
Bagaikan telur yang sudah mulai retak, entah karena akan menetas untuk menjadi seekor makhluk hidup ataukah akan menjadi sebuah hubungan yang hancur karena telah terjadi keretakan di antara keduanya.
Yang di lakukan sekarang hanyalah semangat perjuangan tanpa henti.
Reza melihat Riska yang sedang tidur terlelap di punggungnya, karena Reza telah berjalan jalan menggunakan sepeda motor nya dengan Riska. Reza menarik nafas sedikit merasa bersalah karena telah mempermainkan perasaan Riska, tetapi sakit hatinya dan egonya menutupi semua perasaan bersalah itu. Reza dengan perlahan sedang mencoba untuk memapah tubuh Riska tanpa harus membangunkan nya, tetapi Alfie datang dan mencegah Reza.
"Aku yang akan membawa nya masuk ke dalam, aku tidak mau dia sampai mendapatkan masalah," ucap Alfie pada Reza. Reza pun melepaskan tangannya dari tubuh Riska, dan membiarkan Alfie yang memapah tubuh Riska.
Apakah semua yang di katakan Zahra benar? mengapa harus dia yang kamu cintai?, apakah begitu banyak kekurangan ku sehingga kamu tidak bisa menerimaku?.
Alfie merasa sakit hati, ingin ia melepaskan Riska untuk kebahagiaan nya tetapi, Alfie juga tidak ingin jauh dari Riska meskipun pada akhirnya Alfie hanya akan menjadi pelampiasan ia merasa tak apa asalkan Alfie masih bisa bersama Riska.
Perlahan Alfie membaringkan tubuh Riska di tempat tidur Riska, sebelum beranjak pergi, Alfie duduk di sambung Riska menaruh tangannya di atas tubuh Riska dan memandang Riska dengan perasaan sendu.
"apakah tidak sakit ah? kau harus kehilangan sahabatmu meskipun kamu mendapatkan seseorang yang kamu cintai. Tidak bisakah kamu untuk meringankan beban dirimu sendiri, dengan sedikit mendengarkan nasihat Zahra. Karena terlihat jelas ketulusan dimatanya bukan karena cinta kepada lelaki diantara kalian tetapi karena persahabatan kalian," gumam Alfie perlahan terdengar seperti setengah berbisik, ia membelai pelan Riska, melihat wajah Riska yang lesu seperti kehilangan keceriaannya akhir akhir ini. Lalu perlahan ia bangun dan beranjak pergi dari rumah Riska, tak lupa dengan berpamitan kepada kedua orang tua Riska.
"Tunggu nak Alfie, apakah benar ada masalah diantara Riska dan dan nak Zahra?," Tanya bapak Riska yang tidak sengaja mendengar perkataan Alfie saat dikamar tadi.
"Maaf pak, saya tidak tahu yang pastinya. Lebih baik bapak bertanya sendiri pada Riska, baiklah kalau begitu permisi,"
Setelah Alfie pergi, bapak dan ibuk nya Riska saling melihat satu sama lain. Ibu Riska mengerti apa yang harusnya ia lakukan sebagai seorang ibu, yang tentu saja lebih dekat dengan seorang putri di keluarga. Mereka benar benar mencemaskan mengapa keceriaan Riska memudar akhir akhir ini.
Benar, semangat gua sekarang memudar, keceriaan gua udah mulai menghilang, sakit hati sekarang menyelimuti gua yang rapuh inu. gua ga tau apakah gua benar atau salah, tetapi gua juga udah ngalah begitu lama.
Riska ternyata tersadar saat Alfie berbicara padanya tadi, Riska menggenggam seprai kasurnya dan meneteskan air matanya sambil bergumam bahwa dia merindukan Zahra sebagai sosok sahabat yang selalu mendukung nya.
....
__ADS_1
Zahra bertemu dengan Riska di kampus namun mereka hanya saling melewati satu sama lain tanpa ada yang menyapa, Zahra merasa mungkin saat ini diam adalah sesuatu yang lebih tepat untuk persahabatan nya.
Riska merasa bahwa Zahra sudah mulai mencueki nya. Entah apa yang harusnya ia rasakan sakit ataukah senang, tapi ia berfikir bahwa memang seharusnya Riska merasa senang karena tidak akan ada lagi yang bisa mengatur ngatur dirinya.
