
Kiandra sedang duduk di kantin yang ada di lingkungan rumah sakit,Imelda tidak datang ke rumah sakit karena Mommy dan Winara datang berkunjung ke rumahnya.
"Sorry Ndra,gue telat,Sisy buat aku pusing saja" tutur Ragil yang datang menemui Kiandra.
"Bukan Sisy yang buat kepalamu pusing tapi ulahmu sendiri" kata Kiandra.
"Aku hanya membalaskan sakit hatiku Ndra,dia sudah membuat istriku gila dan akhirnya istriku meninggal" ujar Ragil.
"Semua sudah suratan Tuhan,kamu harus bisa terima itu" kata Kiandra.
"Aku tetap harus memberinya pelajaran biar dia jera" kata Ragil.
"Jangan sampai kami malah jatuh cinta nanti sama dia" kata Kiandra sambil menyesap kopinya.
"Hatiku cuma milik Ines dan anakku Ndra,aku sudah cukup membuatnya menderita hingga di akhir hidupnya" kata Ragil.
"Terserah kamu aja deh yang penting sebagai teman aku sudah mengingatkanmu" kata Kiandra lalu meninggalkan Ragil sendiri di kantin.
.
.
Rani sedang duduk di kursi taman sambil memakan es krimnya,Ema hanya geleng kepala melihat temannya makan es krim cukup banyak.
"Ran udah dong,tar sakit gigi lo" kata Ema.
"Iya iya ini yang terakhir,aku janji" ucap Rani.
"Tadi juga ngomongnya gitu tapi apa buktinya" gerutu Ema.
"Hehehe...piisss" ucap Rani sambil nyengir.
Prok prok prok....suara tepuk tangan menghampiri kursi Rani.
"Waw...waw...gak nyangka gue bisa ketemu sama menantu mafia terbesar disini,mimpi apa aku semalam ya.Mimpi ketiban duren kali ya" celoteh Adis.
"Masih hidup lo Dis?" tanya Ema,Rani tetap santai memakan es krimnya.
"Lo pikir semudah itu gue mati,ya enggaklah" ucap Adis sombong.
"Heh Rani,apa enaknya sih jadi istri dari seorang Rey yang anak dari seorang mafia yang sadis dan suka membunuh dan bertingkah seenaknya" celotah Adis.
Rani yang merasa terganggu oleh Adis pun menghentikan aktivitas makan es krimnya la berdiri dan menatap Adis dengan tajam,"Kalo emang keluarga suami gue mafia emang apa masalahnya,selagi gue aman di tangan mereka persetan sama ocehan lo" kata Rani.
"Cih dasar sombong,kamu boleh bangga sekarang tapi nanti juga lo bakal di buang" kata Adis nyolot.
__ADS_1
"Di buang,kayak lo yang di buang sama pacar lo karena ketauan selingkuh ama Demian.Dasar cewek gatel gak cukup dengan satu laki-laki" balas Rani.
"Rani udah cukup,ayo kita pulang" ajak Ema.
"Yuk" Rani menyetujui ajakan Rani.
"Tunggu dulu Rani sayang,kamu mau kemana" kata Adis sambil memegang tangan Rani dan mencegahnya pergi.
Rani hanya melihat tangannya yang di pegang oleh Adis dengan sangat kuat hingga meninggalkan bekas.
"Kamu gak takut kalo tangan kamu yang mulus ini akan terpisah dari tubuhmu,secara ya kan kamu sudah berani menyentuh tangan menantu seorang mafia?" tanya Rani dengan nada berat.
"Kamu bisa memisahkan tangan ini dari tubuhku,jangan mimpi kamu Rani.Kamu itu cewek lemah di tambah lagi sekarang kamu bawa drum band kemana-mana,itu menyulitkan pergerakanmu" ucap Adis sepele.
Rani memutar tangannya sampai tangan Adis terpelintir,"Lemahku hanya untuk orang baik,tapi aku tidak akan lemah jika orang itu mengancam keselamatan dan nyawaku" ujar Rani.
Adis merintih karena tangannya di pelintir sangat kuat oleh Rani,Adis sendiri tidak ahli dalam bela diri.
