
"Om Kenzi dan Onty Yuna menikah setelah lulus sekolah, saling memahami dan menerima kekurangan masing-masing membuat mereka langgeng dan harmonis sampai sekarang." Tutur Rey saat Leon mengatakan hasil pembicaraannya tadi dengan Raya.
"Apa Leon harus menikahi Raya?" tanya Leon.
"Ini ni, kalo kepala sering kena bola basket, LEMOT!"
Pletak!! Rey menyentil kening Leon.
"Awh! Sakit papi!" Leon mengusap bekas sentilan Rey di keningnya.
"Papi sudah bilang, beri dia kepastian Leon." Rey terlihat geram.
"Apa perlu papi atau kakek turun tangan? Lihat om Kiandra, dia menikah tanpa pacaran dengan onty Imelda. Opa Haris, Opa Wildan, mereka menikah tanpa pacaran. Bahkan oma-omamu mengira opamu gila saat tiba-tiba mengajak mereka untuk menikah." Ungkap Rey.
"Usia mereka kan emang sudah pas untuk menikah," ujar Leon.
"Menikah tidak tergantung usia, tapi kesiapan. Ada kok yang usianya hampir lima puluh tahun tapi belum menikah karena merasa belum siap. Bisa-bisa kamu jadi salah satunya," Rey berdiri lalu meninggalkan Leon yang ternganga mendengar ucapannya.
"Papi doain Leon jadi bujang lapuk!" teriak Leon.
"Kamu yang memilih, bukan papi yang mendoakan!" sahut Rey lalu masuk ke kamarnya.
Arghhh ... Leon menjambak rambutnya frustasi.
"Besok aku harus bertemu dengan Raya," gumamnya.
Keesokan harinya,
Sambil menggendong tasnya, Leon menyusuri jalanan becek di dalam pasar. Dia berjalan menuju lapak yang biasa di pakai oleh Raya berjualan.
Sesampainya di lapak, Leon tidak melihat Raya di sana, dia melihat orang lain yang berjualan.
"Permisi! Rayanya ke mana ya buk?" tanya Leon sopan.
"Neng Raya siapa, mas?" tanya pedagang.
"Yang biasa berjualan di sini," jawab Leon.
"Kalo itu saya kurang tahu, mas. Saya mendapat lapak ini dari pengurus pasar. Coba mas tanyakan langsung ke pengurus pasar," saran ibu itu sambil memberi tahu di mana Leon bisa bertemu pengurus pasar.
Setelah mengucapkan terima kasih, Leon pergi ke tempat yang disebutkan oleh ibu tadi. Leon tidak perlu pergi jauh karena pengurus pasar berada di dalam pasar tersebut.
__ADS_1
"Permisi!" ucap Leon, ruangan kecil berukuran sekitar empat kali empat meter yang hanya ada dua meja di dalamnya terlihat lengang.
"Cari siapa, Mas?" tanya seseorang dari belakang Leon.
Leon berbalik dan langsung mengutarakan niatnya, bertanya ke mana Raya pergi.
"Pemilik lapak sebelumnya sudah tidak berjualan lagi di sini, Mas. Kemarin terakhir mereka berjualan. Kabar yang saya dengar mereka pindah karena rumah yang mereka tempati direbut paksa oleh adik mendiang suami ibu itu." Leon terkejut mendengar penuturan pengurus pasar.
Tanpa menunda waktu, Leon langsung mengarahkan motornya ke rumah Raya, berharap sang kekasih belum pergi dari rumah itu.
Sebuah mobil bak terbuka terparkir di depan rumah Raya. Banyak kardus-kardus yang diduga berisi barang-barang yang akan dibawa pindah.
"Raya!" Leon memanggil nama kekasihnya.
Leon bernafas lega saat melihat gadis yang mampu memporak porandakan hatinya berdiri di hadapannya.
"Leon," lirihnya, matanya bengkak dan merah, sepertinya gadis itu habis menangis.
Leon berjalan menghampiri Raya dan langsung memeluk gadis itu. Dia mengusap rambut hitam dan panjang milik kekasihnya dengan lembut.
"Kamu mau ke mana?" tanya Leon setelah melepaskan pelukannya dan membimbing Raya untuk duduk di lantai. Tidak ada kursi atau pun barang yang biasa ada di sana, semua sudah kosong melompong.
