Cinta Masa Silam

Cinta Masa Silam
Si Tempe 17


__ADS_3

Rey dan Rani berkunjung ke rumah Naya. Rey ngobrol sama Susanto di ruang keluarga, sedangkan Naya dan Maminya ngobrol di dapur.


Rani sengaja mengajak Naya ngobrol secara terpisah dari Rey dan Susanto. Ada hal yang ingin dia bicarakan dengan putrinya dan dia sangat penasaran.


"Mami ngapain sih ajak kakak ngobrol di dapur? Banyak nyamuk, tauk!" protes Naya.


"Nyamuk dari mana Kak? Ngarang aja kamu ah." balas Rani.


Rani melihat ke arah depan, takut tiba-tiba suami atau menantunya muncul.


"Ada apa sih, Mam? Bikin penasaran aja deh." Naya menautkan kedua alisnya melihat sikap aneh maminya.


Rani menghela nafas sambil memejamkan mata, dia mencoba menetralkan hati yang sedang gundah gulana.


"Mami cuma mau tanya, kalian udah itu belum sih?" tanya Rani.


"Itu? Itu apa maksudnya?" Naya semakin bingung.


"Emm ... Itu loh, apa itu namanya? Emmm kikuk-kikuk," jawaban Rani malah membuat Naya semakin pusing.


"Haduuuh, kakak pusing deh. Maksud Mami apaan sih, kakak nggak ngerti. Suer deh!" Naya mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya.


Rani kembali melihat ke arah depan, kemudian menyuruh Naya untuk mendekat. Rani membisikkan sesuatu di telinga Naya, entah apa itu? Yang pasti Naya sangat-sangat terkejut.


"Udah belum?" tanya Rani.


"Be-lum," jawab Naya. "Emang harus ya?" tanyanya.


Pluk! Rani menepuk keningnya melihat kepolosan putrinya itu.


"Harus kak!!" jawab Rani dengan geram.


***


Naya berjalan mondar-mandir di kamarnya, mempertimbangkan pertanyaan dan penjelasan dari maminya. Berkali-kali dia meraup wajahnya sambil menghembuskan nafas berat.


Susanto yang baru saja masuk ke kamarnya bingung melihat istrinya mondar-mandir seperti orang yang sedang kesusahan.


"Ada obat nggak?" tanya Susanto, mendadak Naya langsung menghentikan acara mondar-mandirnya.


"Obat? Untuk apa? Apa kamu sakit?" tanya Naya.


"Kepalaku pusing lihat kamu bolak-balik bolak-balik, udah kayak setrikaan aja," jawab Susanto sambil naik ke kasurnya.


Susanto merebahkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut hingga sebatas dada. Matanya dia pejamkan karena sudah terasa mengantuk.


"Susan, apa kamu sudah tidur?" tanya Naya sambil duduk di pinggiran kasur.


"Udah," jawa Susanto tanpa membuka matanya.

__ADS_1


"Udah kok bisa jawab," gerutu Naya.


"Susan," sebut Naya.


Susanto membuka matanya, menatap Naya yang terlihat seperti sedang gelisah.


"Kalo mau ngajak berantem, besok aja Noyo. Aku ngantuk, suer deh!" Susanto mengangkat jari membentuk huruf V ke arah Naya.


"Jangan tidur dulu, aku mau tanya." Naya mengguncangkan tubuh Susanto agar tetap terjaga.


"Tanya aja,telingaku akan mendengar pertanyaanmu." ujar Susanto sambil memeluk bantal gulingnya.


"Bisa jelaskan padaku bagaimana proses malam pertama? Kenapa kita tidak melakukannya? Bahkan ini bukan malam pertama lagi, tapi sudah bulan pertama, kedua, dan ketiga," celoteh Naya.


Susanto langsung mendudukkan tubuhnya, rasa kantuknya mendadak hilang berganti rasa ingin menjahili istrinya.


"Kamu yakin nggak tahu apa itu malam pertama?" tanya Susanto.


"Dasar mesoem! Katanya ngantuk, tapi langsung hilang pas aku bahas malam pertama," gerutu Naya.


"Aku tahu malam pertama, tapi nggak tahu gimana prosesnya." imbuhnya.


Susanto mendekatkan wajahnya ke arah wajah Naya. Semakin lama semakin dekat hingga tidak ada jarak di antara mereka.


Naya memejamkan matanya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu berpikir aku akan menciummu?" mendengar pertanyaan Susanto membuat wajah Naya memerah karena malu.


