Cinta Masa Silam

Cinta Masa Silam
Si Tempe 8


__ADS_3

Suasana kampus sangat ramai, semua datang untuk menghadiri acara wisuda anak, adik, kakak, ataupun saudara mereka.


Begitu juga dengan keluarga besar Alberto dan sebagian warga Elang Api. Mereka hadir di sana sebagai pemilik kampus dan pihak keamanan.


Semua berdandan rapi, cantik, dan tampan.


Hari ini Naya yang biasa berpenampilan tomboy berubah drastis, dia memakai kebaya dengan bawahan rok panjang, rambut di rapikan dan di tata seindah mungkin. Make up tipis dipoleskan semakin menambah kecantikan wajah Naya.


Di sisi lain,


Tok ... Tok ... Tok, seseorang mengetuk pintu kamar Susanto.


"Ada apa?" tanya Susanto, wajahnya terlihat sedih.


"Ini pakaian anda, Tuan. Bersiaplah! Acara wisuda akan segera dimulai." Jawab orang tersebut sambil menyerahkan sebuah kantong berisi pakaian.


Meski terlihat bingung, Susanto tetap mengangguk dan menerima kantong itu.


Cepat-cepat Susanto memakai pakaiannya, setelah selesai dia langsung ke luar dari kamar.


"Anda sudah siap? Mari ikut saya." Orang tersebut mengajak Susanto ke mobil mewah yang sudah terparkir di depan rumah. Di mobil itu ada simbol burung Elang yang berada di tengah kobaran api.


"Elang Api," gumam Susanto lirih.


Sopir melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kampus. Beberapa buah mobil memimpin di depan dan mengiringi di belakang mobil yang ditumpangi oleh Susanto.


"Sebenarnya kalian ini siapa? Kenapa menculikku tapi tetap membawaku ke acara wisuda?" tanya Susanto.


"Lebih baik Tuan melihat video ini, Tuan akan tahu jawabannya." jawab orang yang duduk di samping sopir.


Susanto melihat rekaman video saat Fatih dan orang suruhannya merencanakan penculikan terhadap dirinya, dan di sana juga ada video yang menunjukkan anak buah Fatih sedang mengobrak-abrik rumahnya tepat beberapa menit setelah kelompok Elang Api membawanya pergi.


"Bukankah pria itu tunangan Naya?" tanya Susanto.


"Lebih tepatnya pria yang ditolak mentah-mentah oleh cucu Alberto." kata sopir.

__ADS_1


"Kenapa dia mau menculikku dan merusak acara wisudaku?" Susanto belum juga mengerti.


"Bukankah malam itu Nona memperkenalkan anda sebagai kekasihnya? Mereka tidak terima dan ingin membuatmu menderita dan kalau bisa mereka ingin menyingkirkanmu." Jawab sopir.


"Jadi, kalian adalah suruhan keluarga Naya?" tanya Susanto.


"Kita sudah sampai, Tuan. Silakan turun, adik anda sudah menunggu di dalam." Orang yang duduk di samping sopir membukakan pintu untuk Susanto.


Susanto turun dari mobil lalu merapikan jasnya. Matanya mengembun, sedih karena di hari yang sangat penting ini kedua orang tuanya tidak bisa hadir.


"Hai!" Naya datang menghampiri Susanto.


"Masuk yuk!" Ajaknya yang langsung menggandeng tangan Susanto.


Susanto tidak menolak juga tidak mengiyakan ajakan Naya, dia hanya diam sambil mengikuti langkah Naya di sampingnya.


"Itu bangkumu, duduklah di sana." Ujar Naya sambil menunjuk ke arah bangku khusus para mahasiswa.


Setelah itu Naya pergi untuk menghampiri mami dan papinya juga keluarga besarnya.


Acara pun di mulai,


"Kepada saudara Susanto beserta keluarga, harap naik ke pentas untuk menerima penghargaan dari pihak kampus." Seru MC.


