Cinta Masa Silam

Cinta Masa Silam
Si Tempe 3


__ADS_3

Cover untuk si tempe😁



Naya sudah diperbolehkan untuk pulang. Mimisan yang terjadi karena cuaca yang terlalu panas.


Rey bahagia saat mendengar bahwa Naya baik-baik saja. Kekhawatirannya menguap saat Dokter mengatakan mimisan yang dialami oleh Naya tidak berbahaya dan bukan ciri awal dari kanker.


"Pi, boleh ya kakak main." Rengek Naya pada Rey.


"Enggak boleh, kakak harus banyak istirahat." Tolak Rey.


"Kakak suntuk." Naya memanyunkan bibirnya.


Rey paling tidak bisa menolak keinginan putri kesayangannya itu. Tapi, dia juga tidak mau jika terjadi sesuatu pada Naya.


"Mau ke mana? Papi antar ya."


"Naya kangen sama anak-anak," jawab Naya.


Anak-anak yang dimaksud oleh Naya adalah anak didiknya. Naya beserta teman-temannya mengajari anak-anak jalanan yang putus sekolah. Mereka mengajari menulis, membaca, berhitung serta ilmu pengetetahuan.


"Leon aja yang antar, Pi." Leon menimpali.


"Adek bukannya harus tanding basket hari ini," ujar Naya.


"Oh iya, adek lupa. Untung kakak ingetin." Leon menepuk keningnya.


Leon buru-buru masuk kamar, dia bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Hari ini dia beserta timnya akan bertanding basket antar kampus.


"Adek ni ya, semua ikut. Futsal ikut, basket ikut, belum lagi les musik. Heran mami, tu anak nggak capek apa ya?" Rani mengoceh.


"Biarkan saja mi, selagi semua kegiatan adek positif. Papi sih nggak masalah, asal Adek bisa bagi waktu." Tutur Rey.


"Bye semua, adek pergi dulu." Leon yang berniat untuk lari pun batal ketika melihat Papi, mami, dan Naya setor pipi masing-masing padanya. Secara bergantian Leon mencium pipi ketiga orang tersebut.


"Papi nggak ke kantor?" tanya Rani.


"Enggak." Jawab Rey dengan singkat.


"Mendingan papi ke kantor aja deh. Kasihan om Lee mengurus semua pekerjaan sendirian." Naya ikut nimbrung.


"Ada om Andre sama Om Thomas di kantor papi, kalian gak usah khawatir." Kata Rey dengan santai dan Naya pun semakin susah untuk ke luar.


Di kampus,


"Hari ini kita kekurangan pemain, gimana dong?" tanya Dimas, salah satu teman Leon.


"Emangnya siapa yang tidak bisa hadir?" tanya Leon.


"Bang Santo, dia sedang menyiapkan diri untuk sidang." Jawab Dimas.

__ADS_1


"Pemain cadangan kemana?" tanya Leon lagi.


"Nurzam sakit dan Sidiq tidak tau kemana," jawab Dimas.


"Hemm ... tidak mungkin aku ajak papi untuk ikut bertanding 'kan." Dalam keadaan kacau Leon masih saja sempat bercanda.


Mereka pun memikirkan bagaimana cara mencari pemain handal untuk menggantikan yang tidak hadir. Waktu sudah semakin mepet dan sebentar lagi pertandingan akan segera di mulai.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tiba-tiba Susanto datang menghampiri Leon dan teman-temannya.


"Anggota kurang Bang, gimana nih? Abang sendiri nggak bisa ikut karena harus mempersiapkan sidang," jawab Dimas.


Susanto melihat jam yang ada dipergelangannya, "Maaf, abang nggak bisa bantu. Abang masih ada tugas dari dosen." Ucap Susanto.


"Abang yang nolongin Si Tempe eh maksud saya kak Naya 'kan?" tanya Leon.


"Tempe? Naya? Siapa itu?" tanya Susanto, sepertinya dia lupa pada Leon.


"Orang yang Abang tolong beberapa hari yang lalu, yang pingsan di mall." Jawab Leon.


"Oh iya, saya baru inget. Kamu siapanya gadis itu? Emm siapa tadi namanya, Naya?" tanya Susanto.


Iya, Bang. Terima kasih sudah menolong kakak saya." Ucap Leon.


Mereka kembali merembuk, dan akhirnya Susanto ikut bertanding. Untuk mencukupi jumlah pemain, Susanto pun mengajak temannya untuk bergabung.


Pertandingan pun dimulai. Tidak ada yang tahu jika Naya dan Rey ada di sana untuk menonton pertandingan itu.


