Cinta Masa Silam

Cinta Masa Silam
Si Tempe 14


__ADS_3

Hari Pernikahan,


Fatih sudah berdiri dengan gagah di antara para tamu undangan, bibirnya tidak pernah absen dari senyum manisnya. Acara ijab dan resepsi yang akan di gelar secara bersamaan, membuat tamu undangan datang lebih awal.


Berbagai macam hidangan sudah berderet di beberapa titik, semua makanan mewah dan mahal. Dekorasi perpaduan putih dan gold semakin menambah kemewahan tempat ini.


Sama halnya dengan Fatih, papa dan mamanya pun terlihat sangat bahagia. Menyambut para tamu yang datang sambil mengulas senyuman.


Sudah pukul tiga sore, tapi belum ada tanda-tanda keluarga beserta pengantin perempuan akan datang. Wajah papa Fatih mulai gelisah, sesekali dia melihat ke arah jalanan. Kebetulan acara dilaksanakan di sebuah taman, Fatih memilih tema out door seperti yang pernah Naya impikan.


"Fatih, kenapa iring-iringan calon istrimu belum juga datang? Udah lewat satu jam dari jadwal loh ini." Fatih tetap tenang mendengar pertanyaan papanya.


"Naya bilang jalanan macet, Pa. Wajarlah, ini kan hari kerja." Jawab Fatih dengan santai.


Beberapa jam berlalu, pengantin perempuan belum juga datang. Para tamu sudah banyak yang berpamitan untuk pulang, tinggal beberapa orang saja yang hadir.


"Maaf Tuan, saya tidak bisa mengikuti acara ini sampai selesai. Ada acara lain yang harus saya hadiri," pamit tamu pada papa dan Fatih.


"Ini jadi tidak nikahnya? Kalo tidak saya mau menikahkan orang di tempat lain," pak Penghulu terlihat kesal karena merasa dipermainkan. "Kamu ini sebenarnya mau menikah sama siapa sih? Kenapa waktu beberapa menit yang kalian katakan berubah menjadi berjam-jam? Apa pengantin wanitanya berasal dari kota lain?" Penghulu bertanya dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


"Dari kota ini juga, dia orang terkenal dan terkaya di negara ini bahkan semua orang mengenalnya?" jawab Papa Fatih, terdengar ada sedikit keangkuhan dari bahasanya.


"Terkenal dan terkaya? Siapa mereka? Hebat jika kekayaan mereka bisa melebihi kekayaan dan kekuasan Alberto," cetus penghulu.


"Nah, benar! Anak saya menikah dengan Naya, cucu Alberto." Ungkap papa Fatih dengan bangga. Siapa sih yang tidak bangga menjadi bagian keluarga itu.

__ADS_1


"Hahaha ... bapak jangan asal kalo bicara! Sepertinya bapak sakit dan perlu periksa ke dokter, niat banget bercandanya. NGGAK LUCU!" Penghulu terlihat tertawa dan memberi penekanan pada kata-katanya yang terakhir.


"Apa maksud kamu? Tertawa begitu, mau mengejek kami? Hah!" Fatih meraih kerah baju penghulu, dia tersulut emosi.


"Saya tidak mengejek, saya mengatakan hal yang sebenarnya. Atau jangan-jangan kalian sedang bermimpi dan saya ada di mimpi kalian? Bagaimana mungkin kamu menikah dengan cucu Alberto? Sedangngkan cucu Alberto sudah menikah beberapa hari yang lalu, dan saya sendiri yang menikahkannya. Sepertinya kalian tidak termasuk dalam daftar tamu undangan, makanya kalian tidak tahu. Dan bagaimana mereka akan datang kemari jika hari ini mereka juga sedang mengadakan resepsi pernikahan secara mewah dan besar-besaran. Dasar nggak waras! Aku sudah membuang waktuku dengan percuma datang kemari." Penghulu pun langsung pergi meninggalkan Fatih dan papanya yang terdengar syok.


Papa menatap Fatih dengan tajam, dari matanya terlihat api amarah yang membara.


