
"Ragil kenapa setelah kita menikah kamu berubah kasar sama aku?" tanya Sisy sambil mengejar Ragil yang hendak pergi.
"Bukankah sudah aku katakan aku tidak mencintaimu setelah aku tau kamu berhubungan sama Tio"jawab Ragil.
"Aku hanya sekali melakukkannya Ragil,setelah itu aku tidak pernah lagi menemuinya" ujar Sisy.
"Kalo cuma sekali,lalu siapa yang merenggut ke perawananmu.Soalnya saat pertama aku tidur denganmu kamu sudah tidak perawan?" cecar Ragil.
Sisy terdiam,dia tidak tau harus menjawab apa.
"Sudahlah jangan terlalu banyak menuntut,aku sudah menuruti permintaanmu dan menikahimu.Harusnya kamu bersyukur Sisy aku tidak kabur dan mau bertanggung jawab walaupun aku tidak yakin kalo itu anakku" tutur Ragil lalu pergi.
"Hiks...kenapa jadi begini" ucap Sisy yang langsung duduk bersimpuh di lantai sambil menangis.
"Aku harus berbuat apa,aku tidak punya apa-apa lagi.Pulang ke rumah Ayah tidak mungkin karena Ayah sudah mengusirku" gumam Sisy lirih.
Ragil pergi ke suatu tempat,lebih tepatnya kemakam istri dan anaknya,dia menangis di samping pusara yang masih baru itu,tiap hari Ragil selalu mengganti bunga agar selalu terlihat segar.
"Hai sayang,kamu sedang apa disana,sedang kecewa melihatku disini yang sudah lancang mengkhianatimu.Itu semua aku lakukan karena aku ingin membalas dendam atas apa yang dulu dia lakukan padamu"tutur Ragil.
Ragil kembali teringat saat istrinya merintih kesakitan karena pendarahan dan akhirnya dia harus kehilangan calon bayinya.
Flashback on
"Dok tolong istri saya" kata Ragil sambil menggendong Ines dalam pelukannya,darah segar mengalir di kakinya.
"Tidurkan istrimu di situ" perintah Sisy sambil memakai kutek di kukunya.
"Dok apakah bisa cepat menangani istri saya,dia sudah merintih kesakitan" kata Ragil.
Sisy melihat Ragil dari atas sampai bawah,baju lusuh,wajah tampan tapi tidak terawat.Sisy pun tersenyum mengejek.
"Bawa uang gak,kalo miskin itu gak usah sok belagu deh" kata Sisy santai.
Wajah Ragil sudah memerah menahan amarahnya,tapi Ines menahannya,"Mas tidak perlu marah,calon bayi kita sudah keluar" ujar Ines lirih.
Ragil menoleh lalu menyibakkan daster yang di pakai Ines,benar saja ada gumpalan daging di sana.Saat Ragil hendak marah tiba-tiba Kiandra masuk ke ruangan itu.
Setelah mendengar keluhan Ragil,Kiandra memanggil perawat untuk merawat Ines dan sejak saat itulah Kiandra dan Ragil berteman.
Flashback off
"Kamu tau sayang beberapa bulan setelah kejadian itu aku kembali bertemu dengannya tapi dia tidak ingat padaku,aku memanfaatkan itu untuk mendekatinya dan membalas semua perbuatannya padamu,tapi aku memakai cara yang salah untuk balas dendam.Maafkan aku sayang,aku berjanji setelah dia merasakan pembalasan dariku aku akan pergi meninggalkannya sejauh mungkin" tutur Ragil.
Ragil mendekati makam anaknya,"Maafkan ayah sayang karena terlalu terobsesi oleh dendam sehingga ayah melupakanmu,ayah lalai dalam menjagamu sehingga kamu harus berakhir di tangan ibumu sendiri" kata Ragil sambil mengelus papan nisan anaknya.
Ragil meninggalkan area pemakaman setelah puas berbicara panjang lebar,meluahkan segala kesedihan dalam hatinya,dia pun berniat untuk pulang ke rumah kontrakannya.
.
__ADS_1
.
"Kamu serius akan menikahi Ema atau sekedar mencari halal saja?" tanya Rey pada Andre.
Siang ini setelah selesai meeting Rey,Andre dan Thomas memilih nongkrong di cafe milik Andre.
