Cinta Masa Silam

Cinta Masa Silam
Nayyara Nafisa Alberto


__ADS_3

Tit...tit...tit


Suara monitor jantung memenuhi ruangan tempat Rani di rawat.Rey duduk di samping brankar Rani sambil terus menggenggam tangan Rani.Tiada henti Rey memanjatkan doa pada Tuhan agar Rani segera sadar dari komanya.


"Sayang bangun.Apa kamu tidak ingin melihat betapa cantiknya anak kita.Apa kamu tidak ingin menggendong dan menyusuinya sayang" kata Rey.


Ceklek


Pintu terbuka dan Daddy masuk ke ruangan itu.


"Bagaimana bisa Rani hidup kembali Rey? Daddy jadi penasaran" tanya Daddy.


"Ray juga tidak tau Dad.Menurut cerita perawat yang sedang mencopot alat bantu pada Rani tadi katanya jari Rani bergerak dan detak jantungnya kembali terdeteksi.Dokter memanggil Rey tadi karena meminta persetujuan pada Rey untuk mengangkat rahim Rani.Hanya itu satu-satunya cara agar Rani terbebas dari kankernya" tutur Rey.


"Sampe sekarang dia belum sadar" gumam Daddy.


Sudah pukul sembilan malam,sudah lima jam berlalu sejak operasi pengangkatan rahim dilakukan.Rani masih betah dengan tidur panjangnya.


"Dad apa putri kami tidak bisa dibawa dan di rawat di kamar ini saja?" tanya Rey.


"Putrimu butuh perawatan khusus Rey,biar pun berat tubuhnya normal tapi saluran pernafasannya bermasalah" jawab Daddy.


"Assalamualaikum" Thomas dan Andre mengucapkan salam saat masuk ke ruangan itu.


"Waalaikum salam" jawab Daddy dan Rey bersamaan.


"Ini baju gantimu Rey.Ema asal ambil saja" kata Andre sambil menyerahkan paper bag pada Rey.


"Mandilah terlebih dulu Rey,agar tubuhmu lebih segar" kata Daddy.


Rey melepaskan genggaman tangannya lalu berjalan ke arah kamar mandi.


"Jam berapa kamu sampai,Thomas?" tanya Daddy.


"Sekitar pukul tiga Dad,tapi Thomas mampir ke kantor untuk menyerahkan laporan pada Om David" jawab Thomas.


"David yang stand by di kantor?" tanya Daddy.


"Iya Dad,seharusnya Om Edo yang menggantikan Daddy dan Rey.Tapi karena Om Edo tadi sedang kemari jadi Thomas serahkan saja pada Om David" tutur Thomas.


"Bagaimana hubunganmu dengan putri dari Tuan Doris?" tanya Daddy.


"Hubungan kami baik Dad" jawab Thomas.


"Dad,jari Rani bergerak" seru Andre.


Rey mendengar itu langsung keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan celana pendek selutut saja.


"Rani...sayang.Ayo bangun" pinta Rey.


Thomas keluar dari ruangan itu untuk memanggil Dokter.


"Apa ada perkembangan?" tanya Dokter saat masuk ke dalam ruangan.


"Tadi jarinya bergerak" jawab Andre.


Dokter memeriksa Rani.


"Apa tadi ada yang mencoba berkomunikasi dengan pasien?" tanya Dokter setelah selesai memeriksa Rani.


"Iya Dok,saya yang mengajaknya berbicara tadi.Saya bilang kalo dia tidak bangun juga,saya akan membawa kabur anaknya" jawab Andre.


"Terus ajak pasien berkomunikasi,sepertinya pasien mulai merespon" saran Dokter.


"Rey pakai bajumu,nanti kamu masuk angin" kata Daddy.


Rey mengangguk lalu mengambil baju kemudian memakainya.


Thomas,Andre dan Daddy mengobrol di sofa,sedangkan Rey sudah tertidur karena tubuh dan hatinya terasa lelah.


"Sudah pukul dua pagi Dad,kami permisi pulang dulu" pamit Andre.


"Kalau begitu kita keluar sama-sama saja" kata Daddy.


Akhirnya Daddy,Thomas dan Andre berjalan beriringan menuju parkiran.


Andre mengemudikan mobilnya dengan santai lalu menelpon seseorang.

__ADS_1


"Tetap terjaga,jangan sampai lengah sedikit pun.Rey sedang tidur,perketat penjagaan di depan pintu" perintah Andre pada seseorang yang di telponnya.


Andre memarkirkan mobilnya begitu saja di depan pintu rumahnya,setelah itu dia turun dari mobilnya lalu masuk ke dalam rumahnya.


"Sayang kamu belum tidur?" tanya Andre saat Ema sedang berada di dapur.


"Aku terbangun saat merasakan warga kampung tengah demo meminta di isi pasokan makanan" jawab Ema asal.


