
Setelah membesuk Imelda dan Bayinya,Rey membawa Rani ke Dokter kandungan.Kehamilan Rani yang kedua Rey lebih over protektif,setiap jadwal Rani kontrol Rey selalu mengosongkan jadwalnya.Dia tidak mau kecolongan lagi seperti waktu Rani hamil Naya dulu.
Setelah mengetahui keadaan Rani dan calon bayinya sehat,Rey pun merasa lega.
"Terima kasih Dokter" ucap Rey.
"Rencananya mau sesar pas usia kehamilan tujuh bulan seperti anak pertama atau sampai usia kehamilan sembilan bulan?" tanya Dokter.
"Bukankah Istri dan calon bayinya sehat Dok?" Rey balik bertanya,jelas terlihat kekhawatiran di wajahnya.
"Seperti yang kita lihat tadi,semuanya sehat dan berat bayi juga normal.Saya hanya bertanya saja" jawab Dokter.
" Apakah jika saya melahirkan sesar saat kehamilan saya yang baru berusia tujuh bulan,nanti bayinya akan dimasukkan ke dalam inkubator seperti Naya dulu?" tanya Rani.
"Untuk kali ini tidak,melihat kondisi ibu yang sehat dan bayinya juga sehat" jawab Dokter.
Rani dan Rey meminta pendapat juga penjelasan dari dokter.Setelah merasa yakin akhirnya Rey dan Rani memutuskan untuk melahirkan anak keduanya tiga minggu lagi,di saat usia kehamilan Rani tujuh bulan.
"Baiklah kalau begitu,kita akan mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari sekarang.Dan ini jadwal kontrol terakhir" ujar Dokter sambil menyerahkan selembar kertas pada Rani.
Setelah selesai dengan segala urusan rumah sakit,Rey dan Rani pun memutuskan untuk pulang.Naya sudah tertidur di mobil bersama Unah.
"Itu mulut Naya kenapa belepotan?" tanya Rey.
"Naya tadi makan siomay,waktu mau Unah bersihkan mulutnya dia marah.Jadi,Unah biarkan saja" jawab Unah.
"Kebiasaan si tempe kalo udah ngantuk,selalu begitu.Suka ngamuk gak jelas" oceh Rey.
Dengan perlahan Rani mengelap sisa-sisa kuah siomay di mulut Naya.
"Huhhh...untung dia gak bangun" kata Rani sambil mengusap dadanya.
Rey mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran rumah sakit.
"Mau belanja kebutuhan baby gak Mi,mumpung kita sedang di luar" kata Rey.
"Emang mau beli apa lagi Pi,semua kebutuhannya sudah lengkap" jawab Rani.
"Kapan Mami membelinya?" tanya Rey.Setau Rey semenjak hamil Rani tidak pernah keluar rumah sendirian.Rani selalu keluar bersama Rey dan Rey selalu menemaninya kemana pun Rani ingin pergi.
"Bukan Mami yang beli,tapi Daddy sama Mommy yang membelinya.Hanya pembalut saja yang belum ada" jawab Rani.
Rey menepikan mobilnya di depan sebuah mini market," Tunggu sebentar ya" pinta Rey.
__ADS_1
Rey keluar dari mobilnya lalu masuk ke dalam mini market itu.Tidak lama kemudian Rey keluar lagi sambil membawa beberapa kantung plastik di tangannya.
"Papi beli apa?" tanya Rani saat Rey sudah kembali ke mobil.
"Pembalut,susu si kakak sama beberapa cemilan" jawab Rey.
"Papi beli pembalut? Papi gak malu?" tanya Rani.
"Kenapa harus malu,pembalut untuk istri sendiri kok malu.Kan bukan papi yang pake" jawab Rey santai.
Rey kembali mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke arah rumahnya.Rani duduk termenung di kursinya sambil memandang ke arah luar jendela,sedangkan Unah sibuk bermain dengan ponselnya.
Rey memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk rumahnya,kemudian dia turun lalu menggendong Naya dan membawanya ke kamar.
Unah membawa barang belanjaan Rey ke dapur.