"Aku serius Rey...aku juga ingin merasakan kebahagiaan sama sepertimu" jawab Andre.
"Thomas bagaimana denganmu,apa kamu sudah menemukan calon pendamping hidup seperti Andre?" tanya Rey.
"Sudah" jawab Thomas santai sambil meminum jus alpukatnya.
"Siapa?" tanya Rey dan Andre bersamaan.
"Nanti juga kalian bakalan tau" jawab Thomas santai.
Rey dan Andre saling bertukar pandang,"Apa kami mengenalnya?" tanya Rey.
"Aku juga tidak tahu kamu mengenalnya atau tidak" jawab Thomas.
Rey dan Andre hanya diam saja,Thomas susah di tebak.
"Rey bukankah itu Rani sama Ema" kata Thomas sambil menunjuk ke arah Rani yang duduk di sudut ruangan.
"Ah dia selalu saja muncul disaat aku rindu" ucap Rey lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri meja Rani.
"Sayang,kamu disini?" tanya Rani.
"Aku baru selesai meeting di mall depan,karena sudah tidak ada kerjaan lagi akhirnya nongkrong di sini sama calon suami Ema dan Thomas" jawab Rey sambil melirik ke arah Ema.
"Apaan sih Rey" ucap Ema malu-malu.
"Gabung yuk ke meja sana" ajak Rey.
Rani dan Ema mengikuti Rey menuju mejanya.
"Hai,kalian dari mana?" tanya Andre.
"Dari mall depan" jawab Rani.
"Sayang dari mall depan juga?" tanya Rey.
"Iya,aku mulai mencicil keperluan bayi kita" jawab Rani.
"Mencicil kok hampir semua isi toko di borong" celetuk Ema.
Rani nyengir saja mendengar celetukan Ema.
"Eh aku hampir lupa,tadi aku ketemu sama Alana di mall,dia sama cowok" tutur Ema pada Thomas.
__ADS_1
"Alana,jadi Alana kekasihmu?" tanya Rey dan Andre bersamaan.
Alana salah satu karyawan di kantor Rey.
"Tapi siapa cowok yang bersamanya?dia kelihatan mesra banget" ujar Rani.
"Itu Erga,kakaknya Alana" jawab Thomas.
"Kenapa kamu bisa yakin?" tanya Rey.
"Bisa saja dia selingkuh di belakangmu" kata Andre.
Thomas membuka galeri foto di ponselnya lalu menunjukkan salah satu foto pada Rani,"Apa cowok ini yang bersamanya?" tanya Thomas.
"Nah iya bener,cowok ini yang tadi jalan sama Alana" jawab Ema.
Mereka melanjutkan pembicaraan mereka,sesekali terdengar tawa riuh dari arah mereka.
"Kalian gak ke kantor?" tiba-tiba suara yang mereka kenal menegur mereka.
"Ayah sini gabung" ajak Andre pada Om Wildan.
"Om lagi ngapain di sini?" tanya Rey.
"Om janji ketemuan sama Daddy" jawab Om Wildan.
"Rani bagaimana kabarmu?" tanya Om Wildan.
"Baik Om,Om sendiri bagaimana?" tanya Rani.
"Seperti yang kamu lihat,Om baik-baik saja" jawab Om Wildan.
Om Wildan melihat ke arah Ema yang dari tadi terlihat salah tingkah,"Kamu kenapa Ema,dari tadi Ayah perhatikan kamu seperti sedang gelisah?" tanya Om Wildan.
"Ayah?"kata Rey,Rani,Thomas dan Andre bersamaan.
"Wow best friend forever...keren euy bisa kompak begitu kayak lagi latihan paduan suara aja" kata Om Wildan.
"Kenapa Om bilang Ayah ke Ema?" tanya Thomas.
"Jadi Ema harus panggil Om apa,sebentar lagi Ema akan jadi menantu Om tentu saja dia harus memanggilku Ayah,bukan begitu Ema?" tanya Om Wildan.
"Emmm...i...ya Ayah" jawab Ema.
Rey dan Rani memandang Ema dengan tatapan tajam,Ema memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kamu berhutang penjelasan padaku Ema" bisik Rani.
Om Wildan meninggalkan meja Rey dan teman-temannya karena Daddy sudah datang,entah apa yang sedang mereka bahas.Wajah mereka terlihat sangat serius sekali.
__ADS_1