
Naya duduk di kursi plastik berukuran kecil,kedua tangannya dilipat di depan dada.Di hadapannya Rey sudah duduk dengan wajah memelas mohon pengampunan dari putri kecilnya yang sok besar itu.
Mommy,Rani,Winara dan Mbak Romlah menahan senyum geli melihat tingkah dua orang di depannya.Naya sudah seperti orang yang akan menghukum berat Rey dan Rey jadi orang yang paling lemah dan tidak berdaya dibuatnya.Rey duduk bersimpuh di depan Naya sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Ampuni Papi,sayang.Papi gak akan melakukannya lagi.Papi janji" ucap Rey dengan nada memelas.
"Gak mau,Papi jahat.Papi peluk-peluk orang" kata Naya dengan angkuh.
"Oh mati sajalah Papi kalo begini,hidup pun sudah tidak ada gunanya lagi" ujar Rey pasrah lalu berbaring di bawah Naya.
Naya turun dari kursi kecilnya lalu naik ke perut Rey,"Papi jangan mati,kalo Papi mati siapa yang cari uang untuk beli tempenya Cimot" kata Naya.
"Astaga,kenapa harus tempenya Cimot sih" kata Rey yang langsung menarik tubuh Naya ke dalam pelukannya.
Tap...tap...tap...
Suara langkah memasuki rumah,
"Rey,bisa ikut Daddy sebentar?" tanya Daddy dengan suara tegas.
Naya menoleh ke arah Daddy lalu menatap Daddy dengan tatapan tajam.
"Oh astaga,apa dia ingin memakanku saat ini" gumam Daddy lirih.
"Dia sedang marah pada Rey gara-gara berita di tivi tadi" Mommy menimpali.
Naya beranjak dari tubuh Rey lalu menghampiri Daddy dan bergelayut manja di tangannya,"Kakek,cubit Papi.Papi nakal" pinta Naya.
Daddy berjongkok di depan Naya,lalu membelai rambut cucunya itu dengan lembut,"Nanti Kakek akan cubit empedunya,biar dia kesakitan" ujar Daddy.
Naya mengerutkan keningnya karena tidak mengerti maksud yang dikatakan oleh Kakeknya.Malas menunggu,Daddy pun langsung berpura-pura menyeret Rey dan membawanya ke ruang kerja.Rey berpura-pura mengaduh kesakitan.Naya bersorak gembira sambil bertepuk tangan melihat Kakeknya menyeret Papinya.
"Cubit Kakek,supaya Papi tidak nakal lagi" teriak Naya sembari melompat-lompat bahagia.
Daddy dan Rey duduk di sofa yang ada di ruang kerja Daddy.
"Apa Daddy sudah menemukan siapa dalangnya?" tanya Rey.
"Belum,pihak tivi tidak mau membocorkan informasi tentang siapa yang memberinya foto-foto itu" jawab Daddy.
"Kita harus pakai cara lain" kata Rey.
"Om Edo sudah melakukannya dan sebentar lagi kita akan bersenang-senang"tutur Daddy sambil menyeringai.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Kina,dia di sini sebagai korban atau malah sebaliknya.Dia ikut bergabung dengan komplotan itu?" tanya Rey.
"Dia bagian dari mereka" jawab Daddy.
Rey pun menyeringai,entah rencana apa yang ada di isi kepalanya.
Tok tok tok
Pintu di gedor dari arah luar,"Kakek apa Papi sudah Kakek cubit?"teriak Naya dari luar.
Daddy dan Rey saling bertukar pandang kemudian tertawa bersama.Mereka merasa lucu dengan tingkah Naya.Rey berjalan ke arah pintu lalu membukanya,Naya sedang berdiri sambil meminum susu dari botolnya.Tangan yang lainnya sedang memegang tangan boneka dengan tubuh boneka terdampar di lantai.Sepertinya Naya menyeret boneka itu hingga ke depan Pintu.
Rey berjongkok di hadapan Naya,"Sungguh tega Adek meminta Kakek untuk menyiksa Papi" kata Rey dengan wajah sedih.
*
*
Di markas,Andre dan Thomas sudah berdiri dengan gagahnya.Di hadapannya sudah ada dua orang yang berani mengusik keluarga Alberto.Mereka duduk di kursi kayu dengan posisi tubuh yang terikat.
Penerangan di dalam ruangan itu sangat minim,sehingga menambah suasana horor dan mencekam.
"Andre...Thomas" sapa Seseorang.
