
Terjadi keheningan beberapa saat diantara Alfie dan Riska. Riska meraba pipi dan juga hidungnya yang telah bersentuhan dengan wajah Alfie lalu ia melihat Alfie, dengan penuh penasaran meskipun sebenarnya Riska sangat gugup Namun sebagai seorang sahabat ia mencoba untuk mengerti dan tidak ingin mengambil pusing serta tidak ingin memperpanjang masalah sehingga Riska pun hanya menganggap santai masalah tersebut dan membuatnya merasa bahwa itu hanya wajar dilakukan sebagai teman.
"wah Kaka pakai parfum apa?, wangi banget, Riska suka, itu baunya sampai ke wajah ya? keren," Riska memuji Alfie dan mengendus ngendus pakaian Alfie dan Riska membuat dirinya secaria mungkin agar tidak ada kecanggungan yang akan terjadi antara dirinya dan juga Alfi sehingga dia masih tetap bisa bercanda satu sama lain. Alfie yang mendapati reaksi Riska seperti itu langsung terkejut, karena ia pikir lepas kendalinya akan membuat Riska marah dan awalnya ia memang takut kalau Riska akan sangat benar-benar memarahinya dan akan mulai menjauhinya, namun Alfi sangat senang karena Riska tidak mengambil pusing masalah itu masalah itu dan membuat semuanya menjadi seperti biasa tanpa ada kecanggungan tersedikit pun di antara mereka.
"haha kamu suka?, tapi ini ngak cocok sama cewek ini cowok yang punya aroma, kalau kamu mau aku bisa memesankan kamu parfum terbaik dan terbaru di seluruh dunia bahkan yang and limited hanya untuk dirimu saja, aku bisa memesankan apapun yang kamu mau selagi kamu bahagia dan kamu akan tetap menjadi Riska yang aku kenal bukan Riska yang berubah seenaknya saja," Alfie mengelus kepala Riska dengan penuh senyuman dan kasih sayang karena sebenarnya Alfie telah memendam rasa cinta yang begitu dalam kepada Riska dari bertahun-tahun lamanya Dani tidak pernah berpaling sedikitpun dari Riska meskipun berbagai macam rupa wanita di luar negeri yang berusaha untuk menggoda Alfi bahkan dengan berbagai macam pakaian dan tarian yang sedang trending, dan dengan pakaian seksi nya mereka menggoda Namun bukan hal itulah yang diinginkan oleh Alfi dengan semakin mereka memudahkan dirinya untuk mendekati Alfi, semakin membuat Alfi juga gampang untuk menjauhi mereka karena baginya wanita yang paling spesial adalah Riska, karena tidak sembarang lelaki yang bisa menyentuhnya karena dia sendiripun tidak mengenal apa itu cinta karena pada hakekatnya tombol yang melekat pada dirinya adalah benar-benar tomboy meskipun dia juga adalah wanita normal yang masih menyukai lelaki atau lawan jenisnya.
.....
setelah beberapa saat Riska pun memutuskan untuk pulang karena dirasa bahwa hari sudah mulai larut, dan ia takut bahwa nanti orang tuanya mengkhawatirkan karena mereka tidak ada di rumah seharian, dan Riska juga tadi belum sempat memberitahukan kepada kedua orang tuanya kemana Riska pergi hari ini, memang benar jika kedua orang tuanya mengetahui Riska pergi untuk bertemu dengan Alfie maka tidak akan ada yang marah, karena Alfi sudah kenal baik dengan kedua orang tua Riska begitu pula dengan kedua orang tua Alfi Yang sudah saling mengenal dengan keluarga Riska, dan mereka sudah sangat akrab bagaikan keluarga kandung sendiri.
