Cinta Masa Silam

Cinta Masa Silam
Si Tempe 4


__ADS_3

Naya sedang duduk bersama teman-teman kecilnya, di tempat biasa. Sambil menghitung uang hasil jualan hari ini. Naya mengajari anak-anak kecil untuk berjualan, orang tua mereka yang mengatur keuanganya.


Mereka berjualan setelah pulang sekolah dan mengerjakan pekerjaan rumah. Mereka bersekolah di sekolah khusus yang dibangun oleh Rey atas permintaan Naya.


"Wah, hasil jualan kali ini banyak kak." Kata seorang bocah dengan wajah sumringah.


Anak-anak yang lain juga merasa senang karena hasil jualan mereka terkumpul banyak. Satu persatu dari mereka menyerahkan uang hasil jualan kepada Naya.


"Banyak nih." Tiba-tiba ada yang merebut uang itu dari Naya. Tiga orang laki-laki berpenampilan preman sudah berada di sana.


"Kembalikan." Naya meminta uangnya kembali.


"Apa? Aku nggak dengar." Ketiga laki-laki itu tertawa dengan keras.


Naya berdiri dari duduknya, tapi anak-anak menahannya.


"Jangan kak. Mereka preman penguasa daerah sini." Kata anak-anak pada Naya.


"Kalian tenang saja, ini urusan kecil. Kalian menyingkirlah!" Naya maju beberapa langkah ke depan.


"Wow, ada yang mau bermain rupanya." Kata salah satu dari mereka.


"Udah, mundur aja. Kamu perempuan dan cuma sendiri, kami bertiga." Salah satu dari mereka meremehkan Naya.


"Cih!! Sombong sekali kalian. Jadi kotoran yang menjijikan saja, sombong!" Nada bicara Naya terdengar berbeda, menjadi lebih tegas dan menakutkan.


Syut ... Naya melayangkan tendangannya tepat mengenai dagu salah satu preman, hingga preman itu terjatuh.


"Lebih baik mengalah, kalian bukan lawanku." Ujar Naya dengan angkuh.


"Sial! Terlalu banyak omong." Kata preman itu dengan kesal.


Ciat ... Perkelahian tidak dapat dielakkan, satu lawan tiga. Naya melawan tiga preman.


Perkelahian cukup sengit, karena ketiga preman itu cukup tangguh dan kondisi Naya yang belum terlalu pulih, Naya pun sedikit kewalahan.


"Dasar nggak punya malu, beraninya sama perempuan. Potong tu burung, trus pake rok aja." Tiba-tiba Susanto datang dan membantu Naya.


Kemampuan Susanto dalam bela diri patut diacungi jempol. Hanya butuh beberapa menit saja ketiga preman itu sudah lari tunggang langgang.


"Terima kasih," ucap Naya yang belum menyadari siapa yang datang membantunya.


"Kamu!" Susanto terkejut saat melihat wajah Naya.


"Kenapa kamu bisa ada di sini dan berkelahi?" tanya Susanto.


"Aku sedang berjualan bersama anak-anak, tiba-tiba mereka datang dan merampas uang hasil jualan kami." Jawab Naya.


"Kamu bersama mereka? Berjualan?" Susanto tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

__ADS_1


"Iya, emangnya ada yang salah?" tanya Naya.


"Ya ... Enggak sih," jawab Susanto sambil menggaruk tengkuknya.


Anak-anak berlarian menghampiri Naya, dan menanyakan pada Naya apa dia baik-baik saja.


"Kakak baik-baik saja, kalian pulanglah sudah sore. Bukankah kalian harus belajar untuk sekolah besok." Akhirnya anak-anak pun bersalaman secara bergantian pada Naya dan Susanto.


"Kamu mau ke mana setelah ini?" tanya Susanto.


"Mau pulang," jawab Naya.


Susanto celingukan seperti sedang mencari sesuatu.


"Cari apa?" tanya Naya.


"Motor kamu mana?" Bukannya menjawab, Susanto malah balik bertanya.


"Aku nggak bawa motor, aku tadi naik angkutan umum kemari." Jawab Naya.


Susanto melihat ke sekeliling, hari sudah mulai gelap dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.


"Aku bawa mobil, kebetulan aku mau antar barang ke arah rumahmu. Kalau kamu mau, aku bisa mengantarmu pulang." Tawar Susanto dan Naya pun mengangguk.


