
Kukuk kukuk kukuk ... Suara burung hantu terdengar jelas dari kamar Naya. Entah sejak kapan rumahnya terasa sedikit menyeramkan.
Susanto belum pulang, padahal hari sudah pukul sepuluh malam.
Naya keluar dari kamar, dia turun ke lantai satu dan memilih duduk di ruang tamu sambil menunggu suaminya pulang.
"Apa mungkin burung itu mengikuti kami dari tempat pemancingan?" monolog Naya yang berulang kali memegangi tengkuknya.
Sorotan cahaya lampu motor yang di kendarai oleh Susanto menerobos masuk melalui celah-celah tirai.
Naya bergegas membuka pintu rumahnya, padahal Susanto membawa kunci cadangan.
"Kenapa pulangnya lama sekali?" pertanyaan Naya menyambut kepulangan suaminya.
"Loh, emangnya kenapa? Biasanya aku pulang setelah mall tutup dan itu jam sepuluh malam," jawab Susanto.
Naya celingukan melihat kiri, kanan, depan, dan belakang. Dia buru-buru menutup pintu rumahnya dan menguncinya rapat-rapat.
"Ada apa sih?" Susanto bingung melihat tingkah laku istrinya.
"Di kamar ada totok uwok," jawab Naya, berbisik di telinga Susanto.
"Serius? Berarti totok uwok itu mengikuti kita dari tempat pemancingan," ujar Susanto.
Naya melingkarkan tangannya erat di lengan Susanto sampai masuk ke kamarnya. Hingga Susanto hendak masuk ke kamar mandi, Naya pun mengikutinya tanpa sadar.
"Mau mandi bareng?" tanya Susanto sebelum menutup pintu kamar mandi.
"Eh enggak." Jawab Naya salah tingkah.
"Jangan lama-lama ya mandinya," pinta Naya.
Susanto tersenyum, "Nggak lucu tau Yank, cucu Alberto takut sama totok uwok." ujar Susanto.
"Yeeee, takut mah nggak memandang siapa keluarga besarnya kali, Bung!" balas Naya lalu menjauh dari kamar mandi.
Susanto menutup pintu kamar mandi.
Naya memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa takut.
"Kenapa lama banget sih mandinya!" Protes Naya saat Susanto keluar dari kamar mandi. Padahal Susanto hanya sepuluh menit untuk menyelesaikan ritual mandinya.
Susanto tidak menanggapi ocehan Naya, dia berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.
"Susan, kok malah diem sih!" Naya semakin takut dan tidak sengaja menarik handuk yang digunakan oleh Susanto untuk menutupi tubuh polosnya.
__ADS_1
"Hwaaaaa,, Itu apa yang bergantung?" Naya mengarahkan telunjuk tangan kanannya pada benda pusaka milik Susanto, sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk menutupi matanya.
Dengan santai Susanto memungut handuknya dan kembali melilitkannya di pinggang.
"Kamu mau tahu ini apa? Ini bahan utama untuk bikin anak," bisik Susanto.
Naya menurunkan tangan yang menutupi matanya, "Benarkah? Kenapa bentuknya seperti sosis goreng?" tanya Naya dengan wajah polosnya.
Susanto memandang wajah Naya sambil mengulum senyum, "Bentuknya akan lebih bagus kalau ketemu jodohnya," jawabnya asal.
Naya menautkan alisnya, matanya menatap tajam. Dia memandang wajah Susanto penuh selidik, berusaha menerka kebenaran dari perkataan suaminya.
"Kalo gitu ayo kita bikin anak!" ajak Naya.
"Anak kita, cucu papi sama mami. Mereka minta kita untuk memberi mereka cucu, bukan?" celoteh Naya.
Senyum Susanto memudar berganti dengan keseriusan. Kedua tangannya memegang pundak Naya, tatapan matanya menerobos masuk ke netra indah milik Naya.
"Kamu yakin udah siap?" tanya Susanto dan Naya mengangguk.
Beberapa hari ini Naya membaca artikel tentang malam pertama di sebuah situs online. Tidak terlalu sulit pikirnya.
"Aku shalat isya dulu ya, tadi belum sempet shalat." Susanto kembali masuk ke kamar mandi untuk mensucikan diri.
Selesai shalat, Susanto melipat sajadahnya dan meletakkannya ke tempatnya semula.
"Kenapa pakai pakaian tipis seperti jaring ikan begini?" tanya Susanto.