dan Kini Riska telah sampai di rumahnya, ia bukan tidak mempersilahkan Alfi untuk masuk ke dalam rumah, Namun karena hari yang sudah begitu larut dan Alvi yang sudah sangat kelelahan sehingga Riska pun menyarankan agar Alfie untuk langsung pulang dan beristirahat agar tidak kelelahan terlebih lagi Alfie masih harus berkemas di rumahnya, dan Masih Ada beberapa barang yang belum ia bereskan, Riska pun turun dari taksi dan akan memasuki rumahnya namun sebelum itu ia menyempatkan diri untuk melambaikan tangan pada Alfie yang pergi setelah mengantarnya pulang menggunakan Taksi, hingga bayangan taksi itu hilang bagaikan berupa setitik tinta di matanya.
setelah diyakininya Alfi telah pergi menjauh dari rumahnya atau dengan kata lain alvita lah pulang dan telah menghilang dari pandangan Riska dengan taksi yang sedang dikendarainya atau ditumpanginya, Riska berbalik badan.
dan Riska bergegas untuk masuk kerumah, lalu langsung menutup pintunya, setelah didalam ia seketika terdiam dengan sembari memegang dadanya merasakan detak jantungnya yang sudah tidak karuan dan merasakan suhu tubuhnya yang menjadi panas saat itu, karena ia sudah menahan berjam-jam lamanya suhu tubuh dan detak jantungnya itu karena perilaku Alfi yang tiba-tiba saja menciumnya, itu sungguh sungguh mengejutkan Riska Riska tidak tahu harus berpikir apa namun ia tetap harus berpikir positif sebagai sahabat Alfi yang akan selalu ada di samping Alfi.
"huh! gua ngak percaya atas apa yang terjadi, apakah itu tadi?," Riska menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya karena tidak bisa dipungkiri bahwa bayang-bayang Alfi selalu ada dan datang pada diri saat mereka sedang bersentuhan wajahnya satu sama lain.
"haish, gua hampir lupa, bahwa dia memang terbiasa melakukan itu, woah gua ini kenapa? sampai berfikir berlebihan, hingga mengira ia suka sama gua sebagai wanita, ngak bener nih otak ke PD an, jangan-jangan ini semua karena gua kelamaan jomblo kali ya seingat gue juga enggak pernah pacaran sama orang bahkan ngerasain jatuh cinta yang bener-bener itu kayak gimana, karena bagi gua yang bisa dipercaya itu cuma ka Alfie doang, dan itu mustahil banget terlebih lagi kalau ka Alfie mau di luar negeri itu banyak banget wanita yang begitu cantik lebih cantik daripada gua, dan lagi berkelas dari gua apa lah gua yang hanya memiliki daya kentang seperti ini" Riska bergumam kesal. dan Ia kini sedang berjalan memasuki ruang Tengah, dan kini telah menemui ibunya yang sedang membuka majalah barang online, sebagai pengembangan bisnis online-nya yang sudah bisa dikatakan sangat maju atau sukses, dan itu sangat membantu untuk keuangan keluarga, karena barang-barang ibunya atau jualan online ibunya termasuk barang-barang yang paling laris dan terkenal di Jakarta dan tidak ada yang meragukannya dan menerima pengiriman dan pemesanan dari daerah ke luar daerah, dan telah melakukan endorse di berbagai Instagram dan itu sangat laris manis dan membantu perkembangan peningkatan penjualan online ibunya, Ya seperti itulah kemampuan selebgram yang meng endorse berbagai macam barang dari berbagai macam sumber, pasti akan banyak yang terpikat terlebih lagi jika barangnya tidak mengecewakan dan memuaskan maka barang itu akan lari seketika terbahagi selebgram yang ribu ribuan banyak orang yang mengikutinya di Instagram.
"sudah pulang nak," tanya ibu Riska yang menemukan Riska baru sampai di rumah karena sedari tadi ibunya Riska tidak melihat Ariska berada di dalam rumahnya, termasuk di dalam kamar yang biasanya menjadi istana bagi Riska untuk melakukan segala kegiatan termasuk melakukan game seperti anak lelaki
"iya Bu," Riska menyalami tangan ibunya, dan duduk disebelah ibunya sampai ikut melihat-lihat isi iPad ibunya yang berisikan barang-barang online, yang akan menjadi usaha ibunya yang akan mulai dicek, tapi tentu saja tidak semudah itu untuk menjadi penjualan online yang sukses karena semuanya dirintis melalui tahap awal atau dari bawah dan butuh perjuangan dan kesabaran yang ekstra untuk mendapatkannya.
