Cinta Masa Silam

Cinta Masa Silam
Si Tempe 13


__ADS_3

Jam makan malam, Naya, Leon, dan kedua orang tuanya berkumpul di meja makan. Elang sudah pulang, karena tiba-tiba ada urusan mendadak.


"Susan mana?" tanya Naya, Rey dan Rani saling bertukar pandang.


"Siapa Susan?" Rey balik bertanya.


"Suami Tempe lah, siapa lagi." Celetuk Leon disela-sela makannya.


"Ciee ... kangen ya," ledek Rey.


"Sabar kak, lima hari lagi udah bisa makan bareng kok," sambungnya.


"Papi, apaan sih!" Naya terlihat salah tingkah.


Selesai makan, Rey mengajak Naya untuk bicara serius di ruang tamu. Rani dan Leon lebih memilih duduk santai di teras belakang sambil memandangi langit yang indah.


"Kak, sekarang kakak sudah menikah. Walaupun pernikahan ini mungkin bukan pernikahan yang kakak mau. Tapi, papi berharap kakak tetap bisa menjalankan kewajiban kakak sebagai seorang istri dengan baik." Tutur Rey sambil menatap wajah putrinya.


"Setelah hari ini, mungkin akan banyak rintangan dan permasalahan yang akan kita hadapi, terutama kakak dan Susanto. Semua akan terasa ringan dan mudah jika kalian selalu bersama. Apa kakak mengerti?" tanya Rey setelah menasehati putrinya.


"Mengerti, pi." Sahut Naya.


Rey merangkul pundak Naya, "Susanto laki-laki yang baik, papi tahu itu." Ujar Rey seraya tersenyum.


Rey dan Naya saling bertukar cerita hingga tidak sadar, malam terus berjalan. Pukul satu dini hari barulah Naya dan Rey masuk ke kamarnya masing-masing.


Naya merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran jumbo miliknya. Pandangannya lurus ke atas menatap langit-langit kamarnya. Masih belum percaya jika sekarang dia sudah menyandang gelar seorang istri.


"Hahhh ... Aku nggak nyangka kalo kamu yang jadi suamiku, cowok gila." Naya senyum-senyum sendiri mengingat pertemuannya dengan Susanto pertama kali.


Tangan lentiknya menyentuh bibir, kecupan sekilas dari Susanto tadi masih jelas terasa.


"Ah, kenapa dia mencuri ciuman pertamaku?" Naya berguling-guling di kasurnya sambil tersenyum bahagia.


Di sisi lain,


"Kak, apa kakak mencintai kak Naya?" tanya Santoso, dia sedang duduk santai dengan Susanto.


"Emangnya kenapa?" tanya Susanto.


"Kata nenek, jika pernikahan tidak dilandasi oleh rasa cinta, maka dia akan hancur." jawab Santoso.


"Cinta akan tumbuh sendirinya seiring dengan berjalannya waktu," ujar Susanto.

__ADS_1


"Oh iya, kakak lupa. Kakek memintamu untuk tinggal bersamanya setelah kakak dan Naya tinggal bersama." Tutur Susanto.


"Iya kak, kakek sudah mengatakannya. Kakek juga meminta agar aku melanjutkan kuliah, tapi aku tidak enak hati menerimanya." ungkap Santoso.


Susanto tidak melanjutkan lagi pembicaraannya, dia menyuruh Santoso untuk segera tidur.


Di rumah ini, rumah yang diberikan oleh Elang padanya. Mereka tinggal berempat, dua orang lagi penjaga rumah. Mereka orang yang ditugaskan oleh Elang untuk menjaga Susanto dan Santoso.


Pagi harinya,


Fatih datang ke kediaman Naya. Wajahnya dibuat seceria mungkin. Hari ini dia dan Naya akan pergi untuk membeli cincin.


"Pagi, Om!" Sapa Fatih sambil membungkuk.


"Kalian mau ke mana?" tanya Rey.


"Fatih mau mengajak Naya pergi om," jawab Fatih.


"Kamu pergi sendiri ya, lagi pula calon pengantin nggak boleh keluar rumah. Apalagi menjelang hari pernikahan, pamali!" Rey beralasan. Dia tidak mungkin membiarkan putrinya keluar dengan laki-laki lain. Apalagi Naya sudah sah menjadi istri Susanto.