"Aku juga nggak tau, mami yang suruh." jawab Naya jujur.
Glek ... Susanto menelan salivanya dengan susah payah saat Naya bergerak turun dari kasur. Dua gundukan dadanya bergerak bebas karena tidak memakai kacamata pengaman.
"Jadi nggak bikin anaknya?" tanya Naya, membuat Susanto kaget.
"Jadi," jawab Susanto singkat. Pikirannya sudah tidak normal, permainan belum dimulai tapi keringatnya sudah mengucur deras.
Sekuat apapun iman Susanto menahan gejolak hatinya, tetap saja paiman di bawah sana luluh melihat pemandangan indah di hadapannya. Sayang jika dilewatkan begitu saja.
Perlahan tapi pasti, benda yang tadi mirip sosis goreng kini sudah berubah menjadi pisang tanduk.
"Kamu mencintaiku?" tanya Susanto sambil membelai rambut Naya. Dia menarik pinggang Naya agar merapat ke tubuhnya.
"Tentu saja, karena kamu suamiku. Kata papi, sepasang suami istri harus saling mencinta." jawab Naya, dia merasa sedikit risih karena merasakan sesuatu yang keras menggesek di bawah sana.
Susanto menarik tengkuk leher Naya secara perlahan seraya mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
Naya memejamkan matanya, mengikuti panduan yang dia baca di aplikasi gugel.
Sesaat kemudian, dia merasakan geli di bibirnya. Susanto melakukannya dengan sangat lembut. Sesapan bibir yang mampu membuat Naya oleng.
"Aku kehabisan nafas! Istirahat dulu," pinta Naya dengan nafas tersengal-sengal.
Susanto menggendong Naya ala bridal style dan membawanya ke kasur.
Setelah nafas Naya kembali normal, Susanto kembali peneruskan pertempuran yang tadi tertunda.
Entah karena membaca panduan atau memang merasakan kenikmatan, suara seksi Naya tidak berhenti keluar.
Susanto semakin gencar, dia harus menuntaskan bikin anak yang tertunda selama tiga bulan.
"Yakin itu bisa masuk?" tanya Naya, matanya membulat saat melihat pisang tanduk milik Susanto.
Susanto mengungkung istrinya dari atas, "Bisa dong, jangankan yang kecil begini, kepala bayi yang besar saja bisa ke luar dari lubang itu." jawab Susanto.
"Tadi kecil seperti sosis goreng, kenapa sekarang besar? Kenapa bentuknya tidak konsisten dan berubah-ubah?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Naya.
"Karena sudah takdirnya begitu," jawab Susanto.
Susanto mulai membimbing miliknya ke liang kenikmatan milik sang istri. Menyatukan dua hati, dua cinta, dan dua tubuh menjadi satu. Berharap dikaruniai buah hati yang soleh dan solehah.
"Susan," rengek Naya, pertempuran telah usai.
"Mau ke kamar mandi?" tanya Susanto dan Naya mengangguk malu, semburat merah menghiasi wajahnya.
"Apa kita perlu ke rumah sakit?" goda Susanto sambil menggendong Naya.
"Kamu mau membuatku malu?" mata Naya mendelik ke arah Susanto.
"Aku sekedar bertanya," senyum Susanto mengembang, dia meletakkan tubuh polos Naya di bathup.
Susanto mengisi air bathup hingga penuh dan bisa merendam seluruh tubuh istrinya.
"Berendamlah sebentar, itu bisa mengurangi rasa sakitnya." Susanto beranjak dari kamar mandi dan membiarkan istrinya berendam.
Sembari menunggu Naya selesai berendam, Susanto mengganti sprei yang sudah tidak karuan bentuknya. Senyum di bibirnya mengembang saat melihat bercak merah di spreinya.
"Kamu milikku, dan hidupku milikmu." gumam Susanto. Dia buru-buru mengganti sprei dan merapikan kembali tempat tidurnya.
Naya berjalan tertatih keluar dari kamar mandi.
Susanto yang sudah berbaring di tempat tidur, cepat-cepat turun dan mendekati Naya. Dia kembali menggendong istrinya dan mendudukkannya di kasur.
__ADS_1
Baju tidur Naya sudah dia siapkan sebelumnya. Selesai berpakaian, Naya langsung berbaring dan tidur. Tubuhnya terasa remuk dan lelah, tapi semua itu sebanding dengan rasa nikmat yang baru saja diraihnya.