
Dua orang berdiri tegak dengan gagahnya, walau usia mereka sudah tidak muda lagi. Dua orang yang terkenal kejam di dunia bisnis dan permafiaan. Siapa lagi kalau bukan Elang dan Edo.
"A-da per-lu ap-a Tu-an kemari?" tanya keluarga nenek dengan terbata-bata.
Susanto dan adiknya tidak mengenal sosok Elang dan Edo. Mereka sibuk bekerja untuk mendapatkan uang, sehingga tidak tahu siapa kedua orang tersebut.
"Seharusnya, aku yang bertanya padamu. Apa hakmu mengganggu ketentraman kedua anak pemilik rumah ini?" Suara Elang terdengar dingin dan tegas, lebih tepatnya terdengar seram. Lebih seram dari suara kuntilemak kalo lagi marah-marah karena taperwernya hilang.
"Saya hanya datang berkunjung," jawab orang itu, tubuh mereka sudah gemetaran.
"Mereka tidak perlu kunjungan dari kalian, PERGI!." Perintah Edo.
"Ingat baik-baik! Jika aku masih melihat atau mengetahui kalian mengganggu mereka, DI MANA PUN, maka kalian sudah hidup sia-sia selama ini." Tiba-tiba David datang dengan gaya coolnya. Sebuah anting masih setia menempel di telinganya.
"Baik, Tuan. Kami tidak akan mengganggu mereka, kami permisi." Ucap orang itu, lalu hendak pergi meninggalkan rumah Susanto.
"Eits, mau ke mana? Jangan buru-buru gitu dong." Edo menahan kepergian mereka.
"Minta maaf pada calon cucu menantu Alberto,SEKARANG!" Semua pengganggu yang datang ke rumah Susanto terkejut mendengar perkataan sekaligus perintah dari Edo tersebut.
"Cucu menantu Alberto?" tanya salah satu dari mereka, lalu menoleh ke arah Susanto yang berdiri mematung. Wajah Susanto terlihat seperti sedang berpikir dan bingung.
Semua orang yang mengaku keluarga nenek pun bergegas ke arah Susanto dan meminta maaf, setelah itu mereka langsung pergi dengan langkah terseok dan wajah ketakutan.
Susanto menghampiri Elang, Edo dan David.
"Sebenarnya, kakek ini siapa? Kenapa mereka terlihat seperti ketakutan saat melihat wajah kalian?" tanya Susanto dengan sopan.
Elang tersenyum saat melihat sikap Susanto, "Pantas saja, Singaku memilihmu." Gumam Elang, namun semua masih bisa mendengar gumaman itu dengan jelas.
"Singa? Maksud kakek?" tanya Susanto lagi.
__ADS_1
"Perkenalkan, kakek yang ini bernama Elang, kakeknya Tempe, eh Naya. Kalo kakek yang ini namanya David, bandit IT. Dan kakek sendiri namanya Edo, kakek paling tampan di antara mereka." Edo memperkenal diri pada Susanto, tetap dengan gaya narsisnya.
"Saya Susanto, dan itu adik saya namanya Santoso." Kini giliran Susanto yang memperkenalkan diri.
Susanto mengajak para kakek legendaris itu untuk masuk ke rumahnya, tapi Elang memilih duduk di serambi samping.
"Kami turut berduka atas meninggalnya nenek kalian," ucap Elang yang sedari tadi terus memandang wajah Susanto.
"Terima kasih, Kek." Balas Susanto.
Mereka pun berbincang-bicang, tanpa menyinggung soal Naya sedikit pun. Elang terus memperhatikan Susanto dalam diam, sambil sesekali menanggapi pembicaraan dari kedua temannya.
Hari sudah beranjak sore, Elang dan kawan-kawan pun berpamitan untuk pulang. Sebelum pulang ke rumah, mereka terlebih dulu nongkrong di sebuah kafe. Meski usia tidak lagi muda, keriput sudah bertebaran di mana-mana, tapi ketampanan mereka tidak berkurang sedikit pun. Bahkan saat mereka berusia tujuh puluhan tahun saat ini.
"Bagaimana kamu bisa kemari, bandit tua?" tanya Edo pada David.
"Aku menerima laporan dari salah satu anak buahku, jika ada yang membuat masalah di rumah teman Naya." Jawab David.