"Lain kali lihat lawanmu,jangan sampai kamu jadi malu karena ulahmu sendiri" ujar Rani lalu pergi meninggalkan Adis di taman.
"Kamu mau langsung pulang atau kemana aku harus balik ke kantor nih" kata Ema.
"Aku boleh gak ikut ke kantor,aku mau ketemu Rey" kata Rani.
Rani dan Ema naik taksi menuju ke kantor Rey.
"Ran aku ke ruanganku ya,kamu langsung aja ke ruangan Rey" kata Ema.
"Oke" ucap Rani.
Rani berjalan menuju ruangan Rey kebetulan Rey sedang ada di ruangannya,"Assalamualaikum" Rani mengucapkan salam.
Rey yang sedang serius menatap layar laptopnya pun mendongakkan kepalanya dan Rey pun tersenyum saat melihat pujaan hatinya datang menemuinya.
"Waalaikum salam,hai sayang,sama siapa kesini?" tanya Rey sambil mengulurkan tangannya.
"Sama Ema" jawab Rani lalu menyambut uluran tangan Rey.
"Tangan kamu kenapa sayang?" tanya Rey saat melihat pergelangan tangan Rani memar.
"Oh ini tadi tangan aku di genggam sama Adis,kuat banget dia genggamnya jadi kayak gini deh" jawab Rani.
"Adis temannya Winara?" tanya Rey.
"Iya,tadi kami tidak sengaja bertemu di taman trus dia ngoceh-ngoceh gak jelas" jawab Rani.
__ADS_1
"Ngoceh gak jelas bagaimana?" tanya Rey.
"Dia ngoceh dan bilang ke Rani kalo kelurgamu itu keluarga mafia" Andre masuk ke ruangan itu bersama Ema.
"Iya Mas Rey,Adis juga udah bikin tangan Rani lecet tu.Tapi untung Rani bisa beladiri walaupun gak lulus" kata Ema sambil tertawa.
"Apaan sih" kata Rani malu-malu.
"Ini hasil laporan minggu ini,sudah aku periksa semua tinggal kamu tanda tangan aja" kata Andre.
Rey pun membubuhkan tanda tangannya dan setelah itu Andre dan Ema pun pergi.
Rey meminta OB untuk membawakan es ke ruangannya setelah itu Rey mengajak Rani duduk di sofa.
"Permisi pak,ini es batunya" kata OB.
"Terima kasih" ucap Rey.
Rey mengompres pergelangan tangan Rani dalam diam,tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Sayang kamu kenapa diam saja,kamu gak suka aku datang kemari?" tanya Rani.
Rey yang sedang mengompres tangan Rani pun mendongakkan kepalanya dan memandang wajah Rani,"Aku harus bagaimana,apa aku harus lompat-lompat di atas sofa untuk menunjukkan rasa bahagiaku" ujar Rey sambil tersenyum.
"Rey tatap mataku" pinta Rani.
Rey menatap mata Rani,
"Kenapa diam? apa kamu merasa tidak enak hati karena pada akhirnya aku tahu rahasia besar keluarga kalian?" tanya Rani.
"Aku tidak bermaksud membohongimu sayang,sungguh.Aku melakukan ini agar kamu tidak takut dan tetap nyaman berada di antara kami" jawab Rey.
"Rey cicak yang baru netes juga tau kalo Alberto itu mafia besar,apalagi aku" ujar Rani.
"Sejak kapan kamu tahu?" tanya Rey.
"Sejak Ardan mengatakan kalo kamu cucu Alberto" jawab Rani.
"Dan kamu memilih untuk tetap bersamaku setelah kamu tau hal yang sebenarnya?" tanya Rey.
"Tidak ada alasan untukku pergi meninggalkanmu Rey,mau kamu dan keluargamu bajingan sekalipun aku tidak peduli.Malah seharusnya aku beruntung menjadi bagian dari keluarga kalian,dengan begitu aku merasa aman dan terlindungi" tutur Rani.
Rey merasa terharu mendengar penuturan istrinya,sungguh Rey sempat berpikir jika Rani akan marah dan pergi meninggalkan dirinya.Ternyata malah sebaliknya dan itu membuat Rey merasa bahagia.
"Terima kasih sayang" ucap Rey lalu memeluk Rani dengan erat.
__ADS_1