
Hari sudah siang, Memei sudah pulang kini Zahra kembali berdua dengan Rahman.
"kalian ini kenapa coba, adik Kaka tapi marahan aja terus" ketus Zahra.
"dianya aja yang nyebelin, emang kamu ga pernah apa berantem Ama adek kamu?," kesal Rahman, menghilangkan tangannya.
"ga!," jawab Zahra singkat.
"bener!!," ledek Rahman
"Iya Ya Allah,"
Zahra mulai membereskan rumah nya, seperti tugas seorang istri pada umumnya, lalu berniat untuk mencuci pakaiannya. Tanpa sadar ia telah dipandangi oleh Rahman dengan lama dan dalam, Berfikir bahwa yang semalam harusnya tidak terjadi? Memei seharusnya tidak datang, itu yang dimaksud.
"fiuh," Rahman menghela nafas panjang
"mmh kenapa?," Zahra bertanya karena mendengar Rahman yang menghela nafas panjangnya.
"ga apa apa, aku cuma... heish serahlah ga ada," ketus nya lalu pergi ke kamar untuk mulai saling memandang dengan laptopnya.
"memangnya ga kerja ka?,"
"gak!,"
"oh iya ka, akhir Minggu liburan yuk?," Zahra mengajak Rahman untuk berlibur karena baginya sudah lama sekali ia tidak pernah berlibur.
"hmmh boleh,"
kalo aja ini kesempatan untuk aku. gumam Rahman dalam hati sambil tersenyum dan menyeringai.
......
Pada Akhir pekan, liburan sudah akan dilakukan oleh Zahra dan Rahman, namun Rahman nampak kesal saat itu.
"kenapa semua jadi iku?," rengek Rahman, yang terdengar sangat langka.
"memangnya kami ga boleh ikut?," ucap Andrean.
Padahal ini kesempatan untuk aku, biar bisa menjalin hubungan yang lebih dalam sama Zahra! masa iya sih setahun menikah ga pernah ngapa ngapain. Kesal Rahman dengan mengerutkan dahi nya
"memangnya kalian ga mau punya cucu apa heish!," Gumam Rahman pelan, saat Zahra sedang mengambil camilan di dapur bersama dengan Memei dan Ramadhani.
"hah! jadi kalian?," ucap Tini yang juga mewakili pertanyaan Yeni. Rahman hanya terdiam dan menunduk dengan raut wajah masam.
"apakah kamu loyo nak?," Tanya Andrean.
"hahaha Loyo," Raditya tidak dapat menahan tawanya begitu juga dengan Alfie dan Riska.
"Loyo loyo, ga ada ga ada, ini semua gara gara Memei yang mengacau,"
"emang dia mengacau apa?," tanya Riska.
"haih, ga ada sudah,"
"Yau dah begini saja, biar para orang tua, dan anak kecil pisah tempat liburannya, nanti kamu Riska, Alfie, Raditya dan Zahra pergi ketempat liburan yang kalian mau," ucap Yeni memberi usul.
"hmmh," Rahman mengehela nafas lagi.
"memangnya kenapa?," Tanya Ramadhani yang datang bersama dengan Memei dan Zahra.
"iya memangnya kenapa?," Sahut Memei.
"mmh," Angguk Zahra.
"memangnya kenapa harus berpisah, kita samaan aja kan Zahra yang ibu sama ayah, juga memei dan Raditya," imbuh Zahra.
"ini juga gara gara kamu sayang," Sahut Riska.
"aku? eh ngomong ngomong kamu sudah menggunakan hijab ya? ko aku baru sadar," Ucap Zahra yang tanpa sadar telah mengalihkan pembicaraan nya dengan yang lain.
"haha ko baru sadar sih kan sudah lama,"
"wah aku seneng banget loh, oh iya Yusuf mana?" Tanya Zahra karena tidak menemukan Yusuf yang bersama dengan Riska.
"Dia dirumah sama ibu dan bapak, mereka ga mau pisah sama Yusuf, terlalu sayang," ucap Riska.
"Ya udah ajak aja ibu dan bapak sekalian biar kita bisa berlibur bersama," ucap Zahra dengan penuh senyuman, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari para orang tua dan yang sudah dewasa, bahkan membuat Memei dan Ramadhani yang tidak mengerti apa apa, menjadi terkejut dan sedikit merasa mengerikan.
