
Susanto menghempaskan tubuhnya di sofa. Badannya terasa lelah dan pegal-pegal. Padahal hanya beberapa jam saja dia berdiri menyambut tamu yang datang, tapi rasa capeknya bagaikan berdiri seharian.
"Susan!" seru Naya.
"Tidur di kamar, jangan di sini." Sambungnya.
Susanto membuka matanya lalu menoleh ke arah Naya yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
"Susan? Melambai dong," seloroh Susanto.
"Emang salah? Namamu Susanto, aku panggil Susan."
Susanto menepuk sofa di sampingnya, "Sini, duduk. Biar kujewer tu telinga, panggil suami kok nggak sopan." Naya hanya nyengir salah tingkah mendengar perkataan Suaminya.
"Aku bingung harus manggil kamu apa," ujar Naya.
"Panggil yang mesra-mesra dong," balas Susanto.
Naya duduk di samping Susanto, bibirnya komat-kamit seperti sedang membaca mantra.
"Aku panggil apa ya, aku bingung. Atau aku panggil kamu cowok gila aja, sama seperti pertama kita bertemu." Naya menaik turunkan alisnya sambil tersenyum.
Pletak!!! Susanto menyentil kening Naya.
"Awh, sakit tau. Jahat banget sih," ujar Naya sambil mengusapi keningnya.
Susanto menarik kepala Naya lalu mengecup kening istrinya tersebut.
"Dah, sembuh!" Susanto mengusap kening Naya dengan jarinya.
"Apaan sih, main cium sembarangan. Ternyata selain gila, kamu mesoem juga ya. Hiii ..." Naya bergidik lalu beranjak dari sofa dan berlari ke arah kamar.
"Mau masuk nggak? Aku kunciin ni pintunya!" teriak Naya saat berada di depan kamarnya.
"Kode nih," gumam Susanto, dia pun menyusul Naya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.
Naya tahu jika sudah menikah, dia harus tidur sekamar dengan suaminya. Sebelum hari pernikahan, Rani dan Rey terus menasehatinya.
Naya bersikap konyol hanya untuk menggoda Susanto, meski terkadang tingkah konyolnya terjadi secara alami, tanpa dibuat-buat.
__ADS_1
"Dek! Jorok ih! Sikat gigi dulu baru tidur. Ntar giginya ada ulatnya loh." Susanto mengguncangkan tubuh Naya yang sedang rebahan di kasur.
"Apaan sih, nggak jelas banget. Kamu pikir aku anak kecil," oceh Naya.
Susanto mendekat ke kasur lalu naik ke atasnya.
"Gosok gigi dulu, atau kita tempur malam pertama kita." Susanto menaik turunkan alisnya sambil terus mendekati Naya.
"Aku gosok gigi!" Naya turun dari kasur dan langsung berlari ke kamar mandi. Susanto hanya tertawa melihat Naya yang lari tunggang langgang ke kamar mandi.
"Susan!" teriak Naya dari balik pintu kamar mandi.
"Apa Naya Noyo, teriak-teriak udah kayak di hutan aja." sahut Susanto dengan santai.
Naya terdiam mendengar nama yang disebut oleh Susanto untuknya. Sampai-sampai dia lupa tujuannya memanggil suaminya tadi.
"Aku lupa bawa pakaian ganti," jawabnya.
"Nggak usah pake baju, ntar juga dibuka lagi." Seloroh Susanto, dia sangat suka menjahili istrinya.
Bugh ... Sebelah sandal yang dipake oleh Naya pun melayang dan mendarat di kasur. Bukannya marah Susanto malah semakin gencar menggoda Naya.
"Wah wah wah, istri durhaka. Sepertinya memang harus dihukum malam ini juga." Susanto turun dari kasur lalu berjalan ke arah kamar mandi.
"Susan mesoem!" Teriak Naya dari kamar mandi, membuat Susanto tertawa terbahak-bahak.
Beberapa menit berlalu, air kran sudah dimatikan, itu tandanya Naya sudah selesai mandi.