"Un,sini pembalutnya.Mau mbak bawa ke kamar" pinta Rani.
Rani berjalan menuju ke kamarnya,begitu dia masuk ke kamar dia di kagetkan oleh Naya yang sudah terbangun dan sedang tertawa bersama Rey.
"Ada apa ni,bahagia bener?" tanya Rani.
"Si kakak lagi nonton film lucu" jawab Rey.
Rani meletakkan pembalut di atas sebuah tas berukuran sedang.
" Itu baju-baju milik adik bayi Mi?" tanya Rey.
"Iya,dan ini baru sebagian.Yang sebagian lagi ada di kamar sebelah" jawab Rani.
Rani merasa tubuhnya sangat gerah,Rani masuk ke kamar mandi.
Rey keluar dari kamarnya lalu menuju kamar yang ada di sebelah.
"Busyet,kenapa aku bisa tidak tau kalo kamar ini sudah berubah" seru Rey saat melihat kamar yang sudah lengkap dengan pernak-pernik bayi dan semua yang berada di dalam kamar itu dominan berwarna biru.
"Papi lihat apa?" tanya Naya sambil berjalan masuk ke dalam kamar itu.
"Wow...ini untuk adik bayi ya Pi.Kenapa warnanya gak sama seperti warna kamar kakak dulu?" tanya Naya.
"Kakak kan perempuan,makanya kamar kakak waktu itu warnanya merah muda.Kalo adek bayi kan laki-laki,jadi warnanya biru" jawab Rey.
"Tapi kakak gak suka warna merah muda" oceh Naya.
__ADS_1
Rey mengajak Naya kembali ke kamar mereka,Rani sudah selesai dengan ritual mandinya.
"Mommy tadi telpon,katanya nanti malam papi di suruh datang ke rumah Mommy" tutur Rani.
"Ada apa ya,tumben" kata Rey.
"Mami juga gak tau,Mommy gak bilang apa-apa tadi.Mommy cuma bilang papi suruh datang kesana" kata Rani.
...----------------...
Rey memasuki kediaman orang tuanya,lalu menemui orang tuanya di ruang keluarga.
"Loh Rani sama Naya gak ikut Rey?" tanya Mommy.
"Gak Mom,Naya sudah tidur" jawab Rey.
"Ada hal penting apa Mom?" tanya Rey.
"Daddy dengar kalian memutuskan untuk melakukan operasi sesar bulan depan,apa itu benar Rey?" tanya Daddy.
"Iya Dad" jawab Rey singkat.
"Apa ada masalah Rey?" tanya Mommy.
Akhirnya Rey pun menjelaskan pada Daddy dan Mommy perihal keputusan yang sudah mereka sepakati dengan Dokter.
"Alhamdulillah kalo semuanya baik-baik saja.Daddy dan Mommy pikir ada masalah hingga kalian mengambil keputusan itu" ujar Daddy.
"Rani sudah tidak sabar ingin melihat putranya lahir,makanya dia menyetujui saran dari Dokter" kata Rey.
"Kemungkinan besar Winara juga akan melahirkan saat kehamilannya berusia tujuh bulan.Kebiasaan malasnya dan hobi makannya yang besar selama hamil membuat bobot bayinya melebih berat bayi normal,apalagi Winara hamil bayi kembar.Dia juga akan melakukan sesar dua bulan dari sekarang" tutur Daddy.
"Daddy dan Mommy benar-benar panen cucu tahun ini" seru Rey.
"Kamu benar Rey,akhirnya tidak lama lagi rumah ini akan ramai oleh celotehan Naya dan juga tangisan dari adik-adiknya" tutur Daddy.
"Yang pasti Daddy semakin bertambah tua,jangan lupa itu Daddy sayang" Mommy menimpali.
"Oh ayolah Mom,hilangkan kata tua dari kalimatmu itu" kata Daddy.
"Baiklah Daddy tidak tua,hanya sudah tidak muda lagi" ralat Mommy.
"Sama aja Jainab" kata Daddy.
__ADS_1
Rey beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan kedua orang yang sedang berseteru konyol itu.Rey memilih untuk pulang ke rumahnya,Rey mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya.