
Rey merasakan hawa panas pada tubuhnya,Rey membuka matanya lalu menyentuh kening Rani.
"Astaga kamu demam sayang" kata Rey.
Rey turun dari kasurnya lalu mengambil baju dalam lemari kemudian memakainya.
"Aku harus membawanya ke Dokter" gumam Rey.
Rey masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka,kemudian dia berlari keluar dari kamarnya untuk menyiapkan mobil.Setelah itu Rey kembali berlari ke kamarnya.
"Ayo sayang kita ke rumah sakit" ajak Rey sambil menggendong tubuh Rani dan membawanya ke mobil.
Rey meletakkan Rani di bangku belakang,setelah itu Rey masuk ke mobil dan langsung mengemudikan mobilnya ke arah rumah sakit.
Saat di dalam perjalanan,Rey menghubungi Dokter yang biasa menangani Rani dan meminta Dokter untuk bersiap di depan rumah sakit.
"Kenapa Rani bisa tiba-tiba demam? apa karena dia terlalu stres memikirkan operasi yang akan dijalaninya minggu depan" Rey bermonolog.
Mereka sudah sampai di Rumah Sakit,Rey memarkirkan mobilnya.Dokter dan beberapa perawat sudah menunggu Rani di depan rumah sakit sesuai permintaan Rey.
"Bantu Tuan Rey memindahkan Rani ke brankar" perintah Dokter pada beberapa oran perawat.
Setelah Rani terbaring sempurna di brankar,para perawat itu langsung membawa Rani.
"Tuan tunggu di sini,saya akan periksa keadaan Rani" kata Dokter.
Rey mengangguk.
Rey mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Daddynya dan mengatakan kalo Rani demam dan Rey membawa Rani ke Rumah Sakit.
"Rey,bagaimana keadaan Rani?" tanya Daddy yang datang bersama Mommy.
"Rey juga tidak tahu Dad,Dokter masih memeriksanya" jawab Rey lesu.
Mommy duduk di samping Rey lalu mengusap punggung Rey dengan lembut."Berdoa,semoga Rani baik-baik saja" kata Mommy.
"Tadi malam dia mengutarakan ke khawatirannya pada Rey Mom,dia takut ada masalah pada kehamilannya" ujar Rey.
Rey menceritakan tentang percakapannya semalam dengan Rani dan tentang kegelisahan Rani tentang operasi yang akan dilakukannya.
"Mommy juga melakukan operasi sesar saat kandungan Mommy berusia tujuh bulan Rey" tutur Mommy.
"Ada masalah apa waktu itu Mom?" tanya Rey.
"Mommy hamil kembar dan berat kedua adikmu melebihi batas normal.Di tambah lagi saat itu usia Mommy di bawah dua puluh tahun" jawab Mommy.
"Rey tadi malam menghubungi Dokter dan bertanya soal masalah Rani.Dokter bilang Dokter terpaksa melakukan itu karena kanker yang kembali tumbuh di rahim Rani" tutur Rey lirih.
Daddy dan Mommy terkejut mendengar itu.
"Apa Rani tidak pernah memberi tahumu soal ini Rey?" tanya Daddy.
Rey menggelengkan kepalanya,"Tidak Dad,dia bahkan tidak pernah mengeluh sedikit pun.Dia selalu tersenyum dan ceria" jawab Rey.
"Bagaimana hasil terakhir dia chek up?" tanya Mommy.
Rey menunduk,"Rey tidak pernah mengantarkannya chek up Mom,setiap Rey menawarkan diri untuk mengantarnya Rani selalu menolak.Dia lebih suka pergi dengan Ema" jawab Rey.
Daddy menghela nafas kasarnya,lalu menatap Rey dengan tajam.
"Apa kamu begitu bodoh,memaksa seorang Rani saja tidak bisa"kata Daddy dengan nada penuh emosi.
"Rey pikir dengan Rey memberinya kebebasan Rey bisa membuatnya bahagia Dad dan yang Rey lihat Rani memang bahagia.Setiap pulang dari chek up dia selalu mampir ke kantor dan menceritakan hasil chek upnya.Dia selalu bercerita dengan riang dan bahagia,senyumnya selalu mengembang menghiasi wajahnya" tutur Rey.
Ceklek
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka,Dokter keluar dari ruangan itu.
"Bisa ikut ke ruangan saya Tuan Rey?" tanya Dokter.
Rey mengangguk.
Rey,Daddy,dan Mommy mengikuti langkah Dokter menuju ke ruangannya.
"Silahkan duduk" kata Dokter.
"Ada apa Dok?" tanya Daddy.
