
Imelda sudah tidak lagi bekerja,sesuai janjinya dulu.Dia akan berhenti bekerja jika sudah punya momongan.Kiandra juga sering berada di rumah sejak Imelda mendekati hari persalinannya.Dia akan datang ke rumah sakit jika ada keadaan darurat saja.
"Semua perlengkapannya sudah disiapin belum Yang?" tanya Kiandra.
"Sudah,semua sudah Melda masukkan ke dalam tas itu" jawab Melda sambil menunjuk tas yang ada di samping lemari.
Kiandra dan Imelda sudah berada di rumah sakit karena sejak sore Imelda sudah kontraksi dan mengeluarkan tanda.
Imelda menarik nafas dari hidungnya lalu menghembuskan dari mulutnya secara perlahan.
"Semakin sakit?" tanya Kiandra.
Imelda mengangguk," Tapi masih hilang timbul sakitnya" jawab Imelda.
Imelda bersandar di dada Kiandra," Abang sudah siapkan nama untuknya belum?" tanya Imelda.
Kiandra yang sedang mengelus perut Imelda pun tersenyum," Kamu ibunya,yang mengandungnya selama sembilan bulan.Kamu yang berhak memberinya nama" jawab Kiandra.
Pintu terbuka,Dokter dan dua orang perawat masuk ke dalam kamar itu.
"Bagaimana Dokter Melda,apa sakitnya semakin sering?" tanya Dokter.
Imelda pun mengangguk.
"Kita periksa dulu ya" kata Dokter.
Kiandra turun dari brankar dan membiarkan Dokter mengerjakan tugasnya dengan leluasa.
"Bagaimana Dok?" tanya Kiandra setelah Dokter selesai memeriksa istrinya.
Dokter pun tersenyum lalu melihat jam yang melingkar di tangannya," Kalo tidak meleset,sekitar dua jam lagi dia akan lahir.Tapi jika dilihat dari durasi mulesnya,bayinya bisa lahir lebih cepat dari perkiraan" jawab Dokter.
Setelah dokter dan perawat keluar Kiandra mendekati Imelda," Tadi katanya sakitnya masih hilang timbul,kalo sekitar dua jam dari sekarang berarti mulesnya sudah sering" ujar Kiandra.
"Melda cuma berusaha untuk tenang aja Bang dan gak mau bikin Abang panik" kata Imelda.
Beberapa menit kemudian seorang perawat masuk lagi ke ruangan itu untuk berjaga-jaga.
"Awh...shhhh...." Imelda meringis menahan mules yang semakin terasa pada bagian perutnya.
"Sus,ketubannya pecah" seru Kiandra saat melihat kasur tempat Imelda berbaring basah.
Suster mendekati Imelda lalu memeriksanya.
Suster menekan tombol yang ada di situ dan tidak lama kemudian dokter dan satu orang perawat pun masuk ke ruangan itu.
Kiandra menggenggam tangan Imelda yang sedang berjuang antara hidup dan mati.Keringat membasahi wajah dan tubuhnya.Kiandra mengelap keringat di wajah Imelda dengan penuh kasih sayang.Sesekali Kiandra menuntun Imelda untuk menyebut nama Tuhan dan memohon agar proses persalinannya lancar.
__ADS_1
Senyum bahagia terukir di wajah sepasang suami istri itu tatkala bayi mereka sudah terlahir dengan selamat.
" Alhamdulillah,sesuai perkiraan Dok.Bayinya laki-laki" kata Dokter pada Kiandra.
Cup
Kiandra mencium kening Imelda," Terima kasih sayang" ucap Kiandra,air mata bahagia menetes di pipi.
Setelah ibu dan bayinya selesai dibersihkan Kiandra mengadzani putranya.Setelah itu beberapa orang perawat mendorong brankar Imelda menuju kamar inapnya.Kiandra membawa tas yang berisi barang-barang milik bayinya yang tadi diletakkan oleh Imelda di samping lemari.
"Kami permisi dulu Dokter Kiandra,Dokter Imelda" pamit Dokter dan para perawat itu.
Kiandra menganggukkan kepalanya," Terima kasih Dokter,terima kasih suster" ucap Kiandra.
"Abang belum kasih tau Daddy dan yang lainnya" kata Imelda.
"Besok pagi saja,sekarang sudah malam.Pasti mereka sudah tidur" ujar Kiandra.
Kiandra membelai pipi bayi yang berada dalam dekapannya," Selamat datang sayang,ini Papa Kiandra dan itu yang lagi tiduran Mama Melda" ucap Kiandra.