Susanto menghembuskan nafas yang sangat berat lalu mulai berjalan ke arah panggung. Dari arah yang berbeda Santoso juga berjalan menuju panggung. Hingga kedua kakak beradik itu tiba di atas panggung secara bersamaan.


"Orang tuamu tidak hadir?" tanya MC.


"Hadir!" Suara orang berseru dari arah tamu undangan yang hadir.


Elang, Rere, Edo dan Rima berdiri lalu berjalan menuju ke arah panggung.


"Kakek," lirih Susanto yang pandangan sudah tidak jelas karena terhalangi oleh genangan air mata.


"Jangan sedih, kami adalah orang tuamu. Seharusnya kamu bangga karena bisa menjadi mahasiswa yang berprestasi dan bisa membuat kedua orang tuamu bangga di atas sana." Tutur Elang yang langsung memeluk tubuh Susanto.

__ADS_1


Semua orang yang hadir di sana ikut terharu dan menitikkan air mata.


Acara pun sudah selesai, para wisudawan mengabadikan momen bahagia mereka dengan berfoto bersama keluarganya masing-masing. Begitu juga dengan Susanto, dia mengabadikan momen itu bersama Santoso.


"Mami mau foto juga dong," tiba-tiba Rani berdiri di samping Susanto saat sang fotografer hendak memotretnya.


"Papi juga ikut," Rey berdiri di samping Santoso.


"Woy, kakak juga!" Seru Naya dengan hebohnya.


"Ini tempat Adek, kakak awas!" Leon menyingkirkan Naya dari samping Susanto dan menyuruh Kakaknya itu untuk berdiri di samping Rey.


Pose mereka berurutan mulai dari Rey, Naya, Santoso, Susanto, Rani dan Leon. Mereka terlihat seperti satu keluarga yang utuh dan sangat bahagia.


"Smile," ucap sang fotografer.


"Selanjutnya gaya bebas ya, kalian boleh mengespresikan gaya kalian yang paling konyol." Tutur Tukang foto.


Susanto mengode tukang foto saat pose dengan gaya bebas telah selesai. Tiba-tiba Susanto menggendong Naya ala bridal style dan tukang foto langsung memotret mereka.


Di sisi lain,


"Sial, kenapa laki-laki kampungan itu bisa berada di sini!" Fatih terlihat kesal saat mengetahui Susanto menghadiri acara hari ini.


"Sepertinya keluarga Alberto melindungi mereka, bos." Tutur sopir sekaligus anak buah Fatih.


"Siapapun yang melindunginya, aku tidak peduli. Alberto juga manusia, mereka juga sama denganku, sama-sama makan nasi. Kelebihan mereka hanya lebih kaya dari keluargaku." Fatih terlihat semakin kesal saat melihat Naya dan Susanto terlihat mesra, apalagi senyum Naya dan tawa gadis itu sangat lepas.


"Lihat saja, kamu akan menyesal karena sudah menolakku, NAYA!" Fatih mengepalkan kedua tangannya dan menekankan nada bicaranya saat menyebut nama Naya.


Fatih menyuruh sopir untuk mengemudikan mobilnya dan pergi dari sana. Wajah Fatih terlihat menyeramkan, sorot mata yang merah dan tajam karena tersulut emosi dan amarah.


"Arghhh!!" Fatih berteriak frustasi.


"Kalian urus dia! Aku yakin besok, dia sudah mulai bekerja menjadi tukang parkir di mall Empat Sekawan." Fatih memberi perintah pada sopir.

__ADS_1


"Baik, Bos!" sopir mengangguk patuh.


Tidak satu pun dari mereka yang tahu siapa keluarga Alberto yang sebenarnya. Mereka juga tidak tahu jika mereka sudah dengan sengaja menggali lubang kubur untuk diri mereka sendiri. Melawan keluarga Alberto dianggap sepele oleh mereka, mereka belum sadar jika nyawa mereka berada di dalam genggaman Elang Api.


__ADS_2