
Duduk di balkon sambil menikmati keindahan pantai di malam hari, suara debur ombak seolah melengkapi kemesraan dan kebahagiaan dua insan yang sedang dimabuk cinta tersebut.
"Susan," sebut Naya.
"Hemmm," balas Susanto.
"Kamu suka aku panggil apa? Mas, abang, Kakak, atau apa?" tanya Naya.
Susanto menunduk agar dapat melihat wajah Naya yang sedang bersandar di dadanya.
"Apa saja boleh, asal sopan dan terdengar romantis." Jawab Susanto sambil menaik turunkan alisnya.
"Romantis? Apa ya?" Naya terlihat sedang berpikir keras, sekeras usaha Susanto yang sedang menahan rasa ingin tertawanya.
"Sayang misalnya, Hubby, atau Ayang gitu." jawab Susanto sambil tersenyum.
"Aku panggil mas aja lah," ucap Naya.
"Terserah kamu saja, asal kamu senang. Emang kenapa sih sibuk dengan nama panggilan?" tanya Susanto.
"Setiap hari, setiap kali aku selalu memanggilmu Susan. Itu tidak sopan dan juga tidak diperbolehkan seorang istri memanggil nama pada suaminya," jelas Naya.
"Uluh-uluh, makin pinter aja nih istrinya akoh. Makin lope-lope dah," ujar Susanto sambil mengacak rambut Naya hingga berantakan.
__ADS_1
"Kenapa sih laki-laki suka banget ngacak-ngacak rambut cewek?" tanya Naya.
"Emang laki-laki mana aja yang udah ngacak-ngacak rambut kamu?" Susanto balik bertanya, sepertinya dia sedang cemburu.
"Cieee, cemburu niyeee. Papi, kakek, Leon, om Thomas, om Andre, om Kenzi, om Satria." jawab Naya.
"Kirain Fatih yang udah ngacak rambut kamu," ujar Susanto.
Naya meraih tangan Susanto dan membawanya dalam dekapan. Angin malam semakin terasa dingin, tapi tidak membuat Naya dan Susanto beranjak dari tempat duduknya.
"Apa sebentar lagi aku akan hamil?" tanya Naya.
"Tentu saja, akan ada Naya dan Susanto junior di sini secepatnya." Jawab Susanto sambil mengusap perut istrinya.
Naya hendak beranjak dari duduknya, namun tidak jadi karena Susanto yang sudah menggendongnya.
Susanto menggendong Naya hingga ke kasur. Sebelum tidur mereka menyempat diri untuk berolahraga, bukan lari pagi, atau lari maraton. Tapi, olahraga di atas kasur, mencari kehangatan dan keringat di tengah dinginnya udara malam.
Di tempat lain,
"Semua sudah beres dan aku yakin kali ini dia nggak akan berani ngganggu Naya dan Susanto lagi." tutur Lee.
"Fatih sudah keterlaluan, tidak punya malu. Bisa-bisanya dia mencuri mobil di parkiran hanya karena ingin mempermalukan Susanto. Dia tidak tahu jika Susanto sedang tidak ada. Kasihan!" sambung Andre sambil menyeringai.
__ADS_1
"Untung saja Naya menolak menikah dengannya. Aku tidak bisa membayangkan andai mereka jadi menikah. Harus berapa banyak malu yang harus kami tanggung," ujar Rey.
"Lalu, apa langkah kita selanjutnya? Jika kita hanya memberinya peringatan, itu tidak akan membuat dia jera. Keadaan papanya yang struk, membuat dia semakin membabi buta dan melimpahkan semua kesalahan pada kita." Thomas meminta pendapat.
"Hanya ada satu cara, gulingkan perusahaannya. Sudah cukup batas kita memberi peringatan, tapi tidak satu pun yang dia indahkan. Dia pikir sehebat apa kekuatannya? Sekarang sudah waktunya kita unjuk gigi, hidung, dan mulut." cicit Andre.
"Semua aja loe tunjukin ama dia, sekalian sama burungmu." Celotehan Thomas membuat mereka tertawa. Jika mereka sudah berkumpul, meskipun sedang membahas masalah yang serius, selalu saja ada candaan yang bisa mencairkan suasana. Agar tidak terlalu tegang, katanya.
"Baiklah! Toh perusahaan mereka tidak memberi keuntungan sama sekali untuk kita." Akhirnya Rey mengambil keputusan.
"Yes! Aku suka itu!" seru Lee.
Andre dan Lee langsung beraksi. Tidak sulit bagi mereka untuk menerobos pertahanan keamaan sebuah perusahaan.
Meski begitu, mereka hanya melakukan pada perusahaan yang licik dan kotor.
"Besok kita adakan meeting, usahakan semua pemegang saham hadir. Aku tidak ingin terjadi salah paham. Lagi pula, sudah lama mereka meminta kita untuk memutuskan hubungan kerja dengan Fatih. Aku rasa ini tidak terlalu sulit." tutur Rey.
"Kamu tenang saja Rey, kita tidak perlu meeting. Semua sudah tahu dan setuju. Mereka juga sudah menanda tangani surat persetujuan." ujar Lee sambil memperlihatkan layar laptopnya pada Rey dan yang lainnya.
"Wih, cepet juga cara kerja loe, bro! Saluuut!" puji Thomas.
"Siapa dulu dong, Lee gitu loh. Menantu tertampan di keluarga Alberto." ucapnya dengan gaya narsis.
__ADS_1
"Jelas tertampan lah! Kamu satu-satunya menantu laki-laki di keluarga Daddy. Tapi, tidak untuk menantu Alberto, Bro. Ada Raihan suami Cindra, adiknya Daddy Elang, tantenya Rey dan Susanto suaminya Naya. Ingat bro, ingat itu." Dan mereka pun kembali tertawa hingga perut mereka kram.