
"Bagaimana,apa permainanku sangat hebat?" tanya Andre pada Ayah dan Kakeknya setelah dia menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Dasar anak nakal,Ayah kira tadi dia benar-benar hamil" kata Om Wildan.
"Jadi kapan rencananya anak nakal ini akan menikah?" tanya Kakek pada Om Wildan.
"Lusa Pa" jawab Om Wildan.
"Pasti nenek akan bahagia melihatmu menikah,cucu kesayangannya akan menikah" kata Kakek lirih.
Andre merangkul bahu Kakeknya,"Nenek sudah tenang,nenek sudah bahagia disana.Kakek jangan sedih" kata Andre.
"Jadi sampai lusa kita harus bersandiwara agar Ema tidak melarikan diri,begitu" kata Om Wildan.
"Sepertinya memang harus begitu" kata Kakek.
Karena hari semakin malam akhirnya mereka mengakhiri obrolan mereka dan masuk ke kamar masing-masing.
Andre membuka pintu kamar Ema,Ema sedang duduk bersandar di kasurnya sambil memainkan game di ponselnya.
"Hai calon bini,belum tidur.Lagi nungguin Abang ya" goda Andre.
"Gak lucu" kata Ema sewot.
"Ibu hamil gak boleh marah-marah lo ntar bayinya jadi jelek" kata Andre.
"Bodo amat" ucap Ema.
Andre melangkahkan kakinya menuju kasur Ema kemudian duduk di tepi kasur.
"Kenapa sih kamu gak pernah bersikap lembut sama aku,kalo kamu mau menolak pernikahan ini silahkan.Sebelum terlanjur,karena kita akan menikah dua hari lagi" tutur Andre lalu beranjak dari duduknya dan melangkah keluar.
"Maafkan aku Ema,jika aku terlalu egois.Cintaku padamu membuatku buta dan rela melakukan segala cara agar kamu bisa aku miliki,tapi jika ternyata cintaku membuatmu menderita maka pergilah.Aku tunggu kamu di meja makan besok,utarakan niatmu sama Ayah dan Kakek" tutur Andre lalu menutup pintu kamar Ema.
"Wih gila,kalo aku ikut ajang kompetisi aktor terbaik pasti aku menang dan dapat piala Kadal" gumam Andre sambil melangkah menuju kamarnya.
.
.
"Kenapa cemberut,mau bikin angin ****** beliung lagi?" goda Rey.
"Udah ah capek,****** beliung melulu" kata Rani.
Rey hanya tersenyum saja melihat Rani yang cemberut.Bagaimana tidak cemberut jika Rey menggempurnya sebanyak tiga ronde dalam semalam.
"Hari ini jangan kemana-mana,Mommy dan Imelda akan kemari" tutur Rey.
__ADS_1
"Benarkah,Imelda ikut Mommy kemari?" tanya Rani.
"Denger Imelda aja seneng,denger ****** beliung takut" oceh Rey.
"Kamu hari ini ke kantor?" tanya Rani yang tidak mempedulikan ocehan Rey.
"Maunya sih ke kantor,tapi apalah daya hati memintaku untuk tetap di rumah" jawab Rey.
"Bantuin masak untuk makan siang ya" pinta Rani.
"Oke bos" ucap Rey.
Rey dan Rani berjalan menuju gazebo yang ada di taman belakang,mereka duduk disana sambil menikmati udara segar di pagi hari.
"Sayang,apa kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?" tanya Rani.
"Belum sayang,lagi pula kehamilan kamu baru masuk usia enam bulan" jawab Rey.
"Kok kamu tau?" tanya Rani.
"Jelas tau lah,aku kan petani yang menanam benihnya" jawab Rey sambil mencolek hidung Rani.
Kring....
Ponsel milik Rey berdering,Mommy yang menelponnya.
"Maaf Nak Mommy gak bisa datang hari ini,karena harus pergi menemani Daddy dan Imelda juga sudah kembali karena ada keadaan darurat di rumah sakit" jawab Mommy dari sebrang telpon.
"Oh ya sudah kalo begitu" kata Rey.
Rey meletakkan ponselnya setelah Mommy memutuskan panggilannya.
"Mommy gak jadi datang?" tanya Rani.
"Iya katanya ada urusan mendadak" jawab Rey.
"Kalo gitu bisa dong kita kemana-mana" kata Rani.
"Emangnya yayangnya Rey hari ini pengen jalan-jalan kemana?" tanya Rey.