Susanto memegangi tangan Naya dan menyebrangi jalan untuk sampai ke mobilnya. Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Susanto langsung mengemudikan mobilnya.


"Mobil ini, punyamu?" tanya Naya.


Susanto meminta Naya menunjukkan alamat rumahnya. Susanto kaget saat Naya menyebutkan alamat rumahnya. Sebuah perumahan paling elit di kota itu.


"Mampir dulu yuk," ajak Naya.


"Emm ... Enggak deh, mungkin lain kali." Tolak Susanto dengan halus.


"Kenapa?" tanya Naya.


"Aku harus kembali bekerja." Susanto beralasan.


"Masuk atau kamu akan kehilangan semua pekerjaan kamu." Kata Naya dengan nada ancaman.


Tanpa menunggu jawaban, Naya langsung menarik Susanto untuk masuk ke dalam rumahnya. Naya tidak tahu jika malam itu ada tamu yang berkunjung ke rumahnya.


"Mami, Papi ... Kakak pulang!" Suara cempreng Naya pun memenuhi setiap sudut rumah.


"Kakak sama siapa?" tanya Rani sambil tersenyum.


"Susanto, Tante." Susanto membungkuk sopan.


"Yang waktu itu nolongin Naya 'kan?" tanya Rani.

__ADS_1


"Iya, Tante." Jawab Susanto.


Rani memandang wajah Naya, kemudian mengusap bahu Naya dengan lembut sambil melirik ke arah sofa ruang tamu.


Naya mengikuti arah lirikan Rani dan terkejut saat melihat ada tamu di rumahnya. Keluarga laki-laki yang dijodokan dengannya tempo hari.


"Malam Om, Tante!" Sapa Naya dengan sopan.


Perlahan Naya mendekati Susanto dan menggenggam tangan laki-laki itu tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu.


"Apa maksudnya ini, Tuan Rey? Kenapa putri Anda bersama pria lain dan begitu dekat?" tanya tamu Rey.


"Sebelumnya sudah saya katakan, jika semua keputusan ada di tangan putri saya. Saya sebagai orang tuanya, hanya bisa mendukung semua keputusannya." Jawab Rey dengan bijaksana.


"Kak, kemarilah!" Pinta Rey.


"Kalo begitu saya permisi dulu Om, Tante." Pamit Susanto.


"Kamu juga duduk!" Perintah Rey.


Mau tidak mau Susanto pun duduk tepat di samping Naya.


"Kak, maksud kedatangan mereka kemari adalah untuk melamarmu. Apakah kamu bersedia menerima lamaran dari Nak Fatih?" tanya Rey dengan perlahan.


Naya memandang wajah orang yang ada di situ secara bergantian, kemudian memandang wajah Susanto.


"Maaf Papi, tapi kakak sudah punya pilihan sendiri. Mas Susanto adalah kekasih kakak, calon suami kakak." Jawab Naya tanpa berpaling dari wajah Susanto yang terlihat kaget dan kebingungan.


"Tidak bisa! Naya harus menikah denganku." Sepertinya Fatih terima dengan keputusan Naya.


"Nak Fatih, om minta maaf. Sebelumnya Om dan papamu sudah pernah membahas soal ini. Jadi, Om harap kamu bisa menerima keputusan putri Om." Tutur Rey dengan lembut.


Fatih beranjak dari duduknya lalu ke luar dari rumah itu dengan kesal.


"Maaf Tuan Rey, kami permisi dulu." Mereka pun pergi.


"Kak, kakak sudah tahu kan konsekuensinya?" tanya Rey.


"Tahu Pi," jawab Naya sambil menunduk.


Rey menghela nafasnya sambil melihat ke arah Susanto.


"Maafkan putri om, Susanto. Dia sudah membawamu dalam masalah." Susanto masih belum mengerti dengan apa yang sedang terjadi.


"Tidak apa-apa, Om." Hanya itu yang mampu Susanto katakan.


"Berapa plat mobil yang kamu bawa?" tanya Rey, membuat Susanto semakin bingung. Tetapi, dia tetap menyebutkannya.


Rey mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Aku mengirimkan pesan singkat padamu, baca dan kerjakan dengan baik!" Perintah Rey pada orang yang di telponnya.


Susanto berpamitan untuk pulang, tapi Rey menahannya. Rey meminta Susanto pulang setelah ada yang menghubungi Rey. Meski dilanda kebingungan, Susanto tetap patuh. Dia belum mengenal betul tentang keluarga Naya.


__ADS_2