
Di kamar inap sang ibu, Raya terlihat lesu dan sedih. Pasalnya hingga sore hari ibunya belum juga siuman.
Beruntung dia punya kekasih yang mengerti dan baik hati, dari awal ibunya dirawat hingga saat ini Leon selalu ada untuknya.
"Pulang dulu yuk, kamu harus istirahat." ajak Leon.
"Pulang? Aku harus pulang ke mana? Sampai hari ini aku tidak tahu ke mana supir mobil itu membawa barang-barangku." Terdengar helaan nafas yang panjang dan berat dari arah Raya. Selama ibu dirawat, dia tidak pernah ke luar dari rumah sakit itu.
"Sudah, kamu ikut saja." ajak Leon sedikit memaksa.
"Bagaimana dengan ibu?" tanya Raya.
Leon mendekati Raya, lalu mengelus punggung gadis itu dengan lembut. "Kamu tidak usah khawatir, nanti ada orang yang akan menjaga ibu. Lagi pula sudah beberapa hari ini kamu kurang tidur dan kurang istirahat, kalo kamu sakit, siapa yang akan menjaga, merawat, dan menemani ibu." Tutur Leon dan akhirnya Raya pun mau untuk diajak pulang.
Raya mencium punggung tangan ibu lalu ke luar dari kamar. Sudah ada beberapa orang yang berjaga di depan ruangan itu, mereka semua orang-orang dari kampung kecil.
Sebelum pulang, Leon memberi sedikit arahan pada orang-orangnya. Baru kemudian dia dan Raya meninggalkan rumah sakit.
Elang belum sempat berkunjung ke rumah sakit, karena dia sedang mengurus keluarga ayah Raya yang merebut paksa rumah peninggalan ayah kekasih cucunya tersebut.
Selain itu, Elang dan beberapa anak buahnya sedang mencari pelaku yang sudah meracuni ibu Raya.
Leon mengemudikan mobilnya dengan santai, semua dia lakukan agar Raya bisa nyaman di dalam mobilnya.
Semenjak ibu Raya dirawat, Leon lebih sering menggunakan mobilnya ketimbang motor. Alasannya agar saat dia bepergian, dia bisa santai dan bisa membawa banyak barang yang diperlukan oleh Raya.
"Kita mau ke mana?" tanya Raya, saat mobil mulai memasuki sebuah komplek perumahan.
__ADS_1
"Ke rumah kita," jawab Leon sambil tersenyum.
Raya merubah posisi duduknya, kini dia menghadap ke arah Leon. Dahinya mengkerut dan matanya memandang wajah Leon dengan lekat.
"Apa maksudnya rumah kita?" tanya Raya lagi.
Leon mengacak rambut Raya lalu tersenyum," Bukankah kamu memintaku untuk menikahimu? Dan aku sudah berjanji akan melakukannya setelah keadaan ibu membaik?" Leon malah balik melemparkan pertanyaan pada Raya.
Raya hendak berbicara, namun diurungkannya kala mobil yang dia tumpangi sudah memasuki gerbang yang menuju ke sebuah rumah.
Rumah yang lumayan besar bagi Raya, apalagi ada satpam yang menjaga pintu pagar. Rumah itu jauh lebih besar dan mewah berkali-kali lipat dari rumah miliknya dulu.
"Ayo turun, rumah ini sudah lama menunggu ke datanganmu." Leon sudah membukakan pintu mobil untuk Raya, dia mengulurkan tangannya pada gadis itu.
"Besar sekali!" Raya terkagum-kagum.
"Apaan sih, nikah aja belum. Udah mau punya anak aja," ocehnya untuk menutupi rasa canggung.
Leon membimbing Raya untuk masuk ke rumahnya. Lampu rumah sudah dinyalakan sehingga menampakan semua isi dalam rumah tersebut.
Leon sudah meminta seseorang untuk menata isi rumah itu agar rapi. Dan untuk menjaga perasaan Raya agar tidak tersinggung, Leon juga menaruh barang-barang lama milik Raya di rumah itu.
"Kenapa Abang menaruh barang lamaku di sini?" tanya Raya.
"Emangnya kenapa? Barang itu masih cukup layak untuk diletakkan di rumah ini." jawab Leon.
Leon mengantarkan Raya ke kamarnya, agar Raya bisa mandi dan beristirahat.
__ADS_1
Selagi Raya di dalam kamarnya, Leon memesan beberapa menu makanan untuk mereka makan malam ini.
Ting tong, bunyi bel di rumah Leon.
Leon bergegas membuka pintu rumahnya, ternyata sang kakek yang datang.
"Masuk, kek." Leon mengajak kakeknya duduk di ruang keluarga. Bukan hanya Elang yang datang, ada Edo dan David juga bersamanya.
"Di mana Raya?" tanya Elang.
"Dia sedang beristirahat di kamar." jawab Leon.
Elang, Edo, dan David saling bertukar pandang, lalu kembali memandang wajah Leon.
"Rumah milik Raya yang diambil paksa, belum bisa kita ambil alih. Sepertinya keluarga Raya mencurigai kita. Dan yang meracuni ibunya Raya bukan orang yang sama dengan yang merampas rumah, melainkan orang yang berbeda." Tutur Elang.
"Maksud kakek?" tanya Leon.
"Ada orang lain yang menginginkan kematian ibunya Raya agar keinginannya tercapai," jawab Elang.
"Apa Raya punya kekasih lain selain kamu?" tanya Edo.
"Kalo kekasih, Leon rasa tidak ada. Tapi, yang Leon sempet denger, bahwa Raya sempat dijodohkan dengan pria lain dan siapa itu Leon juga nggak tahu." jawab Leon.
"Berarti benar dugaan kita," cetus David.
Leon semakin tidak mengerti apa yang dimaksud oleh ketiga kakek yang ada di hadapannya.
__ADS_1