"kenapa?, kenapa kalian menatapku begitu? kan seru kalau ramai ramai, semakin banyak teman maka semakin bagus iya kan," ucap Zahra dengan penuh senyuman.
"ya udah biar aku yang telepon ibu ya," Tawar Zahra yang hampir saja mendapatkan teriakan dari para orang tua.
"Zahra Zahra! hehe gak usah ya ga apa apa," Cegah Riska.
"tapi aku mau sama ka Zahra," rengek memei.
"Memei ga boleh gitu, memei ikut sama mamah dan ayah," ucap Yeni dengan membulatkan matanya.
"iya" pada Akhirnya Memei mengiyakan ibunya karena merasa masih belum mau mati, meskipun terdengar suara lirih dari mulut Memei.
"hmmh" Zahra cemberut memanyunkan bibirnya tak senang.
__ADS_1
....
"Arnius kamu ikut sama orang tua kami, jaga mereka," Ucap Rahman memberi perintah, namun Arnius masih diam di tempatnya dan tidak ingin berkutik sedikitpun.
"haih Arnius," Rahman geram pada Arnius.
"jika bukan kamu yang paling aku percayai lalu siapa lagi?," geram Rahman. Namun Arinus masih saja tidak bergeming, yah kini telah dapat dipastikan bahwa bukan hanya perintah Rahman yang menjadi prioritas utamanya melainkan keselamatan Rahman atau lebih tepatnya adalah Nyawa Rahman lah yang paling utama.
"haih baiklah kamu ikut denganku," Akhirnya Rahman menyerah, dan ya tentu saja Arnius mematuhi perintah Rahman yang kala itu, Arnius langsung mengendarai mobilnya sendiri.
Di dalam perjalanan Arnius berkendara tidak jauh jaraknya dengan mobil yang dikendarai oleh Rahman dan Alfie.
.....
"Huwahhhh sejuk sekali!!!," ucap Zahra berteriak saat sampai di vila pada pinggi pantai tempat mereka bertemu.
"sejuk kan," ucap Riska menghampiri.
"mh," Angguk Zahra.
"Meskipun agak marah karena orang tua kita tidak ikut bersama kita, tetapi aku merasa sedikit terobati lah, oleh alam ciptaan Allah ini,"
"haha sungguh indah ya, maha besar Allah," ucap Riska
"iya kita tafakkur alam ya," ucap Zahra dengan penuh tersenyum dan mencoba membuat ketenangan dalam dirinya
"Kalian nikmatilah dulu ya, aku kami akan memasuki barang barang," ucap Alfie menghampiri Riska dan membelai kepala Riska.
"iya," ucap Riska yang memegang tangan Alfie yang berada di pipinya saat itu.
"aaa kalian so sweet sekali ," Zahra bergumam dengan menikmati pemandangan di depannya ini, ya itu pemandangan kemesraan sahabatnya.
"Nanti sore joging yuk," Ajak Riska
"Boleh, haha hayuk lah,"
.....
(visualnya Riska saat joging mengenakan hijab, cantik kan😍)
Riska dan Zahra kini sedang joging beriringan begitupun dengan Rahman yang mengikutinya dari belakang bersama dengan Alfie dan Raditya.
"hmmh," Zahra memegangi kepalanya karena merasa sakit kembali.
"kenapa? ada yang sakit?," tanya Riska dengan cemas.
"ga apa apa cuma sakit sedikit aja,"
......
Kini malam hari telah tiba, Zahra dan Riska sedang berjalan di pinggir jalan menikmati udara malam yang dipenuhi dengan bintang.
"ini memang benar benar hari liburan kita, kamu senang ga?,"
"seneng banget lah," Sahut Riska.
"hai cantik," Tiba tiba ada sekelompok lelaki yang menghampiri.
"wah gabung yuk, cantik cantik, ukhti ukhti lagi," ucap sekelompok lelaki itu
"siapa kalian," kesal Riska yang sudah siap dengan posisinya untuk berjaga jaga.
"udahlah Ris, kita pergi aja," Ajak Zahra pada Riska yang ingin kembali ke Vila, namun tangannya di pegang oleh salah satu lelaki itu.
"hei lepasin tangan kalian," Zahra geram.
"kalau kita gak mau gimana,"
Buuk Buuk
"hah!!," Riska dan Zahra terkejut mereka menutup mulut dengan tangan mereka, karena terkejut melihat Arnius yang datang dan langsung menghajar para lelaki itu dengan hitungan menit.
