
Raya berjalan menuruni tangga menuju lantai bawah. Dia mengedarkan pandangannya ke sana kemari guna mencari keberadaan seseorang.
"Mbak Raya cari siapa?" tanya mbak Romlah.
"Nenek sama kakek ke mana ya mbak?" Raya balik bertanya.
"Kakek pergi karena ada urusan, kalo nenek ada tu di depan. Sedang ngobrol sama mas Leon," jawab Mbak Romlah.
"Terima kasih mbak," ucap Raya, setelah itu dia menuju teras untuk menghampiri Rere dan Leon.
"Ada kak Naya juga ternyata," ujar Raya.
"Hai sayang, sini duduk." Ajak Naya sambil menepuk bangku kosong di sampingnya.
"Mas Susan nggak ikut?" tanya Raya.
"Mas Susan pergi bersama kakek," jawab Naya.
"Bagaimana keadaanmu, nak. Apa sudah lebih baikan?" tanya Rere.
"Raya tidak apa-apa nek, Raya baik-baik saja." Jawab Raya.
Raya melirik ke arah Leon yang sedang asyik dengan layar laptopnya. Leon sama sekali tidak menoleh pada Raya.
Rere tersenyum melihat cucu dan calon cucu menantunya.
"Leon sedang mengerjakan tugas kuliahnya, mau kita berisik dan teriak-teriak, dia nggak bakal peduli." Jelas Rere dan Raya pun mengangguk.
Setengah jam berlalu, Leon masih fokus pada layar laptopnya. Jari jemarinya terus menari di atas keyboard. Hingga beberapa menit kemudian dia menghela nafas sembari merentangkan kedua tangannya.
"Capek bang?" tanya Raya. Rere dan Naya sudah masuk ke dalam rumah.
"Tidak," jawab Leon sambil mengacak rambut Raya.
"Gara-gara Raya dan ibu, abang jadi ketinggalan banyak hal." Cetus Raya.
"Tidak ada gara-gara, bukan salah siapa-siapa. Abang sudah biasa melakukan ini. Tugas kuliah belum seberapa dibanding tugas dari papi dan kakek. Mengerjakan tugas dari mereka berdua, abang bisa dua hari dua malam nggak tidur." Jelas Leon.
__ADS_1
"Mau Raya bikinin kopi?" tawar Raya.
"Nah, boleh tu. Memang benar, kamu calon istri yang baik." Puji Leon.
"Gombal!"
Raya masuk ke rumah dan tidak lama kemudian dia kembali lagi sambil membawa segelas kopi.
"Ini kopinya, bang." Raya meletakkan kopi di atas meja.
"Terima kasih," ucap Leon.
Leon menyeruput kopinya secara perlahan, "Untuk beberapa hari ke depan abang sedikit sibuk, mungkin abang tidak bisa menemuimu." Tutur Leon.
"Abang mau ke mana?" tanya Raya.
"Ada sedikit urusan," jawab Leon.
Belum sempat Raya membuka suara, tiba-tiba Naya muncul.
"Abang, ayo pulang! Abang janji kan mau beliin calon ponakan bakso rujak," kelakar Naya.
"Oh tidak bisa, janji adalah hutang. Kalo tidak ditepati hari ini, maka dia akan berbunga." Oceh Naya.
Leon mengemasi barang-barang miliknya lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Udah sana masuk mobil, Leon mau pamitan dulu sama ayang." Usir Leon.
"Mau pamitan apa? Mau cium-cium? kagak kagak, nggak boleh cium-cium. Belum sah!" Kata Naya.
"Dih itu kepala, pasti mas Susan tu yang udah bikin kotor. Siapa yang mau cium, Leon cuma mau pamitan doang, Tempe!" Seru Leon.
"Awas kalo macam-macam. Kakak khek nanti!" Naya pun masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
"Abang pergi dulu ya, mungkin cukup lama. Sampai hari peringatan kepergian ibu yang ke empat puluh hari," ungkap Leon.
"Selama itu?" tanya Raya, dari mimik wajahnya sangat terlihat jika dia sedang terkejut.
__ADS_1
"Itu syarat yang kakek dan papi Rey ajukan. Begitu abang pulang, kita akan langsung menikah. Tapi, tidak ada pesta meriah, karena kita masih dalam keadaan berduka." Terang Leon.
"Baiklah kalo begitu. Ke mana pun abang pergi, apapun urusannya, semoga semua berjalan dengan lancar." Ucap Raya.
"Terima kasih. Selamat berpisah dan sampai jumpa di pelaminan." Leon tersenyum lalu mengacak rambut Raya.
Leon mencondongkan tubuhnya ke arah Raya, dan berbisik di telinga gadis itu. "I love you," ucapnya. Membuat pipi Raya merona karena malu.
Leon masuk ke dalam mobil, kemudian mengemudikannya.
"Adek kasih tau Raya kalo adek mau pergi ke rumah oma Cindra?" tanya Naya.
"Tidak kak, Leon hanya bilang mau pergi lama." Jawab Leon.
"Semoga berhasil!" Naya memberi semangat pada adiknya.
"Kakak tahu nggak sih, sebenarnya apa misi dari ayah dan anaknya itu?" tanya Leon.
"Dih dasar durhaka! Mereka berdua kakek dan papi loe udin," sungut Naya.
Leon terdiam sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Dek, tahu nggak kakek sama mas Susan pergi ke mana?" tanya Naya.
"Ke markas," jawab Leon santai.
"Markas? Mau ngapain? Ada masalah atau ada pembuat onar yang tertangkap?" cecar Naya.
Leon yang keceplosan mencoba untuk mencari jawaban yang pas, agar Naya tidak curiga.
"Mas Susan sudah menjadi bagian dari kita. Kakek bilang cepat atau lambat mas Susan pasti tahu siapa keluarga besar kita. Dari pada tahu dari orang lain, lebih baik kita yang memberitahunya." Tutur Leon.
"Aneh! Bukannya mas Susan sudah tahu siapa Alberto?" tanya Naya.
Leon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kamu bohong ya dek?" tanya Naya.
__ADS_1
"Kalo nggak percaya, tanya aja sama kakek atau papi. Kakek hanya mau menunjukkan apa dan sampai mana wilayah kekuasaan Alberto." Jawab Leon.