
Suasana meriah dengan alunan musik bergema di lapangan tempat di adakannya pesta.Seperti pesta rakyat,banyak warga berbondong-bondong berjualan di tempat pesta,semua jajanan tradisional ada di sana.
Kedua pasang pengantin bak raja dan ratu,dengan balutan baju yang super mewah.Senyum merekah menghiasi wajah para pengantin yang bersanding.
Selain makanan yang bisa di nikmati,Daddy dan Opa membagi-bagi souvenir berupa uang dalam amplop khusus untuk tamu dari kalangan bawah,pak RT yang bertugas mendata setiap warganya yang berhak mendapat souvenir tersebut.
"Cek monitor,saya melihat Jatmiko di ujung jalan di arah barat" ucap salah satu anggota Elang Api yang menyamar sebagai tukang parkir.
"Masuk,di mengerti"
Beberapa orang bergerak halus bak angin menuju ke tempat yang di maksud orang tadi.
"Sari,Bunda melihat ada yang mencurigakan di balik pentas hiburan" tutur Bunda Sintya,ibunya Mommy Rere.
"Ayah,ada seseorang di balik pentas dari gerak-geriknya sepertinya mencurigakan" kata Sari pada David melalui alat komunikasi yang sudah terhubung.
"Bunda membawa seluruh pasukan?" tanya Tante Sari seraya berbisik.
"Tentu saja Bunda membawa mereka semua,Bunda tidak mau ada orang yang dengan bebas bisa merusak acara bahagia kedua cucu Bunda" jawab Bunda.
Anak Buah Bunda memainkan banyak peran,ada yang berperan sebagai pembawa minuman,pengatur sound system,ada juga yang berperan sebagai tamu undangan.
"Aku baru melihat orang yang berdiri di samping Tante Sari,siapa dia?"tanya Rani.
"Itu Nenek,Bundanya Mommy" jawab Rey.
"Apa kamu lelah?" tanya Rey.
"Aku masih kuat Rey" jawab Rani.
"Bos target bergerak mendekati meja hidangan" ucap salah satu anggota Elang Api pada Om Haris.
"Siapa,Ragil bukan?" tanya Om Haris pada orang itu.
"Bukan Bos,pria lain yang ada di ponsel Ragil" jawab orang itu.
"HEMPASKAN SEHALUS MUNGKIN" perintah Om Haris.
"Siap Bos"
Di kejauhan,di dalam sebuah mobil Sisy duduk sambil tersenyum"Sebentar lagi kamu akan menjadi miliku,tanpa seorang pun yang bisa mencegahnya" gumam Sisy sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Belum saatnya kamu tersenyum gadis kecil" kata Rendi yang mendengar semua gumaman Sisy.
Sebelum acara Ragil sudah memasang penyadap di mobil milik Sisy.
"Kenapa tidak kita tangkap dan habisi saja dia" kata Ragil dengan geram.
"Kalo kita tangkap dia sekarang,kamu tidak akan bisa melihat dia sengsara.Bersabarlah kita akan membuatnya sakit tak berdarah tapi bisa membunuhnya secara perlahan" kata Om Rendi.
"Lalu bagaimana dengan kekasih yang di utus Sisy untuk menabur racun yang asli?" tanya Ragil.
Om Haris memutar rekaman yang ada di dalam mobil itu,seorang laki-laki sudah duduk dengan posisi tangan dan kaki terikat serta mulut yang di lakban.
"Gila...kalian benar-benar gila.Bagaimana bisa menangkapnya tanpa menimbulkan keributan?" tanya Ragil.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu tau" jawab Om Haris.
Di pelaminan wajah Rani sudah terlihat pucat,keringat mengucur deras dan tiba-tiba kepala Rani terkulai tepat di tangan Rey yang sedang ngobrol bersama rekan kerjanya.
"Hey...sayang kalo mau tidur jangan di sini,Rani bangun" kata Rey sambil menepuk-nepuk pipi Rani,tapi Rani tidak bangun juga.
Daddy yang melihat itu langsung berlari pelan menghampiri Rey dan Rani.
"Ada apa Rey?" tanya Daddy.
"Rani tiba-tiba tidur Dad,padahal dia tadi masih terlihat segar dan tidak mengantuk sama sekali" jawab Rey.
"Dia bukan tidur tapi pingsan"
"****...kita kecolongan" umpat Daddy.
Daddy memanggil tim khusus yang bertugas meracik racun juga penawarnya.
Rey menggendong Rani menuju mobil bus yang dalamnya sudah di rancang menjadi kamar.
"Cek semua rekaman,siapa yang tadi memberikan minuman pada Rani" perintah Daddy pada Om Haris.
