
Andre bingung saat Ema memeluknya,dia pikir Ema akan ngamuk atau pun marah.
"Sayang kamu tidak marah?" tanya Andre dengan wajah bingung.
"Dasar bodoh! Tentu saja aku marah padamu.Kamu sudah merenggut kesucianku dan membuatku hamil.Kamu juga yang sudah membuatku kehilangan calon bayiku Andre" jawab Ema dengan air mata yang masih berlinang.
"Hamil? kehilangan? apa maksudmu?" tanya Andre tidak mengerti.
"Dua bulan sejak kejadian malam itu aku dinyatakan hamil,orang tuaku malu saat mengetahuinya.Ayahku meninggal karena terkena serangan jantung,dan ibuku mengusirku dari rumah.Aku stres,aku bingung kala itu.Aku memilih datang kemari dan di sini lah aku bertemu dengan Rani untuk pertama kalinya"ujar Ema.
Ema menghela nafasnya kemudian melanjutkan lagi ceritanya,"Rani menolongku dan membawaku pulang ke rumahnya,saat itu dia sedang mencari Rey.Aku menceritakan keadaanku padanya dan dia memahami kondisiku.Aku mulai menata diri dengan harapan bisa melupakan kejadian itu dan membesarkan anakku bersama Rani.Tapi Tuhan berkehendak lain,aku keguguran karena terlalu banyak pikiran dan juga terlalu capek bekerja.Aku harus mengikhlaskan kepergiannya sebelum aku bisa menggendongnya...hiks..."Ema mengakhiri ceritanya lalu menangis.
Andre langsung memeluknya,"Maafkan aku sayang,maafkan aku"ucap Andre.
"Setelah kejadian itu,aku sering datang ke villa untuk mencarimu tapi aku tidak menemukanmu di sana" tutur Andre.
Andre membelai rambut Ema dengan lembut dan penuh kasih sayang.Tubuh Ema bergetar hebat di pelukan Andre.
"Menangislah sepuasmu,jika itu bisa membuatmu lega" kata Andre.
Srooot...
Ema mengeluarkan cairan kental dari hidungnya menggunakan baju Andre.Bukannya marah Andre malah tertawa terbahak-bahak,sampai mengeluarkan air mata.
"Sayang apa bajuku sudah terlalu lusuh,sehingga kamu mengira ini lap dapur?" tanya Andre disela-sela tawanya.
Ema tidak menjawab,dengan santai dia turun dari kasurnya.
"Mau kemana?" tanya Andre.
"Ke Medan" jawab Ema asal.
Andre mengerutkan keningnya,"Mau ngapain ke Medan?" tanya Andre.
"Numpang cuci muka" jawab Ema yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Ada-ada saja tingkahnya,tapi aku suka" gumam Andre sambil membuka bajunya dan memasukkannya ke keranjang khusus pakaian kotor.
*
*
Tang ting...
Bunyi sendok beradu kekuatan dengan piring.Rani dan Rey sedang menikmati makan malamnya.
"Bukankah besok jadwal chek up mu yang terakhir sayang?" tanya Rey di sela-sela makannya.
"Minggu depan sayang,bukan besok" jawab Rani sambil tersenyum.
"Aku salah lagi,Oh Astaga kenapa aku selalu saja lupa" keluh Rey.
"Itu karena kamu hanya memikirkan pekerjaan dan pisang tandukmu saja" tutur Rani.
Rey nyengir saja mendengar penuturan Rani.
"Ema dan Andre sudah pindah ke rumah pribadi mereka" kata Rey.
"Darimana kamu tahu?" tanya Rani.
"Andre yang mengatakannya tadi saat di kantor" jawab Rey.
"Andre gak cuti?" tanya Rani.
__ADS_1
Rey menggeleng,"Seharusnya cuti.Tapi,sore tadi mendadak ada masalah di kantor,aku memintanya untuk datang"jawab Rey.
"Apa kamu memberitahu Andre tentang Ema?" tanya Rani.
"Tidak.Biar mereka berdua yang saling membuka cerita satu sama lain" jawab Rey.
Rani dan Rey sudah selesai makan malam,Rey membantu Rani membersihkan meja makan.
"Thomas kapan pulang?" tanya Rani lalu duduk di samping Rey.
"Mungkin lusa" jawab Rey.
Rani menyandarkan tubuhnya di bahu Rey.
"Sayang kamu tau gak perbedaannya kamu dengan bulan?" tanya Rey.
"Bulan di atas aku di bawah" jawab Rani asal.
"Salah" kata Rey.
"Dia di langit dan aku di bumi" kata Rani lagi.
"Masih salah" kata Rey.
