Cinta Masa Silam

Cinta Masa Silam
Si Tempe 25


__ADS_3

Karena tidak mungkin turun tangan langsung untuk mengurus masalah calon istri cucunya, Elang meminta salah satu warga kampung kecil untuk menyelesaikan masalah tersebut.


Kemarin, saat melewati rumah Raya yang lama, Elang melihat plang yang bertuliskan jika rumah tersebut dijual.


Sudah tua dan tidak mau pusing, Elang memutuskan untuk membeli rumah tersebut. Yang terpenting baginya, rumah itu bisa kembali ke tangan Raya.


Satu masalah terselesaikan, tinggal mencari pelaku yang meracuni ibunya Raya. Urusan tentang teror yang dilayangkan Fatih pada keluarganya, itu soal gampang. Rey dan teman-temannya bisa mengatasi itu.


Kondisi kesehatan ibunya Raya sudah berangsur membaik, tinggal pemulihannya saja. Hari ini beliau sudah boleh pulang.


"Ini rumah siapa?" tanya ibu saat tiba di rumah baru yang akan mereka tempati.


"Rumah Leon, bu." jawab Raya.


"Rumah kita. Karena mulai hari ini dan seterusnya kita akan tinggal bersama di rumah ini." tutur Leon.


"Rumah yang lama, bagaimana?" tanya ibu, wajahnya mendadak jadi murung.


Leon mendudukkan ibu di sofa lalu meninggalkannya bersama Raya. Dia masuk ke kamarnya untuk mengambil sesuatu, kemudian ke luar dan menghampiri calon istri dan ibu mertuanya.


Leon menyodorkan sebuah map ke pada ibu Raya. " Ini bu," ujarnya.


Ibu menerima map itu lalu membukanya dan membaca satu persatu lembaran kertas di dalamnya.


"Sertifikat ini? Bagaimana bisa?" tanya ibu, terlihat keterkejutan di wajahnya. Bukan hanya ibu, bahkan Raya pun ikut terkejut.

__ADS_1


"Bang, bagaimana bisa?" tanya Raya.


"Pamanmu menjual semua milik kalian yang berhasil dia rampas. Aku membelinya agar kenangan dari ayah tidak jatuh ke tangan orang lain." jawab Leon.


"Boleh ibu bertanya?" ibu menatap wajah Raya dan Leon secara bergantian. Kedua anak itu mengangguk.


"Apa arti semua ini? Jika hanya hubungan pertemanan di antara kalian, ini terlalu berlebihan. Ibu tidak mau berhutang budi sebanyak ini, ibu tidak sanggup untuk membayarnya. Apa hubungan kalian lebih dari sekedar teman?" tanya ibu.


"Jika ibu merestui, Leon akan melamar Raya dan menikahi putri ibu secepatnya. Tapi, jika ibu menolak, maka Leon akan menculiknya dan tetap akan menikah dengannya." jawab Leon sambil berseloroh.


"Dasar kamu ya, ibu bertanya serius kamu malah bercanda." cetus ibu sambil memukul bahu Leon dengan lembut.


Leon menggenggam tangan ibu lalu menatap wajah ibu dengan lekat, "Ibu tenang saja, jangan banyak pikiran. Leon serius mau menjadikan Raya sebagai pendamping, asal ibu merestui hubungan kami. Leon janji akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan Raya dan ibu." ucapnya.


"Apa kamu sedang melamar Raya sekarang?" goda ibu sambil tersenyum.


Di saat yang sama, bukan hanya Leon, Raya, dan ibu saja yang merasakan kebahagiaan. Naya dan Susanto pun sedang merasakan hal yang sama.


Naya dan Susanto sedang liburan, menikmati bulan madu yang sempat tertunda. Meski mereka hanya berlibur di dalam kota, tapi itu sudah cukup membuat mereka bahagia.


Sore ini mereka sedang menikmati angin sore di tepi pantai. Duduk di atas batu karang sambil berpelukan, deburan ombak diiringi cicit burung yang berterbangan di atasnya.


Langit mulai berwarna jingga, matahari sudah condong ke arah barat. Tanda bahwa sebentar lagi siang akan berganti malam.


"Lihatlah! Indah bukan?" tanya Naya yang duduk bersandar di dada bidang Susanto sambil menunjuk ke arah langit sore.

__ADS_1


"Meski langit itu terlihat indah, tapi ada hal yang keindahannya melebihi itu." tutur Susanto.


Naya mendongak untuk melihat wajah Susanto, "Apa itu?" tanyanya.


"Kamu! Tidak ada hal yang indah selain kamu." jawab Susanto, dia membalas tatapan Naya padanya.


"Ciee yang udah pinter gombal, suami capa sih? Uhh gemes, jadi pengen nyekek deh!" Naya mengarahkan kedua tangannya ke pipi Susanto lalu mencubitnya.


"Gemes kok pengen nyekek sih Yank? Pengen cium kek, pengen anu kek." cicit Susanto.


"Canda, Mas." ucap Naya.


"Apa? Kamu panggil apa barusan? Coba ulangi lagi!" pinta Susanto. Setelah sekian purnama menikah, baru kali ini dia mendengar Naya memanggilnya dengan sebutan 'Mas.'


Naya beranjak lalu turun dari batu karang tempatnya duduk, setelah itu dia berlari kecil.


"Aku panggil kamu Susan!" Serunya.


Susanto pun mengejar istrinya yang berlarian di tepi pantai.


"Naya, I Love You!!!" Teriak Susanto sekencang-kencangnya.


"Aku enggak!" balas Naya sambil menjulurkan lidahnya ke arah Susanto.


"Nggak apa? Kamu nggak cinta aku?" tanya Susanto masih berteriak karena jarak mereka yang lumayan jauh.

__ADS_1


"Nggak salah lagi! I Love You juga!" seru Naya.


Mendengar ucapan cinta dari sang istri, Susanto langsung berlari ke arah Naya. Menangkap gadis itu lalu mengangkatnya. Mereka menghabiskan waktu dengan penuh canda tawa.


__ADS_2