
Panas terik matahari siang ini, membuat siapa saja malas beraktivitas di luar rumah. Tapi, tidak bagi sebagian orang yang harus mengais rezeki agar bisa menghasillan uang hanya sekedar untuk mengganjal perut.
Begitu juga Susanto, meski sudah menjadi menantu orang terpandang dan kaya, tidak membuat dia malas. Dia tetap bekerja seperti biasa, menjaga kendaraan yang ada di parkiran mall.
"Huh!" Susanto mengelap peluh yang membasahi wajahnya. Dia duduk di kursi yang ada di pos satpam, matanya lurus ke depan ke arah motor-motor dan mobil yang berjejer rapi.
"Susan!" Seru Naya tidak jauh dari pos satpam tempat Susanto beristirahat.
Naya menghampiri suaminya dan meletakkan bungkusan yang dia bawa.
"Ini aku bawain kamu makanan," ujar Naya.
"Letakkan saja di situ, aku akan memakannya nanti setelah shalat." balas Susanto.
Naya duduk dan melihat kesekeliling mall yang sudah dipadati pengunjung, mereka hilir mudik ke luar masuk gedung mall tersebut.
"Susanto! Kamu Susanto 'kan?" tanya seorang gadis entah datang dari mana, lancangnya dia langsung mencium pipi kiri dan kanan Susanto.
"Aku mencarimu ke rumah, tapi kata tetangga kamu sudah tidak tinggal lagi di sana," sambung gadis itu dengan wajah sumringah sambil sesekali melirik ke arah Naya.
"Kamu siapa?" pertanyaan Susanto untuk gadis itu sontak membuat rasa cemburu Naya ambyar, malah berganti dengan tawa yang keras.
"Hahaha ... Kasihan amat ya, udah sok-sok manis, sok ramah, dan sok akrab, eh suamiku nggak kenal sama kamu!" Cetus Naya sambil terus tertawa, namun tawanya mendadak berhenti kemudian menatap Susanto tajam.
"Temui aku di rumah papi!" titah Naya dengan suara dan raut wajah yang datar. Bukan hanya gadis itu yang merinding, bahkan Susanto pun ketakutan melihat perubahan dalam diri Naya yang terkesan tiba-tiba.
"Sayang, mau ke mana?" Susanto mengejar Naya yang berjalan ke arah parkiran.
"Santo, tunggu!" teriak gadis tadi.
"Kalian lanjut saja acara reuni kalian," ujar Naya kemudian masuk ke dalam mobil sportnya, Susanto dan gadis tadi menganga melihat mobil yang dikemudikan oleh Naya.
"Kamu siapa sih? Asal sosor aja! Udah nggak laku sampe harus mencium suami orang!" dengus Susanto, dia terlihat sangat kesal.
"Ya ampun! Kamu lupa ya? Aku Vira temen SMA kamu, masa kamu lupa? Bahkan kita sempet deket dan hampir jadian loh," terang Vira.
"Terserahlah! Mau Vira kek, Mau Vero kek, aku nggak peduli." Susanto kembali ke pos satpam, menyerahkan karcis parkir ke satpam tersebut.
"Mau ke mana, Mas?" tanya Satpam, dia tahu jika Susanto adalah cucu menantu dari pemilik mall.
__ADS_1
"Mau pulang, mau ngademin bini, bang." jawab Susanto.
Susanto mengendarai motornya, meninggalkan Vira yang sedang menggerutu kesal karena Susanto cuek dan sama sekali tidak mengenalinya.
"Lihat saja, aku akan merebutmu dari perempuan kampungan yang sok kaya itu. Aku yakin istri Susanto supir dari pemilik mobil tadi. Nggak mungkinkan orang kaya, punya mobil sport keluaran terbaru, tapi penampilan kayak preman gitu. Pengen terlihat kaya kok pinjem mobil orang, dasar tidak tahu malu. Kasihan Susanto, pasti hidupnya tertekan karena sikap istrinya," monolog Vira.
***
Susanto sampai ke rumahnya, dia tahu Naya tidak mungkin pergi ke rumah Rey. Mobil yang tadi dipakai oleh Naya sudah terparkir di depan rumah.
Susanto masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam terlebih dulu, dia buru-buru naik ke lantai dua sambil memanggil nama istrinya.
"Hei! Susan! Aku di dapur." seru Naya.