"Apa sih?" Naya salah tingkah lalu buru-buru merebahkan tubuhnya dan menyelimutinya dengan selimut.


"Aku siap kok kalau kamu mau mengajakku untuk malam pertama. Yuk!" Susanto semakin gencar menggoda istrinya.


"Susan mesoem!" teriak Naya dari balik selimut.


Susanto memilih diam sambil memandangi istrinya yang sudah seperti kepompong, tertutup selimut dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Di balik selimut, Naya merasa pengap dan sulit bernafas. Dia mengerutkan kening saat tidak lagi mendengar suara dan pergerakan dari suaminya.


Perlahan tapi pasti, Naya membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


"Baaaa!" sontak saja Naya terkejut saat Susanto bersuara dengan tiba-tiba.


"Copot jantungku!" Naya mengusap dadanya karena terkejut.


"Udahan main petak umpetnya?" Bukannya menjawab pertanyaan Susanto, Naya malah memasang wajah cemberut dan berbaring membelakangi suaminya.


"Nggak sopan tidur dengan posisi itu," ujar Susanto sambil melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya.


"Habisnya aku kesel, kamu jahil!" cetus Naya sambil memutar posisi tidurnya. Sebelumnya Rani sudah menasehati putri kesayangannya itu, bagaimana cara menjadi istri yang baik, terutama tentang cara tidur di atas ranjangnya.

__ADS_1


Susanto memejamkan matanya, ocehan Naya bak dongeng sebelum tidur di telinganya.


"Susan!!! Aku sibuk ngoceh, kamu malah tidur! Kamu pikir aku sedang membaca dongeng?" Naya kembali memasang wajah cemberutnya.


"Aku ngantuk, besok lagi ngocehnya ya. Malam ini kita tidur saja," tutur Susanto tanpa membuka matanya.


"Susan," sebut Naya sambil mencolek-colek hidung suaminya.


"Hemmm," hanya deheman yang keluar dari mulut Susanto.


"Bagaimana cara bikin anak?" Susanto membuka mata saat mendengar pertanyaa Naya.


"Bikin anak?" Susanto balik bertanya dan Naya menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Seriusan gak tau caranya?" tanya Susanto lagi, sekuat tenaga dia menahan kantuk dan tawa.


"Aku tahu, suami dan istri harus tidur bersama. Walaupun dulu onty Raisa hamil sebelum menikah dengan uncle Betrand. Tapi, bikin anaknya pake apa? Pake tepung apa?" Mata Susanto membulat sempurna mendengar pertanyaan istrinya. Bagaimana bisa bikin anak pakai tepung, begitu pikirnya.


Terbersit ide jahil di benak Susanto, mata yang tadi ngantuk kini berangsur segar kembali. Susanto duduk bersandar di sandaran tempat tidurnya.


"Bikin anak bukan pake tepung, sayang. Tapi, pakai cairan mirip jel gitu." tuturnya.


"Jel? Jel apa? Di mana kita bisa membelinya?" Naya mengikuti Susanto, duduk bersandar di sandarang ranjang.


"Nggak perlu beli, gratis! Aku punya," ujar Susanto sambil menaik turunkan alisnya.


"Serius? Coba lihat!" pinta Naya.


Susanto merapatkan bibirnya, perutnya sudah sakit karena menahan tawa. Ditambah lagi dengan wajah polosnya Naya semakin terlihat menggemaskan.


"Susan, ayolah! Tunjukkan padaku!" desak Naya.


"Apa mami tidak pernah memberitahumu?" tanya Susanto.


"Tidak! Mami hanya menyuruhku untuk menuruti semua perkataanmu dan tidak boleh menolak permintaanmu, terutama di tempat tidur." jawab Naya dengan jujur.


"Kamu sama sekali tidak tahu tentang kegiatan orang yang sudah menikah?" tanya Susanto lagi.


"Maksudmu? Kita harus melakukan itu?" tanya Naya dengan suara pelan sambil celingukan, seolah takut ada yang mendengar pertanyaannya.


"Harus dong. Kalau tidak, bagaimana kita bisa punya anak," jawab Susanto.


Naya merenung sejenak, kemudian memandang wajah suaminya.


"Ayo kita bikin sekarang!" ajak Naya.


"Bikin apa?" kali ini Susanto yang bingung mendengar ajakan Naya.


"Bikin anak, Susan. Apa lagi? Ayo!" dengan entengnya Naya mengajak Susanto. Dia tidak tahu jika bikin anak harus melalui proses panjang, menguras tenaga dan bercucuran keringat.

__ADS_1


__ADS_2