
Setelah kejadian malam itu, tidak ada drama bikin anak. Apalagi Naya sedang datang bulan, tidak ada gangguan kemesoeman dari Susanto. Ditambah lagi Susanto kini sibuk dengan aktivitas barunya, belajar bekerja di perusahaan Elang Api milik kakek mertua.
"Susan, aku ikut ke kantor ya." Pinta Naya pagi ini.
"Mau ngapain ikut ke kantor? Kamu di rumah saja." tolak Susanto.
"Kamu pasti mau deket-deket sama karyawan perempuan kan! Ngaku aja deh!" Naya terlihat kesal karena Susanto tidak mengizinkannya ikut ke kantor.
"Cieee,, apa kamu sedang cemburu? Duh, istriku semakin cantik deh kalo lagi ngambek." Susanto menggoda Naya yang sedang memasang wajah cemberutnya.
"Siapa yang cemburu? Enggak tuh!" elak Naya.
Susanto mendekati Naya lalu memeluk istrinya itu. "Aku hanya sebentar, melihat cara kakek menjalankan perusahaannya. Setelah itu aku akan langsung pulang," tutur Susanto.
Tubuh Naya menegang saat Susanto memeluknya, tidak melawan atau pun membalas pelukan suaminya.
"Aku suntuk," ucap Naya.
"Sepulang dari kantor nanti, aku akan mengajakmu ke kolam ikan. Tempatnya seru, aku yakin kamu pasti suka." bujuk Susanto dan itu berhasil, wajah Naya berubah ceria.
"Baiklah, cepat berangkat. Nanti kamu terlambat." Naya mencium punggung tangan Susanto.
Setelah Susanto pergi, Naya mengerjakan pekerjaan rumahnya. Setelah semua beres, dia langsung mandi dan bersiap-siap. Dia tidak mau Susanto menunggunya nanti.
"Assalamualaikum," terdengar ucapan salam dari arah depan.
"Waalaikum salam," balas Naya sambil menuruni tangga yang menuju lantai satu.
"Santo, ayo masuk!" ajak Naya pada adik iparnya.
"Di luar saja kak, aku cuma mampir sebentar." Tolak Santoso lembut, takut menyinggung perasaan kakak iparnya.
"Loh, kenapa? Apa karena tidak ada kakakmu?" tanya Naya.
"Bukan begitu kak, Santo cuma mampir karena kebetulan lewat. Aku mau berangkat bekerja," terangnya.
"Kenapa tidak kamu terima saja tawaran kakek? Kamu kan bisa jualan bakso sambil kuliah," Naya mengajak Santoso duduk di teras.
"Santo sudah nyaman berjualan, males mikir kak, pusing harus mikir pelajaran. Enak jualan aja, bisa dapet duit." Santoso menjelaskan sambil cengengesan.
Naya menghargai keputusan adik iparnya, apapun itu selagi berada dalam hal kebaikan dia dan Susanto beserta keluarga besarnya akan mendukung.
Setelah selesai dengan urusannya, Santoso pun berpamitan. Dia harus ke pasar untuk berbelanja kebutuhan di warung baksonya.
***
__ADS_1
Raya berdiri di sebuah halte, sesekali dia mengelap keringat yang membasahi wajahnya. Panas cukup terik siang ini, ditambah lagi asap kendaraan dan debu jalanan, menambah panas cuaca.
Sebuah keranjang sayur dia letakkan di sampingnya, pasar cukup ramai hari ini hingga sayur yang dia jual ludes tak bersisa.
"Butuh tumpangan nggak neng?" Tiba-tiba Leon sudah berada di sana.
"Leon? Sejak kapan kamu di sini?" tanya Raya.
"Sejak tadi, saat kamu sibuk dengan keringatmu." Jawab Leon sambil mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya, lalu mengelap keringat di wajah Raya.
"Terima kasih," ucap Raya sambil tersipu malu.
"Hanya terima kasih? Aku kira ada yang lain," ujar Leon.
"Dasar kang pamrih! Semua harus ada upah. Apa upahnya?" tanya Raya.
Leon melihat keranjang sayur milik Raya, "Bikinkan aku makanan yang enak, aku lapar!" pinta Leon sambil mengusap perutnya.
