
Zahra kini terbangun dari mimpinya, mendapati dirinya dalam keadaan tertidur diranjang yang sama dengan seorang pria yang kini sedang memeluk tubuhnya dengan penuh kehangatan. Ya tentu saja Andrean lah orang nya memang siapa lagi?.
Dengan mata masih terkantuk Zahra melihat ponsel nya menunjukkan pukul 4.30, Zahra ingin beranjak dari tempat tidurnya, memindahkan tangan Andrean dari pinggangnya, namun Andrean terbangun saat itu juga.
"ini masih terlalu pagi tidurlah lagi," ucap Zahra lirih seraya tak ingin membuat Andrean terbangun.
"hei seharusnya aku lah yang berkata demikian cantik," Andrean semakin mengeratkan pelukannya tidak ingin lebih jauh sedikitpun dari Zahra.
"mmmh tuan?," panggil Zahra
"mmm," Andrean malas me nimbali Zahra yang sedikit tidak menurut.
"sebentar lagi akan subuh, aku harus mandi dulu lalu shalat, " Zahra pun membuat pengakuan nya terhadap Andrean berharap Andrean membiarkan nya. Ternyata seketika Andrean membulatkan matanya penuh dengan perasaan terkejutnya, shalat? apakah ia tak salah dengar?, tak menyangka dengan pengakuan Zahra. Pertama kalinya bagi Andrean mendengar seorang wanita bangun sepagi itu hanya untuk menyembah tuhan yang di percayainya.
"kamu serius?," tanya Andrean keheranan, masih tak dapat mempercayai pengakuan yang diberikan Zahra.
"iya tuan,"
"sudah kuduga, ada yang berbeda dari dirimu, ceritakan?," pinta Andrean yang seolah membiat Zahra penuh dengan tanda tanya karena tak mengerti apa yang dimaksud dengan kata kata Andrean Zahra pun terdiam untuk beberapa saat. Andrean yang melihat kebingungan pada diri Zahra pun langsung menjelaskan.
"iya, kamu itu gak kaya cewek lain gitu loh, biasanya wanita malam tidak memikirkan tentang shalat, tuhan dan apalah itu, pasti ada sesuatu yang mendorong mu melakukan pekerjaan ini cepat ceritakan, apa alasan itu," jelas Andrean sedikit gemas dengan wanita polos yang ada dihadapannya ini
"mmm tapi bolehkah aku meminta satu hal?," Zahra sedikit ragu
"haruskah kamu meminta izinku dulu, apakah aku terlihat semakin itu, sampai tak mampu memberikanmu apa yang kamu mau?," jengkel Andrean karena egonya yang merasa kekayaan pada dirinya
"eh jangan salah paham dulu, bukan itu maksud ku," jelas Zahra yang merasa Andrean telah salah paham oleh dirinya.
Andrean yang melihat ekspresi Zahra jadi terkekeh geli karena keimutan yang ada pada diri Zahra.
"mmh baiklah katakan, apa yang kamu inginkan" ucap Andrean sembari membenamkan wajahnya pada rambut Zahra, yang kini tubuh Zahra dalam posisi nya yang sedang membelakangi tubuh Andrean.
"bisakah engkau mengutus seseorang untuk membawakan ku mukenah?, kau kan orang kaya tuan, jadi kurasa itu bagimu bisa bisa saja, yah secara kan tuan begitu kaya seperti yang tuan katakan barusan" jelas Zahra mengumpulkan keberanian nya.
__ADS_1
"hahaha lihat caramu berbicara sekarang, baiklah akan aku suruh seseorang tapi setelah itu ceritakan padaku apa alasanmu," Andrean mencubit pipi Zahra terlebih dulu karena gemas sebelum ia menghubungi seseorang untuk memenuhi keinginan Zahra.
Andrean meraih Hp nya lalu menelepon seseorang, dan ya bagi orang kaya seperti keluarga Adiwijaya, hal seperti itu sangatlah mudah. setelah Zahra merasa keinginan nya akan tercapai akhirnya Zahra pun mulai menceritakan alasan nya melakukan pekerjaan ini.
