Cinta Masa Silam

Cinta Masa Silam
Si Tempe 1


__ADS_3

"Awh ... Hei! Kalo jalan pake mata dong. Jangan asal tabrak aja." Seorang gadis cantik menghardik seseorang yang baru saja ditabraknya.


"Kok aku yang salah? Kamu yang nabrak, bukan aku. Lagi pula, dari jaman dulu hingga masa kini yang namanya jalan ya pake kaki, bukan pake mata. Cantik sih, tapi sayang ... NGGAK WARAS!" Seorang cowok yang ditabrak oleh Naya pun tidak mau kalah, dia membalas ocehan gadis itu.


Gadis itu bernama Nayyara Nafisa Alberto, putri pertama Revan Arayyan dan cucu pertama dari Elang Danuarta Alberto. Gadis berumur 22 tahun, meski berasal dari keluarga kaya dan terpandang, tapi sifat Naya sangat ramah, humoris dan sedikit gesrek.


"Gila!" Naya kembali berlari untuk menghindari anak buah papi Rey yang sedang mengejarnya.


Dia bersembunyi di dalam mobil bak terbuka yang sedang parkir, kebetulan ada terpal berukuran lebar di bak mobil tersebut yang bisa menutupi tubuhnya.


Bukan tanpa alasan Naya melakukan itu, dia kabur dari rumah karena tidak mau dijodohkan dengan putra dari teman papinya.


"Perjodohan ini akan batal, kalo kakak bawa pulang lelaki pilihan kakak ke hadapan Papi." Naya selalu mengingat apa yang dikatakan oleh Papinya.


"Maaf-maaf ya pi, Kakak nggak mau. Iya kali dijodohin sama laki-laki gila." Naya bermonolog di tempat persembunyiannya. Naya belum menyadari jika mobil itu sudah bergerak, keluar dari parkiran.


"Aduh!!" Naya memegangi kepalanya yang terbentur.


Supir mobil terkejut saat mendengar suara dari arah belakang mobilnya. Dia turun dari mobil lalu membuka terpal yang ada di bak belakang.


"Kamu!!" Seru mereka bersamaan.


"Kamu ngikutin aku ya, niat banget sih." Naya duduk sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kamu pikir aku nggak punya kerjaan. Ngikutin kamu? Harusnya aku yang nanya sama kamu, kenapa kamu bisa ada di mobil aku." Perkataan laki-laki itu membuat Naya terkejut.


"Hehehe ... Ini mobil kamu ya, maaf ya aku tadi sembunyi di sini." Ucap Naya sambil cengengesan.


"Turun." Laki-laki itu memaksa Naya untuk turun.


"Eh, jangan kasar dong. Jadi cowok kok nggak ada baik-baiknya sama cewek. Pasti jomblo 'kan, karena nggak ada cewek yang mau sama kamu." Sungut Naya yang terpaksa turun dari mobil itu.


"Terserah!" Lelaki itu masuk ke dalam mobil dan kembali mengemudikan mobilnya setelah Naya benar-benar turun dari mobilnya.


"Sial banget sih hari ini. Dikejar anak buah papi, nyemplung got, dikejar orang gila, dan terakhir ketemu sama cowok gila. Awas aja kalo sampe ketemu lagi ama tu laki, gua nikahin juga deh." Naya menggerutu sambil berjalan tak tentu arah.


Di sisi lain,


Rey sedang gelisah menunggu kabar dari orang suruhannya. Sudah beberapa hari ini Naya tidak pulang.

__ADS_1


"Pi, emang papi yakin mau jodohin si kakak?" tanya Rani sambil menyuguhkan kopi untuk suaminya itu.


"Habisnya mau gimana lagi, Mi. Kalo kita biarkan terus, si kakak bisa semakin brutal. Anak perempuan tapi tingkahnya seperti laki-laki saja." Rey pun menggerutu.


"Itu karena papi yang terlalu memanjakannya," ujar Rani.


"Emang papi yakin, anak buah papi bisa berhasil menangkap kakak?" Leon tiba-tiba ikut nimbrung.


"Satu persen papi yakin." Jawaban Rey membuat Rani dan Leon tertawa.


"Kamu dari mana, dek?" tanya Rani pada Leon, adiknya Naya.


"Main futsal," jawab Leon.


