
"mari kita bermain bersama," ucap Arnius mengajak para anak anak kecil bermain.
"ayo!!," ucap para anak-anak dengan penuh semangat.
"akhirnya kamu datang nak, apakah hari ini kami mencoba waktu? kami takut untuk menyusahkan mu," ucap wanita paruh baya kepada Arnius sambil membantu Arnius membawa barang-barang yang ia bawa.
"oh aku tidak apa-apa kok, Hari ini aku mendapat izin dari tuanku, jadi aku bisa bermain di sini seharian," ucap Arnius dengan sopan menjawab pertanyaan ibu ibu paruh baya itu.
"wah serius kah kakak akan seharian di sini? horeeeeeee," ucap anak yang digendong Arnius.
"hore asik nya!!!," sahut para anak anak yang lainnya.
"kak temani kami mengerjakan PR ya," ucap para anak anak itu.
"iya nanti kakak temani ya,"
......
"kak lihat gambaran ku, ini kakak ini aku dan yang besar ini adalah kita semua,"
"mmmh jadi kamu menggambar kan aku sebagai matahari, dan kamu menggambarkan dirimu sebagai manusia sedangkan yang lainnya adalah rumah, begitu?," Tanya Arnius yang terkejut sekaligus terkesan dengan pemikiran anak itu.
"Kaka harus ingat ya namaku Deo, Deo! jangan lupa," ucap anak itu mengingatkan Arnius yang selalu terlupa dengan namanya.
"haha iya, tapi coba kamu jelaskan dulu ini artinya apa?,"
"Deo adalah manusianya karena Deo yang mendapatkannya," ucap Deo.
"mmh? mendapatkan?," tanya Arnius dengan heran.
"iya, Deo mendapatkan energi kehidupan dari Matahari, dan mendapatkan tempat untuk kembali karena rumah," ucap Deo dengan polosnya.
"bagi Deo kalian semua sepenting itu untuk Deo," Deo adalah anak kecil yang hitam dan kurus, meskipun dia cenderung tinggi.
Deo adalah anak yang sering mengamen dipinggir jalan bersama seorang teman seusianya, namun Deo cenderung lebih kurus karena ia yang lebih banyak mengalah. Dan Deo kini mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang lebih layak saat ibu ibu di rumah yang dibangun Arnius membawa Deo dan seorang temannya ke Rumah pada setengah tahun yang lalu.
"anak pintar, terus lanjutkan bakatmu ya, belajar yang giat, dan jadilah anak yang sukses kelak nanti oke," ucap Arnius memegangi kepala Deo.
Arnius tersentuh kepada Deo karena diusianya, Deo sudah bisa berfikir seperti itu, fikiran yang sangat dalam yang tidak semua anak anak miliki. Mungkinkah ini adalah perasaan terdalam Deo dari masa masa yang pernah dilaluinya?.
.....
Arnius kini sedang pergi berbelanja bersama sanak anak, mereka makan bersama di sebuah rumah makan tak lupa juga membungkus kan makanan untuk dibawa pulang tentu saja untuk para ibu ibu yang berada dirumah dan yang lainnya, singkatnya seluruh penghuni rumah.
Arnius mengajak anak anak ketempat bermain dan menaiki berbagai Wahana, anak tampak sangat senang, dan mereka menikmati semua yang diberikan oleh Arnius, mereka bahkan sempat berbelanja di Mall untuk membeli pakaian dan lain sebagainya.
"lihatlah wajah orang itu sangat garang, tetapi siapa yang tau bahwa hatinya bisa selembut itu dengan membawa para anak anak bersamanya lalu membelanjakannya,"
"tapi apakah mereka akan baik baik saja, haaah! siapa tau itu adalah penculik,"
"hei bagaimana mungkin bisa seperti itu lihatlah mereka sangat akrab semua dan saling mengenal satu sama lain,"
"hei jangan menilai orang sembarangan aku sering melihatnya bersama anak anak, yaaah setidaknya 2-3 bulan sekali mereka akan datang untuk berbelanja,"
__ADS_1
"mmh kamu benar, jangan menilai orang dari luarnya saja, karena kamu belum tau apa yang terjadi sebenarnya, ya kan,"
"mmh kamu benar,"
"iya iya maaf,"
Nah seperti itulah biasanya Arnius di bicarakan oleh para ibu ibu dan remaja wanita di Mall saat menemukan Arnius yang datang berbelanja bersama dengan anak anak, bahkan tak jarang juga remaja lelaki memerhatikan nya yang datang berbelanja dan juga ikut membicarakan dirinya.
kini hari sudah mulai petang, Arnius memutuskan kembali mengantarkan anak anak pulang lalu pergi kembali kerumah sakit untuk melihat keadaan Zahra dan tuannya Rahman.
