
"Saya terima nikah dan kawinnya Nayyara Nafisa binti Revan Arrayan dengan mas kawin uang lima juta rupiah di bayar TUNAAAAI ..."
Hanya dengan satu helaan nafas dan suara yang lantang, Susanto mengucapkan kalimat sakral. Yang itu artinya mulai detik ini, tanggung jawab seorang perempuan yang dia nikahi telah berpindah dari orang tua ke pundaknya.
Untaian doa dipanjatkan untuk mereka berdua, Susanto dan Naya. Rona bahagia terpancar dari semua yang hadir di sana.
Naya mengambil tangan Susanto yang sudah sah menjadi suaminya. Susanto meletakkan telapak tangannya yang lain di atas puncak kepala Naya, meminta pada Allah agar pernikahannya diberkahi dan diberi kebahagiaan.
Naya yang sedari tadi menahan tawa pun akhirnya tidak dapat menahannya lagi. Merasa aneh dan lucu karena tidak menyangka laki-laki yang menurutnya gila dan aneh kini menjadi suaminya.
Setelah acara selesai dan semua tamu sudah pulang, Naya dan Susanto masuk ke kamarnya.
Meski yang hadir tidak banyak, tapi mampu membuat sepasang pengantin itu lelah.
"Cuma ngobrol aja, tapi capeknya kayak digebukin orang sekampung." Naya dengan leluasa merebahkan tubuhnya di kasur. Sepertinya dia lupa bahwa Susanto ada bersamanya.
"Mandi dulu dan shalat ashar dek, baru tidur." Naya tersentak lalu buru-buru mendudukkan tubuhnya di atas kasur.
"Dek? Kamu panggil aku dek? Aku kakak, bukan adek! Lagian ngapain kamu ada di sini? Ini kamar aku! Jangan bilang kamu mau macam-macam!" Naya turun dari kasur dan memasang kuda-kuda, bersiaga takut Susanto berbuat hal buruk padanya.
"Emangnya kenapa kalo aku melakukan macam-macam padamu, kita sudah sah menikah, dan kamu sudah halal untukku." Dengan santai Susanto berjalan mendekati Naya.
"Mau ngapain?" tanya Naya masih dalam mode siaga.
Susanto menyeringai, dia ingat apa yang dikatakan Rey padanya. Susanto harus sabar menghadapi Naya yang sama sekali tidak pernah pacaran atau dekat dengan lelaki mana pun kecuali Leon dan sepupunya.
Pasti ada tingkah konyol Naya yang bisa bikin kepala Susanto pusing. Karena menurut Rey, Naya selalu bersikap kasar pada laki-laki yang berusaha dekat dengannya.
"Kamu maunya kita ngapain?" jawab Susanto sambil terus berjalan mendekati Naya, hingga gadis itu tidak bisa lagi melangkah mundur karena mentok di ranjangnya.
"Ke luar atau aku teriak nih!" Naya mencoba mengancam Susanto.
Susanto tersenyum, "Kita sudah menikah, kamu istriku dan aku suamimu. Berteriak sekuat tenaga pun, mereka tidak mungkin menolongmu. Lagi pula untuk apa berteriak, aku hanya memintamu untuk mandi. Selesai mandi kita shalat ashar berjamaah," tutur Susanto panjang lebar dan seketika itu wajah Naya langsung memerah karena malu.
"Kenapa aku bisa lupa kalo aku dan dia sudah menikah? Bodohnya aku! Kalo begini kan aku yang malu." Naya bergumam lirih.
Cup, Susanto mencium puncak kepala Naya yang sedang mengomel dengan kepala tertunduk.
"Mau mandi sendiri atau Mas mandiin?" Naya mengangkat kepalanya dan matanya pun membulat sempurna, mulut mengganga karena terkejut. Susanto yang selama ini dia kenal sangat pendiam, ternyata sangat cerewet dan mesoem.
__ADS_1
Cup, Susanto mencium bibir Naya sekilas, bukan karena napsu, tapi entah kenapa dia sangat senang menjahili gadis yang baru saja menjadi istrinya.
"Aku bisa mandi sendiri," Naya bergegas masuk ke kamar mandi, hingga dia melupakan handuknya.
"Dek!" seru Susanto.
"Ha ..." Naya menganga sambil menoleh.
Susanto tersenyum karena ternyata Naya sangat peka saat dipanggil adek olehnya.
"Nggak bawa handuk?" tanya Susanto sambil menunjuk arah handuk menggunakan mulutnya.
"Hehe, aku lupa!" Naya nyengir sambil mengambil handuknya.