"Lalu, semua barang-barang ini mau dibawa ke mana?" tunjuk Leon pada kardus yang bertumpuk di hadapannya.
Raya menggelengkan kepala, dia sendiri tidak tahu mau ke mana. Jalan satu-satunya adalah mencari rumah kontrakan dengan uang yang tersisa.
"Tunggu sebentar," pinta Leon, dia keluar dari rumah itu lalu menghubungi seseorang melalui ponselnya.
Setelah selesai dengan urusannya di telpon, dia menemui sopir mobil yang akan membawa barang-barang milik Raya. Dia mengatakan sesuatu pada sopir itu dan sang sopir pun mengangguk tanda mengerti.
"Kita lihat kondisi ibu di rumah sakit," ajak Leon sambil mengulurkan tangannya pada Raya yang masih duduk di lantai sambil melamun.
"Aku sudah tidak punya apa-apa lagi, Leon." ucap Raya lirih.
"Kamu salah! Kamu masih punya ibu dan aku," ujar Leon.
"Rumah ini peninggalan ayah, Leon. Paman sudah merebutnya dari kami," Raya kembali menangis pilu, dengan sigap Leon langsung memeluknya.
"Kita akan merebutnya kembali! Jangan sedih," hibur Leon. Ucapannya bukan bualan semata, meski usianya masih sangat muda tapi jiwa Elang Api sangat kental mengalir dalam tubuhnya.
Leon membimbing Raya hingga ke motor. Dengan sapu tangannya, Leon menghapus air mata di wajah Raya.
__ADS_1
Setelah Raya lebih tenang, Leon membawanya ke rumah sakit tempat ibu dirawat.
"Ibu belum juga siuman," lirih Raya sambil menggenggam erat tangan ibunya yang terbaring lemah di atas brankar.
Leon berdiri di samping Raya, tangannya mengusap punggung kekasihnya dengan lembut.
"Permisi!" sapa Dokter yang baru masuk ke ruangan itu.
"Apa permintaan saya bisa kalian penuhi?" tanya Leon, Raya mengerutkan kening, tidak mengerti apa maksud pembicaraan Leon dan dokter.
"Bisa, Tuan. Dengan senang hati," jawab Dokter.
Dokter memanggil perawat dan memintanya untuk mengurus ibu Raya yang hendak dipindahkan ke rumah sakit milik Alberto.
"Ibu mau dibawa ke mana? Apa ibu sudah meninggal?" tanya Raya.
"Ibu akan dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar, yang alat-alatnya lebih lengkap." jawab Leon.
Raya tidak banyak berkomentar, yang penting ibunya bisa sembuh. Untuk biaya pengobatan urusan nanti, dia bisa menggadaikan atau menjual kebun yang suratnya berhasil dia selamatkan.
Raya hanya sekedar tahu tentang keluarga Alberto, tapi dia tidak tahu lebih dalam. Yang dia tahu keluarga Alberto penguasa bisnis di berbagai negara.
"Abang tidak ke kampus?" tanya Raya setelah lebih tenang. Ibu sudah berada di ruang inap yang lebih besar dari kamar sebelumnya.
"Aku bolos," jawab Leon sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
"Gimana mau sukses kalo kuliah aja males-malesan," gerutu Raya.
"Tenang, jika tidak kuliah membuatku gagal sukses, aku akan jadi tukang parkir seperti mas Susan," balas Leon, Raya hanya menggelengkan kepala melihat kekonyolan Leon.
"Abang menemuiku, untuk apa?" tanya Raya.
Leon berbaring di sofa dan menjadikan pupu Raya sebagai bantal. "Masih bertanya untuk apa? Tentu saja karena aku merindukanmu," jawabnya dengan mata terpejam, jujur saja semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan hubungannya dengan sang kekasih.
"Dasar gombal! Baru berpisah beberapa jam sudah rindu," cetus Raya.
"Sejujurnya, aku takut kamu benar-benar menikah dengan pria yang kamu sebutkan tadi malam," ujar Leon dengan jujur.
"Kalau begitu, kenapa tidak Abang saja yang menikahiku?" Leon terperanjat dan langsung membuka matanya.
"Kita akan menikah setelah ibu sembuh," ucap Leon tanpa pikir panjang.
__ADS_1