"begini, aku adalah seorang ibu muda, usia ku bahkan belum genap 20 tahun, tapi anak ku yang terlahir prematur dia harus mengalami rasa sakit yang begitu sakit sehingga kini terbaring dirumah sakit,"
"suamimu?,"
"aku tak memiliki suami,"
"jadi kau janda?,"
"bukan tuan,"
"lalu,?"
"jadi begini tuan, bla bla bla...." Zahra pun memutuskan untuk menceritakan semuanya, dari awal hingga kini tanpa sisa sedikitpun, tak sadar air mata Zahra jatuh dengan sangat deras membasahi bantal yang sedang ditidurinya sekarang.
"terima kasih tuan,"
Zahra kini telah selesai membersihkan diri, mukenah nya pun telah sampai ia bergegas untuk menunaikan dua rakaat nya itu.
"tuan, tidak ikut shalat,"
"aku memang beragama islam, tapi itu hanya jadi formalitas saja, aku tak begitu pandai tentang agama,"
"gapapa tuan, nanti saya bantu, tuan bisa gerakan shalat, surah alfatihah dan ayat ayat pendek?, "
"iya tapi hanya sebatas itu,"
"yaudah tunggu apa lagi shalatlah, dosa kita jika terlalu semakin menumpuk tanpa penyesalan kita, yang kita taubati, bagaimana bisa menjadi manusia yang baik, akupun malu terhadap allah, tapi aku hanya mengharap belas kasihan darinya agar dia tetap membiarkan anak ku hidup dengan damai,"
setelah mendengar Zahra, entah darimana Andrean tersentuh, lalu membersihkan diri tak lupa dengan doa saat mandi junub yang diajarkan Zahra.
__ADS_1
***
kini Andrean dengan Zahra berada dirumah sakit menengok Azan yang masih ditemani Leela.
"assalamualaikum leela,"
"waalaikummusslm wr.wb, Zahra di dia," kejut leela karena mendapati Zahra dengan seorang pria yang begitu terlihat berwibawa, gagah nan mempesona, ditambah dengan tinggi tubuh yang ideal.
"hehe iya ini adalah Andrean Adiwijaya, calon suami ku."
setelah beberapa lama Andrean menemani Zahra ia mendapatkan telfon dari sekretarisnya, bahwa ada keadaan darurat yang harus mempercepat keberangkatan nya ke Inggris. ia pun berpamitan pada Zahra, tak lupa ciuman sampai jumpa dari Andrean kepada Zahra. disambut dengan lambaian tangan Zahra dan senyuman kesedihan dimata Zahra, hingga mobil itu berlalu dari hadapannya.
***
tiga bulan berlalu.
Azan kini telah boleh dibawa pulang, dengan perawatan yang masih berjalan sebagaimana mestinya, namun azan sudah bisa tinggal dirumah lagi, Zahra masih memiliki sisa tabungan yang diberikan Andrean, ia membawa azan pergi keliling taman membawa azan berjalan jalan dengan Leela, tak lupa dengan panggilan video dari Tini dan Yeni. Zahra telah menceritakan semua tentang yang dialaminya pada tini dan Yeni, meskipun kedua sahabatnya itu sedikit marah dan bersedih, namun mereka mencoba mengerti Zahra, Zahra yang telah mengganti uang Tini meskipun tini tidak mengahapkan nya, kini berusaha untuk lebih memperhatikan hidup kedepannya.
"sudah tiga bulan berlalu gimana kabarnya si doi," ledek tini dari panggilan video.
"ho oh, si tini udah main dilamar aja sama si pilot, eh tuh emak nya si tini pake ngmel bilangnya harus kerja dulu si tini nya,"
"hahaha yaudah nikah ajalah, kan sunnah, " sambut Zahra.
" hehe si Azan udah gak sabar nih nunggu kedatangan bapak barunya," sambung leela.
***
kini sudah lima bulan, kenapa tuan Andrean belum juga ada kabar 2 bulan terakhir ini, ibuk octa selalu menanyai ku kapan bekerja lagi, aku harus bagaimana ya allah. batin Zahra, kini tabungannya semakin menipis sedangkan perawatan Azan harus selalu berjalan. dengan terpaksa Zahra kembali pada pekerjaannya.
*bersambung.
thanks yah buat pembaca yang setia, maaf kalo up nya lama, semoga suka ya*
__ADS_1