"Apa Rani tidak pernah memberitahu kalian tentang kondisinya saat ini?" tanya Dokter.
"Sebenarnya ada apa ini Dokter?" Daddy balik bertanya.
"Sejak usia kandungan Rani memasuki usia empat bulan,kankernya kembali tumbuh dan lebih ganas dari sebelumnya.Saya menyarankan pada Rani untuk menggugurkan kandungannya karena jika di pertahankan itu sangat membahayakan untuk Rani juga bayinya.Tapi Rani menolak dan tetap kekeh mempertahankan kandungannya.Saya sudah meminta Rani untuk mengajak Rey kemari,tapi Rani bilang Rey sibuk dan Rey sudah tahu kondisinya" tutur Dokter.
"Jadi bagaimana kondisi Rani sekarang?" tanya Rey.
Dokter menghela nafasnya lalu memandang Rey dengan tajam.
"Kamu harus memilih.Ibu atau bayinya" jawab Dokter.
DUARRR!!!
Tubuh Rey lemas mendengar itu.
"Kamu sudah dewasa,Daddy yakin kamu bisa mengambil keputusan yang tepat" ujar Daddy.
"Kamu harus tabah Rey,kamu harus kuat" kata Mommy.
Ceklek
Pintu terbuka tanpa di ketuk terlebih dahulu.Perawat masuk dengan wajah panik.
"Maaf Dokter,pasien mengalami kejang" tutur Perawat itu.
Dokter beranjak dan langsung berlari menuju ruangan Rani tanpa menghiraukan Daddy,Mommy dan Rey.
"Dad" ucap Rey lirih.
Daddy merangkul pundak putranya itu,"Percayalah semua akan baik-baik saja" hibur Daddy.
Mommy mondar-mandir di depan ruangan.
"Lang" kata Opa sambil berlari menghampiri Daddy,Mommy dan Rere.
"Papa" kata Daddy.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada Rani?" tanya Opa.
Daddy pun menceritakan apa yang diketahuinya pada Opa.Opa mendengarkan dengan serius,setelah itu Opa memeluk Rey.
"Jangan lemah,kamu harus kuat.Kekuatanmu adalah semangat untuk Rani" kata Opa.
"Terima kasih Opa" ucap Rey.
Dokter keluar dari ruangan itu.
"Kita tidak punya waktu lagi.Kalian harus menentukan siapa yang harus di selamatkan.Ibu atau bayinya" tutur Dokter.
Perawat mendorong brankar Rani lalu berhenti karena Opa menyuruhnya berhenti.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Opa sambil membelai rambut cucu menantunya itu.
"Ibunya kritis dan bayinya juga sudah sangat lemah" jawab Dokter.
"SELAMATKAN IBUNYA" pinta Rey,bulir bening mulai jatuh membasahi pipinya tatkala melihat Rani terbaring lemah di brankarnya dengan alat yang sudah terpasang di tubuhnya.
"Rey" kata Mommy dan Daddy bersamaan.
Semua terkejut mendengar permintaan Rey.
"Seribu anak bisa aku dapatkan,bahkan seluruh anak di dunia ini bisa aku beli.Tapi,Rani tidak akan pernah tergantikan" tutur Rey.
"Cepat bawa ke ruang operasi" perintah Dokter.
Daddy memapah tubuh Rey yang hampir ambruk ke arah ruang operasi.Lampu ruangan operasi telah di hidupkan.
Tap tap tap
Bunyi derap langkah menghampiri Keluarga Alberto.
"Rey" panggil Ema.
Rey menoleh ke sumber suara.
"Kenapa kamu tidak memberi tahuku soal Rani?" tanya Rey.Pipinya sudah basah oleh air mata.
"Maafkan aku Rey,Rani yang meminta agar aku merahasiakannya.Jika aku memberi tahumu Rani mengancamku,dia akan pergi meninggalkan kita semua" jawab Ema.
"Rey,kita berdoa saja semoga semua baik-baik saja.Sekarang bukan waktunya untuk saling menyalahkan" kata Opa.
Andre mendekati Rey lalu mengusap punggung Rey untuk memberi kekuatan.
"Atas nama Ema,aku minta maaf Rey" ucap Andre.
Rey tersenyum,"Aku yang salah Ndre,aku tidak memperhatikannya" kata Rey.
Andre menepuk bahu sahabatnya itu dengan lembut.
__ADS_1
Rey menunduk lalu memejamkan matanya,"Mami tolong sampaikan pada Tuhan,tolong jangan ambil Raniku,seperti Tuhan yang telah mengambil Mami dariku" gumam Rey dalam hati.