
"Asik asik jos" seru Naya saat musik koplo diputar oleh Rey di mobil.
Pagi ini mereka pulang ke rumah setelah semalam tidur di kantor.Wajah Naya terlihat sumringah,senyum terus menghiasi bibirnya.
"Adek diem dong,sakit ni perut Mami" kata Rani.Naya yang sedang bergoyang dipangkuan Rani pun langsung terdiam.
"Maaf Mami" ucap Naya dengan raut wajah sedih.
Rani tersenyum lalu mengangguk.
Naya akan bersedih jika Rey atau Rani sakit.Apapun yang dipinta oleh kedua orang tuanya akan dia turuti,asalkan kedua orang tuanya bisa cepat sembuh.
Rey menghentikan mobilnya di depan rumah,Rey tidak turun dari mobilnya karena harus kembali ke kantor.
"Mi nanti Alana akan datang kemari" kata Rey.
"Mereka sudah kembali?" tanya Rani dan dijawab anggukan kepala oleh Rey.
Rey mencium pipi Naya,baru kemudian dia mengemudikan mobilnya secara perlahan keluar dari pekarangan rumahnya.
Naya langsung berlari menuju ke arah dapur,dia sangat merindukan Cimot.
"Hai Cimot,pasti senangkan karena seharian kemarin gak dimarahin sama Mami" kata Naya.
"Meong" Cimot mengeong.
"Cimot bilang iya Mi" teriak Naya.
Rani hanya menggeleng kepala melihat tingkah putrinya.Rani pergi ke ruang laundry untuk menaruh baju kotor.Kemudian kembali ke dapur.
"Laila...hari ini masak apa?" tanya Rani.
"Mas Rey minta dibuatkan soto Mbak" jawab Laila.
Rani mengerutkan keningnya," Kapan Rey minta dibuatkan soto?" tanya Rani.
"Tadi pagi Mas Rey telpon ke rumah Mbak,Mas Rey bilang hari ini mau makan siang di rumah" jawab Laila.
Rani pergi ke kamarnya,lalu merebahkan tubuhnya di kasur.Rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya,tulang belulangnya terasa ngilu terutama tulang punggungnya dan perutnya juga terasa keram.
...----------------...
__ADS_1
Rani terbangun dari tidurnya saat mendengar suara berisik di luar.Rani meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku,lalu turun dari kasurnya dan berjalan menuju balkon.Rani berusaha berjalan sambil menahan rasa sakitnya,saat mendengar suara Rey menyebut namanya.Rani berdiri sambil perpegangan pada pagar pembatas.Di luar sudah ada Rey dengan berbagai jenis karangan bunga dengan beraneka warna.
"Aku bukanlah pujangga,yang lidahnya pasih dalam mengungkapkan rasa cinta dalam syair dan nada.Aku bukan pula dewa yang bisa mengabulkan semua cita dan asa.Aku bukan raja yang punya mahkota untuk ku letakkan di atas kepala.Aku hanya seorang lelaki biasa yang menjadi sempurna karena dirimu."
"Restu Maharani,terima kasih karena selama tiga tahun ini kamu sudah menjadi pendampingku,mengisi hari-hariku,memberikan kebahagiaan dengan cinta dan kasihmu,menjadikan laki-laki yang banyak kekurangan ini menjadi suamimu,kau sempurnakan hidupku dan kau lembutkan kerasnya hatiku.Happy Anniversary istriku,hanya ini yang bisa aku persembahkan padamu.Aku tidak bisa memberikan tahta ataupun harta,tapi aku punya cinta yang bisa kau banggakan"
Rey mengungkapkan rasa cinta dan kebahagiannya di hari ulang tahun pernikahannya yang ketiga.
"I Love You Istriku" ucap Rey.
Rani tersenyum lalu membalas ucapan Rey," Aku juga mencintaimu Rey" balas Rani.
Rani sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya,pegangan tangannya perlahan terlepas dan Bruk...Rani jatuh pingsan.
Rey panik saat melihat Rani pingsan,Rey langsung berlari menuju kamarnya dan menghampiri tubuh Rani yang sudah terkulai di lantai.Wajahnya sangat pucat dan tubuhnya pun terasa sangat dingin.
"Pak Karto tolong siapkan mobil" teriak Rey.
