
Beberapa hari telah berlalu,
Sejak kejadian malam itu, belum terjadi apa-apa pada Susanto. Hanya sekali terjadi kejadian ban mobilnya bocor, seperti ada yang sengaja membocorkannya.
Pagi itu,
Naya tertunduk lesu di hadapan kedua orang tuanya. Dia sangat menyesali perbuatannya, karena sudah membawa Susanto ke dalam masalah.
"Maafkan kakak, Pi. Kakak terpaksa melakukan itu, kakak nggak suka sama Fatih, dia itu pemain wanita." Ucap Naya.
"Papi tahu, tapi bukan berarti Susanto yang harus kamu korbankan. Elang api sudah lama tertidur dan kini kita terpaksa harus membuatnya menggeliat kembali." Tutur Rey.
"Kalian ini, berani-beraninya memarahi cucuku." Tiba-tiba Elang masuk dan berjalan menggunakan tongkat, tongkat kecil berkepala burung elang menjadi hiasan di tongkatnya.
"Daddy? Mau kemari kok nggak bilang-bilang." Rey beranjak dari duduknya dan memimbing Elang untuk duduk di sofa.
"Ada apa ini? Kenapa kalian memarahi cucuku?" tanya Elang.
"Kakek, ini semua salah kakak." Naya mendekati Elang lalu menggenggam tangan keriput kakeknya.
"Coba cerita, mungkin kakek bisa bantu." Pinta Elang.
Naya pun menceritakan apa yang terjadi, Elang mendengarkannya dengan seksama. Sesekali terdengar hembusan nafas berat, kadang terdengar dia mendehem.
"Bagaimana sikap laki-laki itu terhadapmu?" tanya Elang.
"Susanto maksud kakek?" Naya malah balik bertanya.
"Ini nih kalo kebanyakan makan tempe sama buntal, jadi lemot otaknya. Ya iyalah Susanto, siapa lagi." Jawab Elang menjitak kepala Naya.
"Kami belum lama kenal Kek, dan juga jarang bertemu. Jadi sikapnya biasa aja." Tutur Naya.
"Hemmm, begitu ya." Elang terlihat manggut-manggut sambil mengusap dagunya.
"Rey sudah meminta orang untuk menjaganya, Dad. Meskipun Fatih bukan dari keluarga seperti kita, tapi Rey yakin, dengan kekuasaan papanya dia bisa mencelakai Susanto." Ungkap Rey.
"Untuk sementara ini hanya itu yang bisa kita lakukan. Kita lihat saja nanti bagaimana perkembangannya, setelah itu baru kita ambil keputusan." Tutur Elang.
"Baik, Daddy." Ucap Rey patuh.
__ADS_1
Mereka pun mengganti topik pembicaraan. Sesekali terlihat mereka tertawa lepas karena Naya menceritakan hal-hal yang lucu. Untuk menciptakan suasana hangat dan penuh gelak tawa, Naya lah ahlinya.
Di sisi lain,
Susanto sedang panik, nenek yang selama ini merawatnya tiba-tiba tidak sadarkan diri. Dari pengakuan adiknya, ada seseorang yang menyelinap masuk ke rumah mereka dan setelah itu nenek pun kejang lalu pingsan.
"Siapa mereka? Kenapa dia mengganggu kita?" tanya adik Susanto.
"Aku juga tidak tahu. Atau mungkin nenek punya musuh di masa dulu?" Susanto terlihat bingung.
Pintu ruang ICU terbuka, Dokter ke luar dari ruangan itu dan membawa kabar duka. Sang nenek tidak bisa di selamatkan.
"Mulutnya mengeluarkan buih, sepertinya nenek kalian keracunan." Tutur Dokter.
"Nenek!" Susanto dan adiknya masuk ke ruangan itu, lalu menghampiri tubuh renta yang sudah tidak lagi bernyawa.
"Siapa yang tega melakukan ini pada Nenek?" gumam Susanto lirih.
"Kak, bagaimana cara kita memakamkan nenek? Kita tidak punya cukup uang."
Yang dikatakan oleh adiknya benar. Uang mereka sudah habis untuk membayar hutang kedua orang tuanya, biaya hidup, dan membeli obat untuk nenek beberapa hari yang lalu.