"habis kemana tadi sayang?," tanya ibu Riska membelai kepala Riska yang tertidur di pangkuan Ibu Riska dengan penuh kasih sayang dan membuat Riska merasakan begitu nyaman bola yang ibunya itu dan membuatnya merasa mengantuk dan ingin tertidur lelap dan bermimpi indah karena dekapan hangat dari seorang ibu.
"Oh itu bu habis bantuin ka Alfie beres beres barang di apartemen nya," jawab Riska sambil bergumam lirih dengan memejamkan matanya karena ia menikmati setiap sentuhan dari ibunya
"hah? Alfie Dawlay? temen masa kecil kamu?," tanya ibu Riska yang sedikit terkejut karena mereka sudah tidak bertemu dalam waktu yang relatif lama sampai bertahun-tahun lamanya.
"iya bu, dia udah pulang Riska aja sampai terkejut tadi," ya Riska yang sudah menduga ibunya pasti akan sama terkejutnya dengan dirinya yang dibuat terkejut oleh Alfi.
"woah terus bagaimana dengan orang tuanya?," tanya ibu Riska dengan antusias karena ibu bapak Riska sangat bersahabat dengan kedua orangtua Alfi dan mereka sudah bagaikan saudara yang saling menyayangi satu sama lain.
"masih di Amerika bu, tapi itu apartemen punya kak Alfie sendiri, orang tuanya ka Alfie punya rumah sendiri masih pake rumah yang lama, cuma lagi di renovasi, kalau udah selesai baru mereka balek indo nyusul ka Alfie, makanya gua tadi itu capek banget bantuan ke Alfi beres-beres dan Riska juga bisa badan Alfie itu beres-beres setengah soalnya barangnya tuh banyak banget, belum lagi besok katanya kak Alfi mau beli beli barang barang perabotan rumah tangga seperti sofa yang lebih dia suka kasur juga katanya dia mau ganti terus sama peralatan dapur biar bisa masak sendiri kalau emang lagi nggak bisa-bisa makanan gitu." jelas Riska yang mendapat penjelasan dari Alfie juga, karena mereka sempat berbincang-bincang sambil membereskan barang-barang Alfi di rumahnya dari.
"hmmh begitu," jawab ibu Riska dengan menganggukkan kepalanya.
....
keesokan harinya saat pagi hari tiba Riska sudah selesai sarapan dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, orang tua Riska juga telah selesai dengan sarapan mereka dan bersiap-siap untuk melakukan kegiatan mereka masing-masing, Ya begitulah saat bapaknya harus pergi ke kantor dan ibunya pergi memeriksa barang online dan Riska pergi sekolah maka rumahnya akan menjadi supi dan saat pulang sekolah Riska pun juga sendirian, tapi jangan diragukan karena Riska termasuk keluarga yang harmonis dengan keluarganya karena Riska selalu dimanja dan diperlakukan lembut dengan penuh kasih sayang oleh kedua orang tuanya.
"assalammualaikum!!," Alfie setengah berteriak di depan rumah Riska, karena Alfi sudah menunggu Riska diri waktu yang sangat pagi untuk menjemput Riska agar bisa pergi ke sekolah dengan Alfi pagi ini.
"waalaikummussalam wah, nak Alfie?," Ibu Riska keluar untuk menyapa Alfie, karena ia sudah menduga bahwa itu afi dari mendengar suara Alfi yang berteriak dari luar
"iya Bu, hehe Riska nya ada?," tanya Alfi yang menghampiri Ibu Riska lalu menyalaminya
__ADS_1
"ada, lagi siap siap berangkat sekolah, kapan pulang?," tanya ibu Riska sambil menepuk pundak Alfi menandakan bahwa ia sudah sangat rindu dengan Alvin
"baru kemarin Bu, oh iya ini ada sedikit buah tangan dari Amerika," Alfie memberikan kantong plastik yang berisikan beberapa pakaian untuk ibu dan bapak Riska.