Susanto keluar dari kamar untuk menemui keluarga besar istrinya dan juga Santoso adiknya.
"Apa Naya mengusirmu?" tanya Elang saat melihat Susanto berjalan ke arahnya.
"Tidak, Kek. Dia hanya mengajakku pencak silat saja," jawab Susanto tersenyum.
"Sudah kuduga," ucapan Rey mengundang tawa keluarga yang tengah berkumpul.
"Hati-hati Susanto, jangan sampai kisahku dulu terulang padamu." Celetuk Satria.
"Ayah!" Seru Yura dengan wajah menyeramkan, bukannya takut Satria malah tertawa lepas.
"Kamu lihat 'kan, bagaimana galaknya bidadariku," ujar Satria.
"Puasa seminggu," cetus Yura sambil meninggalkan ruang keluarga dan berjalan menuju dapur.
"Bunda, Ayah cuma bercanda. Lagi pula ayah kan nggak cerita apa-apa." Satria mengejar Yura hingga ke dapur.
"Lihatlah mereka, masih seperti anak kecil." Edo menggelengkan kepala melihat tingkah konyol anak dan menantunya.
Susanto berpamitan ke kamar karena belum shalat ashar.
———
Susanto mengimami Naya shalat untuk yang pertama kalinya. Selesai shalat dia menengadahkan tangannya, berdoa untuk keluarga kecil yang baru dibinanya, Naya mengaminkannya dari belakang.
__ADS_1
Tidak terasa air mata meneres saat mendengar Susanto mendoakan dia dan juga pernikahannya.
"Kenapa menangis?" tanya Susanto yang kini duduknya berbalik menghadap ke arah Naya.
"Kakiku keram, lagian kamu lama banget sih berdoanya. Panjang banget, lebih panjang dari kereta api." Naya berkilah, tidak mungkin dia mengatakan hal yang sesungguhnya. 'Gengsi dong.' Begitu pikir Naya dalam hati.
"Salim dulu!" Susanto menyodorkan tangannya ke arah Naya.
Naya meraih tangan Susanto lalu dengan perlahan mendekatkan ke arah wajahnya.
"Awh!" Bukannya salam, Naya malah menggigit Punggung tangan Susanto hingga Susanto berteriak.
"Itu balasan untuk orang iseng dan mesoem kayak kamu," ujar Naya sambil tertawa, namun setelah itu wajahnya terlihat berubah cemas dan merasa bersalah saat melihat Susanto merintih sambil mengibas-kibaskan tangannya.
"Sakit ya, maaf." Naya mendekati Susanto, matanya berembun karena air mata.
Grep, Susanto memeluknya sambil tertawa terbahak-bahak, membuat Naya cemberut. Bibir monyong dan pipi mengembung membuat wajahnya semakin imut dan lucu di mata Susanto.
"Iseng ya, pake gigit-gigit segala. Dosa tau bersikap begitu ama suami," tutur Susanto sambil mengusap kepala Naya yang masih mengenakan mukena.
"Habisnya aku kesel, kamu mesoum!" Naya melipat kedua tangannya di depan dada dengan bibir mengerucut.
"Mesoum sama istri sendiri 'kan nggak ada salahnya, Dek." Susanto masih menahan tawa melihat wajah cemberut Naya.
Susanto bangkit dari duduknya, mengemasi alat shalatnya lalu berdiri di tepi kasur. Merentangkan kedua tangannya sambil melakukan pergerakan ringan.
Setelah itu dia berjalan ke arah luar, dia harus pulang ke rumahnya. Sesuai perjanjian dengan Elang dan Rey, Susanto belum boleh tidur berdua dengan Naya sebelum digelar acara resepsi.
"Kek, papi Rey ke mana?" tanya Susanto. Rumah sudah dalam keadaan sepi.
"Keluar sebentar, ada sedikit urusan." Jawab Elang dengan santai.
"Susanto pamit dulu ya kek, sudah mau malam." Pamit Susanto, Santoso sudah lebih dulu pulang.
"Enggak nunggu makan malam sekalian?" tanya Elang.
"Makan di rumah aja kek, kasihan Santoso sendiri." jawab Susanto.
"Oya, setelah kamu tinggal serumah dengan Naya, kakek mau ajak Santoso tinggal bersama kakek. Biar rumah sedikit rame dan ada yang nemenin nenek di rumah." Tutur Elang, sekalian meminta izin pada cucu menantunya. Karena bagaimana pun, Susanto adalah kakaknya Santoso.
__ADS_1
"Baiklah, Kek. Jika tidak memberatkan."
Susanto mencium punggung tangan Elang kemudian melangkah ke luar. Dia pulang mengendarai motornya.