Pak Harun yang sudah berusia lanjut itu tidak lagi bekerja sebagai supir lagi,kini dia lebih santai dan akan bekerja jika benar-benar di butuhkan.
"Apa kesalahan mereka?" tanya Pak Harun.
Andre pun menceritakan secara rinci soal berita yang tayang tadi siang,juga menjelaskan siapa mereka.Andre juga tidak lupa memberi tahu Pak Harun kalau stasiun tivi tidak mau membocorkan siapa yang sudah memberi mereka informasi dan foto-foto yang mereka tayangkan.Pak Harun manggut-manggut sambil mengusap dagunya.
"Stasiun tivi biar jadi urusan Bapak" ujar Pak Harun.
"Lepaskan,kalian akan kena batunya nanti.Lihat saja" ancam Kina sambil memberontak.
Andre menatap Kina dengan tatapan tajam dan penuh kebencian.
"Andre,tolong lepaskan aku.Aku dijebak oleh mereka" Kina memelas.
Andre berdiri tegak dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celananya.Lalu,dia mencondongkan tubuhnya ke depan,wajahnya bertepatan dengan wajah Kina.
"Dijebak?" tanya Andre."Bukankah ini rencanamu juga Ayahmu.Kamu pikir aku bodoh dan tidak tau apa rencana kalian.Apa kamu pikir Rey akan mencintaimu setelah apa yang kamu lakukan,dan apa kamu pikir Rani akan terhasut oleh berita murahan tersebut?" cecar Andre,lalu dia menyeringai.
"Kamu salah besar Nona,sangat salah besar" Andre menjawab sendiri pertanyaannya lalu tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Pindahkan dia keruangan lain,besok pagi bos kita akan datang kemari" perintah Andre pada beberapa orang yang berjaga.
Andre dan Thomas pun keluar dari markas lalu naik ke helikopter.Mereka kemudian pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke kota.
"Turun di rumahmu saja Ndre,karena rumah kita tidaklah jauh jaraknya,besok pagi barulah kita ke rumah Daddy" kata Thomas.
Andre mendaratkan helikopter di halaman belakang rumahnya,lalu mereka pun turun.Thomas bergegas karena harus cepat-cepat pulang,Alana pasti resah menunggunya di rumah.
Andre masuk ke dalam rumahnya yang begitu sunyi,semua penghuni sudah tidur.Jam menunjukkan pukul satu dini hari.Andre melangkahkan kakinya menuju ke kamar,ternyata Ema belum tidur atau mungkin baru saja terbangun karena mendengar suara bising helikopter tadi.
"Baru pulang?" tanya Ema.
"Iya" jawab Andre.
Andre masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya,setelah lebih dari dua belas jam dia tidak mandi.
"Tantri rewel gak,sayang?" tanya Andre sambil naik ke atas kasur.
"Tidak.Kenapa sih setiap pulang selalu pertanyaan itu yang kamu pertanyakan?"tanya Ema.
"Aku takut dia rewel dan itu membuatmu repot"jawab Andre.
"Aku ibunya sayang,serewel apapun dia aku bisa menenangkan dia.Jangankan Tantri,bapak Tantri rewel saja aku bisa menenangkannya dengan baik" goda Ema.
"Bisa aja kamu sayang,tapi bener juga sih...hehe" kata Andre sambil nyengir.
Andre memandang wajah Ema dengan penuh cinta,"Besok pagi-pagi sekali aku harus pergi lagi dan tidak tau pulang cepat atau lambat"tutur Andre.
"Apa masalahnya belum selesai?" tanya Ema.
Andre mengangguk lalu meletakkan kepalanya di pangkuan Ema,"Mereka orang-orang yang nekat,untungnya Rani tidak terhasut oleh berita itu" jawab Andre.
"Jika suatu hubungan dilandasi saling jujur dan percaya,pasti akan kuat dan tidak mudah tergoyahkan"tutur Ema.
"Apa jika berita itu menimpa kita,apa kamu akan percaya dengan apa yang aku katakan.Seperti Rani yang percaya sepenuhnya kepada Rey?"tanya Andre.
"Tergantung" jawab Ema.
"Tergantung apa?" tanya Andre.
"Tergantung uang belanja yang kamu berikan padaku,berkurang atau bertambah" seloroh Ema sambil mengedipkan satu matanya ke arah Andre.
"Kamu menggodaku sayang" ucap Andre yang langsung bangkit dan menerkam tubuh Ema dengan ganas.
__ADS_1