Cinta Masa Silam

Cinta Masa Silam
Si Tempe 30


__ADS_3

Keesokan harinya,


"Apa yang terjadi?" tanya Elang saat masuk ke ruang rawat inap ibunya Raya. Dia sengaja berkunjung bersama Efo, karena mendapat kabar dari Leon.


"Lebih baik kakek temui om dokter, biar Leon menenangkan Raya dulu." Jawab Leon, Raya terduduk dengan wajah yang basah karena menangis.


"Apa ibu akan meninggal?" tanya Raya.


"Kita serahkan semua sama Allah, perbanyak berdoa." Ucap Elang sambil mengusap lembut punggung Raya.


"Apapun yang terjadi nanti, itu semua sudah kehendak-Nya." Imbuh Edo.


"Iya kek," balas Raya.


"Kakek ke luar dulu ya, kakek mau menemui dokter." Pamit Elang dan Raya pun mengangguk.


Leon duduk di samping Raya yang bergeming dari tempatnya. Dia terus memandang wajah ibu.


Perlahan mata ibu terbuka, lalu menoleh ke arah Raya.


"Ibu! Ibu sudah sadar!"


"Bang, ibu sadar!" seru Raya.


Leon menekan tombol darurat, tidak lama kemudian dokter masuk ke ruangan tersebut bersama Elang dan Edo.


Dokter memeriksa keadaan ibu, lalu mengajak Elang untuk ke luar.


"Ada apa?" tanya Elang.

__ADS_1


"Saya sudah cek semua, keadaan ibu tetap sama. Saya takut, sadarnya ibu dari koma hanya karena ingin melihat anaknya untuk terakhir kali." Tutur Dokter.


Edo dan Elang menghela nafas berat secara bersamaan.


"Kita hanya bisa berusaha, namun semua kembali pada Tuhan." Ucap Edo dan Elang pun mengangguk.


"Ibuuuu! Tidak, ibu nggak boleh pergi! Huaaa!" terdengar suara teriakan dari dalam kamar.


"Kakek! Ibu meninggal," kata Leon yang ke luar dari kamar itu.


Elang, Edo, dan dokter berlari masuk ke kamar. Dokter kembali memeriksa keadaan ibu, dan benar saja ibu sudah tiada.


Bruk! Raya jatuh pingsan.


"Bagaimana ini kek?" tanya Leon.


"Kakek akan telpon orang-orang kita untuk mempersiapkan pemakamannya. Kamu urus Raya!" titah Elang.


Di rumah Leon,


"Semua proses sudah kita lakukan, apa kamu sudah siap?" tanya Elang pada Raya, mereka sudah bersiap hendak pergi ke pemakaman.


"Sudah kek," jawab Raya, wajah sembab dan matanya terlihat bengkak.


"Berdoa, semoga semua amal kebaikan ibu diterima di sisi Tuhan." Ucap Naya.


"Iya kak, terima kasih ya. Kalo tidak ada kalian, Raya nggak tau harus apa." Tutur Raya.


"Hei, bicara apaan sih. Kita saudara, sudah seharusnya kita seperti ini. Lagi pula sebentar lagi kita akan jadi keluarga," ujar Naya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan ke pemakaman, Raya banyak diam. Pesan terakhir yang diucapkan ibu sebelum meninggal terus terngiang di telinga Raya.


"Leon anak yang baik, dari keluarga baik-baik. Menikahlah dengannya, Raya. Bukan karena hartanya ibu merestui kamu dan Leon, tapi karena rasa tanggung jawabnya yang besar membuat ibu yakin dia pasti bisa menjagamu."


"Nak, kita sudah sampai. Ayo turun!" ajak Rani.


Rani dan Naya menggandeng tangan kanan dan kiri Raya menuju tempat peristirahatan terakhir sang ibu.


Selama proses pemakaman, air mata terus mengalir di pipi Raya. Dunia terasa berhenti berputar, hidupnya terasa hancur kala melihat tubuh sang ibu dengan perlahan dimasukkan ke liang lahat.


"Ibu," lirih Raya kemudian pingsan.


Leon membopong tubuh Raya hingga ke mobil, Rani dan Naya mengikutinya dari belakang.


"Kamu kembali ke sana! Ikuti proses pemakamannya sampai selesai!" titah Rani.


"Baik mami," sahut Leon.


Setelah proses pemakaman selesai, mereka pulang. Raya sudah siuman dari pingsannya.


Untuk sementara Raya akan tinggal di rumah Elang.


"Ibu sudah pergi," lirih Raya.


"Nenek turut berduka, yang sabar ya. Ikhlaskan ibu," ucap Rere.


"Raya tahu nggak, Nenek pernah kehilangan orang yang nenek cintai, dua orang sekaligus dalam waktu bersamaan. Waktu itu nenek sedang menghadiri acara perpisahan sekolah. Mami Rani juga pernah mengalami hal yang sama. Dunia kami hancur, semua terasa kosong dan hampa. Tapi, nenek bersyukur kala itu. Ada orang-orang baik dan sayang pada nenek. Ada nek Rima dan juga kakek waktu itu." Cerita Rere.


"Semua sudah menjadi kehendak yang maha kuasa, kita hanya bisa pasrah dan berserah. Tidak boleh berlarut dalam kesedihan, hidup kita terus berjalan." Imbuh Rani.

__ADS_1


"Terima kasih nek, terima kasih mami." Ucap Raya.


"Perlu kamu tahu, kami semua menyayangimu." Rere memeluk Raya, begitu juga dengan Rani.


__ADS_2