya dengan baik!” seru Tuan Adam memberi perintah.


“Baik!” segera setelah menerima perintah seluruh pengawalnya memasang posisi lingkar dengan Tuan Adam dan Kasih berada ditengah mereka sekarang benar-benar terkepung oleh pasukan Max Julian yang sangat banyak.


Setelah beberapa saat kemudian rombongan Tuan Smith datang. Orang-orang yang bersama dengan Tuan Adam banyak diantara mereka telah tumbang bahkan Tuan Adam sendiri sedang mengalami luka berat ditubuhnya.


“Kakak maafkan aku, Kasih.... “


“Jangan bicara lagi aku sudah mengerti,” potong Tuan Smith cepat. “Bawa Tuan Adam ke rumah sakit dan yang lainnya ikut aku!”


Di dalam helikopter yang sedang terbang itu tampak Max Julian sedang menatap wajah Kasih disampingnya. Disaat helikopternya akan segera mendarat tiba-tiba dari arah lain muncul helikopter yang ternyata adalah Tuan Smith. Helikopter milik Max Julian tidak jadi mendarat dan hanya melayang diudara dengan helikopter milik Tuan Smith yang berada dihadapannya.


Salah seorang bawahan yang adalah Sniper siap untuk menembak namun segera dicegah oleh Tuan Smith.


“Jangan bertindak gegabah disana ada Kasih,” ucap Tuan Smith sembari pandangannya yang memperhatikan ke dalam helikopter. Bawahannya itu kemudian menarik kembali senjatanya mengurungkan niatnya untuk menembak.


Tanpa disadari oleh semua orang Rey ternyata sudah berada di dalam helikopter yang sedang mengudara seraya mengamati pergerakan musuh dan lalu kemudian pandangannya tertuju pada Kasih, ia juga melihat Tuan Smith.


Max Julian terlihat mengambil senjata dan bersiap menembak helikopter Tuan Smith melihat hal itu, Rey tidak diam saja. Dirinya bergegas menyambar Max lalu terjadilah pergelutan antara keduanya.

__ADS_1


“Bocah itu?!” Tuhan Smith tampak terkejut melihat ada Rey disana. Dilepasnya teropongnya dengan cepat melihat sendiri dengan mata kepalanya memastikan apa yang sudah dilihatnya barusan.


“Dekatkan kearah heli itu!” perintah Tuan Smith dengan nada marah.


Keduanya masih terus berusaha saling merebut senjata yang masih dipegang oleh Max hingga tiba-tiba terdengar bunyi suara tembakan. Pergelutan keduanya seketika terhenti. Rey menoleh kearah perutnya yang terkena tembakan lalu kemudian dengan cepat Max mendorong tubuh Rey dengan kuat hingga terlempar dari heli. Sebelum dirinya benar-benar terjatuh tatapan lemah Rey tertuju pada Kasih yang masih tidak sadarkan diri.


“Kasih .... “ lirih Rey dengan suara lemah bersamaan dengan itu tubuhnya pun terjatuh kedalam laut.


Belum sempat Tuan Smith menembak, Max segera menodongkan senjata pada Kasih yang membuat Tuan Smith tidak berani menembak dan akhirnya heli itu pergi begitu saja.


“Brengsek! Sialan!” teriak Tuan Smith marah memukulkan senjatanya pada badan heli.


“Tuan, kami menemukan tubuh Rey dibawah,” ucap pilot yang mengemudikan heli.


Senjata yang dipegang oleh Tuan Smith dilemparnya kesembarang arah. “Lacak kemana brengsek itu membawa Kasih pergi!” kata Tuan Smith kemudian.


Rey sudah sangat sekarat saat Tuan Smith datang. Darah mengalir deras dari bekas luka tembakan Max tadi membuat tubuhnya lemah. Dari mulutnya keluar darah segar.


“Bawa dia ke rumah sakit,” kata Tuan Smith namun dicegah oleh Rey lalu memberi isyarat pada Tuan Smith untuk berjalan mendekat kearahnya. Tuan Smith menurut ia berjalan mendekatkan telinganya pada wajah pemuda sekarat dihadapannya itu.


Setelah mendengar perkataan Rey, Tuan Smith melotot kaget tatapannya menatap lekat wajah pucat Rey. “Kau harus bertahan!” bentak Tuan Smith pada Rey.


Rey hanya tersenyum kecut pandangannya yang semakin samar menatap langit pantai dengan burung camar terbang dengan bebasnya. Sekelebat bayangan wajah Kasih terlintas sedang terseyum manis padanya. “Maafkan aku, Kasih. Aku mencintaimu.”


“Apa yang kalian lakukan?! Cepat bawa dia ke rumah sakit,” ucap Tuan Smith panik.


 


 


BERSAMBUNG...


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2