"Dasar gembul! Hanya makanan yang ada di pikiranmu." Raya mengambil keranjang belanjanya lalu meletakkan di bangku belakang mobil Leon.
"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Leon sambil mengemudikan mobilnya.
"Dia baik-baik saja, batuknya juga sudah berkurang. Mungkin beberapa hari lagi sudah bisa beraktivitas seperti biasa," jawab Raya.
"Siang bu!" sapa Leon pada wanita paruh baya yang sedang duduk di bangku teras.
"Leon? Kamu kemari? Ayo masuk, nak!" Ibu menyambut Leon dengan ramah.
"Aku masuk dulu," kata Raya dan Leon menganggukkan kepalanya.
Leon memilih duduk bersama ibu Raya di teras, mereka bercerita banyak hal hingga Raya datang dan mengajaknya untuk makan siang.
"Sambung nanti lagi ngobrolnya, kita makan siang dulu yuk!" ajak Raya.
"Nak Leon, Raya sudah masak. Kita makan dulu yuk!" Leon pun menyetujui ajakan ibu dan Raya.
Mereka melanjutkan obrolan mereka di meja makan. Leon sangat menikmati makanan yang disuguhkan oleh Raya, dia akui kekasihnya cukup mahir dalam mengolah makanan, rasanya pas di lidah.
"Bu, boleh nggak Leon ajak Raya ke luar? Kebetulan kakak mengajak Leon untuk pergi ke kolam pemancingan," ibu tersenyum mendengar Leon meminta izin padanya.
"Boleh, tapi pulangnya jangan malam-malam. Nggak enak dilihat tetangga," ibu memberi izin.
"Rencananya mau Leon pulangin besok pagi," seloroh Leon.
Plak!! Raya memukul bahu Leon.
__ADS_1
"Awh, sakit Yank." rintih Leon yang berpura-pura kesakitan.
"Bisa diarak keliling kampung aku kalo pulang pagi," sungut Raya.
Setelah selesai bersiap, Leon dan Raya langsung pergi ke kolam pemancingan. Bukan pemancingan umum, hanya kolam yang terbengkalai dan berada tidak jauh dari tempat tinggal Susanto yang lama.
"Nah, itu mereka. Ternyata sudah sampai duluan," tutur Leon saat melihat motor Susanto terparkir bebas di sana.
Leon menggenggam tangan Raya, berjalan menyusuri jalan di antara rerumputan dan ilalang yang tumbuh liar dan setinggi orang dewasa.
"Kak!" Leon memanggil Naya.
Terdengar suara bising dari arah yang tidak terlalu jauh. Ternyata itu suara Naya yang heboh karena umpannya di sambar ikan.
"Udik!" cetus Leon saat melihat Naya bergoyang-goyang karena berhasil mendapat seekor ikan berukuran sedang.
"Bodo ah!" balas Naya.
"Raya, sini!" Naya melambaikan tangannya agar Raya mendekat.
Beberapa jam kemudian,
"Wih, banyak juga hasil pancingannya. Dibakar kayaknya enak nih," ujar Leon.
Susanto melihat langit yang mulai berwarna jingga, tanda hari sudah sore.
"Kita pulang yuk! Sudah sore," ajak Susanto pada istri dan adik iparnya.
"Raya ikut pulang ke rumah aja, kita bakar ikannya di rumah papi," ajak Naya.
"Nah Kakak benar. Bagaimana? Kamu mau?" tanya Leon.
"Kalian bahas ini di mobil saja, hari sudah mulai gelap. Jangan sampai totok uwok muncul," Susanto menakuti istri dan adiknya.
"Apa totok uwok?" tanya Naya sambil memegangi tengkuknya.
"Makhlus halus" bisik Susanto.
Naya refleks merangkul Susanto sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
"Ayo buruan!" Naya menarik tangan Susanto hingga ke dekat motornya.
Leon sudah pergi membawa hasil pancingan, Susanto dan Naya membuntutinya dari belakang.
Susanto hanya bisa mengulum senyum saat Naya memeluknya dengan erat dari belakang.
__ADS_1