"wah, terima kasih banyak ya nak ya," Ibu Riska sangat berterima kasih dengan sikap Alfi yang sangat perhatian kepada keluarganya dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah.
"iya Bu sama sama, boleh saya yang mengantar Riska Bu, sekalian saya mu keliling liling," Alfi meminta izin kepada Ibu Riska agar ia diizinkan untuk mengantar Riska ke sekolah
"oh iya boleh, tentu saja," tidak ada penolakan dari ibu Riska ia langsung memberikan izin kepada Alfi
"siapa Bu?," Riska keluar mengenakan pakaian seragam sekolah lengkap nya.
"eh Kaka, ada apa?," imbuh Riska yang menemui Alfie.
"gapapa mau jemput kamu aja," sahat alfia yang sudah mempersilahkan Riska yang termasuk ke dalam mobil baru nya.
Riska menoleh ke arah belakang Alfie dan melihat sebuah mobil baru berwarna merah di belakang Alfie, yang membuat Riska sedikit tersenyum.
"ya udah Riska pamit ya Bu, assalammualaikum," Riska menyalami ibunya begitu juga dengan Alfie yang menyalami tangan ibu Riska.
Mereka pun memasuki mobil dan mulai menelusuri jalan.
"wah kapan beli mobil ka?," tanya Riska yang melihat Alfie sedang fokus menyetir
"kemarin pas pulang anterin kamu,"
"haha emang ya kalau orang kaya mah begitu,"
.....
"memang kenapa? gapapa kan, biar kamunya ngak capek," Riska menutup wajahnya malu karena melihat teman temannya sudah ada disekolah. Yang membuat Riska semakin terkejut adalah Alfie yang turun sendiri untuk membukakan pintu mobil untuk Riska.
"ya udah yang rajin ya belajar nya, semangat istriku," Alfie melambai pada Riska yang semakin menunduk dan mempercepat langkahnya menuju ke dalam kelas.
"wah siapa lelaki tampan yang mengantar Riska? aaa, diam diam dia punya pacar ya haha dasar anak itu, diam diam boleh juga ya," ledek salah satu teman sekelas Riska.
Riska langsung menuju toilet untuk menenangkan dirinya, merapikan penampilan nya, dan mengatur mimik wajahnya agar tidak salah tingkah sehingga ia bisa bebas dari Cemoohan kawan kawan nya.
"ekhem," Zahra ber dehem melihat Riska yang sudah duduk di sebelahnya saat ini.
"apa? kenapa? ngeliat sampe segitunya," Riska mulai salah tingkah dan mengira Zahra mengetahui bahwa ia kesekolah tidak diantarkan bapak nya atau taksi seperti biasa.
"memangnya apa, aku hanya ber dehem saja kok," Zahra menajamkan tatapannya dan mengangkat alisnya, membuat Riska berfikir bahwa Zahra tidak melihat Riska bersama Alfie pagi ini. Riska pun meminum air putih yang ia bawa dari rumah.
"hei, dia ganteng loh, itu cowok kamu ya?, gosip udah menyebar," ledek Zahra yang melihat Riska minum dengan wajah memerah.
"uhuk uhuk!," Riska ter batuk batuk karena tersedak bahkan sampai ia mengeluarkan lagi air yang telah diminumnya.
__ADS_1
Melihat Riska ter batuk hingga seperti itu, Zahra khawatir ia bergegas menepuk pelan pundak Riska.
"haha kenapa? memang ada yang salah?, kalau ngak bener ngak usah sampe begitu juga kan," ledek Zahra lagi.
"woah, ternyata sekolah kita ini hebat sekali ya, bisa membuat media informasi dalam sekejap," Riska mengelap Mulut dan dadanya yang basah terkena air.