"Leon! I Love You." Teriakan demi teriakan dari para gadis tertuju pada Leon.


Naya mengerutkan keningnya, saat para gadis mengeluk-elukkan nama Susanto.


"Wih, ternyata Adek punya saingan Pi." Ujar Naya, dia belum tahu jika Susanto adalah nama kang parkir alias cowok gila.


"Bukan Leon yang punya saingan, tapi kakak." Perkataan Rey membuat Naya bingung.


"Kok kakak sih Pi?" Naya tidak mengerti.


"Emang Susan itu siapa?" tanya Naya lagi.


"Susanto kak, bukan Susan." Ralat Rey.


"Sama aja," kata Naya dengan cuek.


Rey menunjuk ke arah Susanto yang sedang mendribble bola basket.


"Dia yang bernama Susanto," jawa Rey.


"Tukang parkir kuliah di sini?" Pertanyaan Naya tak dihiraukan oleh Rey karena pertandingan semakin menegang.


Naya pun ikut bersorak meneriakkan nama Leon. Pertandingan semakin memanas ketika skor kedua belah pihak seri.

__ADS_1


"Susanto, semangat!" Tanpa sadar Naya meneriakan nama kang parkir.


Susanto menoleh ke arah barisan penonton dan melihat Naya sedang mengangkat tangan sambil melompat-lompat. Begitu juga dengan gadis-gadis yang lain, mereka melakukan hal yang sama seperti Naya.


Para gadis semakin bersorak heboh saat Susanto tersenyum dan menempelkan jari telunjuk dan jari tengah di keningnya lalu mengangkatnya ke udara.


Pertandingan selesai, para pemain beristirahat untuk menghilangkan lelah. Susanto sudah pergi untuk menemui dosen pembimbing.


"Selamat ya untuk kalian," ucap Rey pada Leon dan teman-temannya.


"Eh, om dan kak Tem ... eh kak Naya ada di sini," ujar Dimas.


"Kamu mau bilang kakak tempe kan?" tanya Naya.


"Hehe, maaf kak." Ucap Dimas.


"Nggak masalah, karena kakak akan jadiin kamu penyet. Jika kita disatukan, jadilah tempe penyet." Seperti biasa Naya selalu membuat suasana jadi rame.


Rey mengajak Naya untuk pulang. Di tengah perjalanan, Naya meminta Rey untuk berhenti.


"Ada apa kak?" tanya Rey.


"Kakak mau beli bakso itu, papi mau nggak?" tanya Naya sambil menunjuk ke arah tukang bakso yang berkeliling memakai gerobak.


"Boleh deh, sekalian untuk mami, Leon sama bibik ya," jawab Rey.


Naya turun dari mobil lalu menghampiri tukang bakso. Naya memesan beberapa bungkus bakso, lalu duduk di kursi plastik yang disediakan oleh penjualnya.


"Doyan juga makan-makanan pinggir jalan," Naya dikejutkan oleh Susanto tang tiba-tiba muncul.


"Hai!" Naya terlihat canggung.


"Kamu jualan, lalu Nenek sama siapa?" tanya Susanto pada penjual bakso.


"Nenek dijaga bi Inel, Bang." Jawab tukang bakso itu.


Susanto melihat tukang bakso yang ternyata adalah adiknya. Susanto membantu adiknya untuk menyiapkan pesanan Naya.


"Ini baksonya." Susanto memberikan bungkusan pada Naya.


"Oh, oke. Berapa semuanya?" tanya Naya. Susanto menoleh pada adiknya.


"Tujuh puluh ribu, kak." Jawab adik Susanto.


"Emmm makasih ya, waktu itu kamu udah nolongin aku." Ucap Naya.


"Sama-sama," balas Susanto.


Adik Susanto berpamitan karena harus berkeliling lagi, begitu juga dengan Naya.


Susanto membungkukan tubuhnya saat Rey menurunkan kaca mobilnya. Rey membalasnya dengan anggukan kepala. Setelah Naya masuk ke mobil, Rey pun mulai mengemudikan mobilnya dengan perlahan.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, tidak ada sepatah kata pun yang ke luar dari mulut Naya. Dia sedang menikmati pentol bakso yang dia pesan tadi, sengaja tidak pake kuah agar dia bisa memakannya di dalam mobil.


"Dasar buntal!" Rey menggelengkan kepalanya melihat Naya yang tidak berubah sejak kecil. Porsi makannya jumbo, untung saja tubuhnya tidak melar ke samping.


__ADS_2