Cinta Masa Silam

Cinta Masa Silam
Si Tempe 27


__ADS_3

Prang, terdengar suara benda jatuh dan pecah, lantai dipenuhi oleh pecahan benda-benda yang dibanting dan juga benda yang diserakkan oleh Fatih.


Baru saja dia hendak berdendang riang karena seorang anak buahnya memberi laporan bahwa mereka berhasil menjual beberapa unit mobil hasil curian, Kabar yang lebih menyakitkan datang padanya, perusahaannya mengalami kebangkrutan hanya dalam satu malam. Hutang menumpuk, gaji karyawan belum dibayar, belum lagi cicilan yang sudah jatuh tempo, biaya rumah sakit papa yang harus segera dilunasi.


Fatih mengamuk tidak tentu arah, karena sampai saat ini dia belum menemukan penyebab bangkrutnya perusahaan.


Itulah cara main Rey dan kawan-kawan, bisa melakukan apa saja tanpa terdeteksi.


"Fatih, ada apa ini? Kenapa kamu menghancurkan barang antik milik mama dan papa?" tanya mama.


"Kita benar-benar hancur kali ini Ma, semua hancur." Jawab Fatih.


"Apa? Hancur bagaimana maksud kamu Fatih? Jangan bercanda!" cecar Mama.


Fatih pun menceritakan semua yang terjadi, Mama langsung terduduk di lantai sambil menangis.


"Mumpung masih pagi, kemasi barang-barang yang bisa dibawa. Terutama barang berharga dan bisa kita jual. Aku akan membawa mobil-mobil ke luar dan menyembunyikannya di tempat aman. Agar tidak ada satu pun yang bisa disita oleh pihak Bank."


Mama langsung berlari ke kamar dan mengemasi barang-barang miliknya, dia juga membawa beberapa barang yang bisa dia gunakan di tempat lain jika nanti rumah ini disita.


Begitu juga dengan Fatih, dia mengambil kunci mobilnya dan meminta bantuan para pelayan untuk memindahkan mobil itu ke tempat lain.

__ADS_1


"Selamat pagi tuan Fatih," beberapa petugas dari beberapa pihak terkait sudah berdiri di depan rumahnya.


"Pa-pagi," balas Fatih terbata-bata.


"Ka-kalian siapa?" tanyanya.


"Kami dari pihak bank akan menyita rumah ini beserta seluruh harta yang berhubungan dengan keluarga anda." jawab orang tersebut.


"Atas dasar apa kalian menyita harta kami? Apa kalian punya alasan dan tanda bukti yang jelas?" tanya Fatih dengan suara sedikit meninggi.


"Bapak baca saja sendiri," titah orang itu sambil menyodorkan sehelai kertas pada Fatih.


"Dan kami dari pihak kepolisian akan menahan bapak atas tuduhan penggelapan dana perusahaan dan juga jual beli mobil yang tidak punya izin resmi." Dua orang itu langsung memborgol Fatih bertepatan dengan mama yang datang sambil menggeret kopernya.


"Maaf nyonya, izinkan kami untuk memeriksa isi dalam koper nyonya." Tanpa persetujuan beberapa orang dari mereka membuka koper dan menggeledah isinya. Barang-barang selain pakaian di keluarkan dan disita.


"Kami beri waktu tiga hari untuk keluarga anda meninggalkan rumah ini. Nanti ada beberapa orang pihak kami yang berjaga di tempat ini. Permisi!" setelah selesai dengan urusannya, tamu Fatih pun pulang. Meninggalkan kehancuran di hati keluarga Fatih.


"Kenapa ini bisa terjadi? Apa ada kesalahan yang kamu lakukan Fatih?" tanya Mama.


"Tidak Ma, Fatih tidak melakukan apa-apa." Fatih membela diri.

__ADS_1


"Kenapa semua ini bisa terjadi? Ini pasti ada penyebabnya dan itu pasti sangat fatal!" Mama kembali masuk ke dalam rumah sambil menyeret kopernya.


Beberapa petugas yang akan memantau Fatih dan keluarganya mulai datang, membuat seisi rumah tidak bisa berkutik. Jangankan membawa barang berharga berukuran besar, sekecil biji merica saja tidak luput dari pemeriksaan petugas.


Berbanding terbalik dengan Fatih yang mengalami kehancuran, Susanto merasa bahagia karena Santoso yang tidak sadarkan diri karena kecelakaan beberapa hari yang lalu sudah siuman. Untung saja tidak ada cidera yang fatal di bagian tubuhnya. Hanya lecet dan benturan di kepala yang membuatnya koma beberapa hari tidak berdampak serius.


"Siapa yang melakukan ini, Pi? Apa pelakunya sama dengan orang yang mau mencelakai aku tempo hari?" tanya Susanto pada Rey.


"Papi tidak tahu, papi belum sempat mencari tahu." kilah Rey, tentu saja dia tahu siapa dalang dari kecelakaan yang menimpa Santoso.


"Nanti akan om cari tahu," ucap Andre yang kebetulan ada di sana.


"Tidak perlu, Om. Yang penting tidak terjadi apa-apa pada Santoso." Cegah Susanto dan Andre pun mengangguk.


"Bagaimana liburanmu? Apa si Tempe membuatmu repot?" Rey mengalihkan topik pembicaraan.


"Tidak pi, dia tidak membuatku repot." jawab Susanto.


Saat mendengar jika adiknya kecelakaan, Susanto yang sedang berbulan madu bersama Naya pun memutuskan untuk pulang. Sebagai istri yang pengertian, Naya tidak mempermasalahkan itu.


Liburan atau bulan madu bisa mereka lakukan kapan saja dan di mana saja, namun keluarga tetap nomor satu dan harus didahulukan.

__ADS_1


__ADS_2