
Ini kira-kira Si Tempe mau kita tamatin di bab ke berapa, mentemen? Soalnya ni ya, kayaknya udah nggak asyik ya? Udah bertele-tele ya?🤧.
Kita singkat, kita lompat-lompat kayak kangguru aja gimana? Biar cepet selesai. Biar mentemen juga nggak bosen baca alur yang mulai nggak jelas😔.
Selamat membaca🥰🥰
###
"Mas," sebut Naya sambil masuk ke kamar inap Santoso. Papi Rey dan teman-temannya sudah pulang dari sana.
"Hai! Sama siapa datang ke sini?" tanya Susanto sambil merentangkan tangan menyambut istrinya.
"Aku nyetir mobil sendiri," jawab Naya sambil meletakkan barang bawaannya di atas meja.
"Santoso belum siuman juga ya, Mas?" tanya Naya.
"Sudah, tapi dia tidur lagi sehabis minum obat tadi." jawab Susanto.
"Aku bawa makanan untuk mas, dimakan ya." Naya membuka rantangnya lalu mengambilkan makanan untuk suaminya.
Susanto sebenarnya sudah sarapan, tapi dia tidak mau membuat Naya kecewa dengan menolak makanan itu. Susanto memakan makanannya hingga habis.
"Mas, aku mau ke ruang om Kiandra dulu ya. Ada yang mau aku bahas," pamit Naya dan Susanto pun mengangguk.
Naya meninggalkan ruang rawat Santoso, dia menuju lantai di mana adik papinya itu bertugas.
"Pagi om!" sapa Naya sambil membuka pintu ruang kerja Kiandra.
"Om sedang visite. Ada apa nak? Sini masuk," ajak Imelda.
__ADS_1
"Ya udah, sama tante aja deh, kan sama aja." ujar Naya.
Imelda mengerutkan keningnya, "Ada apa nih? Kayaknya ada yang penting?" tanyanya.
Naya terdiam, dia hanya menunduk tanpa menjawab pertanyaan Imelda.
"Ada apa, Nay? Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Imelda sambil mengusap punggung keponakannya dengan lembut.
"Baru sebulan yang lalu Naya berhubungan sama Mas Susan, tapi kenapa pagi ini sudah garis dua?" Naya menunjukkan sebuah tespek yang dibawanya pada Imelda.
"Kamu hamil? Sini tante periksa!" Imelda mengambil tespek itu dan melihatnya, dua garis merah masih terlihat samar.
Imelda meminta Naya untuk berbaring di brankar dan Imelda langsung memakai alat untuk memeriksanya.
"Iya beneran! Kamu hamil! Papi sama mami harus tahu soal ini. Mereka pasti seneng banget. selamat ya!" ucap Imelda sambil memeluk keponakannya.
"Ini lo Yank, si Tempe yang hamil." jawab Imelda.
"Jiaaah, bisa hamil juga kamu, Buntal. Selamat ya sayang!" ucap Kiandra sambil mengacak rambut Naya.
"Eh, tunggu dulu. Dari mana kamu tahu kalo kamu hamil? Dan siapa yang kasih tahu kamu tentang cara pakai tespek ini?" tanya Imelda.
"Bulan ini Naya nggak datang bulan. Terakhir datang, bulan lalu dan selesai sebelum pertama kali berhubungan. Trus dari tadi malam perut Naya kram gitu, Naya cari info di mbah gugel dan di situ tertera bisa saja yang sedang Naya alami adalah ciri-ciri hamil. Pas mau ke sini Naya mampir ke apotik dan beli alat itu dan langsung tes. Itu hasilnya," jelas Naya.
"Susanto sudah tahu belum?" tanya Kiandra dan Naya pun menggelengkan kepala.
Kiandra mengambil tespek milik Naya dari tangan Imelda, lalu menyelipkannya di tangan keponakannya itu. "Temui Susanto dan sampaikan kabar baik ini padanya. Dia pasti sangat bahagia," titah Kiandra.
"Baik, Om." ucap Naya sambil turun dari brankar dan langsung ke luar dari ruang kerja Kiandra.
__ADS_1
Naya melangkahkan kaki menuju ruang rawat Santoso dengan langkah cepat. Hatinya campur aduk, antara senang, bahagia, dan terharu.
"Mas," sebut Naya begitu dua membuka pintu kamar inap Santoso.
"Ada apa, sayang? Kelihatannya kamu sedang bahagia. Baru dapet hadiah dari lotree ya?" seloroh Susanto.
Naya menghambur ke dalam pelukan suaminya, tangisnya mulai pecah, dan itu membuat Suanto bingung.
Santoso yang baru ke luar dari kamar mandi juga bingung, kenapa kakak iparnya menangis sesenggukkan. Santoso melihat benda kecil yang dipegang oleh Naya terjatuh ke lantai, dia memungut benda itu lalu melihatnya.
"Ini stik apaan?" tanya Santoso, membuat Susanto menoleh dan melihat benda yang dibilang stik oleh adiknya.
"Itu punya siapa?" Susanto balik bertanya.
"Nggak tahu. Tadi jatuh dari tangan kak Naya," jawab Santoso.
Susanto mengambil benda itu lalu melihatnya. Matanya membulat sempurna saat melihat dua garis merah dibenda yang ada di tangannya.
"Sayang, ini ... Ini punya siapa?" tanya Susanto dengan suara bergetar.
Naya mendongak melihat wajah Susanto, "Punyaku." Jawabnya.
"Ka-kamu nggak bercanda kan? Nggak lagi nge-prank kan?" tanya Susanto.
"Aku serius, mas." ucap Naya.
"Alhamdulillah," ucap Susanto, bulir bening perlahan menetes dari sudut matanya.
"Apaan sih? Nggak jelas banget. Lihat stik begitu aja girangnya nggak ketulungan." Cicit Santoso sambil kembali ke brankarnya. Dia tidak tahu jika stik itu tanda bahwa sebentar lagi dia akan menjadi seorang paman.
__ADS_1