Cinta Masa Silam

Cinta Masa Silam
Si Tempe 19


__ADS_3

"Susan, tungguin!" Naya mempercepat langkahnya mengejar Susanto yang sudah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


"Udah maghrib, sayang. Aku mau shalat," ujar Susanto.


"Iya, tapi tungguin." pinta Naya yang akhirnya berhasil menarik baju Susanto.


Susanto menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol istrinya, dia tidak menyangka jika seorang cucu Alberto bisa takut pada hantu.


"Susan, jangan shalat dulu. Tunggu aku selesai mandi," pinta Naya lalu masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Naya cepat-cepat memakai mukenanya. Susanto sudah membentang dua sajadah untuk mereka berdua.


"Sudah selesai datang bulannya?" tanya Susanto dan Naya hanya mengangguk.


Seperti biasa, Susanto menjadi imam dan Naya menjadi makmumnya. Selesai shalat mereka langsung meluncur ke kediaman orang tua Naya.


Di rumah Rey,


"Ini baju mami, kayaknya nggak terlalu norak kalo kamu pake." Rani menyodorkan sebuah gaun kepada Raya.


"Terima kasih," ucap Raya.


Sambil menunggu Raya selesai mandi, Rani yang dibantu oleh beberapa pelayan menyiapkan kebutuhan untuk bakar ikan hasil pancingan.


"Tempe belum datang, Mi?" tanya Rey.


"Belum, mungkin sedang dalam perjalanan." jawab Rani.


"Malam, Om!" sapa Raya yang baru selesai mandi dan berpakaian.


"Busyet! Hampir aja jantung papi copot. Kirain ada dua Rani di rumah ini," seloroh Rey, Raya hanya tersenyum saja melihat keluarga kekasihnya yang sangat-sangat gesrek.


"Bagaimana kabar ibumu? Papi dengar dari Leon, katanya beliau sedang sakit." Rey membuka percakapan.


"Alhamdulillah sudah baikan," jawab Raya, dia masih terlihat sangat kaku di hadapan keluarga Leon.


Leon berjalan menuruni tangga, menggunakan celana pendek selutut dan kaos oblong. Meskipun begitu, tidak mengurangi ketampanan dan kegagahannya.


"Yank, itu ponsel kamu bunyi terus. Ibu kali yang telpon," ujar Leon, kebetulan ponsel Raya berada di atas meja ruang keluarga.


"Oh, iya. Aku cek sebentar," Raya berjalan dengan cepat ke ruang keluarga.

__ADS_1


Rey merangkul pundak Leon, "Sudah pas tu pilihannya?" tanya Rey pada Leon.


"Maksud papi?" Leon balik bertanya.


Rey duduk di bangku sambil menunggu Rani yang tengah mempersiapkan bahan-bahan yang akan di bakar malam ini.


"Raya. Apa kamu yakin menjadikan dia sebagai pendamping hidupmu?" tanya Rey.


"Papi apaan sih, Leon masih muda pi, belum mau menikah." jawab Leon.


"Lepaskan dia!" Leon terkejut saat Rey menyuruhnya untuk melepaskan Raya.


"Enggak pi! Leon cinta sama Raya," tolak Leon.


"Cinta? Kamu hanya mempermainkannya tanpa kepastian, dan papi tidak suka itu!" tegas Rey membuat Leon bungkam.


"Sayang, sebagai laki-laki kamu harus tegas. Seorang perempuan butuh kepastian, bukan kamu gantung nggak jelas." Tutur Rani sambil mengusap punggung Leon.


"Tapi, Leon masih muda, Mam." kilah Leon.


"Usia bukan alasan. Beri dia kepastian, bahwa kamu benar-benar mencintainya, dan berjanji hanya dia satu-satunya gadis yang ada di hatimu. Jangan menggantungnya tanpa tali!" Leon mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud pribahasa yang disebutkan oleh papinya.


"Maksud papi?" tanya Leon.


"Apa Raya mau menungguku?" Rey tersenyum mendengar pertanyaan Leon.


"Tanyakan langsung padanya," jawab Rey.


Leon terdiam, mencoba meresapi dan merenungi setiap perkataan papinya.


"Bang," sebut Raya, membuyarkan lamunan Leon.