"Ke mana perginya Susan? Kok kamar sepi ya. Bagus deh kalo dia nggak ada di kamar, aku bisa dengan leluasa ke luar dan berganti pakaian." Naya bermonolog di dalam kamar mandi.
Pintu sedikit terbuka, Naya menyembulkan kepalanya untuk melihat Susanto. Setelah dirasa aman, dia pun melangkah dengan santai ke kamar.
"Hwaaaa!!" Tiba-tiba Naya berteriak saat Susanto mengejutkannya.
"Hahaha ...," Susanto tertawa sambil memegangi perutnya.
Susanto merebahkan tubuhnya di kasur, menunggu Naya selesai mengenakan pakaiannya.
"Susan," sebut Naya.
__ADS_1
"Hemmm," Susan hanya mendehem saja dengan mata terpejam.
"Emang harus ya tidur satu kasur?" tanyanya.
Susanto membuka mata lalu menoleh," Emangnya kenapa? Tenang saja, aku nggak punya kudis, kadas, kurap, panu, kutu air, atau penyakit lainnya." Jawab Susanto.
"Bukan itu maksudku, aku cuma takut kamu jadi bulan-bulananku saat tidur," dalih Naya.
"Jangan khawatir. Aku sudah sediain sesuatu agar kamu tidak menendangku," ujar Susanto santai.
Naya merangkak naik ke kasurnya, ragu-ragu dia rebahkan tubuhnya di samping Susanto. Rasa kantuk yang menyerang membuatnta malas melanjutkan perdebatan antara dia dan suaminya.
Susanto mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya. Dia memehamkan mata tanpa berniat mengganggu Naya sedikit pun.
Tubuh yang lelah membuat dengan mudah masuk ke alam mimpi. Dengkuran halus dan nafas yang teratur mulai terdengar dari keduanya.
***
Susanto membuka mata dengan perlahan. Bunyi kran kamar mandi menyeruak masuk ke telinganya.
Naya sudah tidak ada di sampingnya, tempat tidurnya pun sudah rapi.
"Anak sultan bisa bangun subuh juga ternyata," ujar Susanto setelah Naya ke luar dari kamar mandi.
"Anak sultan juga butuh Tuhan, Susan." balas Naya sambil mengosokkan handuk kecil di rambutnya yang basah.
"Duh, pengantin baru! Belum diapa-apain udah mandi keramas aja." goda Susanto.
Naya melemparkan handuk basahnya ke arah Susanto, wajahnya sudah memerah, bukan marah tapi malu lebih tepatnya.
"Cepetan mandi, nanti waktu shalat subuhnya keburu habis!" titah Naya sambil memasang wajah cemberutnya.
Susanto turun dari kasurnya, masuk ke kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian, Susanto mendekati Naya yang sedari tadi menunggunya.
Untuk sepersekian detik Naya terpukau melihat penampilan Susanto yang berbeda. Dengan balutan baju koko berwarna navy dipadukan dengan sarung warna senada, Susanto semakin terlihat tampan dan terkesan dewasa. Wajahnya teduh dan bersih bersinar cerah bagai bulan purnama.
"Jadi shalat nggak nih? Atau mau terus menatapku sampe air liurmu membanjiri lantai bawah!" Naya kikuk dan refleks mengelap mulutnya, saat menyadari tidak ada air liur yang menetes, bendera perang pun dikibarkan. Untung Susanto segera mengajaknya untuk shalat, kalau tidak pasti perang besar tidak bisa dielakkan.
Selesai shalat Naya pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, Susanto memilih merapikan halaman belakang. Menyapu dedaunan yang gugur dan berserakan di pekarangan belakang rumahnya.
__ADS_1
Pagi ini terasa berbeda, biasanya Susanto sarapan nasi uduk yang dia beli di warung. Hari ini sepiring nasi goreng telah terhidang di hadapannya, menu sarapan yang dimasak oleh istri tercinta.
Begitu juga dengan Naya, waktu pagi yang biasa dia pakai untuk bermalas-malasan kini berganti dengan kegiatan rumah. Walau tidak semua pekerjaan rumah dia kerjakan, karena saat dia selesai memasak, Susanto juga baru selesai membersihkan rumah.