"gosip tersebar secepat itu ya?," imbuh Riska sambil mengangkat alisnya bertanya kesal pada Zahra
"haha, memang begitu," jawab Zahra merasa tak bersalah.
"dia itu bukan pacar gua ya, lo ingat ngak orang yang telepon gua di taksi dua bulan yang lalu, yang gua bilang teman masa kecil gua yang sudah seperti Kaka bagi gua?, ingat kan?,"
"mmh tunggu dulu, yang mana ya," Zahra berusaha mengingat ngingat karena ia kurang mengingat orang yang tidak dikenalnya
"heish yang di Amerika itu!,"
"ooh dia,"
"ya, itu dia yang nganterin gua, kalian semua nih ya sotoy main tangkap berita aja, ngak tau salah bener," Riska kesal dengan gosip tentang dirinya begitu cepat menyebar, dan melupakan betapa cepatnya ia menyebarkan gosip orang lain dengan sangat cepat saat dia menerima gosip yang sangat menarik dirinya.
......
"Rahman?," Andrean memanggil Rahman, kali ini Rahman yang menghampiri Andrean untuk menyerahkan berkas berkas dokumen
"iya Ayah?,"
"bagaimana kabar kamu dengan Zahra?,"
"Alhamdulillah baik pa seperti biasa," jawab Rahman dengan senyuman dan kembali memeriksa dokumen yang ada.
"bukan itu, Rahman..,"
"ayah, sudahlah jangan memaksakan, Rahman akan mencoba untuk ikhtiar, sepertinya Zahra menyukai seseorang, biarkan saja itu hatinya tidak bisa dipaksakan, tapi aku tetap akan menjaganya tenang saja ayah. Dan jika memang dia jodoh ku in shaa Allah , Allah punya seribu satu cara terbaik untuk menyatukan kita bahkan lebih," Rahman menundukkan kepalnya mencoba untuk tersenyum, dan mulai kembali lagi fokus pada dokumen yang ada di tangannya.
"oh iya, mungkin belakangan ini ayah butuh bantuan kamu untuk mewakili ayah pergi ke Amerika dan Singapura, dari dokumen ini, tertera kesepakatan kontrak kerja sama kota, yang masih perlu diperpanjang, dan diperbaiki, tapi Ayah merasa lelah jadi meminta kamu untuk pergi mewakili Ayah ya?,"
"iya ayah in shaa Allah Rahman akan melakukan nya selagi masih mampu,"
.....
Kini sudah menjumpai hari akhir pekan, Zahra, Marko, Tini, Ramadhani dan Raditya sedang berlibur di pantai. Marko akhir akhir ini akan sering melakukan penerbangan keluar kota yang membuatnya akan berjauhan dengan keluarga tercinta nya, oleh karena itu ingin menghabiskan waktu dengan keluarga ter cintanya .
Zahra sedang menikmati angin pesisir pantai, ia berjalan jalan di pinggir pantai dan merasakan air ombak laut yang emngenai kakinya sebentar lalu pergi meninggalkan kaki Zahra, dan kembali lagi lalu pergi lagi sesuka hatinya
"kamu sudah jahat seperti hati manusia tau ngak, tetapi hal itu malah yang membuat orang orang tertarik dan menikmati semuanya, haha pantas saja banyak orang yang membuat status patah hati tapi tetap saja bertahan, ternyata rasanya seperti ombak, huh! memuakkan," Zahra bergumam mengingat ngingat status yang rata rata dibuat oleh teman teman se kontak WhatsApp nya. Serta membanding bandingkan nya dengan Air pantai.
Zahra memandang jenuh ke arah tengan pantai ia bisa menikmati panasnya trik matahari dan merasakan sejuknya angin secara bersamaan dan dalam jangka waktu yang lama.
__ADS_1
"ka Reza? ka Rahman?, ka Rahman baik, tapi dia terlalu dingin, aku lebih suka ka Reza di ramah dan juga perhatian semoga ayah menyutujui keputusan ku,"
bersambung...