"jaga mereka baik baik Bu, mereka tumbuh dengan cepat, mereka juga bisa merekam semuanya dengan perasaan mereka, omeli mereka jika salah tapi jangan pilih kasih, beri mereka kasih sayang terbaikmu," ucap Arnius kepada ibu ibu yang ada disana sebelum pamit.
"iya nak aku mengingatnya, mereka adalah anak anak yang pandai, polos dan juga jujur, aku berharap mereka akan menjadi orang yang bertanggung jawab atas segala perbuatannya di masa depan nanti" ucap ibu itu yang melihat para anak anak telah tertidur pulas, mereka tidur sangat awal pada hari itu karena kelelahan bermain bersama dengan Arnius.
"iya, aku sangat menyayangi mereka, kalau begitu saya pamit," ucap Arnius berpamitan lalu menyalami ibu dirumah itu.
"assalammualaikum warrahmatullah hi wabarakatuh,"
"waalaikummussalam warrahmatullah hi wabarakatuh nak, hati hati dijalan ya,"
"iya Bu terima kasih banyak, ibu juga hati hati dirumah jaga kesehatan jika perlu apa apa jangan sungkan untuk menghubungi ku," ucap Arnius setengah berteriak karena ia berbicara sambil berjalan menjauh.
"iya iya aku tau itu, dadah," ibu itu melambaikan tangannya.
"hmmh lihatlah anak itu, di usianya yang sekarang, dia bahkan belum menikah dia terlalu sibuk memikirkan hidup orang lain sehingga terlupa dengan kehidupannya sendiri, aku berdoa semua yang terbaik untukmu nak, aku berharap kamu akan mendapatkan jodoh yang terbaik, dan kamu bisa berbahagia selamanya atas izin Tuhan Yang maha Esa," gumam ibu itu.
"jika bukan karena mu, mungkin aku akan menjadi gelandangan saat ini, kamu bahkan bersedia menerima siapapun tanpa pamrih, meskipun kami berbeda keyakinan, tuhan memberkatimu nak," imbuhnya sambil berjalan masuk menuju kedalam rumah.
....
"Mentari aku sangat merindukanmu, jika kamu masih ada sekarang, mungkinkah kamu akan menjadi gadis yang cantik, wah tentu saja itu pasti kan, kamu bahkan memiliki hati seperti malaykat," ucap Arnius bergumam sendiri di dalam mobilnya.
"Hei kakak! kamu itu dingin sekali, tidak bisakah kamu untuk lebih tersenyum didepan semua orang? huh!," Arnius terkejut tiba tiba terngiang ngiang suara Memei yang memprotesnya ditelinga nya.
"hmmh ada ada saja," gumam Arnius tersadar.
"hei aku tidak bercanda, orang orang akan terus takut melihat wajah dinginku, coba belajarlah untuk lebih ramah kepada orang lain, ya tapi bolehlah kamu garang tapi hanya kepada orang orang yang pantas saja oke," ucap Memei semakin terngiang.
"jika ka Mentari hidup dia juga pasti akan berkata demikian, jika bisa jadilah seseorang yang bersikao ramah lembut dan rendah hati tapi sebenarnya didalam kakak itu memiliki jiwa yang menakutkan sehingga tidak bisa untuk disingkirkan, mmh FITHING!!,"
ciiit
"huh, dasar anak itu," Arnius menepikan kendaraan nya karena ia takut untuk tidak fokus menyetir karena suara Memei yang terus terngiang ngiang ditelinganya, bahkan sampai membawa bawa nama Mentari di setiap omelannya.
Arnius pun memutuskan untuk menepi dan beristirahat sejenak dengan membeli air putih mineral dan meminumnya untuk menambahkan oksigen di dalam tubuhnya.