"Kamu ini ada-ada saja sayang.Bilang saja kalo kamu terbangun karena lapar" kata Andre.


Ema meneruskan mengaduk nasi goreng di atas kompor.Setelah di rasa matang,Ema pun mengambil piring dan memindahkan nasi goreng itu ke piringnya.


"Kamu mau?" tanya Ema.


"Aku masih kenyang" jawab Andre.


Ema menarik kursinya lalu duduk dan mulai menyantap nasi goreng buatannya.


"Makan di mana tadi?" tanya Ema.


"Di kantin Rumah Sakit" jawab Andre.


Ema manggut-manggut saja mendengar jawaban Andre.Andre menunggu sampai Ema menghabiskan nasi gorengnya.


"Yuk ke kamar" ajak Andre pada Ema.


"Kamu duluan aja Ndre,aku mau cuci piring dulu" tolak Ema.


"Kamu?Andre?"tanya Andre.


Ema mengerutkan keningnya,"Iya,apa aku salah?" tanya Ema tak mengerti.


"Tentu saja salah dan biasanya salah itu harus di hukum" jawab Andre sambil menyeringai lalu menangkap tubuh Ema yang hendak berlari kemudian membawanya ke kamar.


"Ah kamu mah gak seru,aku belum berlari sudah di tangkap" protes Ema.


"Kalo jam tiga subuh begini olahraganya bukan lari sayang,tapi di kasur.Lebih seru dan bisa banyak mengeluarkan keringat" tutur Andre.


"Dasar mesum,otakmu isinya hanya kasur saja" kata Ema.


Andre merebahkan tubuh Ema di kasur,setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Andre yang sedang memakai baju pun menoleh.


"Siang ya,pagi aku ada sedikit urusan di kantor" kata Andre.


"Di kantor apa di kantor,hotel kali" sindir Ema.


Andre tersenyum lalu naik ke kasur,"Ngapain aku ke hotel,jika di rumah pelayanannya melebihi pelayanan hotel" kata Andre.


"Mana ku tau ngapain kamu ke hotel" balas Ema sewot.


"Kamu cemburu sayang?" tanya Andre.


"Enggak" jawab Ema singkat.


"Cemburu ya" goda Andre.


"Apaan sih,aku gak cemburu Andre" kata Ema.


"Cemburu juga gak masalah kok,aku senang jika kamu cemburu.Itu tandanya kamu mulai jatuh hati sama aku" ujar Andre.


Ema pura-pura tidur,dia malas menanggapi pembicaraan Andre.


"Sekarang dan selamanya kamu satu,wanitaku" bisik Andre lalu memeluk tubuh Ema yang membelakanginya.Ema tersenyum mendengar itu tapi Andre tidak melihatnya.




Rey membuka tirai agar cahaya matahari bisa masuk ke dalam ruangan itu.Rey masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya,setelah itu dia kembali ke brankar Rani.



"Selamat pagi Papa" ucap Rani.


__ADS_1


"Sayang,kamu sudah sadar" kata Rey bahagia.



"Emangnya aku kenapa Rey?" tanya Rani.



"Aku bahagia akhirnya kamu sadar juga" ucap Rey.



"Malam tadi aku bangun dan Dokter sudah memeriksaku,kata Dokter semua baik-baik saja" tutur Rani.



Rey mengerutkan keningnya,"Jam berapa kamu bangun sayang,kenapa aku bisa tidak tau?" tanya Rey.



"Kamu sedang tertidur nyenyak Rey,aku terbangun pukul tiga pagi" jawab Rani.



Rey duduk di kursi yang ada di samping brankar Rani,"Anak kita sama sepertimu,dia sangat cantik" tutur Rey.



"Bawa aku padanya Rey,aku ingin melihatnya" pinta Rani.



"Setelah kamu sarapan,aku akan membawamu ke sana" kata Rey dan Rani pun mengangguk.



Sejenak ruangan itu menjadi hening,karena tidak satupun di antara mereka yang berbicara.



"Siapa namanya?" tanya Rey dan Rani bersamaan.



Lalu mereka pun tertawa,karena merasa lucu.



"Aku belum memberinya nama sayang,aku harus meminta persetujuan darimu terlebih dahulu" kata Rey.



"Nama apa yang kamu persiapkan untuknya?" tanya Rani.



"Nayyara" jawab Rey.



"Bersinar atau bercahaya" tutur Rani.



"Dia akan menyinari dan memberi cahaya pada kita semua"Tutur Rey.



"Apa dia akan memakai nama Alberto?" tanya Rani.



"Tentu saja,karena dia cucu Alberto" jawab Rey.



"Nayyara Nafisha Alberto" kata Rey.

__ADS_1



"Sematkanlah nama itu padanya,semoga kelak dengan nama itu dia menjadi seperti yang kita harapkan" ujar Rani.


__ADS_2