Cinta Masa Silam

Cinta Masa Silam
Si Tempe 11


__ADS_3

Fatih tidak bisa lagi berkata-kata saat mendengar harga gaun pengantin yang sudah dipesan oleh Naya. Bagaimana bisa gaun yang bentuknya tidak seberapa itu memiliki harga yang bisa menguras isi kartu Atmnya.


"Kamu yakin ini gaun yang dipasan oleh Naya?" tanya Fatih untuk meyakinkan.


"Sebenarnya Nona minta yang itu, Tuan." Pelayan menunjuk ke sebuah baju yang ada di dalam lemari kaca. Gaun yang lebih cantik dari gaun yang sedang ditunjukkan pada Fatih.


"Yang itu berapa?" tanya Fatih.


"Lima kali lipat dari harga gaun ini," jawaban Pelayan membuat mata Fatih membulat sempurna.


"Aku ambil yang ini saja," tanpa basa-basi dan banyak bertanya, Fatih membayar gaun itu.


Setelah urusannya selesai, Fatih pun pergi dengan wajah kesal. Bagaimana tidak, jika harga baju itu berhasil membuat kartu Atmnya menjerit dan menyisakan sedikit uang dan jumlahnya kurang dari seratus juta.


"Sial! Untung saja yang akan aku dapatkan nanti lebih dari ini, jika tidak, aku tidak mungkin mau membelinya." Fatih terus menggerutu.


Di tempat lain,


"Kakek yakin ini tidak akan menimbulkan masalah?" tanya Naya. Di dekatnya ada Susanto, kedua orang tuanya dan juga kakeknya.


"Pasti ada, bahkan masalah besar. Tapi, bukan untuk kita melainkan untuk keluarga mereka." Jawab Elang sedikit menyeringai.


Naya dan Susanto tidak mempermasalahkan rencana yang dibuat oleh Elang dan Rey. Karena sebelumnya mereka sudah saling suka, namun tidak ada yang berani untuk mengutarakannya.


"Daddy yakin?" tanya Rey.


"Sangat yakin!" Elang bersandar di sofa sambil memainkan ponselnya. Senyum tipis nyaris tak terlihat saat dia membaca pesan yang masuk.


"Kakak pesan baju apa sih di Komala?" tanya Elang.


"Gaun biasa, emangnya kenapa kek?" Naya balik bertanya.

__ADS_1


"Fatih terlihat syok saat mengetahui harga gaun yang kakak pesan, tante Komala bilang uang di Atmnya habis terkuras." Elang tertawa mengingat kembali pesan yang dikirim oleh pemilik butik padanya.


"Emangnya berapa harga gaunnya, Kak?" tanya Rani.


"Cuma 3M, Mi." Jawab Naya dengan santai, membuat Susanto menelan ludah kasar.


"Pantas saja dia terlihat kesal, kakak keterlaluan banget sih ngerjainnya," ujar Rey.


Mereka pun akhirnya tertawa mengetahui Fatih yang kehabisan uang hanya karena sebuah gaun. Berbeda dengan Susanto yang terlihat masih bingung.


"Ya sudah, kalian istirahat saja. Besok masih banyak hal yang harus kalian lakukan." Titah Elang pada Naya dan Susanto.


"Emangnya mau ngapain, Kek?" tanya Naya.


Pluk ... Elang dan Rey menepuk kening bersamaan, gelengkan kepala melihat kepolosan Naya.


"Besok kakak kan menikah, masa lupa?" Rey terlihat geram, tangannya pun langsung mencubit pipi Naya.


"Hehehe, iya ya, kakak lupa." Naya cengengesan dan wajahnya terlihat merona malu.


"Ijabnya besok dan resepsinya minggu depan," Rani manggut-manggut pelan mendengar jawaban dari Rey.


Elang mengajak Susanto untuk pulang ke rumahnya, dia tidak mungkin membiarkan calon cucu menantunya menginap di rumah calon pengantinnya.


"Kek, Susanto belum punya kerjaan tetap, bagaimana bisa nanti aku menghidupi Naya? Sedangkan selama ini dia hidup serba ada dan berkecukupan." Akhirnya Susanto memberanikan diri untuk mempertanyakan hal yang sejak tadi dipendamnya.