"Jangan main-main kamu, Fatih! Papa sudah menghabiskan semua uang dan tabungan, bahkan papa juga menggadaikan rumah kita untuk membuat acara semewah dan sebesar ini. Papa nggak mau miskin ...," belum selesai papa Fatih melampiaskan kemarahannya, keributan datang dari arah tamu yang menyaksikan acara siaran langsung pernikahan Naya dan Susanto di jejaring sosial.


Fatih dan papanya merogoh kocek dan mengeluarkan ponsel masing-masing. Mereka pun sangat syok saat melihat berita yang sedang trending hari ini.


Pandangan papa mendadak gelap, kepalanya tiba-tiba pusing.


"Akhhh ...!" Papa memegangi dadanya yang tiba-tiba sakit.


"Bawa papamu ke rumah sakit!" seru mama dan Fatih pun langsung membopong papanya menuju mobil.


"Ini semua karena Naya dan keluarganya, mereka harus bertanggung jawab!" Nafas Fatih memburu seiring amarahnya yang memuncak.


"Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kalian buat sendiri! Bukankah sejak awal sudah mama katakan, kalian tidak akan berhasil. Alberto bukan lawan kalian!" Akhirnya yang ditakutkan oleh mama pun terjadi.


Bukannya menyadari kesalahan, Fatih malah semakin marah dan berniat membalas dendam.


Di tempat lain,

__ADS_1


Alunan musik dan suara merdu penyanyinya menemani para tamu undangan yang hadir dan menyantap hidangan yang ada. Tamu undangan yang berasal dari kalangan bawah hingga pejabat tinggi negara hadir di acara resepsi pernikahan Naya dan Susanto.


Keluarga Alberto terlihat sibuk menyambut tamu yang hadir, senyuman manis dan tutur kata yang ramah mereka ucapkan pada tamu yang datang.


Teman sekolah Naya dan teman-teman Susanto juga hadir di hari bahagia itu. Mereka datang dengan banyak kekonyolan.


Teman sekolah Naya misalnya, yang datang dengan penampilan gembel sambil membawa peralatan rumah tangga. Ada yang membawa sapu, pel, baskom, panci dan lain-lain. Mereka meletakkan semua itu di dekat tempat Naya berdiri.


Yang lebih parahnya lagi dari teman Susanto, mereka serempak memakai piyama. Banyak hadiah dan kado yang bikin geleng-geleng kepala. Ada yang membawa sarung pengaman yang biasa digunakan saat bertempur dan mengalungkannya di leher Susanto.


Semua tamu yang hadir merasa terhibur dengan tingkah konyol mereka.


Kabar tentang papa Fatih yang masuk ke rumah sakit karena serangan jantung pun sudah sampai ke telinga Elang. Dia hanya mengulum senyum dan tidak banyak berkomentar.


Selesai acara dan setelah semua tamu sudah pulang, Naya dan Susanto diantar oleh sopir pulang ke rumah. Rumah yang dihadiahkan oleh Andre padanya. Awalnya Naya menolak karena dia sudah punya rumah pemberian sang kakek, tapi Andre mendesak dan mengatakan jika rumah itu nanti bisa ditempati oleh Santoso setelah menikah dan akhirnya Naya pun menerima hadiah pemberian sahabat papinya tersebut.


Elang, Edo dan yang lain memilih pulang ke rumah masing-masing, setelah sebelumnya terjadi sedikit perdebatan.


"Kita nggak jenguk mereka dulu, Dad?" tanya Rey.


"Iya, Lang." Edo menambahkan, "Walau bagaimana pun ini terjadi karena ulah kita," sambungnya.


"Ini terjadi karena ulah mereka sendiri, bukan kita yang buat. Mereka merencanakan pernikahan dan pesta besar-besaran tanpa persetujuan dari kita. Bukan salah kita dong!" Elang membela diri.


"Tapi, Dad ...,"

__ADS_1


"Sudah! Lebih baik kita pulang. Bukankah kalian juga lelah sama sepertiku? Lebih baik kita istirahat untuk memulihkan tenaga," Elang melangkah pergi meninggalkan tempat acara.


Sebelumnya Elang sudah memerintahkan pada anak buahnya untuk berjaga-jaga di sekitaran rumah Naya. Takut jika Fatih akan melakukan hal yang bisa membahayakan Naya dan Susanto.


__ADS_2