"jangan! mereka bisa mati!," teriak Zahra yang melihat Arnius hampir mematahkan kepala salah seorang kelompok tersebut.
"Anda adalah kesayangan tuan jadi mereka pantas mendapatkannya," jawab Arnius dengan dingin.
"oh my God," Riska terkejut dengan ucapan Arnius yang seperti tidak memiliki hati.
Lalu terlihat Rahman sedang datang menghampiri tidak jauh jaraknya dengan mereka.
"Urusi mereka, jangan sampai mereka menampakkan wajah mereka lagi, mereka sudah sangat menjijikan seperti serangga," Ucap Rahman dingin kepada Ferius. Ya Ferius adalah sekretaris Rahman yang merupakan anak dari Yus, dan telah bekerja dengannya sekitar selama enam bulan.
Ferius mengangguk mengerti lalu menghubungi petugas keamanan di daerah situ, dan mengecap merah setiap anak remaja yang menggoda Riska dan Zahra barusan.
"Arnius kamu telah bekerja dengan baik, terima kasih banyak, sekarang mari makan bersama," Ajak Rahman pada Arnius dan mengabaikan Zahra namun menarik Zahra untuk masuk ke vila.
"sepertinya mereka akan bertengkar," ucap Riska dengan bergumam.
.....
Kini mereka semua sedang menyantap makan malam mereka di ruang makan yang begitu besar di sebuah vila yang Rahman miliki di kota tersebut.
__ADS_1
Namun suasana begitu canggung, Raditya dan Alfie mengerti apa alasan Rahman sampai begitu marah, dan bisa membuat suasana menjadi begitu canggung malam ini, karena Riska telah menceritakan kejadian pada Raditya dan Alfie
Ya melalui sifat Rahman yang dingin, ia pasti akan kesal dan marah termasuk pada Zahra bukan karena benci tetapi karena khawatir dan kasih sayangnya.
"kenapa canggung begini sih? ka?," Zahra bertanya pada Rahman. Rahman lalu melepaskan sendok di tangannya dan kembali ke kamar.
"habisi dulu makanannya!," Zahra setengah berteriak karena Rahman pergi dari tempat duduknya.
"sss," Zahra memegangi kepalanya kembali dan mengernyitkan dahi nya, sembari mengejar Rahman kedalam kamar.
"kacau sudah," ucap Raditya yang ikut melepaskan sendok di tangannya, sementara itu hanya Arnius yang tidak bergeming sedikitpun dan menyantap makanannya dengan lahap hingga tuntas.
"wah kamu bisa makan selahap ini haha hebat, bisa tidak memperdulikan keadaan di sekitarmu," ucap Raditya pada Arnius yang Arnius tidak menggubris perkataan Raditya sedikitpun.
"hei aku berbicara padamu," Raditya kesal dengan sikap Arnius, tetapi Arnius hanya meminum minumannya lalu pergi ke kamar untuk beristirahat sejenak.
"hei!" Raditya berteriak tak suka.
"haha sabar ya sabar, sudahlah percuma, bukankah Zahra yang memberitahu Riska bahwa dialah manusia tanpa hati itu, atau di sebut sebagai berhati batu," Ucap Alfie tertawa terkekeh dengan menepuk punggung Raditya.
....
Di kamar Zahra dan Rahman...
"Kaka kenapa sih marah marah ga jelas, ga enak tau di teman Kaka sama temen aku," Zahra kesal dan terbawa emosi yang serius kala ini.
"lalu bagaimana denganku, pergi keluar malam tanpa memberitahuku," balas Rahman yang juga memarahi Zahra
"aku cuma jalan jalan di depan vila saja, ga kemana mana juga," ketus Zahra
"iya ga kemana mana, ga di temani suami! enak gitu di hampiri sama lelaki kalau tadi Aku dan Arnius ga tepat waktu yang ada kamu dan Riska nanti ga tau jadinya kayak gimana!," Rahman sangat marah dan berteriak pada Zahra. Zahra terkejut sampai menjagokan matanya dan berusaha menahan tangisnya, karena ia tidak bisa mendengar suara keras kepadanya ataupun mengeluarkan suara keras, maka itu akan memancing air matanya.
"lagi pula juga itu bukan salah aku!," Zahra berteriak lalu pergi dari kamarnya.
"pergi lah sana pergi," Rahman geram lalu mengambil air wudhu untuk meredakan amarahnya.
