
Leon mendatangi kamar Raya. Semua itu dia lakukan dengan terpaksa atas desakan para kakek agar semua masalah cepat terselesaikan.
Terpaksa mengganggu waktu istirahat Raya, sebenarnya membuat Leon merasa tidak enak hati. Pasalnya sudah beberapa hari gadis itu tidak beristirahat dengan baik.
"Raya," panggil Leon sambil mengetuk pintu kamar kekasihnya.
Tidak lama kemudian pintu pun terbuka, Raya sudah berpenampilan rapi dan terlihat lebih segar. Sepertinya dia baru saja selesai mandi.
"Ada kakek di depan, dia ingin bertemu denganmu." tutur Leon dan Raya pun mengangguk.
Leon dan Raya berjalan bersamaan menuju ruang TV, ketiga kakek itu masih ada di sana sedang bersenda gurau.
"Kek," sebut Leon, ketiga kakek tampan pun menoleh.
"Hai, sini." Elang menepuk sofa di sampingnya dan meminta Raya untuk duduk.
Raya menoleh ke arah Leon, setelah Leon mengangguk baru lah dia duduk tepat di samping Elang.
"Kakek sudah mendengar semua tentang apa yang sedang terjadi padamu juga ibumu. Leon sudah menceritakan semuanya." Elang membuka percakapan.
"Sekarang masalahnya adalah ada yang ingin mencelakai ibumu dan itu ada hubungannya denganmu," tutyr Elang.
"Maksud kakek?" tanya Raya.
"Selain Leon, apa ada laki-laki lain yang menyukaimu nak?" Edo balik bertanya.
"Ada, tapi ibu tidak menyukai laki-laki itu." jawab Raya.
"Persis seperti dugaanku," tiba-tiba David mengejutkan mereka.
__ADS_1
"David! Kebiasaan banget deh, nggak tahu apa kalo kami sedang mode serius." Leon hanya menggelengkan kepala melihat tingkah konyol ketiga kakeknya tersebut, selalu ada saja cara mereka untuk mencairkan suasana.
"Balik ke permasalahan, apa kamu tahu atau punya foto laki-laki itu?" tanya Elang.
"Tidak kek, tapi Raya tahu rumahnya. Tidak jauh dari rumah Raya yang lama, hanya berjarak satu gang saja." jawab Raya.
"Emangnya kenapa Kek?" tanya Raya.
"Tidak apa-apa, kakek hanya bertanya saja." jawab Elang.
Elang terpaksa berbohong dan tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Dia takut jika Raya akan semakin mengkhawatirkan ibunya dan gadis itu menjadi semakin tidak tenang.
"Sudah malam, ayo kita pulang. Biarkan Raya dan Leon beristirahat," Elang mengajak kedua temannya pulang.
Setelah ketiga kakek narsis itu pulang, Leon dan Raya masuk ke kamarnya masing-masing.
Kembali ke ketiga kakek narsis,
"Aku kira diusiaku yang sudah tidak muda lagi, aku bisa istirahat dengan tenang. Ternyata aku salah, aku masih harus berolah raga. Mungkin saat muda aku kurang banyak gerak," cicit Elang.
"Yah hitung-hitung kita sedang meregangkan otot yang kaku, sudah lama kita tidak beraksi." ujar Edo.
"Regangkan otot gundulmu, merangkak di atas kasur saja kamu sudah encok." ledek Elang.
"Eit sembarangan, aku encok tapi Rima tidak. Dia masih bisa meliuk dengan lincah. Kamu lupa, istriku itu masih muda. Sembarangan kalo ngomong!" dengus Edo.
David tertawa mendengar kedua temannya saling ejek, begitu juga dengan sopir. Dia sudah tidak heran dengan tingkah-tingkah aneh majikannya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sebelum pulang ke rumah, mereka memutuskan untuk makan malam. Setelah itu baru lah mereka pulang dan merencanakan strategi yang harus digunakan dalam menghadapi orang-orang yang sudah berani mengganggu pihak keluarganya.
__ADS_1
###
Semenjak drama bikin anak dan berhasil jebol gawang pertahanan tempo hari, Susanto dan Naya sudah tidak canggung lagi untuk melakukannya. Malah terkadang mereka melakukannya di pagi, siang, atau sore hari.
Naya sudah mulai bisa mengimbangi permainan Susanto meski masih sedikit kaku.
Seperti malam ini, Naya berhasil memimpin permainan.
"Pinggangku pegel, sepertinya tulang punggungku bergeser." keluh Naya sambil merebahkan tubuhnya di kasur, rambutnya masih basah karena dia baru saja selesai mandi wajib.
"Mana ada tulang punggung geser hanya karena main di atas," celetuk Susanto.
Naya melihat ke arah Susanto lalu memonyongkan mulutnya.Sesaat kemudian dahinya mengkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu kan sering di atas, emang nggak merasa capek? Pinggang nggak pegel gitu? Atau engsel-engsel tulangmu nggak terasa kayak mau copot?" Naya menanyakan beberapa pertanyaan pada Susanto.
"Enggak," jawab Susanto singkat, padat, dan berisi.
"Susan," sebut Naya.
"Hem," dehem Susanto dengan mata terpejam.
"Aku kangen banget sama teman-teman kecilku, boleh nggak aku menemui mereka besok?" tanya Naya.
"Jangan dulu, tunggu keadaan sedikit aman. Bukankah kakek dan papi sudah memberimu peringatan. Fatih masih terus berusaha untuk mencelakai kamu," jawab Susanto.
"Baiklah," ucap Naya dengan lesu. Dia mengambil bantal gulingnya lalu memeluknya erat. Mata ngantuknya sudah mulai terpejam.
Susanto tersenyum melihat istrinya yang lesu. Sungguh tidak ada yang menyangka jika cucu dari orang ternama mau berteman dengan anak-anak jalanan, bahkan mendirikan sekolah khusus untuk mereka.
__ADS_1
"Aku berjanji akan membawa mereka untuk menemuimu," ucap Susanto kemudian mengecup kening istrinya dengan lembut.