
dua minggu berlalu Rahman kecil terus memperhatikan keadaan yang dialami oleh eh arius kecil dan mentari, Rahman merasa peduli kepada arnius, entah darimana rasa peduli ini, namun rasa ini telah sukses untuk mendorong Rahman melakukan hal-hal yang tidak biasanya dilakukan olehnya. saat sore tiba, Rahman menampakan dirinya di depan arnius dan mentari.
"Kaka," ucap mentari dengan gemetar karena iya takut melihat Rahman, karena seingatnya terakhir kali bertemu dengan Rahman arnius membawa mentari pergi berlari menjauh dari Rahmat, seperti akan terjadi sesuatu yang buruk jika ia berdekatan dengan Rahman.
"hei jangan takut, aku nggak akan ngapa-ngapain kamu kok aku cuma ingin kita berteman, boleh ya," ucap Rahman dengan ramah tamah, serta menjulurkan tangannya untuk mengajak arnius dan mentari bersalaman, arnius takut-takut berani untuk menyalami tangan Rachman kecil, namun berbeda dengan mentari ia langsung murai tangan Rahman dengan senyuman lebar.
mungkin awalnya aku takut, Bahkan aku sangat ingin untuk menjauhinya, tetapi entah mengapa aku merasa memiliki rasa aman nyaman dan terlindungi, jika berada di dekat anak lelaki ini, ku harap kamu tidak akan mengecewakan ke percayaanku dan kakakku kedepannya. ucap mentari dalam hatinya.
"adek," arnius langsung memegang tangan mentari yang sedang menyalami tangan Rahman, arnius merasa tidak suka dengan kedekatan mentari bersama dengan rahman.
"maaf sesungguhnya aku juga tidak suka berteman," ucap Rahman dengan gaya dinginnya.
"hmmh," rumahmentari dengan terheran-heran karena ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan.
"iya kalian adalah orang pertama yang aku perduli kan, kalian menyentuh hatiku, serta kasih sayang yang kalian lakukan waktu itu aku suka semua itu, aku fikir kehidupan di dunia itu sangatlah mudah jika bukan karena aku melihat kalian maka aku juga tidak akan bisa mempelajari bagaimana kepahitan dunia yang sesungguhnya." ucap Rahman dengan senyuman untuk meyakinkan arnius dan mentari.
__ADS_1
"mentari percaya kok sama dia kak," ucap mentari memberikan senyuman yang lebar kepada Rahman.
" ??," Arnius tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh mentari.
"sungguh kak perasaan Ku berkata bahwa orang ini adalah orang yang baik, jadi nggak ada salahnya kan kalau kita berteman dengan dia, " ucap mentari dengan mengayunkan kedua tangannya dan juga sebelah tangan di samping lengan arnius.
"tetapi kita harus mengamen kan de, kalau nggak nanti bapak marah, menari nggak mau kan kalau sampai dipukul sama bapak?," ucap arnius yang sedang memikirkan apa yang akan terjadi jika ia tidak mematuhi perkataan bapak angkat, sebenarnya artinya sendiri tidak takut untuk terkena pukulan namun yang ia khawatirkan adalah jika mentari sendirilah yang terkena imbasnya akibat dirinya.
"tenang saja kan ada aku," ucapkanlah man dengan membuka kedua tangannya lebar-lebar seperti seseorang ingin menyombongkan diri nya.
"jika masalah mengambil berapa sih yang kalian dapatkan sehari aku bisa memberikannya untuk kalian, asalkan kalian berdua ikut bersama denganku.
"kamu tidak akan macam-macam kan?," tanya arnius dengan mengintrogasi.
"hahaha tentu saja tidak aku hanya ingin mengajak kalian bermain berkeliling tempat bersamaku dan makan bersamaku hanya itu saja aku tidak akan mengambil keuntungan dari kalian karena perasaan bahagia kalian adalah sebuah keuntungan untukku," ucap Rahman dengan tulus.
__ADS_1
"Dani ya jangan sampai salah, ini semua aku yang lakukan loh aku ingin membagikan makanan untuk kalian, apakah kalian suka?,''ucap Rahman dengan gembira dan membuka tangannya lebar-lebar, pada akhirnya arniius pun percaya, iya pergi bersama dengan Rahman, karena ketulusan Rahman yang telah ia lihat.
"tetapi kita nggak boleh sampai ketahuan sama bapak angkat kita, aku takut," ucap mentari kepada Rahman, dan rahman pun mengacungkan jempolnya, dan tersenyum menandakan semua akan baik-baik saja.
.....
"woah di mana ini?," mentari terkejut karena melihat tempat yang begitu mewah dan bersih.
"kita tidak akan melakukan semuanya dalam 1 hari, tapi kita akan melakukan secara bertahap, oke!," ucap Rahman menghibur matahari dan mentari pun begitu senang iya juga membalas Rahman dengan senyuman yang lebar, dan tanpa disadari ternyata arnius bisa tertawa karena ia melihat matahari berbahagia.
bersambung....
hai semuanya! disini autor, maaf ya kalau ceritanya terlalu pendek bahkan nggak sampai mendapat klimaksnya, (klimaks episedoe) itu karena kesibukanku dalam bekerja yang membuat aku merasa sedikit kelelahan 😫, sebenarnya agak sedikit sih Ya lumayan lah ðŸ¤ðŸ˜‚, lumayan lelah karena harus bekerja juga harus sekolah online, mohon dukungannya yang semua! jangan lupa like vote dan comment.
bye bye, see you next episode ðŸ¤
__ADS_1