Rani mengubah posisi duduknya lalu memandang wajah Rey,"Jadi apa jawabannya,awas aja kalo aneh-aneh" ancam Rani.
"Bulan menyinari semua orang di malam hari saja dan kamu menyinari hidupku untuk selamanya" jawab Rey sambil mencolek hidung Rani.
"Oh so sweet sekali japra" ucap Rani.
"Aku juga punya tebak-tebakkan"ujar Rani.
"Apa itu?" tanya Rey.
"Kucing kucing apa yang bisa membuat hati berbunga-bunga?" tanya Rani.
"Salah" kata Rani.
"Kucing Persia" tebak Rey lagi.
"Masih salah" kata Rani lagi.
"Kucing tetangga" ujar Rey.
"Kok kucing tetangga sih,masih salah sayang.Ayo,tebak lagi" pinta Rani.
"Susah banget Ayang,nyerah deh" kata Rey sambil memasang wajah cemberutnya.
"Kucingta kamu apa adanya dan untuk selamanya" kata Rani lalu berjalan menaiki tangga.
"Sayang,hatiku bukan hanya berbunga,tapi ada kumbangnya juga" seru Rey.
Rani menoleh lalu tersenyum genit pada Rey.
"Sinyal nih kayaknya" gumam Rey.
"Sayang" panggil Rey.
Rani menghentikan langkahnya lalu melihat ke arah Rey dari pagar pembatas yang ada di lantai dua.
"Apa" kata Rani.
"Bapakmu tukang jual air ya?" tanya Rey.
__ADS_1
"Kok tau" balas Rani.
Rey berdiri lalu berjalan ke arah Rani dan memeluknya."Karena aku butuh air yang banyak setelah ini,aku akan membuatmu mandi berulang kali" kata Rey lalu menggangkat tubuh Rani dan membawanya ke kamar.
"Rey,turunkan.Aku berat" kata Rani.
"Bobotmu cuma lima puluh kilo sayang.Dua kali lipat dari ini aku masih sanggup" kata Rey sambil merebahkan tubuh Rani di kasur.
"Rey" kata Rani sambil mengusap pipi Rey dengan lembut.
"Hemmm" Rey mendehem saja.
"Aku takut" kata Rani.
"Takut apa?" tanya Rey sambil menautkan alisnya.
"Takut kehamilanku bermasalah,aku takut karena itulah Dokter memintaku untuk operasi minggu depan"jawab Rani.
"Kenapa harus takut jika memang sudah waktunya" kata Rey.
"Belum Rey,belum waktunya.Kehamilanku baru berusia tujuh bulan" tutur Rani.
Rey terkejut lalu memandang wajah Rani dengan tajam.
"Kenapa baru ngomong sekarang?" tanya Rey.
Rani menghela nafasnya,"Aku takut kamu jadi khawatir dan mengganggu konsentrasi kerjamu Rey" jawab Rani.
"Tapi aku suamimu sayang,aku ayah dari janin yang sedang kau kandung.Apa aku tidak berhak tau tentang keadaan kalian?" tanya Rey.
Rani terdiam,dia mengaku salah karena tidak terbuka pada Rey.
Rey naik ke kasurnya lalu berbaring di samping Rani.
"Apalagi yang tidak aku ketahui?" tanya Rey dengan nada serius.
Rani menggelengkan kepalanya,"Tidak ada" jawab Rani.
Rey menghela nafasnya lalu turun lagi dari kasurnya,Rey berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang keluarga.Rey mengambil ponsel miliknya yang tertinggal di sana,kemudian dia menghubungi seseorang.
Rani turun dari kasurnya lalu masuk ke kamar mandi.
Ceklek
Pintu kamar terbuka.
"Sayang" panggil Rey saat melihat Rani tidak ada di kasurnya.
"Aku di kamar mandi" jawab Rani yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Rey tersenyum melihat Rani,tapi kemudian senyum itu memudar kala melihat wajah muram Rani.
"Tidak perlu cemas,semua baik-baik saja.Aku baru saja menghubungi Dokter yang biasa menanganimu di rumah sakit" tutur Rey.
Rani menghela nafasnya,lalu memandang wajah Rey.
"Tapi kita belum mempersiapkan nama untuk anak kita" kata Rani.
"Aku akan memikirkan soal itu nanti,kamu jangan khawatir.Sekarang tidurlah" perintah Rey.
Rani naik ke kasurnya lalu menarik selimutnya,"I Love You Rey" ucap Rani sebelum terpejam.
"Aku juga mencintaimu dan juga anak kita" balas Rey.
__ADS_1
Cup
Rey mencium kening Rani dengan mesra.