"Bagaimana,apa racunnya berbahaya?" tanya Daddy pada anak buahnya.
"Saya sudah suntikkan penawarnya jika dalam sepuluh menit dia tidak bangun kita harus membawanya ke rumah sakit" jawab Orang itu.
"Tumben obatmu tidak bagus?" tanya Daddy.
"Maaf Bos,saya menyuntikkan dosis yang paling rendah karena saya takut akan membahayakan janin yang ada di kandungan Nona jika saya memberi dosis yang tinggi" tutur orang itu.
"Dad,Mommy di culik" tiba-tiba Kiandra dan Imelda sudah berada di situ.
"Tapi Dad" kata Kiandra.
"Jangan pikirkan Mommymu,lindungi saja Imelda dan Winara" perintah Daddy.
"Winara ada bersama Ve,kita tidak perlu khawatir" ucap Kiandra.
Lima menit kemudian Rani membuka matanya dan melihat kesekelilingnya"Apa yang terjadi?" tanya Rani.
"Apa kamu ingat siapa yang memberimu minuman nak?" tanya Daddy.
Rani mengangguk.
"Siapa?" tanya Rey.
"Teman laki-laki Winara" jawab Rani lirih.
"Ve?" tanya Kiandra.
Rani menggeleng,"Bukan,laki-laki yang sering datang ke cafe tempatku bekerja dulu" jawab Rani.
"Demian" ucap Rey.
"Biar Daddy yang menangani ini semua,fokus saja pada Rani" kata Daddy sambil menepuk pundak Rey lalu keluar dari bus.
__ADS_1
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Anak buah Daddy yang tadi menyuntikkan penawar racun pada Rani.
"Kepala Rani pusing Om dan perut Rani juga keram" jawab Rani.
"Monitor...masuk...monitor..." kata orang tersebut.
"Kirim Dokter ahli kandungan beserta alat lengkap ke lokasi pesta,lima menit" kata orang itu lagi.
"Apa yang terjadi Om,apa kandungan Rani bermasalah?" tanya Rey.
"Om rasa tidak,karena racun yang di minum Rani tadi tidak terlalu bahaya.Tapi jika terlambat menanganinya bisa berakibat fatal" jawab Orang itu.
Tidak lama Dokter datang dan langsung memeriksa Rani,Dokter pun tersenyum" Dia baik-baik saja,perutmu keram karena kamu lelah" tutur Dokter.
"Benarkah Dok?" tanya Rani.
Dokter mengangguk.
"Kamu istirahat disini saja,para tamu biar Kiandra dan Imelda yang menyambut" kata Bunda Sintya alias Nenek.
"Nenek apa keadaan di luar makin kacau?" tanya Rey.
"Tidak,semua sudah aman terkendali" jawab Nenek.
"Hay sayang,ini pertemuan kita yang pertama ya.Maaf Nenek tidak bisa datang ke acara pernikahanmu karena waktu itu ada pekerjaan yang tidak bisa nenek tunda" ujar Nenek.
"Tidak apa-apa Nek,masih banyak waktu untuk kita bertemu" kata Rani.
"Rey Nenek tinggal ya,Nenek mau memantau keadaan di luar" pamit Nenek.
Kini tinggal Rey dan Rani yang ada di dalam bus itu,"Aku pikir kali ini aku akan benar-benar kehilangamu sayang" ujar Rey lirih.
"Maaf Rey,aku tadi sangat haus dan mengambil minuman yang di suguhkan oleh pelayan,aku tidak tau kalo akhirnya akan jadi seperti ini" tutur Rani.
Rey menggenggam tangan Rani lalu menciumnya"Aku telah lengah dalam menjagamu,maafkan aku" ucap Rey lirih.
"Udah kayak lebaran aja maaf-maafan" celetuk Winara dari pintu bus.
"Ve mana Dek?" tanya Rey.
"Pergi sama Om Rendi ke tempat olahraga" jawab Winara lalu duduk di samping Rani.
"Siapa?" tanya Rey.
"Pengantar minuman" jawab Winara.
"Jaga Kak Rani,Abang mau kesana" perintah Rey.
"Oh...maaf Kakanda tidak bisa,dia jatahku" kata Winara.
"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Rani.
"Abang tu Kak,bilangin jangan sering-sering minum es cendol jadi ngeblengkan otaknya,istri lagi terbaring lemah gini masih aja inget ama tu cendol" Winara mengalihkan pembicaraan.
"Jadi dari tadi kalian ngomongin masalah cendol?" tanya Rani.
__ADS_1
"Iya Kak,tu di depan ada yang jual cendol dawet" jawab Winara.
Rani memandang wajah Rey,"Sayang...aku pengen cendol dawet"