Susanto menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah suara, Naya sedang berdiri sambil mengunyah sesuatu di mulutnya.
"Cieee, yang habis ketemu mantan. Bahagianya," ledek Naya.
Pletak!! Susanto menyentil kening Naya.
"Kenapa pergi? Harusnya kamu tetap berada di sampingku," Susanto terlihat geram.
Pefttt, Susanto menahan tawa mendengar pertanyaan Naya.
Pletak!! Lagi-lagi Susanto menyentil kening Naya.
"Susan! Suka banget sih nyentil kening aku, sakit tauk." protes Naya sambil mengusapi keningnya.
"Kalo ngomong asal aja, mana mungkin aku pacaran sama dia. Cewek ondel-ondel begitu nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan istriku ini," cetus Susanto.
"Aku bukan bahan perbandingan!" tegas Naya.
"Aku tahu," ujar Susanto yang langsung memeluk Naya.
Naya memberontak sambil tertawa saat Susanto memeluknya dan mengarahkan wajah Naya ke ketiaknya.
"Susaaaaan! bauk!" teriak Naya dan Susanto pun tertawa puas.
Naya mengatur nafasnya yang tersengal, kemudian membalas perbuatan Susanto tadi. Naya menyentil kening Susanto berkali-kali.
__ADS_1
"Aku hampir mati, kamu malah tertawa." oceh Naya.
"Mati karena apa? Bukankah pelukanku itu enak?" tanya Susanto.
"Enak dari mananya? Bauk embek gitu!" jawab Naya sengit.
"Bauk embek tapi suka 'kan? Nyatanya kalo tidur malam ketek aku yang kamu cari," goda Susanto.
"Eh nggak ya, aku nggak sudi cium ketekmu." Elak Naya sambil berlari ke arah kamar.
"Dasar Tempe, nggak mau mengaku." Susanto menyusul Naya ke kamar, dia ingat bahwa belum shalat dzuhur.
Selesai shalat Susanto dan Naya makan siang bersama, nasi yang tadi dibawa Naya ke parkiran sudah Susanto berikan pada satpam.
"Emang yang tadi itu, siapa?" tanya Naya disela-sela makannya.
"Aku juga nggak tahu, aku lupa," jawab Susanto.
"Coba diingat-ingat dulu, siapa tahu aja memang kamu pernah mengenalnya dulu." Kata Naya.
Susanto nampak berpikir hingga nampak kerutan di keningnya.
"Cieee, mikir keras. Cieee," ledek Naya.
"Dia bilang namanya Vira, temen SMA aku dan kami pernah dekat, begitu menurut penuturannya. Tapi, Vira yang aku kenal dulu itu, lugu dan kutu buku. Penampilannya berbanding balik dengan yang tadi. Dia dulu itu terkesan culun dan kucel banget," ungkap Susanto.
"Bisa jadi setelah lulus sekolah dia bekerja dan punya uang banyak, trus dia merubah penampilannya." Perkataan Naya ada benarnya, tapi bukan itu yang merubah penampilan seorang Vira.
"Begitu lulus, Vira dijodohkan oleh orang tuanya dengan pengusaha kaya, dia dijadikan istri kedua. Mungkin karena uang suaminya banyak hingga dia bisa seperti sekarang," tutur Susanto.
"Emangnya kenapa sih, kok kamu malah mengajakku membahas soal dia?" tanya Susanto.
"Aku menangkap gelagat tidak baik darinya, sepertinya dia bukan wanita baik-baik." jawab Naya.
Susanto tidak menyanggah jawaban Naya, karena jika dilihat dari penampilannya, Vira memang gadis yang seperti itu.
Penampilan seksi dan pakaian kurang bahan, sehingga membentuk setiap lekuk tubuhnya. Tiba-tiba datang dan mencium Susanto, itu sudah menunjukkan bahwa dia bukan cewek baik-baik.
"Sepertinya kita harus hati-hati, karena aku takut ada orang-orang yang memanfaatkan pernikahan kita untuk membuat masalah. Mungkin tujuan mereka bukan kita, tapi bisa jadi papi atau kakek." Naya mengangguk mendengar perkataan Susanto. Karena sebelumnya Rey dan Elang sudah memberi Naya dan Susanto peringatan agar mereka lebih berhati-hati.
__ADS_1