"Hidup Naya seperti apa yang kamu maksud, nak?" Hidup mewah, bergelimang harta? Begitu maksud kamu?" Susanto mengangguk menanggapi pertanyaan Elang.


"Anak-anakku, cucu-cucuku, bahkan aku sendiri. Sedari kecil sudah diajarkan untuk hidup mandiri, harta yang ada hanya sebagai pelengkap saja. Orang tua kakek punya segalanya, tapi kakek merintis semua yang kakek miliki sekarang ini dari nol. Begitu juga dengan calon mertuamu, Rey memulai bisnisnya dari nol hingga menjadi besar seperti sekarang. Bahkan dia mampu berdiri sendiri tanpa embel-embel Alberto." Wajah Elang tiba-tiba murung, teringat masa lalu saat Rey memboyong anak istrinya pergi keluar negri.


"Menurut kamu, calon istrimu gadis seperti apa?" tanya Elang.

__ADS_1


"Dia berbeda, polos, ceplas-ceplos, urakan, bahkan terkesan tidak berpendidikan. Siapa yang tau jika ternyata dia putri Alberto," dengan jujur dan tanpa ditutup-tutupi, Susanto menjawab sosok Naya yang terlihat di matanya.


"Dia bukan sekedar putri Alberto, tapi dia singa betinanya Alberto." Cetus Elang, membuat Susanto mengerutkan keningnya.


Suasana di dalam mobil menjadi hening sejenak, Elang menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.


"Setelah kamu mengenal lebih dalam, apa pendapat kamu tentang cucuku?" tanya Elang lagi.


"Tidak bisa ditebak. Sangat berbeda jauh dari kelihatannya," jawab Susanto dan Elang pun tersenyum.


Mobil yang mereka tumpangi pun sampai di rumah Elang. Mereka turun lalu masuk ke dalam rumah. Susanto langsung masuk ke kamarnya, dia merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Dia masih tidak percaya jika besok akan menikahi gadis yang derajatnya jauh lebih tinggi darinya, bagai langit dengan bumi. Gadis yang baru saja dikenalnya, itupun pertemuan yang tidak disengaja.


Awalnya Susanto menolak menikah dengan Naya, karena merasa tidak pantas. Namun, Elang berhasil meyakinkannya.


Susanto merasa beruntung bisa mengenal dan menjadi bagian dari keluarga Alberto, bukan karena hartanya melainkan dari sikap keluarga besar Alberto padanya. Mereka tidak pernah memandang rendah Susanto yang berasal dari kalangan bawah.


Di sisi lain,


"Kamu jangan minta uang lagi sama papa, uang papa sudah habis. Untung semua persiapan sudah selesai seratus persen." ujar papa Fatih.


"Uangku juga sudah habis, Pa. Tapi, aku butuh uang untuk membeli cincin pernikahan." Fatih mendesak papanya agar memberinya uang.


"Pakai uangmu saja, beli perhiasan biasa yang tidak terlalu mahal. 'Kan banyak tu di pasar-pasar toko perhiasan, harganya juga jauh lebih murah, dan bentuknya juga unik-unik." Wajah Fatih tiba-tiba berubah saat mendengar papa menyuruhnya membeli perhiasan di pasar.


"Papa nggak salah? Membeli perhiasan di pasar? Papa yakin mereka akan menerimanya? Kan papa yang bilang, kalo mau mendapat hasil tangkapan yang besar, umpannya harus besar dan bagus." Tutur Fatih.


"Ya sudah, besok papa transfer uangnya, beli yang paling murah. Papa nggak mau tiap hari makan tempe dan telur saja, bisa bisul badan papa." Oceh papa.


Selama mempersiapkan pesta pernikahan yang menguras banyak biaya, mereka makan seadanya. Bahkan pembantu di rumahnya hanya dijatah lima puluh ribu untuk biaya makan sehari. Alhasil sang pelayan hanya memasak tempe yang setiap harinya berbeda olahan.

__ADS_1


Malam ini pun mereka makan tempe lagi, bedanya tadi siang tempe bacem, malam ini tempe orek plus sayur bayam.


"Tempe pun tidak apa-apa, karena setelah kamu menikah dengan Naya, tempe ini akan berubah jadi daging yang lezat." Perkataan itu selalu keluar dari mulut papa saat Fatih mengeluhkan menu makannya.


__ADS_2