Cinta Masa Silam

Cinta Masa Silam
Si Tempe 10


__ADS_3

Naya melingkarkan tangannya erat ke tangan Leon, sepulang dari kantor papinya dia menemui adiknya di mall Empat Sekawan.


Entah apa tujuan Leon mengajak sang kakak berkeliling mall di siang bolong, karena sedari tadi mereka hanya berkeliling saja tanpa membeli sesuatu.


"Dek, kita mau ngapain sih ke sini? Dari tadi jalan mulu kagak beli apa-apa. Kaki kakak udah ada telornya nih," rengek Naya yang sudah merasa lelah.


"Sebentar lagi sampe, ayolah!" Leon membujuk Naya, dan benar saja tidak lama kemudian Leon menghentikan langkahnya tidak jauh dari toko pakaian wanita.


"Kamu ajak kakak ke sini cuma mau nongkrong di depan toko beha?" Wajah Naya terlihat sangat kesal karena merasa dikerjain oleh adiknya.


"Gini nih kalo ngajak toa odong-odong jalan ke mall, mulutnya nyinyir nggak berhenti." Leon pun mengoceh.


"Trus kita mau ngapain ke sini?" tanya Naya.


"Beliin baju tidur dong, kalo Leon yang beli ntar yang ada diejekin sama mbak-mbaknya," jawab Leon.


"Kamu masih sehat 'kan dek? Masih waras 'kan? Belum meleset 'kan dek?" Naya menempelkan punggung tangannya di kening Leon.


"Waras kakak, tenang aja," jawab Leon sambil mengeluarkan kartu dari dompetnya.


"Ukuran apa nih bajunya?" tanya Naya.


Leon terlihat salah tingkah saat sang kakak bertanya ukuran baju yang harus dibeli. Karena sejujurnya dia sama sekali tidak tahu.


"Emmm ... Anu kak, Adek gak tau." jawab Leon sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Pluk, Naya menepuk keningnya melihat tingkah adik yang sedikit aneh hari ini.


"Badannya segimana?" tanya Naya.


"Itu .. Anu," Leon terlihat gugup dan semakin salah tingkah.


Naya memandangi wajah Leon kemudian tersenyum, "Untuk anak tukang uduk ya?" Tebakan Naya ternyata benar karena Leon menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Cieee, roman-romannya baru ada yang jadian nih! Tukang uduk mana dek?" tanya Naya.


Tukang uduk yang dimaksud oleh Naya dan Leon bukanlah tukang uduk yang sebenarnya, itu hanya istilah saja. Sejak kecil mereka selalu menyebut tukang asongan, tukang apa aja dengan sebutan tukang uduk.


"Udah, kakak beliin aja bajunya sekarang. Nanti adek telat nih," Leon mendorong Naya masuk ke toko itu.


Naya hanya membeli satu baju tidur sesuai permintaan Leon. Setelah itu mereka langsung pulang karena Leon harus menghadiri pesta bersama teman-temannya.


"Dek, tadi ada yang nyariin." Kata Rani yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV.

__ADS_1


"Siapa, Mam?" tanya Leon.


"Siapa ya namanya, Mami lupa nanya tuh. Katanya dia jualan apa gitu di depan komplek," jawab Rani.


"Cieeee, yang dicariin yayang." Naya menggoda Leon.


"Apa sih kak! Udah ah, adek mau mandi." Leon bergegas pergi ke kamarnya, dia tidak mungkin menang melawan sang kakak dan maminya.


"Cantik nggak tu ceweknya, Mi?" tanya Naya lalu duduk di samping Rani.


"Lumayan kalo mami bilang, gadis manis." jawab Rani.


"Kakak ke kamar dulu ya, Mi. Mau mandi nih, gerah banget."


"Oya, kakak tadi ditanyain sama Nenek. Katanya kapan kakak mau ke rumah Nenek," ujar Rani.


"Hemmm, kapan ya. Nanti deh kakak pikirin," kata Naya sambil tersenyum.


Naya masuk ke kamarnya, bukannya langsung mandi malah rebahan di atas kasur. Naya memejamkan matanya dengan tangan yang memijat kening.


Terdengar nafas berat dan panjang dari arahnya, sepertinya dia sedang banyak pikiran.


