
Keluarga besar Alberto dihebohkan oleh kabar baik yang datang dari Naya dan Susanto. Sebagai kakek, Elang membuat acara syukuran kecil-kecilan. Hanya keluarga inti saja, mengingat masih banyaknya ancaman yang sedang mengincar keluarga mereka. Elang tidak mau menanggung resiko dan membahayakan Naya juga janinnya.
"Raya nggak kamu ajak kemari, dek?" tanya Naya pada Leon.
"Dia tidak bisa datang kak, ibunya demam." jawab Leon.
"Bagaimana dengan permasalahan tempo hari, sudah beres?" tanya Naya lagi dan Leon mengangguk.
"Kakak tenang saja, semua sudah beres. Kecuali satu, mantan kakak tuh. Masih aja bikin ulah!" dengus Leon dengan kesal.
"Mantan? Siapa mantan kamu sayang?" tanya Susanto.
"Itu lo mas Susan, Fatih." jawab Leon sambil berlalu pergi.
"Bukannya Fatih sudah tidak ada lagi di kota ini ya?" tanya Naya sambil memandang wajah Susanto.
Susanto terlihat kikuk, bingung mau menjawab apa. Karena Rey dan Elang menyuruhnya untuk merahasiakan tentang Fatih pada Naya.
"Oh cintaku, pasti ada yang kamu sembunyikan dariku. Benar kan?" tanya Naya penuh selidik.
"Aku tidak menyembunyikan apapun darimu. Kalo tidak percaya, kamu bisa tanyakan langsung pada papi atau kakek." kilah Susanto.
"Baiklah, aku percaya. Tapi ingat, aku ini Naya. Dan aku bisa tahu apapun itu," ujar Naya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Aku tahu sayang, kamu terbaik dan terhebat." Balas Susanto.
Setelah acara selesai dan seluruh anggota keluarga pulang, Naya masuk ke kamarnya. Kepalanya terasa sedikit pusing dan tubuhnya tiba-tiba terasa lemas.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Susanto.
__ADS_1
"Nggak apa-apa mas, hanya sedikit pusing." Jawab Naya.
"Mas pijitin ya," tawar Susanto dan Naya pun mengangguk.
Di tempat lain,
"Suhu tubuh ibu sangat tinggi, tadi ibu sempat kejang." Tutur Raya pada Leon.
Ibu terbaring lemah di atas brankar, tubuhnya sudah terpasang alat bantu medis.
Leon mengusap punggung tangan Raya dengan lembut, memberikan kekuatan pada calon istrinya.
"Kamu harus kuat, kamu tidak boleh lemah. Jika kamu lemah, bagaimana dengan ibu? Siapa yang akan memberi ibu kekuatan? Ada aku di sini, aku akan menemanimu." Tutur Leon.
"Aku takut bang, aku takut ibu pergi." Ucap Raya dengan lirih.
"Kita berdoa saja, semoga ibu cepat sehat." Hibur Leon.
"Bang, apa abang tidak pulang?" tanya Raya sambil menatap wajah Raya.
"Bisa-bisa lepas nyawa dari badan kalo abang pulang," jawab Leon.
"Abang harus istirahat, abang juga harus kuliah. Raya nggak mau semua terbengkalai karena Raya dan ibu," ucap Raya.
"Kamu mencintai abang?" tanya Leon, matanya menatap tajam mata Raya.
"Apa masih perlu hal itu kita bicarakan?" Raya balik melemparkan pertanyaan.
"Jika kamu mencintaiku, kamu pasti tahu kenapa aku masih dan terus berada di sini, di sisimu. Ibumu adalah ibuku juga, aku juga punya kewajiban untuk menjaganya. Apapun yang terjadi nanti, kita akan tetap bersama." Ungkap Leon.
__ADS_1
"Terima kasih bang, abang sudah hadir di hidup Raya. Banyak membantu ibu dan Raya." Ucap Raya.
"Itu karena aku mencintaimu," ungkap Leon, dia memeluk Raya dengan erat.
"Jangan sedih dan nangis lagi, kita pasti bisa melewati semua ini." Ujar Leon.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, ibu belum juga siuman. Sekejap pun Raya tidak bisa memejamkan matanya, pandangannya tertuju pada wajah ibu yang pucat.
"Aku ke luar sebentar, kamu tunggu di sini." Pamit Leon.
Leon berjalan menuju ruang dokter, dia harus tahu sakit apa yang sedang di derita calon mertuanya. Jika hanya karena syok, tidak mungkin ibu bolak-balik koma.
"Selamat malam, om!" sapa Leon pada dokter jaga.
"Leon? Kamu ada di sini?" tanya dokter.
"Iya om, calon mertua sedang sakit." Jawab Leon, dia pun langsung mengutarakan niatnya menemui dokter.
"Penyakit ibu sudah parah, seharusnya ini tidak boleh om sampaikan. Tapi, kamu harus tahu. Om takut dipecat oleh kakekmu," seloroh Dokter.
"Parah bagaimana maksudnya om?" tanya Leon penasaran.
"Organ vit4l ibu sudah tidak berfungsi, om tidak menjamin dia bisa bertahan lebih dari dua hari. Ibu menderita penyakit komplikasi dan yang om ..."
Belum selesai dokter memberi penjelasan, suster masuk dan memberitahukan keadaan darurat. Dan itu berasal dari kamar inap ibunya Raya.
Leon langsung berlari ke arah kamar, sesampainya di kamar dia melihat ibu kejang. Raya menangis di samping brankar. Tangannya terus menggenggam erat tangan ibunya.
"Permisi sebentar, biar om periksa."
__ADS_1
Leon merangkul pundak Raya, dia harus memberi kekuatan pada kekasihnya itu.