Naya dan Leon sama-sama anak dari Rey dan Rani. Tapi, sifat mereka berbeda, sangat jauh berbeda. Naya memiliki sifat yang ramah, sedangkan Leon bersifat dingin dan datar pada orang-orang di sekitarnya.


"Mami udah tanya ke teman-teman kakak belum?" tanya Rey.


"Udah, tapi satu pun tidak ada yang tahu dia di mana," jawab Rani.


"Kalo mau cari kakak jangan di rumah temennya, tapi cari di kolong-kolong jembatan." Tutur Leon sambil menuju kamarnya.


"Dia pikir si kakak tikus got kali ya," gumam Rey.


"Wih, makin pinter aja ni Mami. Istrinya siapa sih?" Rey mencubit kedua pipi Rani dengan gemas.


"Nggak tau istrinya siapa," ujar Rani lalu pergi ke kamarnya.


"Kode alam tu, masuk kamar. Emang paling bisa nyenengin hati suami tu si mami, ah jadi makin cinta 'kan." Rey pun menyusul Rani ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, lampu sudah di matikan. Rey berjalan mengendap ke arah kasur.


"Papi ngapain ngendap-ngendap?" tanya Rani dari arah kamar mandi.


"Astagfirullah! Mami, kenapa mukanya kayak hantu begitu? Bikin kaget aja." Rey mengusap dadanya karena terkejut melihat wajah Rani yang sedang memakai masker.


"Enak aja dibilang kayak hantu, ini namanya masker papi. Biar wajah mami tetap kinclong." Rani naik ke kasurnya lalu rebahan.


"Kinclong sih kinclong, tapi jangan ngagetin orang dong," gerutu Rey lalu ke luar dari kamar.

__ADS_1


Rey menyambar jaketnya lalu mengeluarkan motor sport kesayangannya, setelah itu langsung pergi untuk mencari si tempe, putri kesayangannya.


"Di mana kamu, nak? Jangan bikin papi khawatir." Monolog Rey sambil melihat ke kiri dan ke kanan jalan.


Sudah cukup jauh Rey berkendara, hingga di tempat terakhir anak buah Rey bertemu dengan Naya.


Rey mematikan mesin motornya dan mengamati keadaan sekeliling, siapa tahu saja Naya lewat di daerah situ.


Tiga puluh menit sudah Rey berdiam diri di sana, tidak ada tanda-tanda kemunculan Naya. Rey menghidupkan kembali mesin motornya, lalu mulai mencari ke tempat lain.


Dari kejauhan terlihat serombongan petugas sedang mengamankan para wanita malam yang sering berdiri di pinggiran jalan, Rey melewati kerumunan itu dengan santai.


"Papi, tolong kakak!"


Rey menghentikan motornya saat mendengar suara Naya berteriak memanggilnya. Seorang gadis sedang memberontak dan dipaksa naik ke atas mobil patroli.


"Kakak." Rey turun dari motor lalu berlari ke arah mobil yang sudah berjalan dengan perlahan.


"Tunggu!" Rey menghentikan mobil itu.


"Tuan Rey? Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang petugas yang mengenali Rey.


"Turunkan putriku!" Perintah Rey. Dalam situasi seperti ini Rey selalu dingin dan datar.


"Putri anda?" tanya petugas sambil melihat ke arah mobil yang berisikan para wanita malam.


Naya perlahan turun dari mobil dan Rey dengan sigap langsung menolongnya.


"Maaf, Tuan. Kami tidak mengenali putri anda. Saya harap anda tidak mempersulit tugas kami." Semua petugas turun lalu membungkuk pada Rey dan Naya.


"Tidak masalah. Pergilah!"


Rey menatap Naya dengan tajam, namun kemudian tersenyum saat melihat Naya mengembungkan pipinya.


"Kenapa papi tidak pernah bisa marah padamu." Rey langsung memeluk putri kesayangannya itu.


"Karena kakak lucu," ujar Naya.


Pletak ... Rey menjitak kepala Naya.

__ADS_1


"Lucu dari mananya, muka kayak badut gitu," seloroh Rey.


"Ah papi, ayo kita pulang." Naya menarik tangan Rey sampai ke motornya. Seperti biasa, dia yang mengendarai motor itu dan sang papi duduk manis di belakangnya.


__ADS_2