"hmmh pasti Meimei suka," ucap Arnius yang melihat es krim rasa vanila dan juga coklat serta bervariasi di jalan, dan Arnius memutuskan untuk membeli beberapa lalu membawanya pulang ke rumah sakit.
setelah beberapa saat kemudian akhirnya datanglah Arnius di rumah sakit dan di kamar tempatnya Zahra dirawat.
"assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh tuan," ucap arnius yang datang dan membuka pintu.
"wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Memei dan juga Rahman.
__ADS_1
"wah apa ini? apakah ice cream? apakah untuk Memei?," ucap dengan senang lalu mengambil kresek ice cream itu.
"anak ini kalau soal makanan mah ya pasti nomor satu tapi kalau soal memasak makanan kakak ngak jamin," ucap Rahman yang meledek Meimei.
"i apaan sih kak orang yang betul kok ini buat Meimei," ucap Memei.
"nona tidak pulang,? dimana nyonya (Yeni) dan tuan besar (Andrean)?," Tanya Andrean yang ternyata benar menemukan Memei masih berada di RS.
"wah ka Arnius sudah berbicara melebihi tiga kata, bahkan ekspresinya juga ramah," ucap Meimei dengan ceplas ceplosnya.
"ekhem emm," Meimei tersadar terlebih lagi Rahman yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah Memei.
"aku temenin ka Rahman disini, mamah udah pulang sama ayah, bahkan tadi mama Tini ada disini tapi udah pulang juga ko," jawab Memei dengan senang hati.
"ohh begitu," jawab Arnius
"wah Kaka bahkan langsung merenspon apa yang aku katakan, habis kemana kau hari ini sehingga menjadi seperti ini ah? ," Tanya Meimei antusian sehingga Arnius menunduk
"haih anak ini ada ada saja, diamlah kamu," ucap Rahman mengomeli ade tersayangnya.
" oh iya untung kamu datang de," ucap Rahman berkata sembari menepuk pundak Arnius.
"iya?," jawab Arnius memperhatikan Rahman
"maaf jika aku merepotkan kamu, tapi aku butuh bantuan kamu sekarang, ada sedikit masalah di kantor dan aku ingin kamu menyelidikinya dan menanganinya bisa kan? beri aku laporan setiap detail apa yang terjadi di sana," ucap Rahman meminta bantuan kepada Arnius, Arnius memang bukan hanya mendapatkan pendidikan bela diri dari Rahmat namun ia juga mendapatkan pendidikan tentang politik yang juga kehidupan di dunia ini, karena Rahman tahu bahwa di dunia ini begitu kejam kehidupan yang ada, jadi harus berjuang sebisa mungkin agar semuanya bisa berjalan dengan lancar dan sesuai rencana, karena meskipun banyak orang-orang yang dapat dipercaya di kantor, namun tentu saja yang paling dipercayainya adalah arnius, dan Rahman dengan sengaja mengajarkan arrhenius dengan bertujuan seperti ini, agar suatu saat nanti saat arnius menjalankan sesuatu yang memang harus dijalankan sesuai dengan ilmu politik, Arnius tidak dapat ditipu ataupun diremehkan oleh orang lain.
meskipun Arnius bukanlah salah satu orang dari dalam bagian kantor, namun Rahman akan lebih memilih untuk mempercayai tugasnya kepada arius, dan orang-orang tahu beberapa kali Rahman telah mengutus arnius untuk mengerjakan tugasnya dikala saat Rahman sedang tidak dapat melakukan apa yang harus dilakukan.
"baik saya akan segera kesana," ucap Arnius lalu bergegas untuk pergi.
" mhhh kalian orang dewasa memang sangat sibuk ya, baru saja dia kembali dan membawa kan ku ice cream tapi dia harus pergi lagi untuk melaksanakan tugas yang kakak utuskan untuk dia," grutu Meimei sambil memakan es krimnya.