"Kamu tahu kalo dia teman Naya?" tanya Elang.
"Kamu mengawasinya?" Elang dan Edo bertanya secara bersamaan.
"Aku tidak mengawasi Susanto, melainkan orang suruhan Fatih." Jawab David dengan tegas.
"Jadi, apa menurutmu nenek Susanto meninggal karena ulah orang-orangnya Fatih?" tanya Edo.
"Anak buahku dan Rey sedang menyelidikinya," jawab David.
Mereka pun terdiam, niat untuk menikmati masa tua dengan tenang pun buyar saat Rey membangkitkan kembali Elang Api yang sudah lama bersemedi.
Untung saja warga kampung kecil tetap melakukan tugas mereka, mendidik dan mengajari para keturunannya untuk berlatih bela diri, ilmu pengetahuan dan tentu saja ilmu keluarga Alberto dan Elang Api. Semua warga kampung kecil tetap setia pada Elang api, begitu pula anak cucu mereka.
__ADS_1
Di sisi lain,
"Sial, kenapa keluarga Alberto bisa ikut campur!" Fatih terlihat sangat marah.
"Maaf Tuan, bukankah Naya adalah cucu Alberto? Wajar jika Tuan Elang dan teman-temannta muncul untuk membantu kekasih cucunya." Tutur salah satu orang suruhan Fatih.
"Bodoh kalian! Otak kalian memang dangkal. Naya bukan cucu Alberto, Tuan Rey hanya anak haram." Emosi Fatih pun semakin meluap.
Dengan tatapan tajam dan sadis, Fatih menatap orang suruhannya. Dia menatap setiap wajah orang yang sedang berdiri di hadapannya.
"Besok, Susanto wisuda. Halangi dia! Jangan sampai dia datang ke tempat acara. Bila perlu bawa dia ke hadapanku! Aku sudah tidak sabar untuk membuatnya menyesal dan meminta maaf padaku, karena sudah berani merebut calon istriku." Semua orang suruhan Fatih pun mengangguk tanda menyetujui perintah dari Fatih.
Dengan gerakan tangannya, Fatih menyuruh orang suruhannya untuk pergi. Setelah itu, dia duduk di kursi kebesarannya.
Fatih adalah anak dari salah satu pengusaha di kota ini. Meski kekayaannya tidak bisa menandingi keluarga Alberto, tapi sifat arogan dan kejamnya Fatih bisa diacungi jempol.
Fatih bertindak kejam dan brutal pada siapa saja yang tidak dia sukai, tapi semua dilakukan tanpa perhitungan yang matang. Dia sudah bolak-balik terjerat kasus, terutama di klub-klub malam. Sudah berkali-kali ditahan oleh petugas, tapi dengan kekuasaan papanya, dia bebas hanya dalam hitungan menit saja.
"Lihat saja, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang, sebelum Naya kembali dan bertekuk lutut di hadapanku. Dasar orang kampung, berani dia merebut Naya dariku." Fatih mengepalkan kedua tangannya dan mengeratkan giginya. Wajah sudah merah padam, terlalu emosi dan marah pada Susanto.
Fatih ke luar dari ruang kerjanya. Hari sudah menunjukkan pukul lima sore, sudah waktunya mengakhiri semua kesibukan dan pekerjaan hari ini.
"Apa kamu punya acara malam ini?" tanya Fatih pada sekretarisnya.
Audy, gadis bertubuh sintal dan sangat seksi. Bekerja di perusahaan milik keluarga Fatih sejak dua tahun lalu. Wajah cantik dan kulit putih bersih, menjadi nilai plus untuk dirinya.
"Tidak ada, Tuan." Jawab Audy sopan.
"Mau menemaniku? Aku akan membayarmu lima kali lipat dari gajimu di sini." Fatih mengajak Audy untuk berkencan.
"Baiklah, Tuan. Tapi, pekerjaan apa yang harus saya lakukan? Kenapa Tuan membayar saya dengan jumlah yang tidak sedikit?" tanya Audy.
__ADS_1
"Aku akan mengajakmu ke Nirwana," jawab Fatih lalu pergi meninggalkan Audy yang terlihat sedang berpikir.
Fatih tidak berani menyentuh tubuh ataupun wajah Audy, dia takut CCTV merekam semua perbuatannya.