
Hubungan Naya dan Susanto semakin akrab, walaupun sampai saat ini hubungan mereka hanya sebatas teman.
"Kak, ntar siang antar adek ke mall ya," pinta Leon pada Naya.
"Ke mall ajak kakak? Harusnya kamu itu ajak pacar," ujar Naya.
"Kakak nggak tahu ya kalo adek tu jomblo," timpal Rey yang sedang menikmati sarapannya.
"Nggak usah diperjelas kali, Pi." Leon terlihat kesal, membuat Rey, Rani, dan Naya tertawa lepas.
Selesai sarapan semua menjalani aktivitas masing-masing. Leon pergi ke kampus, Rey pergi ke kantor, Rani pergi ke rumah Mommy karena ada kegiatan, dan Naya pergi ke panti untuk mengantar bahan makanan juga semua yang dibutuhkan oleh penghuni panti.
"Nay, tunggu!! Terdengar suara seseorang berseru dari arah belakang Naya.
"Fatih? Mau ngapain?" tanya Naya saat melihat Fatih ada di sekitaran panti.
Naya menghentikan langkahnya lalu berdiri sambil bersandar di mobilnya.
"Ada apa?" tanya Naya.
"Ini undangan pernikahan kita, aku sudah menyebarnya. Ini untuk teman-temanmu," jawab Fatih sambil menyodorkan setumpuk kartu undangan pada Naya.
"Kamu ngigo ya? Siapa juga yang mau nikah sama loe? Aku mah ogah! Lagian ngebet banget sih loe mau nikahin gue, kenapa? Apa karena keluarga gue kaya dan loe bisa seenaknya mengeruk harta Alberto?" Kata dan perranyaan Naya terdengar sangat menusuk hati Fatih.
"Kamu kenapa sih? Berubah semenjak kamu kenal cowok kampungan itu." Fatih terlihat sangat kesal.
"Dia kampungan? Kamu yang kampungan!" Naya meninggalkan Fatih begitu saja, tidak peduli apa yang akan terjadi di hari esok.
"Sial!" Fatih mengumpat sambil menyugar kasar rambutnya.
__ADS_1
Fatih masuk ke mobilnya lalu mengemudikannya dengan kecepatan sedang.
Di tempat lain,
Rey memegang kartu undangan di tangannya, membolak-baliknya tanpa berniat untuk membacanya.
Seorang rekan bisnisnya datang berkunjung untuk urusan pekerjaan sambil menunjukkan kartu undangan itu pada Rey.
Rey duduk bersandar di kursinya, wajahnya terlihat tenang seolah tidak ada masalah. Rey mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi Naya.
"Hallo! Papi ngapain telpon kakak? Kakak lagi nyetir," celoteh Naya dari seberang telpon.
"Kakak bisa datang ke kantor papi nggak?" tanya Rey.
"Ada apa?" tanya Naya.
"Papi mau ajak kakak makan siang," jawab Rey.
Gosip tentang pernikahan Naya dan Fatih sudah tersebar luas, keluarga Fatih sengaja menyiarkan tentang pernikahan itu di layar kaca. Agar pihak Alberto menyetujui pernikahan putra putri mereka, karena kalo tidak, mereka akan menanggung malu.
Naya memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk kantor papinya, lalu menyerahkan kunci pada satpam yang bertugas. Naya mempercepat langkahnya menuju ke ruang kerja Rey, dia tidak mau papinya menunggu terlalu lama.
"Papi!" seru Naya sambil membuka pintu ruang kerja Rey.
"Kakak ngebut?" tanya Rey, karena belum sampai setengah jam Naya sudah ada di sana.
"Enggak, cuma gas pol doang," jawab Naya santai lalu duduk di sofa.
Rey menutup laptopnya lalu berjalan menghampiri Naya dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Rey.
"Maksud papi?" Bukannya menjawab pertanyaan Rey, Naya malah balik bertanya.
Rey meletakkan kartu undangan di atas meja, undangan yang dia dapat dari rekan kerjanya tadi.
"Oh ... Soal undangan pernikahan ini toh, kirain soal apa," ujar Naya dengan santai.
"Kok kakak bisa sesantai itu? Itu nama kakak loh yang tertera di kartu undangan," ujar Rey.
"Pi, yang bikin undangan ini mereka, yang menyebarkan undangannya juga mereka. Kita biarkan saja mereka mempersiapkan semuanya, emangnya mereka pikir sebuah pesta tidak butuh biaya yang besar. Kita lihat saja sampai mana mereka sanggup mempersiapkan semua sendirian," tutur Naya sambil tersenyum penuh misteri.
"Apa kamu memikirkan apa yang sedang papi pikirkan?" tanya Rey sambil tersenyum.
"Tentu saja, kakak 'kan anak papi," jawab Naya sambil memeluk Rey.
Di sisi lain,
"Apa papa yakin, dengan cara ini kita akan berhasil?" tanya Fatih pada papanya.
"Kamu percaya saja sama papa, keluarga Alberto tidak mungkin bisa menolak dan tidak mungkin sanggup menanggung malu jika membatalkan acara ini," jawab papa Fatih.
"Aku sudah tidak sabar menikah dengan Naya dan menguasai harta kekayaan Alberto," tutur Fatih sambil menyeringai.
"Papa juga sudah tidak sabar untuk menikmati kekayaan yang tidak akan ada habisnya tersebut," imbuh sang papa.
Fatih dan papa pun merancang acara sesempurna mungkin, mereka mempersiapkan sebuah pesta yang sangat besar dan mewah, hingga harus menggelontorkan dana yang cukup fantastis.
Mereka tidak keberatan harus merogoh kocek yang sangat dalam, karena keuntungan yang akan mereka raup dari pernikahan ini berpuluh-puluh kali lipat.
__ADS_1
Setelah rencana tersusun rapi, Fatih pun pergi dan papa tetap tinggal di kantornya. Dia sudah tidak sabar menanti hari pernikahan putranya, pernikahan yang sangat menguntungkan baginya juga bisnisnya yang sempet oleng beberapa waktu lalu.