"ya memang begitulah dek jika kamu ingin semuanya baik-baik saja, harus seperti itu apalagi perusahaan ini cukup besar bahkan tidak cukup untuk 1 orang yang menanganinya atau menjadi direktur utamanya melainkan 5 anak pewaris dari keluarga besar," jelas Rahman kepada adik tercintanya
"yah begitulah hidup, oleh karenanya Meimei itu males banget kalau Meimei harus menjadi orang dewasa," ucap Meimei dengan wajah memelasnya bahkan menunjukkan ekspresi bosan.
setelah beberapa saat kemudian Rahman memutuskan untuk mengambil air wudhu dan salat lalu mengaji di dekat Zahra.
"Ya Allah kuatkanlah tali pernikahan kami jangan sampai hancur, berilah kami kebahagiaan hingga jannahmu dan jadikanlah kami kekasih dunia dan akhirat mu wahai Allah, berikanlah kesehatan dan umur yang panjang kepada istriku wahai Allah, Mbak sangat menyayangi insan mu yang engkau percayakan kepada hamba wahai Allah, hamba tidak sanggup jika harus kehilangannya secepat ini, hamba mohon kepadamu ya Allah pertahankanlah rumah tangga kami wahai Allah, sehatkanlah ia dan kebalikanlah ia ke sisi hamba lagi ya Allah," ucap Doa Rahman setelah ia mengaji.
"Ya Allah Ya Rohman Ya Rohim Ya Malik ya quddus ya salam, Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang engkaulah yang maha pemurah engkau yang maha esa engkau yang maha segala-galanya, engkau adalah Allah Tuhan semesta alam dan engkau adalah Tuhan satu-satunya di muka bumi, ashadualla ilahailallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, allahumma sholli ala sayyidina muhammad wa ala ali sayyidina muhammad, mohon kepadamu ya Allah bukankah segala doa hamba, hambamu yang penuh dosa ini dan masih kurang bersyukur atas segala nikmat mu yang telah engkau berikan selama ini, hamba memohon kepada-mu Ya Allah ampunilah kedua orang tua hamba istri hamba, hamba dan juga keluarga hamba, serta berikanlah kami keselamatan kesehatan dan kebahagiaan darimu aamiin aamiin ya robbal aalamiin,"
"rabbana atina fiddunya Hasanah wafil akhiroti Hasanah waqina adzabannar aamiin,"
setelah itu Rahman melihat meimei yang telah tertidur pulas, selalu menyelimuti tubuh Meimei yang mungil dengan selimut agar tidak kedinginan.
lalu Rahman mengambil air hangat dan handuk kecil, yang mulai menggelap tubuh Zahra membersihkannya, dan juga menggantikan pakaian yang perlahan-lahan, karena bagi Rahman meskipun itu adalah pakaian rumah sakit tetap harus diganti kalau tidak maka pakaiannya akan kotor dan tugu Zahra bisa bau nantinya, Rahman dengan bergetar mengelap tubuh secara pelan ia bahkan tidak sadar meneteskan butiran-butiran air matanya. Rahman teringat di mana kala-kala dulu, di saat ia membuat kenangan kenangan indah bersama Zahra, atas semua yang telah ia lakukan bersama Zahra, dan Rahman sangat merindukan masa masa itu.
"kamu kapan bangun sih sayang, kamu memuji aku sampai kapan lagi? huh?! aku menyayangi kamu aku merindukan kamu aku merindukanmu di kala kala kita bertengkar bersama, berdebat bersama aku juga merindukan ocehan kamu yang terus memarahiku, dan jengkel kepadaku, aku merindukan semua di saat-saat kita bersama sayang," ucap Rahman saat ia selesai memakaikan Zahra pakaian lalu ia mengecup kening Zahra perlahan dan mengusap rambut Zahra. dan Rahman menciumi tangan Zahra, menggenggam tangan Zahra sambil menangis meneteskan air matanya di tangan Zahra.
deg
Rahman merasakan bahwa tangan Zahra bergerak di tangannya, lalu ia terkejut dan melihat tangan Zahra dan benar saja jari jemarinya bergerak yang menandakan Zahra sudah mulai tersadar, untuk memastikan Rahman melihat wajah Zahra, dan Zahra sedang mencoba untuk membuka matanya pelan-pelan, dengan perasaan bercampur aduk yaitu bahagia dan juga terharu Rahman memanggil dokter dengan sangat kencang dan juga ia mengelus kepala Zahra berkali-kali.
__ADS_1
bersambung.....