Cinta Masa Silam

Cinta Masa Silam
Si Tempe 2


__ADS_3

Terima kasih untuk teman-teman yang tetap setia pada karya saya yang satu ini. 🥰🥰


Seperti biasa, jangan lupa like dan komen ya. Ada yang mau kasih bunga🌹 dan kopi☕? Dengan senang hati saya terima😁🤭.


Selamat membaca dan semoga terhibur😍😍


————


Sejak kaburnya Naya hari itu, Rey tidak lagi berniat untuk menjodohkan putrinya. Karena bagi Rey, kehilangan seluruh hartanya tidak mengapa asal jangan kehilangan putrinya.


Wajar jika Rey begitu takut, karena perjuangan untuk memiliki Naya penuh drama dan cukup menguras air mata. Masih melekat kuat dalam ingatan, bagaimana dulu Rani berjuang melawan kanker rahimnya.


"Pi, kakak pergi ya." Pamit Naya siang itu.


"Kakak mau ke mana?" tanya Rani.


"Biasa Mi, ketemu sama temen-temen." Jawab Naya.


"Pulangnya jangan terlalu malam, nanti kamu tertangkap oleh petugas lagi." Rey mengingatkan.


"Oke, Pi." Naya mencium pipi Rey dan Rani, lalu pergi.


Naya mengendarai motor maticnya menuju mall empat sekawan, teman-temannya sudah ngumpul di sana.


Naya memarkirkan motornya di parkiran.


"Heh cewek resek!" Seseorang menegurnya dari arah samping.


"Kamu lagi? Kenapa sih muka kamu tu ada di mana-mana?" Naya bertemu lagi dengan cowok gila tempo hari.


"Kamu tu yang niat banget ngikutin aku, sampai-sampai kamu nyamperin aku ke tempat kerjaku." Tutur cowok itu yang ternyata bekerja sebagai tukang parkir di mall milik kakek Naya, Elang.


"Oh jadi dia kerja di sini toh, aku kerjain kamu cowok gila." Naya bergumam dalam hati.


"Kenapa lihatin aku begitu? Terpesona ya sama wajah tampanku." Kata cowok yang ternyata sangat narsis.


"Pede banget sih," ujar Naya sambil menyeringai.


Cowok itu mengurus pengendara yang lain, tiba di kejutkan oleh suara seperti benda jatuh.


Brukk ... Naya menjatuhkan diri ke tanah.


"Hei cewek gila, bangun dong. Kenapa pake pingsan sih." Cowok itu terlihat panik.


Dia menggendong Naya dan membawanya ke tempat teduh. Dia meletakkan Naya di bangku panjang yang biasa dia gunakan untuk beristirahat.


Pfft ... Hahaha, tiba-tiba Naya tertawa dan membuat cowok itu terkejut.


"Kamu mengerjaiku?" tanya Cowok itu.


"Iya, emangnya kenapa?" Naya balik bertanya.

__ADS_1


Wajah cowok itu berubah dan terlihat sangat kesal. Dia melangkah ke arah pengunjung yang datang dan hendak memarkirkan kendaraannya.


"Hei, kamu marah ya?" tanya Naya, timbul rasa bersalah di hatinya.


Naya berlari mengejar cowok itu.


"Hei!" Naya memanggil cowok yang belum dia ketahui namanya tersebut.


"Kenapa? Belum puas ngerjain aku? Apa kamu pikir lucu bertingkah seperti tadi?" Cowok itu masih terlihat kesal.


"Ya udah deh, aku minta maaf." Naya mengulurkan tangannya.


"Apaan nih? Mau minta duit?" seloroh cowok itu.


"Apa wajahku terlihat seperti orang susah," Naya bergumam dalam hati.


"Ya sudah deh, terserah kamu mau maafin aku atau nggak." Naya menarik tangannya kembali lalu meninggalkan parkiran.


Brukk!!!


Naya terkulai ke tanah, cowok itu sama sekali tidak peduli. Dia sibuk mengurusi motor di paskiran. Hingga beberapa saat kemudian orang datang berkerumun mengelilingi Naya.


"Apa dia benar-benar pingsan?" cowok itu langsung berlari ke arah Naya yang masih tergeletak.


"Permisi!" Cowok itu menyingkirkan beberapa orang agar bisa mendekati Naya.


Hidung Naya terlihat mengeluarkan darah, sepertinya dia mimisan.


"Hei, bangun. Ini sama sekali nggak lucu." Cowok itu menepuk pipi Naya yang terlihat memucat.