"Kita jalan-jalan yuk,sudah lama kita gak jalan berdua" ajak Rani.
"Ya sudah kalo gitu bersiap-siaplah,aku akan mengajakmu jalan-jalan" ujar Rey.
Rani dan Rey pun masuk ke rumah lalu menuju kamarnya untuk bersiap-siap.Setelah itu mereka pun pergi jalan-jalan ke tempat yang diminta Rani.
Rey mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah kecil milik Daddy yang ada di tepi pantai,setelah sampai mereka turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah untuk beristirahat sejenak.
__ADS_1
"Sudah lama Daddy punya rumah di tempat ini Rey?" tanya Rani.
"Sejak aku kecil" jawab Rey.
Rani menikmati pemandangan indah dari balkon kamarnya,dia sudah tidak sabar ingin bermain air tapi Rey melarangnya karena cuaca hari ini cukup panas.
.
.
Ragil duduk di kursi panjang yang ada di ruang tamu,sedangkan Sisy sedang menangis di kamarnya.Ragil mengusirnya setelah tau anak yang ada dalam kandungannya bukan anak Ragil.
"Dasar perempuan tidak tau malu,hamil sama laki-laki lain tapi meminta pertanggung jawaban padaku" oceh Ragil.
"Tapi Ragil ini anakmu" kekeh Sisy.
"Kamu pikir aku tidak tau hah,aku sudah melakukan tes DNA dan hasilnya dia bukan anakku,bukan darah dagingku Sisy Binti Bobi" teriak Ragil.
Sisy tidak percaya dengan apa yang di dengarnya,"Kamu tega melakukan ini padaku Ragil apa salahku?" tanya Sisy.
"Salahmu? kamu mau tau apa kesalahanmu?" tanya Ragil.
Sisy mengangguk,
"Karena kamu sudah membunuh anakku Sisy dan karena ulahmu istriku jadi gila hingga dia mati bunuh diri dan anakku juga di bunuhnya,apa sekarang kamu puas hah" kata Ragil.
"Tidak mungkin,aku tidak pernah membunuh.Kamu pasti salah orang Ragil" kata Sisy.
"Kamu ingat beberapa waktu yang lalu ada seorang lelaki lusuh yang datang ke ruanganmu sambil menggendong seorang perempuan yang sedang merintih kesakitan karena pendarahan yang di alaminya,tapi kamu dengan santai memasang kutek di kukumu.Kamu bilang kalo tidak punya uang jangan banyak tingkah dan kamu tau siapa orang yang kamu hina waktu itu? itu adalah aku Sisy,aku Ragil dan wanita malang yang harus rela kehilangan calon bayinya itu adalah istriku,wanita yang sangat aku cintai sampai kapanpun" tutur Ragil.
Sisy membulatkan matanya tidak percaya mendengar penjelasan Ragil,dia tidak tau lagi harus berkata apa karena semua yang dikatakan Ragil semua benar.
"Kamu tetaplah tinggal di sini,biar aku yang keluar" kata Ragil lalu pergi dari sana.
Hiks...Sisy duduk bersimpuh di lantai sambil menangis,"Apakah ini karma yang harus aku jalani atas semua dosa yang dulu pernah aku lakukan" kata Sisy disela-sela tangisnya.
Ragil mendatangi pemilik rumah lalu memberikan sejumlah uang pada pemilik rumah,"Ini uang sewa rumah selama enam bulan ke depan dan ini uang untuk Sisy,berikan padanya setelah aku pergi" kata Ragil pada pemilik rumah.
"Kamu mau pergi kemana Ragil,Sisy sedang hamil apa kamu tega meninggalkannya sendiri.Kalo terjadi apa-apa padanya bagaimana?" tanya pemilik kontrakan.
"Dia sudah besar dan juga sudah dewasa dia pasti tau apa yang harus di lakukannya" jawab Ragil.
"Nak apapun perbuatannya padamu dan juga Ines di masa lalu maafkanlah nak,tidak baik memendam dendam berlebihan seperti ini.Ines dan kedua anakmu sudah tenang disana dan ibu yakin Ines pasti kecewa melihatmu seperti ini" kata pemilik kontrakan yang tau tentang kehidupan Ragil.
"Maaf bu untuk sekarang Ragil belum bisa memaafkannya,jangan paksa Ragil untuk menerimanya" kata Ragil.
Ragil meninggalkan rumah pemilik kontrakan setelah semua urusannya selesai,pemilik kontrakan hanya melihat kepergian Ragil dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1