Seorang perawat masuk dan memberikan beberapa lembar kertas pada Susanto.
"Suster, berapa biaya yang harus kami bayar?" tanya Susanto.
"Tidak ada, Mas. Semua biaya ditanggung oleh pihak rumah sakit." Jawab Suster.
"Kok bisa, Sus?" tanya Susanto, dia terlihat sangat kaget.
"Maaf, Mas. Kalo soal itu saya tidak tahu, permisi." Ucap Suster itu lalu pergi.
Susanto dan adiknya terlihat bingung, namun mereka tidak mau mempermasalahkannya.
Setelah semua urusan selesai, Susanto membawa jenazah neneknya pulang ke rumah. Warga sekitar sudah banyak yang berdatangan ke rumah Susanto untuk berbela sungkawa.
Proses pemakaman selesai,
Susanto duduk di serambi rumahnya, menatap kosong ke depan, teringat kenangan di saat nenek masih hidup.
__ADS_1
"Kak, kita sudah tidak punya modal lagi untuk berjualan bakso. Apa boleh aku ikut kakak bekerja?" tanya adik Susanto.
"Kamu mau kerja apa? Tidak ada pekerjaan yang cocok untuk kamu, semua pekerjaan kakak berat dan sangat beresiko." Jawab Susanto.
"Aku bisa menjadi tukang parkir atau membantu kakak untuk mengantar telur milik juragan," ujar Adik Susanto.
"Kakak sudah dipecat, semenjak mobil juragan ada yang merusak kemaren." Tutur Susanto.
Susanto dan adiknya pun terdiam, tidak tahu harus bagaimana. Adiknya hanya lulusan sekolah lanjutan atas, karena tidak ada biaya, dia tidak melanjutkan kejenjang kuliah. Susanto bisa kuliah karena mempunyai banyak prestasi, hingga dia dapat bea siswa.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu yang sangat kasar dan disusul oleh suara teriakan.
"Buka pintunya!"
Susanto dan adiknya saling bertukar pandang. Siapa yang datang dan begitu kasar? Itulah yang ada di benak mereka. Susanto beranjak dari duduknya lalu menuju ke depan rumah untuk menemui tamu yang datang.
"Maaf, kalian siapa?" tanya Susanto dengan sopan.
"Kamu tidak tahu siapa kami? Kami adalah keluarga kandung dari nenek yang selama ini menanggung hidup kalian." Jawab salah satu dari mereka.
"Lantas, ada maksud apa kalian kemari?" tanya Susanto yang berusaha tetap bersikap tenang.
"Apa maksud kami? Tentu saja kami mau meminta hak kami. Karena kami anak dan cucu kandung, sedangkan kalian hanya anak yang di pungut di jalanan." Tutur orang yang lainnya.
"Maksud saya, hak mana yang ingin kalian minta. Rumah ini peninggalan kedua orang tua saya, dan nenek menumpang hidup pada kami. Lagi pula, kenapa kalian baru datang sekarang, setelah nenek meninggal? Ke mana kalian saat nenek sedang sakit? Dasar anak dan cucu nggak tau diri! Yang ada di kepala kalian hanya harta tapi tidak mau berkorban dan bekerja." Susanto mendengus kesal melihat tingkah orang-orang di depannya.
"Halah, kami tahu kamu itu bohong. Ini rumah nenek kami, dan kamu juga yang sudah menghabiskan uang nenek, iya kan?" mereka tetap tidak peduli
"Terserah kalian deh mau bilang apa, saya punya bukti kuat. Lagi pula, seluruh warga di sekitar sini tahu siapa pemilik rumah ini dan siapa nenek kalian. Bukan bersyukur dan berterima kasih karena ada yang menolong nenek, malah bertindak macam-macam." Susanto kembali ke samping, malas berdebat dengan orang-orang nggak penting.
"Akan kuambil nyawa siapa saja yang berani menyentuh dan mengganggunya!" Suara lantang dan terdengar menyeramkan itu muncul kala orang pembuat keributan hendak menahan Susanto.
Orang-orang itupun membalikkan tubuh mereka untuk melihat siapa yang berbicara begitu menakutkan tadi. Sontak raut wajah mereka berubah pucat saat melihat orang yang sedang berdiri di hadapan mereka.
__ADS_1
"Tuan!"