Rey menggendong Rani lalu membawanya ke mobil.Naya menangis histeris saat melihat Rani di gendong oleh Rey dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Laila,telpon Mommy.Suruh dia datang untuk menjemput Naya" titah Rey.
"Sayang bangun,kamu kenapa? Sayang" ucap Rey sambil menepuk pipi Rani yang berada di pangkuannya.
Mereka sudah tiba di UGD rumah sakit,Dokter dan beberapa perawat langsung membawa Rani ke ruang pemeriksaan.
Rey menunggu di luar ruangan dengan gelisah,"Jangan ambil Raniku Tuhan" ucap Rey lirih.
" Rey" panggil Daddy.
"Naya mana Dad?" tanya Rey.
Daddy menepuk bahu Rey dengan lembut," Dia di rumah bersama Mommy" jawab Daddy.
"Dia masih baik-baik saja saat tadi Rey mengantarkannya pulang" ungkap Rey.
"Dia akan baik-baik saja" hibur Daddy.
Kriiing...
Ponsel Daddy berdering.Daddy mengangkat panggilan dari Om Edo.
__ADS_1
"Tolong urus semua pekerjaan atau batalkan saja semua pertemuan hari ini.Aku sedang di rumah sakit" kata Daddy tanpa mendengar penjelasan dan maksud Om Edo menelponnya.
"Siapa yang sakit Lang?" tanya Om Edo.
"Rani tiba-tiba pingsan" jawab Daddy.
Daddy memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya karena Om Edo tiba-tiba mematikan panggilannya secara sepihak.
Rey menghampiri Dokter saat Dokter keluar dari ruangan itu," Bagaimana istri saya Dok?" tanya Rey.
Dokter tersenyum lalu secara bergantian memandang wajah Rey dan Daddy," Dia baik-baik saja,Rani hanya butuh banyak waktu untuk istirahat.Apalagi sebelumnya dia sudah pernah menjalani operasi besar" jawab Dokter.
"Apa bekas operasinya bermasalah?" tanya Daddy.
"Anda tidak perlu khawatir Tuan,kondisi Rani sangatlah wajar apalagi di usia kehamilanya yang masih terbilang sangat muda" jawab Dokter.
"Hamil" seru Daddy dan Rey bersamaan lalu saling bertukar pandang.
"Tidak mungkin Rani hamil Dok,Rani sudah tidak punya rahim lagi.Bagaimana dia bisa hamil?" tanya Rey.
"Loh apa Tuan Danu tidak memberi tahu pihak keluarga kalo kami waktu itu hanya mengangkat peranakannya yang sebelah kanan dan yang sebelah kiri masih ada?" Dokter balik bertanya.
Rey dan Daddy terlihat bingung.Dokter mengajak keduanya masuk ke dalam ruangan agar lebih mudah menjelaskan.
Ehemmmm...Dokter mendehem.
"Saat Rani melahirkan waktu itu bukankah saya memanggil Tuan Rey dan Tuan Danu untuk masuk dan menandatangani surat persetujuan pengangkatan rahim.Dan di surat itu dengan jelas tertulis bahwa hanya peranakan sebelah kanan saja yang akan kami angkat dan membiarkan peranakan sebelah kiri tetap berada di tempatnya dan Tuan Danu juga tau soal ini.Saya sudah menjelaskan pada kalian berdua waktu itu dan Tuan Rey juga saat itu mendengar penjelasan dari saya" tutur Dokter.
"Mungkin saat itu Rey panik jadi tidak konsentrasi mendengar penjelasan dari Dokter" kata Daddy.
"Bisa jadi" kata Dokter sambil tersenyum.
Rey mendekati Rani yang masih berbaring di brankarnya.
Beberapa perawat datang lalu mendorong brankar Rani menuju ruang perawatan.
"Kenapa Rani belum siuman juga?" tanya Rey.
Dokter melihat jam yang ada di tangannya," tunggu beberapa menit lagi,nanti dia akan sadar" jawab Dokter.
Rey duduk di samping brankar Rani,sedangkan Daddy menelpon Opa untuk meminta penjelasan.Selesai menelpon Opa,Daddy pergi menemui dokter untuk menanyakan kondisi Rani.Daddy takut kehamilan Rani berbahaya seperti saat Rani hamil Naya dulu.
__ADS_1