Tanpa rasa takut dan khawatir Zahra pergi ke pinggir pantai, bahkan kali ini tanpa ada seorangpun yang tau bahwa ia tidak ada di vila. Zahra menangis sambil sesekali menahan rasa sakit di kepalanya.
"memangnya salahku apa huh!," ucap Zahra sambil menangis lalu terus berjalan dan duduk dibawah pohon, sambil melempari batu dan bersandar.
.....
"Riska, Zahra tidur di kamar kamu ya? aku cari di kamar yang lain ga ada," tanya Rahman pada Riska yang sedang mengambil minuman di dapur.
"loh bukannya tadi sama ka Rahman ya?," jawab Riska.
"iya bukannya tadi ikut masuk sama kamu," sahut Alfie yang didekat Riska.
"ho oh, tadi kan pas kamu masuk dia ngikut tuh, dia ga pernah keluar luar lagi," ucap Raditya menghampiri.
"fiuhh, dia ga ada berarti dia keluar," ucap Rahman memegang kepalanya lalu bergegas keluar.
"ayo kita cari dia!," Rahman terburu buru keluar tanpa mengenakan jaket meskipun hawa dingin.
"ko bisa dia pergi ga bilang bilang," tanya Raditya dengan cemas..
"kita sempat bertengkar hebat tadi," jawab Rahman dengan rasa bersalahnya.
"hmmh," Raditya mengerti dan tidak ingin memperkeruh keadaan.
Mereka mencari kemana mana namun tidak menemukan Zahra, bahkan sampai ke lestoran terdekat dan cafe cafe sekitarnya pun tidak ada seorang pun disana yang melihat Zahra.
"pak lihat wanita ini," ucap Rahman pada akhirnya yang telah kembali ke Vila dua jam setelah mencari Zahra dan bertemu dengan satpam.
"oh nona ini baru saja masuk tuan," Jawab Satpam.
"ka Rahman," ucap Raditya memegang pundak Rahman.
"jangan marahi dia, dia sensitif jangan buat dia semakin terluka, jangan sampai dia nekat pergi lagi," Ucap Raditya yang menasehati Rahman karena perkiraan nya Rahman akan semakin marah pada Zahra sesuai dengan sifatnya yang dingin.
"hmmh baiklah," Rahman mengangguk mengerti.
"syukurlah kalau dia sudah kembali," ucap Riska.
"tapi kita harus memastikan dulu," Sahut Alfie.
"iya kita tunggu disini saja, jika dia turun untuk mencari lagi baru kita ikut mencari jika tidak berarti Zahra memang sudah ada di sana," ucap Raditya, yang dijawab dengan anggukan oleh Riska dan Alfie.
.....
"hhmh," Rahman menghela nafas panjang karena Zahra kini telah berada di dalam kamar tepat berada di depannya saat ini.
"kamu habis dari mana?," Rahman bertanya dengan nada datar, dan mengatur nafasnya yang sudah lelah berlari, berusaha untuk tidak memarahi Zahra.
Zahra hanya melirik Rahman lalu tidak menghiraukan Rahman, dan mengambil bantar serta selimut untuk tertidur di sofa.
"biar aku yang tidur di sofa," Rahman ingin mengambil bantal dan selimut dari tangan Zahra, namun Zahra tidak memberikannya, dan pada akhirnya Rahman memutuskan untuk minum air, membuang nafas untuk bersabar, lalu merebut selimut dan bantal dari Zahra, dan tertidur di sofa tanpa berniat melihat ekspresi Zahra, dengan keheningan dan Rahman tertidur tanpa memperdulikan apapun.
Namun kekesalan Zahra tidak hanya sampai disitu, Zahra malah mengambil selimut tebal lagi di lemari dan tertidur di lantai dengan membuat selimut menjadi tikarnya dan menyelimuti dirinya lalu tertidur, dengan mendengarkan shalawat melalui handset dari hp nya.
Setelah beberapa jam Rahman terbangun dan berbalik untuk melihat Zahra, sempat terkejut mencari cari Zahra karena tidak menemukan Zahra di kasur, namun ia merubah ekspresinya saat menemui Zahra di lantai.
"dasar keras kepala, untung ada selimut yang banyak, baiklah terserah kamu mau tidur dimana," gumam Rahman lalu ikut berbaring di dekat Zahra tanpa di ketahui Zahra.
__ADS_1
bersambung....