Drrt ... Drtt, ponsel Naya bergetar, menandakan ada panggilan masuk.


"Ada apa?" Seperti biasa, Naya tidak pernah berbicara lembut pada Fatih.


"Aku mau mengajakmu fitting baju, kapan kamu bisa?" tanya Fatih dari seberang telpon.


Naya nampak berpikir, namun kemudian dia tersenyum.


"Apa aku boleh memilih gaunku sendiri?" tanya Naya.


"Tentu saja, sayang. Apapun yang kamu mau," jawab Fatih.


"Aku mau gaun yang ada di Komala butik, besok kamu jemput dan bayar gaun itu. Aku akan menelpon pemiliknya dan meminta gaun yang terbaik dari butik mereka," tutur Naya.


"What!!! Komala Butik? Kamu tidak salah 'kan?" Fatih terdengar sangat kaget saat mendengar nama butik yang dikatakan oleh calon istrinya.


Komala butik sangat terkenal, dari segi pakaian dan juga harganya yang terkenal sangat mahal. Satu gaun bisa seharga satu buah mobil keluaran terbaru.


"Kenapa? Apa kamu keberatan? Kalo begitu, kita tidak usah menikah saja." Naya tetap berbicara dengan nada santai, namun mampu membuat Fatih ketar-ketir.


"Tidak tidak, baiklah besok aku akan mengambil baju milikmu." Fatih pun langsung mematikan ponselnya.

__ADS_1


Hahaha ... Naya tertawa sangan kencang, dia yakin baju yang dia pesan akan membuat keluarga Fatih kehilangan separuh dari kekayaannya.


"Jangan bermain-main denganku, Fatih! Atau kamu akan menanggung sendiri akibatnya," gumam Naya.


Di rumah Elang,


Rey sedang duduk di kursi, di hadapannya sudah ada Daddy dan Mommynya.


"Bagaimana tanggapan Naya tentang ini?" tanya Elang.


"Rey belum tahu pasti, Dad. Tapi, sepertinya dia punya rencana yang sama denganku," jawab Rey.


"Tidak datang ke pesta pernikahannya?" tanya Elang, mencoba menebak.


"Menurut Daddy, bagaimana?" Rey balik bertanya.


"Terserah kalian, lagi pula semua media sudah tahu jika pernikahan ini hanya keinginan dari pihak Fatih, jadi kita tidak akan menanggung malu atau pun kerugian." Jawab Elang.


"Jadi, daddy setuju?" tanya Mommy.


"Aku tidak bilang begitu," jawab Eang sambil mengedipkan sebelah matanya pada Rere, istri yang sangat dicintainya.


"Kode apaan nih, kedip-kedip?" Rere menaruh curiga.


"Kita akan tetap melaksanakan pesta pernikahan untuk Naya, tapi di tempat yang berbeda dan dengan lelaki yang beda pula." Rere dan Rey saling bertukar pandang, tidak mengerti maksud dari perkataan Elang.


"Maksud Daddy?" tanya Rere dan Rey bersamaan


"Naya akan tetap menikah, tapi bukan dengan Fatih." Jawab Elang dengan tegas dan serius.


"Lalu, siapa yang akan menikah dengan kakak?" tanya Rey.


"Susanto. Naya akan menikah dengan Susanto di hari dan jam yang sama sesuai kartu undangan." Rey dan Rere terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban dari Elang.


"Baiklah, Rey setuju. Susanto tidaklah terlalu buruk, dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab." Ujar Rey.


"Semua sudah Daddy persiapkan, tinggal menyampaikan hal ini pada Susanto dan Naya," tutur Daddy.


"Nanti Rey coba bicarakan ini sama Naya, dan Daddy yang ngomong sama Susanto."


Setelah selesai dan menemukan titik terang, Rey pun berpamitan untuk pulang. Sesampainya di rumah, Rey langsung mengatakan hasil musyawarah dengan sang Kakek. Rey menyampaikan semua apa yang tadi dia dan Elang bahas.


Di tempat lain, Elang juga sedang melakukan hal yang sama dengan Rey. Mencoba mengatakan secara perlahan pada Susanto tentang permasalahan yang sedang dihadapi oleh keluarganya, terutama Naya.

__ADS_1


__ADS_2