Cinta Masa Silam

Cinta Masa Silam
Si Tempe 7


__ADS_3

Susanto bingung saat ada orang yang datang menjemputnya. Dia sama sekali tidak mengenal orang-orang yang kini sedang berada di rumahnya.


"Saya tidak mengenal kalian, untuk apa saya dan adik saya ikut kalian. Lagi pula, ini sudah tengah malam, kalian sungguh mencurigakan." Tutur Susanto.


"Kami adalah orang suruhan kakek kekasih anda, jadi kami mohon ikut kami jika kamu ingin tetap wisuda besok." Kata salah satu dari mereka.


Susanto melihat mereka memakai pakaian biasa, tapi ada ciri khas atau tanda khusus pada baju mereka, yang menandakan mereka berasal dari kelompok tertentu. Karena pencahayaan yang kurang bagus dan baru saja terbangun dari tidur, Susanto tidak bisa dengan jelas melihat tanda itu.


"Saya tidak punya kekasih!" Susanto berusaha memberontak, namun apa daya keahliannya dalam bela diri tidak mampu menandingi kekuatan orang yang datang menjemputnya.


"Kita mau dibawa ke mana, kak?" tanya Santoso dengan suara pelan setelah mereka masuk ke dalam mobil.


"Kakak juga nggak tahu, kita ikuti saja dari pada celaka." Jawab Susanto dengan tenang, seolah semua baik-baik saja.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang masih terlihat lengang. Beberapa mobil mengiringi mobil yang ditumpangi oleh Susanto dan adiknya.


"Sebenarnya kalian siapa dan mau apa? Kenapa kalian menculik kami?" Susanto memberanikan diri untuk bertanya.


Tidak ada satu pun wajah yang dia kenali, karena semua orang yang menjemputnya paksa memakai topeng.


Mobil mulai mengurangi kecepatannya secara perlahan saat memasuki pekarangan sebuah rumah yang cukup mewah. Rumah itu sepertinya sudah lama tidak di tempati namun masih terlihat rapi dan terawat.


"Turun!" Salah satu dari mereka membukakan pintu untuk Susanto dan adiknya.


Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Susanto dan adiknya sangat patuh pada mereka para penculiknya. Bukan karena bodoh, tapi karena mereka berdua tidak punya kekuatan untuk melawan.


Susanto dan adiknya digiring masuk ke dalam rumah. Salah satu dari mereka membawa kedua tawanan itu ke sebuah kamar.


"Istirahatlah, besok pagi ketua kami akan menemuimu." Kata orang itu dengan lembut pada Susanto.


"Sebenarnya kalian siapa? Apa kalian orang suruhan keluarga nenek?" tanya Susanto.


Tanpa menjawab pertanyaan Susanto, orang tadi meninggalkan Susanto di kamarnya. Susanto semakin bingung dan tidak mengerti kenapa orang-orang ini menculiknya.


Tidak ada pilihan lain, selain menunggu esok pagi untuk mengetahui kebenarannya, siapa dalang penculikan yang terjadi padanya juga adiknya.

__ADS_1


"Kak, siapa mereka?" tanya Santoso yang masih terlihat ketakutan.


"Kakak juga nggak tahu mereka siapa," jawab Susanto.


"Bagaimana caranya kita untuk kabur, penjagaan di luar sangat ketat." Santoso melihat ke luar jendela, dari situ dia bisa melihat para penjaga yang sedang berpatroli.


"Kita berdoa saja semoga mereka orang baik," ujar Susanto yang sudah lebih dulu merebahkan tubuhnya di kasur.


Terlihat tenang, namun kenyataannya dia sangat gelisah. Bagaimana jika mereka adalah orang jahat yang ingin mencelakainya juga adiknya.


"Besok kakak nggak bisa wisuda dong," ujar Santoso lesu lalu duduk di tepi kasur yang empuk.


"Tidak masalah, yang penting kita berdua bisa selamat." Ucap Susanto.


Susanto mengajak adiknya untuk tidur. Hari masih sangat larut, jarum jam menunjukan pukul dua dini hari. Susanto mencoba memejamkan matanya dan tetap berusaha untuk berpikiran positif. Dia juga tidak lupa berdoa dalam hati agar Tuhan melindunginya dan adiknya.


