Cinta Masa Silam

Cinta Masa Silam
Si Tempe 22


__ADS_3

Setelah mengucapkan salam, Leon langsung masuk dan menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga yang ada di rumah Naya.


Dipejamkan matanya yang terasa berat dan ngantuk. Berkali-kali dia menguap karena mengantuk yang menyerangnya.


"Tidur di kamar dek, jangan di sini." ujar Naya.


"Cuma sebentar kok, Kak. Aku mau ke rumah sakit lagi," balas Leon.


"Siapa yang sakit?" tanya Susanto.


"Ibunya Raya," jawab Leon singkat.


Naya dan Susanto memilih diam, tidak melanjutkan lagi pembicaraannya karena Leon yang terlihat sangat letih.


"Raya, siapa?" tanya Susanto.


"Yayangnya Leon," jawab Naya.


Drttt ... Ponsel Susanto berdering, tertera nama papi mertua di layar ponselnya. Itu artinya Rey yang sedang melakukan panggilan padanya.


"Hallo pi!"


"Apa Leon ada di rumahmu, Nak?" tanya Rey pada Susanto.


"Ada pi, baru saja datang." jawab Susanto.


"Syukurlah! Papi mencemaskannya, sudah dua hari dia tidak pulang." tutur Rey.


"Aku sedang memperjuangkan cintaku, pi." Leon meminta ponsel pada Susanto.


Leon menjelaskan pada papinya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Cukup lama Leon berbicara dengan Rey di telepon.

__ADS_1


"Pulang dek, kasihan tu papi sama mami mikirin kamu." ujar Naya.


"Iya kak, nanti aku pulang. Sekarang aku mau tidur dulu," kata Leon.


Naya dan Susanto meninggalkan Leon sendiri di sofa, mereka tidak mau mengganggunya. Mereka memilih untuk melanjutkan kembali aktivitasnya di dapur.


"Susan, sini deh!" panggil Naya.


"Punya istri gini amat yak, udah pecah telor juga masih panggil Susan." gumam Susanto namun masih bisa didengar oleh Naya.


"Aku malu mau panggil kamu mas atau abang," ujar Naya.


"Serah deh, asal kamu senang." cetus Susanto.


"Ceile yang baru aja berhasil bikin anak, ngambek nih ceritanya. Cieee," goda Naya.


Naya menunjukkan sebuah foto yang ada di ponselnya, "Bagus nggak?" tanyanya.


Naya memperlihatkan beberapa setel pakaian pria pada Susanto.


"Untuk kamu pake kerja, besok kan kamu mulai kerja di kantor kakek." jawab Naya.


"Harus ya pake jas sama kemeja begitu? Bisa nggak kalo pake celana jeans dan kaos saja?" entah apa yang salah pada pertanyaan Susanto sehingga Naya mendelik ke arahnya.


"Kamu mau mentel-mentel di kantor, mau genit-genit? hem!" Naya menjewer telinga Susanto.


"Dih siapa juga yang mau genit-genit, kagak. Aku udah nolak pekerjaan ini dan kamu tahu itu, tapi kakek terus memaksaku." ujar Susanto sambil mengusap telinganya yang memerah.


"Awas saja kalo berani genit di kantor, aku khek nanti!" kata Naya sambil meletakkan tangan di lehernya.


Naya meninggalkan Susanto sendiri di dapur. Dia melangkah ke ruang keluarga untuk menemui Leon.

__ADS_1


"Lah, ke mana tu anak?" Naya celingukan mencari Leon, karena adiknya sudah tidak ada di sana.


Naya berjalan ke luar rumah, motor atau mobil Leon sudah tidak ada.


"Leon sudah pulang ya?" tanya Susanto secara tiba-tiba.


"Awh!" pekit Naya yang terlonjak kaget dan hampir jatuh, untung Susanto dengan cepat menangkapnya.


Mata mereka beradu pandang cukup lama, hingga sebuah kecupan di bibir menyadarkan Naya.


"Kita udah kayak artis-artis yang main film romantis ya?" goda Susanto sambil menaik turunkan alisnya.


Blush, pipi Naya merona. Dia buru-buru masuk ke dalam rumah untuk menghindari suaminya.


Di rumah sakit,


Leon berjalan dengan langkah terburu-buru menuju kamar inap ibunya Raya. Tadi Raya menelponnya dan mengatakan kalau tiba-tiba saja ibu kejang dan kembali tidak sadarkan diri.


"Raya," sebut Leon sambil melangkahkan kaki masuk ke kamar itu.


"Leon, dokter bilang ibu keracunan. Ada orang yang sengaja menyuntikan racun ke selang infus ibu," tutur Raya di sela-sela tangisnya.


"Sial! Aku kecolongan!" umpat Leon lirih.


Leon memeluk Raya dan mencoba menenangkan kekasihnya itu. Setelah Raya sedikit tenang, Leon menghubungi Kakek untuk meminta bantuan.


"Kita tunggu sebentar ya, sebentar lagi kakek akan datang." Leon membimbing Raya ke arah sofa lalu menyuruhnya duduk di sana.


"Ceritakan padaku apa yang terjadi? Bagaimana ada orang yang masuk kemari dan mencelakai ibu?" tanya Leon.


"Tadi, ada seorang perawat yang datang dan memintaku untuk menemui dokter. Aku dan perawat itu pergi ke ruang dokter bersamaan. Saat aku kembali, ibu sudah kejang dan mulutnya mengeluarkan busa," jelas Raya.

__ADS_1


Leon yakin ini ada sangkut pautnya dengan keluarga Raya yang merebut paksa rumah peninggalan ayahnya. Dia akan mengusut peristiwa ini hingga tuntas, tentu saja dengan bantuan sang kakek.


__ADS_2