Salah seorang dari mereka bersedia mengantarkan Naya ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Naya langsung masuk ruang ICU. Cowok itu bingung harus menghubungi siapa, karena dia sama sekali tidak tahu.


Beberapa menit kemudian,


Dokter ke luar dari ruang ICU.


"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya cowok itu, terlihat kekhawatiran di wajahnya.


"Kita akan memeriksanya lebih lanjut, tapi setelah pihak keluarganya datang." Dokter menjelaskan.


"Tapi, saya tidak ... " perkataan cowok itu terputus saat beberapa orang datang ke ruangan itu.


"Bagaimana keadaan Naya, Dokter?" tanya Rey.


"Seperti yang saya ceritakan tadi di telpon, dia mimisan dan saya takut dia seperti maminya dulu." Jawab Dokter.


Rey menoleh ke arah cowok tukang parkir.


"Terima kasih, kamu sudah menolong anak saya." Ucap Rey dengan lembut.

__ADS_1


"Kamu tukang parkir di mall Empat Sekawan 'kan?" tanya Leon.


"Iya, Bang." Jawab tukang parkir dengan sopan. Dia masih bingung dengan apa yang sedang terjadi.


Siapa gadis yang dia tolong? Bagaimana bisa dokter tahu pihak keluarganya?


"Siapa nama kamu?" tanya Rey.


"Nama saya Susanto, Tuan." Ternyata cowok gila yang bekerja sebagai tukang parkir itu bernama Susanto.


Pintu ruangan terbuka, beberapa orang perawat mendorong brankar Naya menuju ruang perawatan.


"Apa saya boleh pergi?" tanya Susanto pada Rey.


"Silakan. Terima kasih sekali lagi atas pertolonganmu." Ucap Rey dan Susanto pun langsung pergi dari sana.


"Pi bagaimana kalo Kakak sama seperti mami dulu?" tanya Rani.


"Naya itu gadis kuat, dia pasti hanya kelelahan dan kurang istirahat selama kabur kemarin." Rey mencoba menenangkan istrinya.


"Lion, selidiki laki-laki tadi!! Rey memberi perintah.


"Susanto, maksud papi?" tanya Leon dan Rey pun mengangguk.


"Susanto, berumur dua puluh tujuh tahun. Tinggal di perkampungan yang ada di belakang mall empat sekawan. Pekerjaan tukang parkir dan kuli panggul. Kuliah semester akhir di kampus milik keluarga Alberto lewat jalur prestasi. Sifatnya sebelas dua belas sama si tempe. Laporan selesai." Leon membaca data diri milik Susanto yang ada di ponselnya.


"Darimana kamu dapat data tentang dia?" tanya Rani.


"Walaupun rada-rada gila, tempe tetap saja kakakku dan aku harus melindunginya." Jawab Leon.


"Hasilnya?" tanya Rey.


"Susanto cowok baik-baik, belum pernah pacaran meskipun banyak gadis yang naksir. Sama kayak si tempe, jomblo akut."


"Adek, nggak perlu di sebut juga kali jomblo akutnya." Tiba-tiba Naya sudah sadar.


"Tempe? Sudah sadar. Apa kamu masih ingat aku?" Leon akan dingin dan datar di hadapan orang lain, tapi sama gesreknya bila sedang bersama keluarganya.


"Iya, aku ingat. Kamu yang dipungut oleh Mami di tong sampah depan rumah. Mendiang Cimot terus mengeong memberitahukan pada kami jika di tong sampah ada anak yang terbuang." Meski lemah Naya masih bisa bercanda.


"Oh ternyata benar, kamu Tempeku. Syukurlah ternyata kakak tidak insomnia." Tutur Leon.


"Amnesia adek, AMNESIA!" Mami membetulkan perkataan Leon yang kurang tepat.


"Sudah ganti nama ya? Kirain masih sama." Leon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Rey mendekati Naya dan menanyakan keadaan putrinya.


"Kakak baik-baik aja pi, papi tidak perlu khawatir."


Rey memeluk Naya dengan sangat erat. " Papi takut kamu sakit dan ninggalin papi." Ujar Rey dengan lirih.

__ADS_1


"Kakak 'kan kuat, nggak mungkin hanya karena mimisan kakak ninggalin papi yang paling tampan ini." Suara Naya masih terdengar sangat lemah.


Rey kembali memeluk erat putrinya itu. Dia tidak mau lagi kehilangan orang-orang tercintanya. Cukup kematian mama Silvy saja yang meninggalkan penyesalan terbesar untuk Rey.


__ADS_2