"Siapa namanya Pa?" tanya Imelda.
Kiandra memandang wajah Imelda," Panggil apa barusan?" Kiandra malah balik bertanya.
"Papa" jawab Imelda.
"Aku suka panggilan itu Mama sayang dan ini hadiah untukmu" ujar Kiandra lalu mencium wajah Imelda secara bertubi-tubi.
"Nama yang bagus" kata Imelda.
Kiandra meletakkan baby Azril ke dalam box bayinya,setelah itu dia merebahkan tubuhnya di samping Imelda.
"Tidurlah,kamu pasti lelah dan kehabisan tenaga.Lagi pula ini masih pukul dua pagi" kata Kiandra.
Kiandra memeluk tubuh Imelda lalu mereka berdua pun tertidur.
Pagi harinya,Kiandra terbangun dan melihat Imelda sedang memberikan ASInya pada Azril.
"Papa ketiduran ya" ujar Kiandra.
"Tidak apa-apa,ini baru pukul empat" kata Imelda.
Kiandra turun dari kasur lalu masuk ke kamar mandi untuk memenuhi panggilan alam.Setelah selesai dengan ritualnya di kamar mandi Kiandra kembali ke kasur.
"Apa kita cari babysitter saja dan dia minum susu formula seperti Naya.Aku takut kamu kelelahan" ujar Kiandra.
"Waktu bayi Naya minum ASI,dia minum susu formula saat berusia satu tahun.Kak Rani yang memberitahuku" tutur Imelda.
__ADS_1
"Aku tidak masalah jika harus lelah dan mengantuk demi Azril.Lagipula ASI lebih bagus dari susu formula" tambah Imelda.
Imelda meletakkan kembali baby Azril di kasurnya,setelah itu dia kembali tidur.Kiandra menelpon ke rumah Daddynya,jam segini pasti Mbak Romlah sudah bangun.Selesai menelpon Kiandra pun duduk di sofa untuk menunggu waktu subuh.
...----------------...
Rey,Rani dan Naya sedang bersiap untuk pergi ke rumah sakit.Pagi-pagi sekali mereka sudah dihebohkan oleh Daddy yang menelponnya dan mengatakan kalo Imelda sudah melahirkan.
"Sekalian periksa kehamilan ya Mi" kata Rey sambil mengemudikan mobilnya.
"Iya" jawab Rani.
Usia kandungan Rani sudah memasuki usia enam bulan,perutnya pun sudah terlihat membesar.Usia kehamilan Rani hanya beda satu bulan dengan usia kehamilan Winara yang bulan ini memasuki usia lima bulan.
"Adek bayinya ganteng gak?" tanya Naya.
"Kita lihat saja nanti,karena tampan versimu itu berbeda dengan yang lain" jawab Rey.
"Un,kamu gak lupa bawa susu Naya kan?" tanya Rani.
"Sudah Unah masukkan ke dalam tasnya Naya Mbak" jawab Unah.
Semenjak Rani hamil,Unah dipercaya oleh Rey untuk membantu Rani menjaga dan mengasuh Naya.Dan Naya pun lebih dekat dengan Unah daripada Laila atau Susi.
Setelah sampai di rumah sakit,mereka langsung menuju kamar tempat Imelda di rawat.Ternyata Daddy,Mommy,Winara dan Lee sudah ada di sana.
"Gemes deh Mbak,lihat deh" ujar Winara pada Rani.
"Kenapa wajahnya mirip Daddy,Winara waktu hamil benci sama Daddy ya?" tanya Rani.
"Tu kan,Rani juga bilang begitu" celetuk Mommy.
"Wajar dong Azril mirip Daddy.Kan Daddy kakeknya" kata Daddy.
"Azril Putra Alberto" kata Rey sambil mengelus kepala keponakannya itu.
"Kalo kakak,apa namanya?" tanya Naya heboh.
"Tempe" jawab semua yang ada di dalam kamar itu bersamaan.
Naya mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tanggannya di depan dada.
"Nayyara Nafisa Alberto" kata Daddy sambil membelai rambut Naya.
Naya mengerutkan keningnya," Kok nama kakak ribet sekali" kata Naya.
"Udahlah kalo gitu nama kakak mendingan tempe aja gampang" tambahnya lagi.
__ADS_1
Semua yang ada di kamar itu pun kembali tertawa mendengar perkataan Naya.Rey merangkul bahu Rani yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Dia tetap putri Alberto" bisik Rey dan Rani pun mengangguk.