"Apa sudah selesai telponnya?" tanya Leon dan Raya pun mengangguk.


Rani sudah mulai membakar ikan hasil pancingan anak dan menantunya. Naya dan Susanto belum juga terlihat, entah ada kendala apa yang membuat mereka telat datang.


Ikan bakar sudah matang, Raya membantu Rani menghidangkannya di atas meja. Di meja sudah ada Nasi dan beberapa sayuran mentah sebagai lalapan.


"Kakak kenapa belum datang ya?" Rey terlihat gelisah, karena tidak ada kabar dari Naya.


"Mungkin sebentar lagi, Pi." ujar Rani agar Rey lebih merasa tenang.

__ADS_1


Benar saja, tidak lama kemudian Naya dan Susanto datang.


"Kenapa lama sekali, papi sudah laper." Rey menyambut Naya lalu mencium kening putrinya.


"Susan tu pi, lama banget geraknya." sungut Naya.


"Iya iya, di mana-mana laki-laki selalu salah," balas Susanto. Rey dan Rani hanya menggelengkan kepala saja.


***


Leon menghentikan motornya di depan rumah Raya, sebelum gadis itu masuk ke dalam rumah, dia mengajaknya duduk di teras.


"Apa ada hal penting yang ingin kamu bicarakan, Bang?" tanya Raya.


"Sangat penting," jawab Leon.


Leon menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.


"Kamu tahu, saat ini usiaku bahkan belum genap dua puluh tahun, dan aku juga masih kuliah. Untuk menikah itu tidak mungkin, karena usia kita masih sangat muda." Leon mencoba mencari kata-kata terbaiknya.


"Apa abang mau kita putus?" tanya Raya sambil menatap wajah Leon, tidak ada keterkejutan ataupun sedih di wajahnya. Dia sudah menguatkan hati sekuat-kuatnya, karena cepat atau lambat hari itu pasti akan terjadi. Lagi pula dia juga merasa tidak pantas bersanding dengan keluarga Alberto.


Leon tersenyum mendengar pertanyaan pujaan hatinya, "Bukan itu maksudku, sayang. Maksud abang, apa kamu mau menunggu abang hingga lulus kuliah? Setelah lulus, baru kita menikah." tutur Leon.


"Berapa tahun?" tanya Raya.


Leon menghela nafasnya, "Apa ada laki-laki lain yang sudah menjanjikan pernikahan padamu?" tanyanya.


"Iya," jawab Raya.


"Di kampung seperti ini, seusiaku sudah pantas untuk menikah. Jika kamu hanya memberiku harapan palsu, lebih baik kita berpisah saja. Aku tidak mau menunggu tanpa kepastian," sambungnya.


Leon mengangguk-anggukkan kepalanya, mulai mengerti apa maksud dari pembicaraan Raya.


"Jadi, selama ini aku hanya cadangan?" tanya Leon, dia berusaha sebisa mungkin menahan emosinya.


"Bukan cadangan bang. Aku tidak mungkin menunggu tanpa adanya kepastian. Bisa saja suatu hari nanti abang tertarik dengan gadis lain. Menunggu hingga abang lulus kuliah bukanlah waktu yang singkat, butuh waktu sekitar tiga tahun. Apa abang yakin selama itu kita akan baik-baik saja. Dunia abang luas, tidak seperti duniaku yang hanya seputaran pasar dan kebun sayuran," tutur Raya, dia tidak mau jika Leon salah paham.


"Kapan kamu akan menikah?" tanya Leon.


"Apa abang rela jika aku menikah dengan pria lain?" bukannya menjawab pertanyaan Leon, Raya malah balik bertanya.

__ADS_1


"Aku bukan siapa-siapa bagimu, aku hanya seorang kekasih itu pun jika kamu menganggapnya begitu. Aku tidak punya hak melarangmu, karena kebahagianmu hanya kamu yang rasa, bukan aku. Jika bertanya rela atau tidak, tentu saja jawabannya aku tidak rela. Tapi, aku bisa apa?" Leon berdiri dari duduknya lalu berpamitan pada Raya.


"Sampaikan salamku pada ibu!" ucap Leon lalu menghidupkan mesin motornya dan berlalu pergi.


__ADS_2