Pagi harinya di kediaman Naya,


Semua penghuni rumah sibuk akan aktivitasnya masing-masing. Rey dan Rani sudah tidak ada di rumah, mereka berjalan-jalan santai di sekitaran komplek. Leon berlari pagi di halaman belakang, di lapangan basket yang dibuatkan oleh papinya. Naya sendiri memilih ikut pelayan rumahnya untuk ke pasar, berbelanja kebutuhan dapur.


Sepasang kaki dengan gagah melangkah masuk ke rumah itu, dia langsung berjalan ke arah belakang rumah.


"Lagi pacaran kek di gang komplek," jawab Leon.


"Kakakmu?" tanya Elang lagi.


"Ketemu saudaranya di pasar," jawab Leon sambil tersenyum dan Elang hanya menggelengkan kepalanya.


Leon mengeringkan keringat menggunakan handuk kecil yang dia gantungkan di lehernya. Dia berjalan menghampiri Elang lalu duduk di sebuah bangku kayu.


"Kakek sudah rapi, emangnya mau ke mana?" tanya Leon, sebotol air mineral sudah habis di teguknya.


"Masih muda tapi pelupa," ujar Elang lalu meninggalkan Leon begitu saja tanpa jawaban.


Elang berjalan ke arah suara cempreng yang sedang melantunkan sebuah lagu dari arah depan. Sepertinya sang singa Alberto sudah kembali dari pasar.

__ADS_1


"Kakek!" Seru Naya saat melihat Elang berjalan ke arahnya.


"Udah selesai acara temu kangennya? Kok cepet amat?" Elang menggoda cucunya.


Naya yang tidak mengerti maksud Elang pun mengerutkan keningnya. Mencoba memahami arti 'temu kangen' yang dikatakan oleh Elang.


"Apa maksud kakek? Naya dari pasar bukan menghadiri acara temu kangen." Tutur Naya.


Elang merangkul bahu Naya dan mengajaknya ke sofa.


"Ketemu tempe nggak di pasar?" tanya Elang sambil tersenyum dan Naya pun yang baru tahu maksud ucapan kakeknya tadi jadi tertawa dengan keras.


"Maksud kakek, Kakak bertemu keluarga besar di pasar. Hahaha ... " Naya tertawa semakin keras


"Apa yang lucu?" tanya Rey yang baru saja pulang dari lari paginya.


"Si kakak sedang bahagia karena baru saja bertemu dengan keluarga besarnya di pasar," jawab Elang.


"Ooo," meski tidak mengerti maksud Elang, Rey ber'o saja.


Rey dan Rani masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuh mereka dari keringat. Mereka harus segera bersiap-siap untuk menghadiri acara wisuda di kampus milik keluarga Alberto hari ini.


Naya dan Leon juga sama, mereka juga harus hadir hari ini. Leon pengisi acara dan Naya menjadi penonton saja.


"Apa semua keluarga Alberto akan hadir, Dad?" tanya Rey pada Elang sambil berjalan menuruni tangga.


"Kenzi tidak bisa ikut karena sedang bertugas di luar kota. Yang lain akan hadir seperti biasa," jawab Elang.


"Mommy tidak ikut?" tanya Rey lagi.


"Bidadariku langsung pergi ke kampus, setelah merias wajahnya di salon." Jawab Elang.


"Salon mana yang udah buka pagi-bagi begini?" Rey terlihat bingung.


"Bukan salon mana yang udah buka, tapi lebih tepatnya salon mana yang berani menolak keinginan dan perintah dari keluarga Alberto." Penuturan Elang pun mengundang tawa, mereka tertawa bersamaan karena perkataan Elang terdengan lucu.

__ADS_1


"Ayo, kita sarapan dulu. Jangan sampai musik-musik di acara wisuda yang sudah diatur sebagus mungkin berubah menjadi musik keroncong yang berasal dari perut kita." Rani mengajak suami dan ayah mertuanya untuk sarapan.


Setelah selesai sarapan, mereka langsung pergi ke kampus.


__ADS_2