Aku harap diam ku bisa membuat kamu mengerti bahwa aku sangat menyayangimu, dan tidak ingin kamu berbuat sesuatu yang bisa merugikan mu sebagai wanita. Zahra berharap bahwa keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang benar.
"halo ka Reza?," Riska menelpon Reza
"iya, ada apa?," jawab Reza dengan pertanyaan.
"bisa ngajak jalan ga nanti malam, pengen yang bebas dan menyenangkan,"
"hmmm bebas dan menyenangkan ya," Reza berfikir sejenak dengan menyentuh dagu nya.
"boleh," imbuh Reza lalu mengakhiri panggilan.
Riska kini sudah berdandan dengan pakaian setengah lututnya menunggu Reza, berpakaian layaknya wanita namun dengan pakaian sedikit terbuka.
"Kenapa jelek ya?," tanya Riska.
"ga, ya udah naik yuk,"
Reza selama ini memang memperlakukan Riska dengan lembut dan baik hati, tidak pernah terlintas sedikitpun di benaknya untuk mengambil keuntungan dari Riska melebihi balas dendamnya pada Zahra dengan menghancurkan hubungan diantara keduanya. Dengan profesi Reza saat ini meskipun hanya sebagai pemula tetapi ia merasa bahwa itu bisa mencukupi kebutuhan sehari harinya.
"apakah kita sudah sampai?," Riska terkejut karena ternyata tempat yang dikunjunginya saat ini adalah sebuah club malam.
"kenapa ga suka? dulu aku sering bermain main kesini bersama para teman teman satu geng," jawab Reza.
__ADS_1
"oh, ga ko aku malah suka," Riska memberikan senyuman dan menurunkan tubuhnya dari motor, lalu menggandeng tangan Reza memasuki ruangan. Ruangan yang penuh dengan musik yang meributkan dan juga lampu yang ber kelap kelip, belum lagi tercium bau minuman yang sangat keras.
"hi bro!," teriak salah satu teman Reza yang mengenali Reza.
"hi," Reza menyalami teman nya itu.
"Tumben Lo kesini, bukannya semenjak Lo sama si bidadari lo, Lo mulai berhenti ya mau kesini,"
Reza hanya diam dan melihat ke arah Riska.
"oh, gua salah orang ya haha, maaf ya cuma becanda ko. Pacar Lo cantik banget nih," Temannya itu mengerti dan mengalihkan pembicaraan.
"mau nari?" Tanya Reza yang melihat Riska seperti kurang nyaman, dan mencoba untuk meminum minuman yang tidak biasa Riska minum.
"ga ka, emang Kaka mau nari?,"
"ga aku ga biasa,"
"haha sama," Riska menghentikan minumnya karena memang ia benar benar tidak tahan karena ia tidak bisa meminum minuman keras, berbeda dengan Reza yang yang meminum banyak minuman itu.
"ka, wajah Kaka udah merah, kita pulang ya?," Riska khawatir dengan keadaan Reza yang sekarang belum lagi tujuan Riska sebenarnya hanya untuk menghibur diri agar tidak terlalu memikirkan Zahra, bukan hal yang seperti ini.
Reza memandang Riska dengan wajah penuh dengan perasaan bersedih, terlihat ada Rindu yang begitu mendalam diwajahnya kasih sayang dan cinta yang tak pernah Riska lihat sebelumnya, ekspresi lelah dan putus asa, ada di wajah Reza saat itu, tetapi bukan untuk Riska, dirinya seperti ada di hadapannya tetapi entahlah jiwa dan raganya sesungguhnya untuk siapa tidak ada yang tau saat itu.
Reza memegang wajah Riska dengan lembit, lalu ia tersenyum dan mencium Riska, bahkan melakukan hal yang lebih, dan pada malam itu terjadi sesuatu yang seharusnya tidak terjadi, sama seperti yang di khawatir kan oleh Zahra.
"Bu maaf ya Riska ada tugas sama teman jadi Riska ga bisa pulang malam ini, ini tugas yang sangat penting Bu. Riska akan pulang besok pagi pagi," Riska mengirimi pesan singkat pada ibunya.
__ADS_1
Karena pada malam itu Riska memang benar benar tidak dapat pulang, tidak ada rasa bersalah atau kekhawatiran pada dirinya malam itu, yang di rasakan nya hanya putus asa dan cinta buta yang benar benar telah membutakan nya pada malam itu.
bersambung....