"Bener tu kata papi, kamu pergi sendiri aja. Mau beli di toko langganan kamu atau toko langganan aku?" tanya Naya.


"Di toko langganan aku aja," jawab Fatih dengan cepat, dia tidak mau benar-benar bangkrut hanya karena membeli perhiasan untuk Naya. Seperti waktu itu, saat dia membeli gaun pengantin milik Naya.


"Ya sudah, sana pergi. Ntar keburu siang," usir Naya.


"Assalamualaikum," terdengar seseorang mengucapkan salam dari arah depan.


"Waalaikum salam," jawab Rey dan keluarganya.


Santoso masuk ke dalam rumah dan langsung berjalan menuju dapur. Setiap pagi Santoso mendapat tugas mengantar susu segar ke rumah Rey.


"Santoso!" Rey memanggil adik dari menantunya itu.


"Saya, Pi." Sahut Santoso, dia juga memanggil papi seperti Susanto, karena Rey yang memintanya.


"Kakakmu, ke mana?" tanya Rey sambil melirik ke arah Naya.


"Udah pergi kerja, pi." jawab Santoso.


"Loh, kok udah kerja aja. Lagi pula jam segini mall belum buka," ujar Leon, mencoba memanas-manasi kakaknya.


"Wah, kalo soal itu saja nggak tau mas. Soalnya sehabis shalat subuh kakak langsung pergi dan sampai saya kemari dia belum pulang." Rey mengerutkan keningnya mendengar penjelasan Santoso.

__ADS_1


"Kamu beneran nggak tau dia ke mana?" tanya Rey dan Santoso mengangguk.


"Mungkin Susanto ada kerjaan tambahan," Rani mencoba berpikiran positif. Tidak mungkin menantunya bertingkah macam-macam di luaran sana.


Santoso pun berpamitan karena harus mengantar susu ke tempat yang lain.


"Kakak mau ke mana?" tanya Rey saat melihat Naya hendak pergi.


"Ke kamar pi," jawab Naya.


Rey berpamitan pada Rani, karena harus pergi ke kantor. Leon juga berpamitan, dia ada janji ketemuan sama tukang uduk.


Leon mengendarai motornya dengan kecepatan sedang menuju ke sebuah pasar tradisional yang tidak jauh dari komplek rumahnya. Sesampainya di pasar dia langsung menuju lapak tempat pujaan hatinya berjualan.


"Hai!" Sapa Leon pada seorang gadis yang sedang duduk di lapak sayuran.


"Mau ngapain ke sini?" tanya gadis itu.


"Nggak boleh ya aku datang ke sini?" Leon mendadak lesu dan tidak bersemangat.


"Bukan begitu, bang. Cuma aneh aja seorang Leon mau datang ke pasar yang kotor, becek, dan bau." Jawab gadis itu.


"Oh, oke. Jika pandanganmu terhadapku begitu, terima kasih." Leon putar badan lalu meninggalkan lapak pujaan hatinya.


"Bang, hey!" Gadis itu mengejar Leon hingga ke luar pasar.


Leon memakai helmnya lalu menghidupkan mesin motornya.


"Bang!" gadis itu memegang tangan Leon dengan nafas terengah-engah.


"Ada apa lagi?" tanya Leon.


"Abang marah ya sama Raya?" tanya gadis yang bernama Raya.


"Enggak! Aku nggak marah." Leon terlihat jutek lalu memalingkan mukanya ke arah lain.


Raya tersenyum melihat tingkah Leon yang terlihat konyol di matanya.


"Nggak pantes cucu Alberto ngambek," goda Raya.


"Nggak lucu!" Leon kembali menghidupkan mesin motornya.


"Hati-hati di jalan," pesan Raya lalu berbalik meninggalkan Leon yang bengong.

__ADS_1


"Kok jadi dia yang ngambek sih, bukannya bujuk aku malah nyelonong gitu aja ninggalin aku. Gadis aneh, tapi kenapa aku suka." Leon tersenyum.


Leon melajukan motornya ke arah rumahnya, tidak ada hal yang romantis setiap dia bertemu dengan Raya. Tapi, entah kenapa Leon semakin jatuh cinta pada gadis penjual sayur itu.


__ADS_2